Jumat, 20 Maret 2026
Sabtu, 15 November 2025
Cerpen Gerilyawan Kampung Embongmiring, Jawa Pos grup Radar Bojonegoro, Sabtu, 15 November 2025
Gerilyawan Kampung Embongmiring
Cerpen karya Ahmad Zaini
Kedamaian kampung Embongmiring tiba-tiba terusik lagi. Ratusan selebaran berserakan di jalan-jalan dan gang rumah warga. Banyak pula yang tersangkut di genting rumah dan di dahan-dahan pohon. Rupanya selebaran itu disebar dari pesawat yang melintas tadi. Selebaran itu berisi pesan warga kampung Embongmiring harap segera mengungsi. Siang sekitar pukul empat belas akan ada konvoi kompeni datang ke kampung ini. Menurut informasi yang tertulis dalam selebaran, mereka sedang mencari Mitro.
Mitro merupakan gerilyawan yang tinggal di kampung Embongmiring. Namun, beberapa hari ini dia bersama lima orang temannya tidak kelihatan di kampung. Pengakuan keluarganya, Mitro dan kawan-kawan bergabung dengan gerilyawan dari daerah lain. Kasak-kusuk dari seberang, di pinggir jalan kampung seberang ditemukan mayat kompeni. Antek kompeni yang juga orang pribumi melapor kepada komandan kompeni, Mitrolah pembunuhnya. Maka dari itu, komandan kompeni mengerahkan bala tentaranya akan datang ke kampung Embongmiring guna menangkap Mitro.
Warga kampung Embongmiring panik. Mereka tidak ingin menjadi bulan-bulanan tendangan sepatu tentara kompeni. Bisa-bisa kepala mereka juga terkena poporan senjata mereka. Wanita dan anak-anak terutama. Mereka harus segera diselamatkan. Segera mencari pengungsian yang aman.
Mitro pendekar kampung Embongmiring. Dia sangat disegani para kompeni dan antek-anteknya. Beberapa bulan lalu, pemuda kampung dibawah komando Mitro, mampu menghalau iring-iringan tentara Londo (istilah orang kampung menyebut Belanda) yang akan mengobok-obok kampung halamannya. Dengan gagah perkasa, semangat berjuang para pemuda kampung Embongmiring mampu mengusir gerombolan kompeni. Setelah kejadian itu, para tentara kompeni tidak berani memasuki kawasan Embongmiring.
Warga kampung selalu dihantui rasa was-was. Mereka selalu ketakutan jika ada pesawat melintas di atas kampung mereka. Para warga takut pesawat tersebut menjatuhkan bom di tengah kampung. Mereka takut menjadi korban. Pasukan udara Londo itu berjaga-jaga dan mengawasi pergerakan para gerilyawan dari atas udara.
Di tengah hutan kampung, penduduk setempat menyebutnya tegalan, para warga mengungsi. Para lelaki tua, wanita, dan anak-anak bahu-membahu mendirikan tenda di bawah pepohonan rindang. Mereka akan aman mengungsi di situ lantaran tempat tersebut sulit dilihat dari udara dan sulit ditempuh dengan kendaraan truk.
Mitro dan kawan-kawan mengetahui rencana kompeni datang ke kampungnya. Mereka bergegas kembali ke kampung guna memastikan keberadaan keluarga dan warga lainnya. Sesampai di kampung, mereka melihat suasananya sepi. Para warga sudah mengungsi. Salah satu warga yang kebetulan kembali ke rumah untuk mengambil bekal yang tertinggal memberi kabar kepada Mitro dan kawan-kawan bahwa warga kampung telah mengungsi di tegalan.
“Kompeni akan datang kemari menangkap kalian,” kata lelaki itu memberi tahu Mitro.
“Iya. Kami sudah tahu. Segeralah kembali ke pengungsian. Jaga mereka,” pesan Mitro.
“Baik. Saya kembali ke sana,” pungkas lelaki tersebut lalu berjalan cepat menuju tegalan.
Mitro dan kawan-kawan berunding di sebuah rumah yang ditinggal penghuninya. Mereka mengatur strategi untuk menyelematkan diri dan menyelamatkan seluruh isi kampung. Mumpung masih ada waktu, mereka berdiskusi panjang bangaimana cara menghalau para pengisap darah rakyat.
“Kita tidak mungkin melawan mereka berlima. Kita butuh teman lainnya,” usul Darso.
“Sudah. Teman-teman dari daerah lain sudah saya kondisikan. Mereka akan menjebak dan menyerang para kompeni dari balik embong,” sahut Mitro.
“Sip. Mari kita beraksi.”
