Jika Kau Bukan Anak Raja, Juga Bukan Anak Ulama Besar, maka Menulislah

Senin, 18 Mei 2026

Untai Doa buat Sang Kiai, Jawa Pos grup Radar Bojonegoro, Sabtu, 16 Mei 2026



 Untaian Doa buat Sang Kiai

Cerpen karya Ahmad Zaini*


Rembulan tergantung sendiri malam hari. Cahayanya putih berseri. Ia ketinggalan bintang-bintang yang lebih dulu undur diri. Purnama tak berlama-lama lagi. Dia pun segera menyembunyikan dirinya di balik rerimbunan tanaman perdu sebelum matahari muncul.

Semua ciptaan Tuhan di alam ini hidup bergantian. Seluruh makhluk melaksanakan tugas sesuai fungsi masing-masing. Jika dirasa cukup, mereka akan digantikan dengan lainnya. Tak ada yang abadi. Tak ada tugas yang kekal. Kehidupan makhluk ada batasnya. Demikian juga tugasnya. Suatu saat akan menemui masa purna yang harus rela ditinggalkan.

“Dia belum meninggal. Dia masih hidup,” racau Hanafi yang hingga kini belum sadar sepenuhnya  lantaran kiainya meninggal dunia.

Hanafi seorang santri. Dia bertahun-tahun menimba ilmu pada Kiai Hasan. Dia belajar mulai dari nol. Sejak dia belum mengenal huruf hijaiyah, belum hafal dan memahami kata-kata hikmah dan kalimat nasihat tentang keagamaan dan kehidupan. Sekarang dia sudah sangat mengerti tentang ilmu agama dan ilmu hakikat hidup. Hanafi menganggap Kiai Hasan sebagai sosok yang mumpuni. Sosok yang sempurna dalam keilmuan. Sosok yang tidak bisa tergantikan oleh lainnya. Sosok yang tidak lekang oleh waktu dan tak akan tergusur oleh peradaban. 

“Sadar, Han. Kiai Hasan manusia biasa. Semua manusia ini akan sampai pada batas waktu kehidupan. Akan meninggalkan dunia ini,” kata Lukman yang mencoba menyadarkan Hanafi yang masih berada di bawah alam sadar.

“Dia itu hidup selamanya,” kata Hanafi lagi dalam kondisi mata yang masih tertutup.

“Buka matamu. Lihatlah sekeliling. Kita ini di dunia fana. Semua akan kembali padaNya,” tegas Lukman sembari membuka paksa mata Hanafi.

“Dia hidup. Dia hidup,” ucap Hanafi yang kemudian seluruh anggota tubuhnya lunglai di lantai kamar pesantren.

Lukman dibantu teman-temannya segera membopong tubuh Hanafi. Dia meletakkan tubuh kerempeng tersebut ke atas dipan bambu buah karyanya sendiri. Hanafi masih belum percaya atas meninggalnya Kiai Hasan yang dianggapnya tiba-tiba. Padahal, selama ini Hanafi sering menyampaikan kepada santri-santri lain bahwa kematian merupakan keniscayaan. Semua yang hidup pasti akan mengalami kematian. Ibarat dalam bangunan rumah, kematian adalah pintu. Semua yang ada dalam rumah itu pasti akan melewatinya. 

Hanafi memang santri paling senior di pesantren ini. Dia sering dipercaya Kiai Hasan untuk menggantikannya membaca kitab salaf. Dia dianggap sebagai santri yang layak dan bisa sebagai badal bila Kiai Hasan berhalangan mengajar mengaji. Semua santri mengakui dan memaklumi kehebatannya karena Hanafi diberi jadwal khusus oleh Kiai Hasan untuk mengaji atau belajar sendiri di ndalem kiai. Makanya, dia memiliki kemampuan di atas rata-rata dalam hal membaca dan memahami kitab-kitab salaf dibandingkan santri-santri lainnya.

“Han, Hanafi! Sadar, Han! Itu banyak tamu yang bertakziyah ingin menemuimu,” kata Lukman sambil mengguncang-guncang tubuh Hanafi yang masih tak berdaya.

Selama ini juga Hanafilah yang mendapingi Kiai Hasan bila mendapat undangan pengajian keluar desa. Tak heran bila masyarakat menganggap Hanafi sebagai asisten pribadi Kiai Hasan. Masyarakat yang mengenal Kiai Hasan, juga dapat dipastikan mengenal Hanafi. Para tamu ingin mengetahui banyak keluhan kesehatan atau sakit yang diderita kiai. Hanafi pasti tahu semuanya. Namun, apalah daya. Semua tamu belum mendapatkan informasi itu lantaran hingga kini jiwa Hanafi masih terpukul atas kepergian sang kiai.

“Kiai masih ada. Kiai maasih hidup,” racau Hanafi.

“Tolong ambilkan air,” pinta Lukman pada santri lain yang ada di sampingnya. Santri yang lebih muda usianya itu segera mengambilkan air tanpa menanyakan guna dan manfaatnya.

Segayung air diletakkan di sebelah kepala Hanafi. Tangan kanan Lukman dicelupkan ke dalam gayung. Perlahan Lukman berkali-kali mengusapkan air tersebut ke wajah Hanafi disertai doa-doa. Tak berselang lama, Hanafi bangkit kemudian mengibaskan butiran-butiran air yang masih menempel di wajahnya.

“Astaghfirullahaladzim! Di mana aku ini? Kiai bagaimana?” tanya Hanafi setelah siuman. 

Lukman dan ketiga temannya yang sejak tadi mengurus Hanafi berdiri mematung. Mereka tak berani menjawab langsung karena khawatir Hanafi akan syok lagi. 

“Apa yang kauketahui tentang kiai selama kau berada di bawah alam sadar?” tanya Lukman pada Hanafi yang baru saja menemukan dirinya sendiri.

Hanafi duduk sambil menyembunyikan wajahnya. Dia tidak berani menatap wajah-wajah yang berada di sekelilingnya. Dia belum menjawab pertanyaan Lukman sahabat karibnya selama di pesantren ini. Dia masih mengingat-ingat kejadian yang baru dilihatnya di bawah alam sadar.

“Kiai Hasan masih hidup,” katanya.

“Semua orang yang berdiri mengelilingimu ini baru datang dari tanah makam. Mereka baru selesai mengikuti proses pemakaman kiai. Kamu masih bersikukuh mengatakan bahwa kiai masih hidup. Berarti kamu mengingkari hukum Allah. Hukum bahwa semua manusia yang hidup pasti akan mengalami kematian. Suatu saat ajal pasti menjemputnya. Kiai Hasan telah tiada dan baru saja dimakamkan.”

“Tidak. Aku melihat sendiri. Kiai masih hidup. Beliau hanya pindah alam,” kata Hanafi yang masih bersikukuh memegang keyakinannya.

“Yang kamu katakan memang benar. Kiai hanya pindam alam. Namun, yang kamu maksud itu bukan kiai secara jasadi, melainkan ruhnya,” bantah Lukman.

“Benar, kan? Kiai masih hidup?”

“Benar. Tapi ruhnya.”

“Bukan. Itu kiai,” kata Hanafi dengan mata melotot seperti mau melompat keluar.

Lukman menyadari keyakinan yang dipegang oleh Hanafi. Memang orang alim atau orang berilmu hakikatnya tidak bisa mati. Jasadnya memang mati, namun ilmu dan ajarannya masih bisa memberi manfaat terhadap orang-orang sekeliling. Nyawa memang telah lepas dari raga. Akan tetapi, ilmu yang diajarkan kepada murid-murid dan warga masyarakat membuatnya seperti masih hidup di tengah-tengah mereka. Sebaliknya, orang yang tidak berilmu. Meskipun dia masih hidup, hakikatnya orang itu sudah mati. 

“Aku melihat kiai punya dua sayap berbulu putih seperti kapas. Wajahnya bercahaya seperti purnama. Beliau terbang sambil melemparkan senyum ke arahku. Kiai kemudian duduk di antara gumpalan mega putih. Kursinya seperti kursi raja. Di sekeliling ada puluhan bahkan ratusan bidadari yang berlomba-lomba menawarkan pelayanan dengan berbagai kenikmatan kepada kiai. Mereka membawa berbagai jenis hidangan di meja putih seperti lempengan Mutiara.”

“Subhanallah, benar yang kauceritakan?” tanya Lukman dengan suara yang agak parau. Mulutnya bergetar dengan gigi-gigi gemeretak saling berbenturan.

“Sangat benar,” jawab singkat Hanafi.

Lukman sesenggukan. Dia tersedu dalam tangis haru dan harapan. Lukman berharap yang dikisahkan oleh Hanafi dari pengalaman spiritual di bawah alam sadarnya menjadi kenyataan. Kiai pindah alam. Kiai beristirahat menunggu hari kebangkitan dengan ditemani ratusan bidadari sebagai jelmaan amal kebaikan yang dilakukan selama hidupnya.

Semua orang yang berada di sekeliling Hanafi tertegun. Mereka seperti terhipnotis dengan tuturan Hanafi. Mereka berlinang air mata karena larut dalam haru bahagia. Puluhan pohon mangga pun merasakan demikian. Daun-daunnya tengadah memohonkan Rahmat dan ampunan kepada Allah buat kiai anutannya. Demikian juga ikan-ikan yang berada di empang sebelah pesantren. Aneka makhluk air itu memanjatkan doa buat almarhaum.

***

Para dzurriyyat atau keluarga besar Kiai Hasan menggelar doa bersama selama tujuh hari di halaman pesantren. Mereka memberi kesempatan kepada semua warga turut mendoakan almarhum Kiai Hasan selama tujuh hari berturut-turut. Para remaja, dewasa, hingga yang renta turut hadir dalam acara kirim doa. Mereka hadir dengan hati ikhlas. Mereka hadir atas kemauan sendiri tanpa menunggu undangan lisan atau tulisan dari keluaga Kiai Hasan. Mereka ingin mendapatkan berkah dari Allah atas luberan kebaikan yang dimiliki oleh Kiai Hasan. 

Hanafi sebagai santri senior dipercaya oleh keluarga ndalem. Dia mengatur acara doa bersama dari malam pertama sampai malam ketujuh. Sosok sebagai orang kepercayaan Kiai Hasan mendekat ke beberapa sosok yang dinilai pantas mengisi acara. Gus Syam sebagai putra kedua kiai diberi tugas memimpin istighotsah dan tahlil. Gus Iyut menantu kedua kiai mendapat tugas sebagai pembaca surat Yasin, dan yang terakhir Gus Ban sebagai putra sulung mendapat tugas memimpin doa. 

Setiap malam doa bersama di pesantren dihadiri ratusan warga. Selain dari warga sekitar pesantren, mereka juga datang dari berbagai penjuru desa yang pernah mengundang Kiai Hasan untuk berceramah. Para santri Kiai Hasan yang sudah memangku pesantren di daerah masing-masing juga menyempatkan hadir dalam acara tersebut. Mereka bersama membacakan doa dengan khusuk buat almarhum Kiai Hasan.

Malam terakhir atau malam ketujuh cuaca agak berbeda. Setelah asar hujan sempat menyambangi halaman pesantren. Hanafi sempat gusar. Dia khawatir halaman akan becek. Syukurlah hujan tidak terlalu lebat dan hanya sebentar. Halaman pesantren tidak terlalu bermasalah. Air hujan hanya menempel di ujung rerunputan di sekeliling halaman. Masih banyak bagian halaman yang bisa diduduki oleh hadirin.

Ratusan bahkan bisa diperkiran mencapai seribu orang memadati halaman pesantren. Mereka berasal dari berbagai penjuru desa. Satu tujuan mereka hadir di halaman pesantren. Turut mendoakan almarhum Kiai Hasan yang telah meninggalkan mereka pada tujuh hari yang lalu. Ribuan untai doa mereka panjatkan kepada Allah. Pahalanya dihadiahkan kepada ruh kiai yang selama ini membina dan mengarahkan mereka ke jalan yang diridhoi Allah. Semoga almarhum Kiai Hasan senantiasa mendapatkan rahmat dari Allah subhanu wataala. 

Hanafi mendongakkan wajah. Matanya menatap langit. Rembulan yang bergantung sendiri sinarnya putih seperti kapas. Jutaan bintang bertaburan mengitari rembulan. Hanafi yakin jutaan bintang itu merupakan jelmaan kenikmatan Kiai Hasan yang dikirim para santri dan warga melalui doa-doa yang mereka panjatkan selama tujuh hari. Hati Hanafi tenang dalam suasana khidmat di halaman pesantren. Doa-doa itu akan terus mengalir sepanjang masa buat sang kiai.  (*)

Lamongan, 9 Mei 2026

Minggu, 19 April 2026

Puisi-Menunggu Senja-Ahmad Zaini




Menunggu Senja


Terbanglah ke mana pun kausuka

Tebarkan kebaikan di mana pun kauberada

Apa pun yang kausemai

Suatu saat akan kautuai


Jangan biarkan waktu terbengkalai

Berbuatlah sepanjang hari

Merenda pagi dengan arti

Mengukir siang dengan kebaikan

Memahat senja dengan dengan mulia

Jadikan malam penuh gemerlap bintang


Hidup hanya sekali

Jadikan usia lebih bermakna

Menunggu senja di gerbang malam


Wanar, 11 April 2026


Lukisan Senyum


Aku tahu senyum yang kaulukis di pagi itu

Kusut benang berhasil kau urai

Lalu kausulam masa depan

Dengan jemari mungilmu


Aku tahu senyum yang kaulukis di malam itu

Bintang-bintang yang menghiburmu

Berhasil kaurengkuh dalam bahagiamu

Dengan genggam erat tekadmu


Aku tahu senyum yang kaulukis dalam hidupmu

Karena dirimu menjelma mutiara

Di semua sudut ruangmu


Lamongan, 10 April 2026


Pengabdian Hakiki


Sepuluh tahun kau berpisah dengan tanah

Yang menyimpan kenang masa kecilmu

Lewati setapak jalan terjal demi

Menuntut ilmu


Air mata rindu tak pernah kaubiarkan basah di pipimu

Kedua tanganmu mengusapnya dengat cita-cita

Mulia hidupmu

Sejengkal langkah kaucapai


Jadikanlah sebagai pijakan kaki

Menggapai puncak perjalanan

Pengabdian hakiki


Lamongan, 8 April 2026


Sepotong Roti


Sepotong roti tiga April

Kausuguhkan di perjamuan malam

Sebagai bukti kedewasaanmu

Di depan kedua orang tua


Nyala lilin menerpa wajah-wajah bahagia

Berharap keberkahan Yang Mahakuasa

Menyertai perjalananmu menggapai cita-cita

‘Hidup mulia berguna bagi sesama’


Sepotong roti tiga April

Prasasti tekad pengabdianmu

Mengamalkan ilmu

Lamongan, 3 April 2026





Sabtu, 15 November 2025

Cerpen Gerilyawan Kampung Embongmiring, Jawa Pos grup Radar Bojonegoro, Sabtu, 15 November 2025

 


Gerilyawan Kampung Embongmiring

Cerpen karya Ahmad Zaini

Kedamaian kampung Embongmiring tiba-tiba terusik lagi. Ratusan selebaran berserakan di jalan-jalan dan gang rumah warga. Banyak pula yang tersangkut di genting rumah dan di dahan-dahan pohon. Rupanya selebaran itu disebar dari pesawat yang melintas tadi. Selebaran itu berisi pesan warga kampung Embongmiring harap segera mengungsi. Siang sekitar pukul empat belas akan ada konvoi kompeni datang ke kampung ini. Menurut informasi yang tertulis dalam selebaran, mereka sedang mencari Mitro.