Kelima gerilyawan kampung ini lantas beraksi sesuai pembagian tugas. Ada yang membuat benteng dari tumpukan karung pasir. Ada yang juga yang memasang ranjau alami dari bambu runcing. Ada pula yang membuat perangkap jaring dari atas pohon besar di ladang Pak Komari. Satu orang yang bernyali tinggi sebagai pemancing. Dialah nanti yang menggiring para kompeni menuju ke arah jebakan yang telah disiapkan. Tak lupa para gerilyawan ini mempersenjatai diri dengan senjata tajam, bambu runcing, dan ketapel beserta batu-batu kecil sebagai amunisi.
Lima pemuda kampung Embongmiring sudah tidak sabar lagi. Tangan-tangan mereka sudah gatal ingin segera menghabisi para penindas. Mereka bertekad menjaga marwah dan harga diri negeri. Tidak ingin kedaulatan negeri ini diobok-obok oleh orang asing, oleh para penjajah. Kampung Embongmiring akan dijadikan kuburan massal bagi anjing-anjing yang memangsa tulang anak negeri.
“Kita salat zuhur dulu secara bergantian. Yang lain berjaga-jaga jangan sampai mereka mengelabui kita dengan datang lebih awal dari waktu yang tertera di selebaran,” kata Mitro.
“Siap. Silakan kalian salat dulu. Biar saya dan Kasimo berjaga di sana ” sanggup Darso.
Mitro dan dua gerilyawan melaksanakan salat zuhur berjamaah. Mereka menggelar sarung dan jarik warga yang ditinggal di rumah itu sebagai sajadah. Sementara Darso dan Paimin menuju benteng pasir untuk mengawasi situasi di kampung.
Para gerilyawan kampung Embongmiring ini sangat taat beribadah. Meskipun siuasi sedang genting, mereka tetap melaksanakan salat lima waktu. Mereka sadar bahwa keselamatan dan kemenangan datang dari Allah. Tanpa campur tangan Allah, manusia tidak akan bisa berbuat apa-apa.
“Darso, giliran kalian salat. Biar kami ke situ,” teriak Mitro memberi aba-aba kepada Darso dan Paimin.
Matahari terik di atas kampung tak membuat mereka mengeluh kepanasan. Tekadnya menghabisi para kompeni semakin membara. Para gerilyawan kampung ini tidak mau berlama-lama hidup dalam cengkeraman penjajah. Mitro dan kawan-kawan ingin membabat kuku dan taring mereka. Ingin melihat mereka bertekuk lutut bahkan mati tertembus ujung bambu dan amunisi ketapelnya.
Dari kejauhan terlihat dua truk tentara kompeni. Mereka dikawal pengkhianat pribumi yang menjadi anjing piaraan Londo. Bising suara truk semakin memekak telinga. Mereka berhenti di ambang gerbang masuk kampung Embongmiring. Mata-mata kompeni beraksi. Bola matanya berputar mengamati seluruh isi kampung.
“Sepi. Tidak orang,” lapor pengkhianat bangsa kepada komandan kompeni.
“Kalian turun semua. Kita periksa semua rumah. Mitro pasti bersembunyi di sini. Tangkap dia hidup-hidup,” perintah komandan yang bertubuh tinggi besar dan bercambang lebat ini.
Derap kaki tentara kompeni menyisakan debu. Kepulnya seperti cawan yang biasa mereka pegang untuk menuangkan minum-minuman keras. Sepatu bot para penjajah mendobrak pintu rumah warga. Rumah-rumah kosong semua. Mereka tidak menemukan satu pun penghuninya. Orang yang mereka cari belum juga ditemukan.
“Lapor, Mitro tidak ada. Rumah kosong semua,”
“Kalian goblok. Bakar rumah-rumah itu biar orang bernama Mitro mampus terbakar. Cepat!” teriak komandan kompeni menyuruh pasukannya membakar rumah penduduk.
Puluhan tentara menjinjing jerigen berisi bensin. Mereka menyiram dinding bambu rumah penduduk. Ketika mereka hendak menyulutkan api, salah satu dari mereka tiba-tiba menjerit kesakitan. Dia terkapar karena kepalanya tertembus amunisi ketapel.
“Itu orangya,” kata seorang kompeni sambil menunjuk ke arah sosok lelaki yang berlari ke area yang telah dipasang jebakan. Sontak para tentara kompeni mengejarnya ke area itu.