Mitro merupakan gerilyawan yang tinggal di kampung Embongmiring. Namun, beberapa hari ini dia bersama lima orang temannya tidak kelihatan di kampung. Pengakuan keluarganya, Mitro dan kawan-kawan bergabung dengan gerilyawan dari daerah lain. Kasak-kusuk dari seberang, di pinggir jalan kampung seberang ditemukan mayat kompeni. Antek kompeni yang juga orang pribumi melapor kepada komandan kompeni, Mitrolah pembunuhnya. Maka dari itu, komandan kompeni mengerahkan bala tentaranya akan datang ke kampung Embongmiring guna menangkap Mitro.

Warga kampung Embongmiring panik. Mereka tidak ingin menjadi bulan-bulanan tendangan sepatu tentara kompeni. Bisa-bisa kepala mereka juga terkena poporan senjata mereka. Wanita dan anak-anak terutama. Mereka harus segera diselamatkan. Segera mencari pengungsian yang aman.

Mitro pendekar kampung Embongmiring. Dia sangat disegani para kompeni dan antek-anteknya. Beberapa bulan lalu, pemuda kampung dibawah komando Mitro, mampu menghalau iring-iringan tentara Londo (istilah orang kampung menyebut Belanda) yang akan mengobok-obok kampung halamannya. Dengan gagah perkasa, semangat berjuang para pemuda kampung Embongmiring mampu mengusir gerombolan kompeni. Setelah kejadian itu, para tentara kompeni tidak berani memasuki kawasan Embongmiring.

Warga kampung selalu dihantui rasa was-was. Mereka selalu ketakutan jika ada pesawat melintas di atas kampung mereka. Para warga takut pesawat tersebut menjatuhkan bom di tengah kampung. Mereka takut menjadi korban. Pasukan udara Londo itu berjaga-jaga dan mengawasi pergerakan para gerilyawan dari atas udara.

Di tengah hutan kampung, penduduk setempat menyebutnya tegalan, para warga mengungsi. Para lelaki tua, wanita, dan anak-anak bahu-membahu mendirikan tenda di bawah pepohonan rindang. Mereka akan aman mengungsi di situ lantaran tempat tersebut sulit dilihat dari udara dan sulit ditempuh dengan kendaraan truk.

Mitro dan kawan-kawan mengetahui rencana kompeni datang ke kampungnya. Mereka bergegas kembali ke kampung guna memastikan keberadaan keluarga dan warga lainnya. Sesampai di kampung, mereka melihat suasananya sepi. Para warga sudah mengungsi. Salah satu warga yang kebetulan kembali ke rumah untuk mengambil bekal yang tertinggal memberi kabar kepada Mitro dan kawan-kawan bahwa warga kampung telah mengungsi di tegalan.

“Kompeni akan datang kemari menangkap kalian,” kata lelaki itu memberi tahu Mitro.

“Iya. Kami sudah tahu. Segeralah kembali ke pengungsian. Jaga mereka,” pesan Mitro.

“Baik. Saya kembali ke sana,” pungkas lelaki tersebut lalu berjalan cepat menuju tegalan.

Mitro dan kawan-kawan berunding di sebuah rumah yang ditinggal penghuninya. Mereka mengatur strategi untuk menyelematkan diri dan menyelamatkan seluruh isi kampung. Mumpung masih ada waktu, mereka berdiskusi panjang bangaimana cara menghalau para pengisap darah rakyat.

“Kita tidak mungkin melawan mereka berlima. Kita butuh teman lainnya,” usul Darso.

“Sudah. Teman-teman dari daerah lain sudah saya kondisikan. Mereka akan menjebak dan menyerang para kompeni dari balik embong,” sahut Mitro.

“Sip. Mari kita beraksi.”

Kelima gerilyawan kampung ini lantas beraksi sesuai pembagian tugas. Ada yang membuat benteng dari tumpukan karung pasir. Ada yang juga yang memasang ranjau alami dari bambu runcing. Ada pula yang membuat perangkap jaring dari atas pohon besar di ladang Pak Komari. Satu orang yang bernyali tinggi sebagai pemancing. Dialah nanti yang menggiring para kompeni menuju ke arah jebakan yang telah disiapkan. Tak lupa para gerilyawan ini mempersenjatai diri dengan senjata tajam, bambu runcing, dan ketapel beserta batu-batu kecil sebagai amunisi.

Lima pemuda kampung Embongmiring sudah tidak sabar lagi. Tangan-tangan mereka sudah gatal ingin segera menghabisi para penindas. Mereka bertekad menjaga marwah dan harga diri negeri. Tidak ingin kedaulatan negeri ini diobok-obok oleh orang asing, oleh para penjajah. Kampung Embongmiring akan dijadikan kuburan massal bagi anjing-anjing yang memangsa tulang anak negeri.

“Kita salat zuhur dulu secara bergantian. Yang lain berjaga-jaga jangan sampai mereka mengelabui kita dengan datang lebih awal dari waktu yang tertera di selebaran,” kata Mitro.

“Siap. Silakan kalian salat dulu. Biar saya dan Kasimo berjaga di sana ” sanggup Darso.

Mitro dan dua gerilyawan melaksanakan salat zuhur berjamaah. Mereka menggelar sarung dan jarik warga yang ditinggal di rumah itu sebagai sajadah. Sementara Darso dan Paimin menuju benteng pasir untuk mengawasi situasi di kampung.

Para gerilyawan kampung Embongmiring ini sangat taat beribadah. Meskipun siuasi sedang genting, mereka tetap melaksanakan salat lima waktu. Mereka sadar bahwa keselamatan dan kemenangan datang dari Allah. Tanpa campur tangan Allah, manusia tidak akan bisa berbuat apa-apa.

“Darso, giliran kalian salat. Biar kami ke situ,” teriak Mitro memberi aba-aba kepada Darso dan Paimin.

Matahari terik di atas kampung tak membuat mereka mengeluh kepanasan. Tekadnya menghabisi para kompeni semakin membara. Para gerilyawan kampung ini tidak mau berlama-lama hidup dalam cengkeraman penjajah. Mitro dan kawan-kawan ingin membabat kuku dan taring mereka. Ingin melihat mereka bertekuk lutut bahkan mati tertembus ujung bambu dan amunisi ketapelnya.

Dari kejauhan terlihat dua truk tentara kompeni. Mereka dikawal pengkhianat pribumi yang menjadi anjing piaraan Londo. Bising suara truk semakin memekak telinga. Mereka berhenti di ambang gerbang masuk kampung Embongmiring. Mata-mata kompeni beraksi. Bola matanya berputar mengamati seluruh isi kampung.

“Sepi. Tidak orang,” lapor pengkhianat bangsa kepada komandan kompeni.

“Kalian turun semua. Kita periksa semua rumah. Mitro pasti bersembunyi di sini. Tangkap dia hidup-hidup,” perintah komandan yang bertubuh tinggi besar dan bercambang lebat ini.

Derap kaki tentara kompeni menyisakan debu. Kepulnya seperti cawan yang biasa mereka pegang untuk menuangkan minum-minuman keras. Sepatu bot para penjajah mendobrak pintu rumah warga. Rumah-rumah kosong semua. Mereka tidak menemukan satu pun penghuninya. Orang yang mereka cari belum juga ditemukan.

“Lapor, Mitro tidak ada. Rumah kosong semua,”

“Kalian goblok. Bakar rumah-rumah itu biar orang bernama Mitro mampus terbakar. Cepat!” teriak komandan kompeni menyuruh pasukannya membakar rumah penduduk.

Puluhan tentara menjinjing jerigen berisi bensin. Mereka menyiram dinding bambu rumah penduduk. Ketika mereka hendak menyulutkan api, salah satu dari mereka tiba-tiba menjerit kesakitan. Dia terkapar karena kepalanya tertembus amunisi ketapel.

“Itu orangya,” kata seorang kompeni sambil menunjuk ke arah sosok lelaki yang berlari ke area yang telah dipasang jebakan. Sontak para tentara kompeni mengejarnya ke area itu.

Para tentara kompeni tidak menyadari kalau mereka telah memasuki kawasan yang berbahaya. Area tersebut telah dipasang berbagai jenis perangkap. Satu persatu dari mereka berjatuhan. Ada yang ususnya terburai keluar setelah tertusuk bambu runcing yang tiba-tiba meluncur sendiri ke arah perutnya. Ada pula yang kepalanya tertembus batu ketapel. Ada pula yang tersangkut jaring lalu terkerek ke atas pohon hingga bergelantungan seperti sarang lebah. Mitro dan kawan-kawan terus bergerak dengan berlari ke arah yang telah dipasang jebakan lain. Puluhan tentara kompeni mampus karena kecerdikan siasat yang dibuat para gerilyawan.

Sadar tentaranya habis, komandan kompeni yang bediri di samping truk mencari bantuan. Dia mengontak tentara kompeni lain di markasnya. Tak berselang lama, iring-iringan truk pengangkut tentara kompeni mendekat kampung Embongmiring.

Para gerilyawan tak tinggal diam. Mereka pun beraksi. Setelah iring-iringan truk itu benar-benar masuk di kampung Embongmiring, ratusan gerilyawan dari daerah lain mengurungnya dari segala penjuru.

“Serbu...!!!” suara aba-aba lantang memecah langit yang mulai menjingga.

Para gerilyawan dari arah luar dan dalam kampung Embongmiring bermunculan. Mereka menyerang dan membunuh para tentara kompeni. Kampung Embongmiring banjir darah. Mayat-mayat tentara Londo bergelimpangan. Termasuk komandannya. Tubuh tinggi besar dan bercambang lebat itu mati berdiri sambil bersandar di moncong truk lantaran kepalanya tertembus anak panah gerilyawan.

Truk-truk dan senjata perang mereka telah dikuasai para gerilyawan Embongmiring. Mereka membabat habis para penjajah. Tak satu pun dari mereka yang tersisa hidup. Kampung Embongmiring menjadi kuburan massal bagi penjajah. Mereka tinggal jasad berlumur darah yang tak bernyawa. Mereka mampus di tangan para gerilyawan yang telah lama haus kemerdekaan. Mereka yang menginginkan hidup tanpa paksaan dan siksaan para penjajah.

“Mitro...!!! Kita menang. Kita merdeka,” teriak salah satu orang dari arah tegalan tempat para warga mengungsi.

Ratusan penduduk kampung Embongmiring berduyun-duyun kembali ke rumah mereka. Para warga mengelu-elukan nama Mitro dan kawan-kawan. Karena perjuangan Mitro dan para gerilyawan lain, kampung mereka terbebas dan intimidasi dan kesemena-menaan penjajah. Mereka kini hidup merdeka. Mereka bebas beraktivitas. Mereka kembali berkumpul bersama keluarga untuk menyulam kehidupan yang bebas dari cengkraman penjajah. (*)

Lamongan, 3 Agustus 2025

Ahmad Zaini, guru SMKN 1 Lamongan. Dia tinggal di Wanar, Pucuk, Lamongan.


https://radarbojonegoro.jawapos.com/lembar-budaya/716833515/lembar-budaya-gerilyawan-kampung-embongmiring


Minggu, 02 November 2025

Cerpen Percakapan Siang di Kantin Sekolah, Sabtu, 6 September 2025

 


Percakapan Siang di Kantin Sekolah

Cerpen karya Ahmad Zaini

 Deretan kantin di pujasera sekolah tak seramai hari-hari sebelumnya. Tidak terlihat para murid berjubel lantaran mengantre ingin terlebih dahulu membeli nasi atau gorengan lain. Hanya beberapa murid yang kebetulan ingin  membeli es atau sekadar mengobrol bersama temannya. 

Beberapa kipas angin di atas kerangka atap kantin sekolah terdiam. Baling-balingnya membisu. Tak ada suara berisik akibat putarannya. Rupanya kipas angin kantin bersedih. Turut merasakan kesedihan para penyewa kantin sejak diberlakukan program makan gratis di sekolah ini. Sukimin dan Tarmijan misalnya. Kedua orang ini sekarang banyak santainya. Padahal, sebelum-sebelumnya mereka sosok yang sangat sibuk melayani para murid yang membeli nasi atau gorengan. Namun, mereka sekarang sering duduk-duduk di depan kantin sambil mengobrol ke sana kemari.

“Memang rezeki itu misteri. Tidak ada yang bisa memastikan kapan, di mana, dan berapa yang kita dapatkan,” kata Sukimin.

“Min, Min. Kamu ini sedang tausiyah, keluhan, atau protes adanya program makan gratis ini?” goda Tarmijan.

“Tidak. Aku tidak mengeluh. Itu sudah program pemerintah. Tujuannya baik agar orang tua murid tidak terbebani makan biaya makan siang anak-anaknya di sekolah,” jawab Sukimin.

“Yang jujur! Pendapatanmu tiap hari berkurang, to! Setiap pulang kamu membawa nasi bungkus yang tidak laku, to? Kamu dan aku sama. Penghasilan kita menurun. Terjun bebas,” sambung Tarmijan.

“Iya. Tapi bagaimana lagi. Kita ini orang kecil. Hanya penyewa kantin di sini. Hanya pasrah menerima nasib. Tidak bisa berbuat apa-apa selain mengeluh.”

Nah, semua penyewa kantin di sini mengalami hal yang sama,” pungkas Tarmijan.

Usaha mereka sangat terdampak oleh program makan gratis. Penghailan mereka turun drastis. Mereka yang selalu dibantu oleh istri masing-masing dalam mengelola kantin, kini memutar otak mencari cara bagaimana agar kantinnya ramai seperti sebelumnya. Para penyewa kantin berdiskusi. Mereka saling mendengar dan menyampaikan uneg-unegnya. Mereka beradu gagasan tentang cara meramaikan kantin.

Memang serba salah. Pernah terbesit dalam pikiran Tukimin dan Tarmijan untuk menambah kualitas menu yang mereka jual. Akan menambah bumbu dan penyedap lainnya. Tapi, mereka sadar jika menambah kulitas menu, tentu perlu tambahan  modal. Mereka juga ragu. Setelah menu mereka semakin enak dan gurih apakah murid-murid langganannya akan kembali membeli nasi dan jajan ke kantin mereka. Toh, di depan sudah disediakan nasi yang dapat dinikmati dengan cuma-cuma.

Tarmijan mendekat ke telinga Sukimin. Ada rencana yang dibisikkan ke telinga lelaki yang sebaya dengannya itu.