Para tentara kompeni tidak menyadari kalau mereka telah memasuki kawasan yang berbahaya. Area tersebut telah dipasang berbagai jenis perangkap. Satu persatu dari mereka berjatuhan. Ada yang ususnya terburai keluar setelah tertusuk bambu runcing yang tiba-tiba meluncur sendiri ke arah perutnya. Ada pula yang kepalanya tertembus batu ketapel. Ada pula yang tersangkut jaring lalu terkerek ke atas pohon hingga bergelantungan seperti sarang lebah. Mitro dan kawan-kawan terus bergerak dengan berlari ke arah yang telah dipasang jebakan lain. Puluhan tentara kompeni mampus karena kecerdikan siasat yang dibuat para gerilyawan.
Sadar tentaranya habis, komandan kompeni yang bediri di samping truk mencari bantuan. Dia mengontak tentara kompeni lain di markasnya. Tak berselang lama, iring-iringan truk pengangkut tentara kompeni mendekat kampung Embongmiring.
Para gerilyawan tak tinggal diam. Mereka pun beraksi. Setelah iring-iringan truk itu benar-benar masuk di kampung Embongmiring, ratusan gerilyawan dari daerah lain mengurungnya dari segala penjuru.
“Serbu...!!!” suara aba-aba lantang memecah langit yang mulai menjingga.
Para gerilyawan dari arah luar dan dalam kampung Embongmiring bermunculan. Mereka menyerang dan membunuh para tentara kompeni. Kampung Embongmiring banjir darah. Mayat-mayat tentara Londo bergelimpangan. Termasuk komandannya. Tubuh tinggi besar dan bercambang lebat itu mati berdiri sambil bersandar di moncong truk lantaran kepalanya tertembus anak panah gerilyawan.
Truk-truk dan senjata perang mereka telah dikuasai para gerilyawan Embongmiring. Mereka membabat habis para penjajah. Tak satu pun dari mereka yang tersisa hidup. Kampung Embongmiring menjadi kuburan massal bagi penjajah. Mereka tinggal jasad berlumur darah yang tak bernyawa. Mereka mampus di tangan para gerilyawan yang telah lama haus kemerdekaan. Mereka yang menginginkan hidup tanpa paksaan dan siksaan para penjajah.
“Mitro...!!! Kita menang. Kita merdeka,” teriak salah satu orang dari arah tegalan tempat para warga mengungsi.
Ratusan penduduk kampung Embongmiring berduyun-duyun kembali ke rumah mereka. Para warga mengelu-elukan nama Mitro dan kawan-kawan. Karena perjuangan Mitro dan para gerilyawan lain, kampung mereka terbebas dan intimidasi dan kesemena-menaan penjajah. Mereka kini hidup merdeka. Mereka bebas beraktivitas. Mereka kembali berkumpul bersama keluarga untuk menyulam kehidupan yang bebas dari cengkraman penjajah. (*)
Lamongan, 3 Agustus 2025
Ahmad Zaini, guru SMKN 1 Lamongan. Dia tinggal di Wanar, Pucuk, Lamongan.
https://radarbojonegoro.jawapos.com/lembar-budaya/716833515/lembar-budaya-gerilyawan-kampung-embongmiring
Minggu, 02 November 2025
Cerpen Percakapan Siang di Kantin Sekolah, Sabtu, 6 September 2025
Percakapan Siang di Kantin Sekolah
Cerpen karya Ahmad Zaini
Beberapa kipas angin di atas kerangka
atap kantin sekolah terdiam. Baling-balingnya membisu. Tak ada suara berisik
akibat putarannya. Rupanya kipas angin kantin bersedih. Turut merasakan
kesedihan para penyewa kantin sejak diberlakukan program makan gratis di
sekolah ini. Sukimin dan Tarmijan misalnya. Kedua orang ini sekarang banyak
santainya. Padahal, sebelum-sebelumnya mereka sosok yang sangat sibuk melayani
para murid yang membeli nasi atau gorengan. Namun, mereka sekarang sering
duduk-duduk di depan kantin sambil mengobrol ke sana kemari.
“Memang rezeki itu misteri. Tidak ada
yang bisa memastikan kapan, di mana, dan berapa yang kita dapatkan,” kata
Sukimin.
“Min, Min. Kamu ini sedang tausiyah,
keluhan, atau protes adanya program makan gratis ini?” goda Tarmijan.
“Tidak. Aku tidak mengeluh. Itu sudah
program pemerintah. Tujuannya baik agar orang tua murid tidak terbebani makan
biaya makan siang anak-anaknya di sekolah,” jawab Sukimin.
“Yang jujur! Pendapatanmu tiap hari
berkurang, to! Setiap pulang kamu
membawa nasi bungkus yang tidak laku, to?
Kamu dan aku sama. Penghasilan kita menurun. Terjun bebas,” sambung Tarmijan.