“Jangan, Jan! Bahaya. Jangan sampai kaulakukan. Jika sampai terjadi, kita semua yang akan dituduh sebagai pelakunya,” larang Sukimin.

“Lantas dengan cara apalagi agar dagangan kita laku?”

“Sabar menjalaninya dulu. Kalau kita sabar, pasti Allah akan memberi jalan keluar,” saran Sukimin.

“Iya, kamu bisa sabar. Anak-anakmu sudah bekerja. Tapi, aku? Anak-anakku masih sekolah, bahkan kuliah. Mereka tiap hari, tiap bulan membutuhkan uang. Mereka butuh biaya hidup dan pendidikan,” kata Tarmijan.

“Bagaimana lagi. Kita ini orang kecil. Rakyat jelata. Tidak mungkin bisa menolak program pemerintah. Meskipun sebenarnya aku juga tidak setuju, kita jalani saja,” kata Sukimin dengan nada yang berat sekali.

Kedua orang terdiam sambil sambil membayangkan nasib usahanya. Matanya menerawang jauh ke depan. Lebih-lebih Tarmijan. Dia tidak sekadar mengalami penurunan hasil berjualan nasi dikantin sekolah, akan tetapi juga memikirkan nasib anak-anaknya yang belum tuntas belajar di bangku sekolah.

Jam menunjukkan pukul sepuluh siang. Sebentar lagi ribuan ompreng nasi gratis akan datang. Sukimin dan Tarmijan bersiap-siap membantu menurunkan ompreng nasi dari mobil pengirim. Hari ini jadwal mereka membantu pendistribusian nasi tersebut ke murid-murid. Walaupun berat hati, mereka tetap melaksanakan tugas tersebut. Mereka tidak bisa mungkir lantaran mereka juga mencari hidup di sekolah. Mereka harus tetap tunduk dan patuh pada perintah.

Dada Tarmijan berdegub kencang saat iring-iringan mobil box masuk ke area sekolah. Napasnya terasa sesak. Dalam benaknya berkata, inilah program yang menyumbat penghasilannya. Dada Tarmijan semakin bergemuruh ketika ratusan murid datang bergelombang mengambil jatah nasi gratis. Sejenak Tarmijan terpaku. Dia menoleh ke kantin lalu menoleh ke area pembagian nasi gratis. Di tempat ini sangat ramai, sedangkan di area kantin sepi.

Krompyang, terdengar suara ompreng makan berbahan stenlis jatuh. Suaranya menyerupai serpihan hati Tarmijan yang mengeras lantaran dia sangat menentang program ini.

 

“Kenapa kaujatuhkan ompreng nasi ini?” tegur lelaki berkaos warna silver kepada Tarmijan. Rupa lelaki itu penanggung jawab program di wilayah sekolah ini.

“Aku tidak sengaja,” jawab singkat Tarmijan.

Sukimin yang sejak tadi sudah mengkhawatirkan kejadian ini, berlari-lari kecil mendekati Tarmijan. Posisi tangan Tarmijan yang masih seperti memondong ompreng nasi, diseret Sukimin menjauh dari tempat itu. Sukimin mendudukkan Tarmijan di kursi panjang di depan kantin mereka.

“Kenapa kamu nekat melakukannya?”

“Biar mereka rugi dan tidak meneruskan program ini. Program makanan gratis ini hanya menguntungkan orang-orang kaya dan mencekik yang miskin. Aku tetap akan menghentikan program ini biar kantin-kantin kita ramai lagi. Biar dagangan kita laku semua,” jawab Tarmijan.

“Konyol. Kelakuanmu ini bodoh. Mereka tidak mungkin rugi hanya gara-gara lima ompreng nasi kamu jatuhkan. Andai semua ompreng tempat akan kaubuang ke laut sekalipun, mereka akan membeli lagi lebih banyak. Usaha dan barang-barang mereka itu sudah diasuransikan,” kata Sukimin menjelaskan ulah Tarmijan yang konyol itu.

Darah Tarmijan mendidih. Keringat dan peluhnya menguap. Matanya memerah. Gigi kuningnya menyeringai seperti singa. Tarmijan berdiri hendak mengobrak-abrik tumpukan ompreng nasi gratis.

“Kamu akan ke mana? Ke situ lagi? Ngamuk lagi? Silakan! Tapi kalau kau terkena masalah, jangan cari atau sebut namaku. Kamu akan terjerat pasal pengrusakan inventaris pemerintah. Kamu juga akan dijerat pasal makar karena menghalang-halangi program pemerintah.”

Tarmijan diam. Dia berdiri seperti patung. Api amarah yang sempat menyala-nyala, perlahan padam setelah mendengar risiko yang bakal dihadapinya. Dia lantas duduk kembali sambil menepuk-nepuk dadanya. Dia putus asa lantaran belum menemukan jalan keluar dari permasalahan yang dihadapinya.

Dua lelaki yang mulai menua ini mendesah panjang. Mereka melepas dan memasrahkan beban ini kepada Allah. Mereka hanya rakyat kecil yang hanya bisa mengeluh tanpa ada yang menampung keluhannya. Tanpa ada perantara keluh kesahnya kepada pejabat yang punya kebijakan.

“Gusti Allah Mahakaya. Jangan takut melarat. Yang penting sebagai hamba tetap berusaha. Rezeki diatur Allah,” kata Sukimin menenangkan hati Tarmijan.

“Betul sekali. Kita sudah diberi oleh-Nya kesempatan berusaha di kantin ini. Gusti Allah sudah banyak memberikan nikmat yang tak terhitung jumlahnya,” kata Tarmijan.

“Pak, air dan es batunya habis,” suara istri Tarmijan dari dalam kantin. Tarmijan menengok ke arah kantin. Dia melihat beberapa murid sedang mengantre membeli es. Tarmijan lantas bediri. Dia bergegas pergi untuk belanja es batu dan air galon.

Sukimin melihat urat-urat wajah Tarmijan yang mulai mengendor. Tidak tegang dan merah menyala seperti sebelumnya. Sukimin senang karena Tarmijan mulai sadar dan memahami posisi. Dia mulai mengerti statusnya sebagai hamba Allah penjual nasi, gorengan, dan es di kantin sekolah. Dia bukan pembuat kebijakan yang sewaktu-waktu bisa mengubah atau membuat keputusan.

Suasana kantin menjadi tenang lagi. Dua lelaki setengah tua beraktivitas dengan berbagi tugas bersama istrinya. Tarmijan dan Sukimin bagian mengangkat beban yang berat-berat, sedangkan para istrinya mengerjakan yang ringan-ringan di dalam stand kantin.

Hiruk-pikuk para murid mengembalikan ompreng atau wadah menu makanan gratis kepada petugas piket. Para petugas  menerima dan menghitung ompreng dengan teliti. Jumlah yang akan dikembalikan kepada pengelola, harus sesuai dengan jumlah yang diterimanya. Apabila kurang, maka pihak sekolah harus mengganti sesuai dengan harganya.

Saat itulah Sukimin dan Termijan terlihat kedewasaannya. Dia ikhlas menerima kondisi yang ada. Meskipun hati belum sepenuhnya puas, mereka tetap berjalan melenggang sambil memanggul air galon dan beberapa es batu melintasi tumpukan ratusan ompreng di sebelahnya. Hatinya tetap dingin. Senyumnya pun mulai tampak saat terjadi saling lihat dengan petugas.

Dalam benak Sukimin, Tarmijan, para pelaku usaha kantin di sekolah berharap semoga ada kebiajakan baru dari pemerintah. Program makan bergizi gratis ini dikelola oleh sekolah masing-masing lalu diserahkan kepada pihak kantin sekolah.

Waktu semakin siang. Para murid mulai masuk kelas melanjutkan pembelajaran. Kantin kembali lengang. Sukimin, Tarmijan dan pengelola kantin lainnya mengemasi dagangan yang tersisa. Mereka membawa pulang sisa dagangan bisa dinikmati anak, cucu, para kerabat, dan tetangga. Waktunya mereka beristirahat setelah berjualan di kantin hampir seharian. Mereka ingin berebahan di rumah sambil menikmati anugerah Allah yang telah diberikan kepadanya.(*)

Wanar, 28 Agustus 2025

Rabu, 06 Agustus 2025

Gara-Gara Lubang, Cerpen Jawa Pos grup Radar Bojonegoro, Sabtu, 2 Agustus 2025



Gara-Gara Lubang

Cerpen karya Ahmad Zaini

Kampung ini sedang tidak baik-baik saja. Penduduknya banyak, namun kurang sejahtera. Setiap hari mereka bekerja di ladang. Menanam segala tanaman yang bisa dimanfaatkan buahnya buat bertahan hidup. Beberapa tahun terakhir ini hasil panen mereka menurun. Para petinggi kampung terkesan menutup mata. Mereka belum pernah memberi solusi untuk mengatasi permasalahan ini. Terkesan kepala kampung dan perangkatnya tidak pernah memerhatikan mereka. Terutama kepala kampung. Kasak-kusuk banyak warga yang menduga semua itu gegara lubang.

Warga kampung mendadak geger. Mereka tiba-tiba berdebat tentang lubang. Ada kelompok yang mengatakan lubang itu penting. Ada pula yang berpendapat lubang berbahaya. Sisanya abstain alias tidak mempermasalahkan lubang.

Setiap hari dari pagi sampai sore, di rumah atau di tempat keramaian, bahkan di tempat ibadah mereka berdebat tentang lubang. Sebegitu kuatnya daya tarik lubang buat mereka sampai-sampai mendebatkannya tanpa memedulikan waktu dan tempat.

“Andai tubuh kita tidak ada lubang, kita akan mati,” kata perempuan bertubuh gembrot sambil setengah berdiri dengan bertumpu pada lutut.

“Namun banyak pula orang mati karena lubang,” sanggah lelaki kurus dengan rambut tak terurus.

“Selain kita bisa hidup, lubang juga bermanfaat buat manusia. Tanpa lubang, kita seperti di penjara,” sambung perempuan gembrot.

“Faktanya banyak orang dipenjara juga karena lubang,” respon lelaki kurus mementahkan setiap pendapat si perempuan.

Tiba-tiba perempuan gembrot berdiri. Dia berjalan terhuyung-huyung mendekati lelaki kurus. Serta merta perempuan itu menghempaskan tubuhnya menindih lelaki kurus. Lelaki itu meronta meminta tolong warga lainnya. Dia hampir mati lantaran sulit bernapas. Lubang hidung, mulut, dan lubang lainnya hampir tersumbat tubuh besar perempuan itu. Untung saja para warga sigap. Mereka beramai-ramai mengangkat tubuh perempuan yang menindih lelaki kurus berambut tak terurus.

“Ini sebagai bukti bahwa lubang itu sangat penting. Tanpa lubang, pasti tidak ada kehidupan. Semua manusia akan mati tanpa lubang,” suara lantang perempuan gembrot dengan jumawa.

“Aku hampir mati, juga karena tertindih lubang,” kata si lelaki dengan napas terengah-engah.

“Apa katamu?” perempuan itu berdiri dan hendak menindih lelaki kurus itu lagi.

Lelaki ini berdiri lantas berlari menjauh untuk mencari tempat yang aman. Dia menyusup ke tengah kerumunan warga lainnya.

Dari kejauhan terdengat gemuruh suara orang-orang berdemontrasi. Mereka bergerak akan menunju balai kampung. Mereka menuntut permasalahan lubang. Peserta demo ini mayoritas korban lubang.

“Tutup lubang, tutup lubang, tutup lubang!” teriak mereka sambil membentang spanduk bertuliskan Komunitas Korban Lubang.

Para pendemo antilubang ini rata-rata pernah celaka gegara lubang. Ada yang kepalanya miring, tangan patah, kaki pengkar, tulang hidung remuk, bahkan sampai ada yang tulang ekor retak hampir lumpuh.

Semua pendemo menganggap lubanglah biang keladi semua itu hingga menjadi cacat. Mereka sepakat, lubang segera dilenyapkan dari kampung ini.

Perempuan gembrot spontan berdiri. Dengan suara menggelegar, dia membantah kata-kata para pendemo.

“Kalian jangan menyalahkan lubang. Kalian lahir ini juga karena lubang. Kalian mati juga butuh lubang,” kata perempuan gembrot itu dengan lantang.

“Pokoknya hari ini lubang-lubang itu harus ditutup. Karena lubang, negara kita punya hutang banyak. Karena lubang juga, dana kampung kita semrawut. Gara-gara lubang di jalan juga, banyak kecelakaan. Banyak korban yang mati.

“O, itu yang kalian maksud. Benar juga,” perempuan itu baru memahami maksud para pendemo.

“Huuuu,” warga sekampung dan para pendemo menyoraki perempuan gembrot.

“Sekarang aku ikut gabung kalian. Ayo, bersama-sama menggeruduk balai kampung. Mari kita tutup lubang-lubang di sana agar hidup kita aman dan sejahtera,” ajak perempuan tersebut.

Permasalahan demi permasalahan banyak bersumber dari lubang. Lubang itu menyamar. Banyak orang terkelabui lubang. Banyak juga orang terjebak lubang. Pengakuan mereka yang pernah menjadi korban lubang, katanya lubang itu kelihatan datar. Tidak ada tanda gundukan atau semacamnya. Apalagi jika lubang itu tertutup air. Terlihat halus dan mulus. Mereka tidak menyangka kalau mereka akan celaka. Makanya orang-orang itu tidak pernah menyadari bahwa mereka akan terperosok dalam lubang. Mereka pasti sial atau celaka. Mereka akan benar-benar sadar saat sudah masuk dalam lubang. Mereka terjungkal, terjebak, dan tercabut harga diri bahkan nyawanya.

“Barang siapa menggali lubang, maka dia akan terperosok ke dalamnya,” kata lelaki kurus menirukan peribahasa.

“Tutup lubang, tutup lubang, tutup lubang,” teriak para pendemo yang berduyun-duyun menuju halaman balai kampun.

Sekarang seluruh warga berkumpul di halaman balai kampung. Mereka menyampaikan aspirasi dan menuntut kepala kampung agar menutup lubang.

“Di kampung ini banyak lubang menganga. Makanya kehidupan warganya tidak aman dan sengsara. Kami menuntut lubang-lubang di semua lini kampung ini segera ditutup agar kami bisa hidup aman, nyaman, dan sejahtera,” salah satu pendemo menyampaikan orasinya.

“Betul sekali. Anggaran kampung berlubang. Dana banyak yang masuk lubang. Mari kita tutup lubang agar tidak terjadi kebocoran lagi,” sambung perempuan gembrot.

“Hidup kita masih berlubang. Belum sempurna. Jauh dari kata sejahtera. Mulai hari ini, lubang-lubang itu harus kita tutup agar kita bisa hidup aman,” sambung si lelaki kurus.

“Jalan berlubang berbahaya. Apalagi lubang berjalan, malah sangat berbahaya,” celetuk salah satu pendemo.

“Betul. Betul sekali. Ibu-ibu menjadi korbannya. Suaminya banyak yang tidak pulang karena lubang berjalan,” sahut pendemo lainnya yang paham dengan istilah itu.

Suasana semakin panas karena kepala kampung tidak segera muncul menemui mereka. Si gembrot berdiri, lalu merangsek, mendorong para hansip yang membentuk pagar betis mengamankan kepala desa. Mereka merasa diabaikan oleh kepala kampung. Merasa pendapatnya tidak dihargai.

“Jangan-jangan…, kepala kampung bersembunyi dalam lubang di ruang kerjanya?” lelaki kurus curiga.

“Benar juga,” sahut salah satu pendemo.

Karena hampir setengah hari kepala kampung tidak segera keluar, para pendemo tidak sabar. Mereka serempak memaksa masuk ke ruang kerja kepala kampung. Pendemo dan hansip saling dorong hingga pagar betis yang mereka bentuk berlubang. Para pendemo menerobos lubang-lubang itu, kemudian masuk ke ruang kerja kepala desa.

Mereka bengong lantaran tidak menemukan kepala kampung di ruangan. Mata mereka menjelajah di setiap titik ruang. Mereka belum juga melihat batang hidung kepala kampung. Perempuan gembrot beraksi. Tangan berototnya mengangkat meja kerja kepala kampung. Dia yakin dan seyakin-yakinnya, kepala kampung pasti bersembunyi di bawah meja kerjanya.

Perempuan gembrot, lelaki kurus, dan para pendemo yang ikut masuk ke ruang kerja kepala kampung terkejut. Mata mereka terbelalak. Mereka menemukan lubang di bawah meja kerja kepala kampung. Lubang yang sangat dalam. Lubang berdiameter seukuran tubuh manusia. Lubang itu gelap. Tidak tahu apa atau siapa yang ada di dalamnya. Tidak tahu lubang itu memiliki terusan atau tidak.

Mereka menerka-nerka kegunaan lubang ini. Apakah berfungsi sebagai bunker, tempat kepala kampung menyelamatkan diri dari serangan rudal para warganya? Atau jalur rahasia kepala kampung pulang ke rumah istri mudanya? Jangan-jangan, lubang ini digunakan oleh kepala kampung menyimpan penghasilan yang tidak halal? Atau berfungsi sebagai lumbung pangan yang disiapkan buat warga sebagai antisipasi bila terjadi bencana kelaparan? Semua itu hanya usaha menebak-nebak para pendemo mengenai lubang yang mereka temukan ini.

Ternyata. oh, tenyata! Lubang di bawah meja kerja kepala kampung itu multifungsi. Ada beberapa cabang lorong dalam lubang. Lorong pertama digunakan sebagai penadah kebocoran anggaran kampung. Lorong kedua sebagai terusan kepala kampung melarikan diri dari kejaran warga dan KPK. Lorong yang terakhir, sebagai tempat persiapan bunuh diri apabila kejahatannya terkuak oleh aparat penegak hukum.

Warga kampung baru mengerti sebab-musabab infrastruktur di kampung ini tertinggal dari kampung lainnya. Jalan-jalan berlubang. Irigasi persawahan mangkrak serta proyek-proyek lain banyak yang terbengkalai. Ternyata gara-gara lubang.

Warga kampung yang berdemo itu lantas keluar ruang kerja kepala kampung. Mereka mengambil pasir dan pedel. Mereka bahu-membahu membereskan persoalan yang melilit kehidupan warga kampung. Mereka menutup semua lubang dan lorong-lorong yang ada di dalamnya. Para warga tidak mau hidupnya menderita gegara lubang itu.

Setelah melampiaskan kekesalannya dengan menutup lubang dan lorong-lorong tersebut, para pendemo kembali ke rumah masing-masing. Mereka yakin hidup mereka akan sejahtera seperti yang mereka dambakan selama ini. Mereka akan hidup damai dan rukun bersama keluarga dan warga lainnya. (*)

Wanar, 18 Juli 2025

Ahmad Zaini merupakan sastrawan asal Lamongan. Beberapa karyanya baik puisi dan cerpen telah beredar di berbagai media cetak dan online.


Selasa, 15 Juli 2025

Ayah dan Keteladanannya, NU Online , Ahad, 13 Juli 2025

 

https://www.nu.or.id/cerpen/ayah-dan-keteladanannya-fVVIG

Ayah dan Keteladanannya

Cerpen karya Ahmad Zaini

 

Tubuh kurus ayah terkulai di ranjang medis. Beberapa selang infus berjuntai untuk menyuplai obat dan nutrisi ke dalam tubuh. Pada jam-jam tertentu, datang perawat. Dia bertanya tentang perkembangan kesehatan ayah. Perawat itu pun memberikan suntikan obat. Mulut kering ayah menyeringai menahan sakit. Air mata cekung menerawang kosong ke langit-langit ruang peerawatan. Ayah cemas. Hal itu terlihat tatapan kosong dari kornea mata yang tak putih sempurna.

“Mbah, lekas sembuh, ya!” kata perawat sambil mengemasi peralatan medis ke dalam sebuah kotak yang diletakkan di samping tubuh ayah.

“Terima kasih,” sahut ayah dengan suara lirih.

Aku tertegun berdiri menatap tubuh kurus ayah yang terkulai di ranjang. Bahu yang dulu kekar, kini tinggal tulang yang terbalut kulit. Tangan kurus itu tak mampu dibuat menyangga tubuhnya sekadar ingin berbaring. Aku sigap menyangga tubuh ayah lalu membaringkannya pelan-pelan.

Ini merupakan hari kelima ayah dirawat di rumah sakit. Ayah terdeteksi mengidap paru-paru. Sebelum aku bawa ke rumah sakit, ayah sudah beberapa minggu merasakan sesak napas dan batuk yang tiada henti. Menurut cerita adik-adikku yang tinggal serumah dengan ayah, selama itu pula ayah tidak pernah tidur. Raut wajah ayah memucat. Matanya memerah. Tulang-tulang pipinya semakin menonjol.

Sebagai anak sulung, aku tak tega melihat kondisi ayah sedemikian itu. Aku membujuk agar ayah mau berobat ke rumah sakit. Namun, ayah selalu menolak.

“Kenapa?” tanyaku. Ayah diam. Dia tidak menjawab pertanyaanku.  Ia Kembali berbaring di dipan berkasur kusam.

Berbagai cara telah kutempuh untuk membujuknya. Tapi ayah bersikukuh menolaknya. Alasan biaya? Kurasa tidak. Aku sejak awal berniat akan membiayai pengobatan ayah. Aku bertanya lagi kepada ayah. Dia tetap menggeleng-gelengkan kepala. Aku bertanya, bertanya, dan bertanya lagi. Lambat laun tembok kokoh yang merahasikan alasan ayah tidak bersedia berobat ke rumah sakit akhirnya runtuh juga.

“Aku tidak mau merepotkan kalian,” jawabnya.

Seperti itulah ayah sejak dulu. Dia tidak mau merepotkan anak-anaknya. Padahal, sedikit pun aku merasa tidak terbebani. Dia juga tidak mau merepotkan tetangga yang apabila mendengar tetangga lain sakit langsung berbondong-bondong menjenguknya.

Tradisi anjangsana, berlisaturrahmai di desa seperti menjenguk orang sakit sudah mandarah daging. Ayah termasuk orang yang mejaga dan turut melestarikan tradisi itu. Semua kelurga baik yang tinggal satu desa maupun lain desa pernah dikunjunginya. Aku masih ingat betul ketika diajak ayah bersilaturrahmi ke rumah pakde. Rumah pakde berjarak sekitar tiga kilometer dari tempat tinggalnya. Jarak tidak menjadi pengalang ayah bersilaturrahmi. Ayah berjalan kaki sambil menggendongku di punggung.

“Ayah, capek,” kataku kala itu.

“Sini naik ke punggug,” pintanya.

Aku segera melompat ke punggung ayah dan merasakan betapa kuat niat dan tenaga ayah untuk bersilaturrahmi. Dia mampu berjalan sambil menggendongku di belakang menyusuri jalan becek dan berlumpur.

“Aku tidak pernah merasa ayah merepotkanku. Aku siap dan ikhlas menjaga ayah di rumah sakit sampai sembuh,” kataku.

Ayah bergeming. Dia sedikit pun tak menunjukkan kesediaan berobat ke rumah sakit. Dia memilih dirawat di rumah dengan obat-obatan yang dibeli di warung kelontong. Padahal, obat tanpa resep dokter itu juga berbahaya. Bisa salah obat dan menyebabkan sakit semakin parah.

“Aku tidak enak sama tetangga,” jawabnya dengan jujur.

Nah, rupanya ini yang menjadi penyebab kenapa ayah tidak mau berobat ke rumah sakit. Dia malu menjadi beban tetangga yang menjenguknya ke rumah sakit.

“Ayah sering menjenguk famili atau tetangga yang sakit, kan? Ayah selalu datang dengan membawa oleh-oleh. Bahkan, kalau tidak ada barang bawaan saat menjenguk, ayah ke pasar dulu membeli pisang atau pepaya. Apakah waktu itu ayah terbebani?”

“Tidak. Aku tidak terbebani sama sekali karena itu kewajiban kita sebagai manusia, sebagai tetangga.”

Nah, para tetangga juga demikian. Mereka ingin berbuat baik kepada ayah. Kalau ayah menolak karena merasa membebani mereka, berarti ayah menghalang-halangi orang berbuat baik. Yang perlu ayah pikirkan saat ini adalah kesembuhan dan kesehatan ayah. Tentang tetangga kita pikir belakangan. Bagaimana? Kita berangkat untuk berobat ke rumah sakit?”

“Kalau begitu, terserah kalian. Aku pasrah,” kata ayah yang membuat aku dan adik-adik tersenyum lega.

***

Penjaga rumah sakit menghampiri kami yang baru turun dari mobil sambil mendorong kursi roda. Tubuh ayah yang kurus kupapah bersama adik lalu kududukkan pelan-pelan di kursi roda. Kami berjalan menyusuri Lorong rumah sakit menuju tempat pendaftaran pasien. Setelah semua data pasien kuberikan kepada petugas, kami diarahkan ke ruang pemeriksaan.

Tubuh ayah yang ringkih kubopong seorang diri lalu kurebahkan di ranjang pemeriksaan. Seorang dokter memeriksa kondisi ayah dengan teliti. Tubuh kurus telentang di ranjang itu terguncang-guncang karena batuk. Dokter mengangkat stetoskopnya dari dada ayah agar bisa batuk tanpa penghalang. Dokter mengulangi pengecekan kesehatan ayah dengan lebih teliti.

“Perwakilan keluarga silakan ikut ke ruang saya,” kata dokter.

“Baik, Dok,” sahutku sambil berjalan mengikuti dokter.

Raut dokter tampak cemas. Dia seperti terbebani mengeluarkan kata-kata kepadaku. Dalam benakku, ini pasti ada hubungannya dengan penyakit yang diderita ayah.

“Bapak ini punya hubungan apa dengan pasien?”

“Anak kandung, Dok,” jawabku tegas.

“Dari hasil pemeriksaan, ayah Bapak mengidap TBC yang menyerang di paru-paru. Pasien harus menjalani rawat inap beberapa hari ke depan,” kata dokter.

“Baik, Dok. Kami sekeluarga siap mengikuti arahan dokter demi kesembuhan ayah.”

Aku segera keluar dari ruangan untuk menyampaikan pesan dokter kepada adik-adikku yang menunggu ayah di ruang observasi. Adik-adikku bisa menerima arahan dokter yang baru kusampaikan. Mereka menyadari bahwa arahan dokter itu pasti yang terbaik buat kesembuahan ayah.

“Ruang rawat inap sudah siap. Mari kami bantu memindah pasien ruangan,” kata dua perawat yang muncul dari balik kelambu ruang observasi.

Aku melihat tubuh ayah yang tergolek lemas di atas brangkar yang didorong dua perawat. Wajahnya pucat dan sayu. Sedangkan di tangan kirinya bergelantung selang infus untuk menyuplai cairan melalui pembuluh darah.

Ayah terdiam. Dia lemas hingga enggan berkata-kata. Dia pasrah kepada anak-anaknya yang terpaksa membawanya ke rumah sakit untuk mendapatkan pengobatan yang maksimal. Guncangan brangkar melewati Lorong-lorong ruang rumah sakit tak dihiraukannya. Tak ada suara mengaduh atau mengeluh saat roda brangkar melindas kerikil atau lantai yang tidak rata. Air mata ayah tiba-tiba menetes. Aku mendekat dan membisikinya.

“Ayah, jangan menangis. Banyak berdoa memohon kesembuhan pada Allah. Anak-anakmu Ikhlas menjagamu selama dalam perawatan di rumah sakit ini,” bisikku.

Ayahku orang kuat. Kuat dalam pendirian, perjuangan dan pengabdian. Kuat menata pendidikan anak-anaknya. Aku teringat saat akan berhenti sekolah setelah lulus SMP. Aku menyadari ketika itu ekonomi keluarga benar-benar sulit. Aku pamit kepadanya meminta izin bekerja untuk membantu ekonomi keluarga. Namun, orang tuaku kukuh pendirian. Dia tetap memaksaku untuk melanjutkan sekolah ke jenjang SMA. Ayah siap peras keringat banting tulang demi membiayai sekolahku.

Para tetangga dan anggota masyarakat juga mengakui bahwa ayah merupakan tokoh penting. Kiprah beliau tidak diragukan lagi. Meskipun hanya lulusan sekolah rakyat, beliau punya jiwa pengabdian tinggi di masyarakat.

“Sebaik-baik manusia adalah manusia yang berguna buat manusia lainnya,” tutur ayah.

Kini ayah masih tergolek lemas. Guratan di keningnya menjadi bukti bahwa beliau sering berpikir dan berbuat untuk kemaslahan umum. Otot-otot yang mulai timbul di lengannya menandakan ayah juga pekerja keras untuk menghidupi keluarga. Selain itu, ayah juga terkenal sebagai dermawan. Punya jiwa sosial yang tinggi.

“Ayah, semoga lekas sembuh. Masyarakat masih sangat mengharapkan tenaga dan pikiranmu. Ayah, anak-anakmu merindukan senyum dan nasihat-nasihatmu. Cepat sehat, ayah,” bisikku di telinga ayah.

Ayah tersenyum. Perlahan dia membuka kedua matanya. Bola matanya berputar mengamati sekeliling. Dia menatap wajahku dan wajah adik-adikku. Ayah mengangkat kepala kemudian duduk. Kedua tangannya tiba-tiba merangkul kami sembari membisikkan ucapan terima kasih. Ayah juga berpesan agar kami selalu rukun dengan saudara dan siapa pun. Satu lagi yang diapesankan agar kami selalu menjadi manusia yang bermanfaat  bagi manusia lainnya.

Lamongan, 19 Maret 2025

 

Ahmad Zaini, ketua Lesbumi PCNU Babat dan guru SMKN 1 Lamongan.