“Iya. Tapi bagaimana lagi. Kita ini
orang kecil. Hanya penyewa kantin di sini. Hanya pasrah menerima nasib. Tidak
bisa berbuat apa-apa selain mengeluh.”
“Nah,
semua penyewa kantin di sini mengalami hal yang sama,” pungkas Tarmijan.
Usaha mereka sangat terdampak oleh
program makan gratis. Penghailan mereka turun drastis. Mereka yang selalu
dibantu oleh istri masing-masing dalam mengelola kantin, kini memutar otak
mencari cara bagaimana agar kantinnya ramai seperti sebelumnya. Para penyewa
kantin berdiskusi. Mereka saling mendengar dan menyampaikan uneg-unegnya. Mereka beradu gagasan
tentang cara meramaikan kantin.
Memang serba salah. Pernah terbesit
dalam pikiran Tukimin dan Tarmijan untuk menambah kualitas menu yang mereka
jual. Akan menambah bumbu dan penyedap lainnya. Tapi, mereka sadar jika
menambah kulitas menu, tentu perlu tambahan
modal. Mereka juga ragu. Setelah menu mereka semakin enak dan gurih
apakah murid-murid langganannya akan kembali membeli nasi dan jajan ke kantin
mereka. Toh, di depan sudah
disediakan nasi yang dapat dinikmati dengan cuma-cuma.
Tarmijan mendekat ke telinga Sukimin.
Ada rencana yang dibisikkan ke telinga lelaki yang sebaya dengannya itu.
“Jangan, Jan! Bahaya. Jangan sampai
kaulakukan. Jika sampai terjadi, kita semua yang akan dituduh sebagai
pelakunya,” larang Sukimin.
“Lantas dengan cara apalagi agar
dagangan kita laku?”
“Sabar menjalaninya dulu. Kalau kita
sabar, pasti Allah akan memberi jalan keluar,” saran Sukimin.
“Iya, kamu bisa sabar. Anak-anakmu
sudah bekerja. Tapi, aku? Anak-anakku masih sekolah, bahkan kuliah. Mereka tiap
hari, tiap bulan membutuhkan uang. Mereka butuh biaya hidup dan pendidikan,”
kata Tarmijan.
“Bagaimana lagi. Kita ini orang
kecil. Rakyat jelata. Tidak mungkin bisa menolak program pemerintah. Meskipun
sebenarnya aku juga tidak setuju, kita jalani saja,” kata Sukimin dengan nada
yang berat sekali.
Kedua orang terdiam sambil sambil
membayangkan nasib usahanya. Matanya menerawang jauh ke depan. Lebih-lebih
Tarmijan. Dia tidak sekadar mengalami penurunan hasil berjualan nasi dikantin
sekolah, akan tetapi juga memikirkan nasib anak-anaknya yang belum tuntas
belajar di bangku sekolah.
Jam menunjukkan pukul sepuluh siang.
Sebentar lagi ribuan ompreng nasi
gratis akan datang. Sukimin dan Tarmijan bersiap-siap membantu menurunkan ompreng nasi dari mobil pengirim. Hari
ini jadwal mereka membantu pendistribusian nasi tersebut ke murid-murid.
Walaupun berat hati, mereka tetap melaksanakan tugas tersebut. Mereka tidak
bisa mungkir lantaran mereka juga mencari hidup di sekolah. Mereka harus tetap
tunduk dan patuh pada perintah.
Dada Tarmijan berdegub kencang saat
iring-iringan mobil box masuk ke area sekolah. Napasnya terasa sesak. Dalam
benaknya berkata, inilah program yang menyumbat penghasilannya. Dada Tarmijan
semakin bergemuruh ketika ratusan murid datang bergelombang mengambil jatah
nasi gratis. Sejenak Tarmijan terpaku. Dia menoleh ke kantin lalu menoleh ke
area pembagian nasi gratis. Di tempat ini sangat ramai, sedangkan di area
kantin sepi.
Krompyang,
terdengar suara ompreng
makan berbahan stenlis jatuh.
Suaranya menyerupai serpihan hati Tarmijan yang mengeras lantaran dia sangat
menentang program ini.
“Kenapa kaujatuhkan ompreng nasi ini?” tegur lelaki berkaos
warna silver kepada Tarmijan. Rupa lelaki itu penanggung jawab program di
wilayah sekolah ini.
“Aku tidak sengaja,” jawab singkat
Tarmijan.
Sukimin yang sejak tadi sudah
mengkhawatirkan kejadian ini, berlari-lari kecil mendekati Tarmijan. Posisi
tangan Tarmijan yang masih seperti memondong ompreng nasi, diseret Sukimin menjauh dari tempat itu. Sukimin
mendudukkan Tarmijan di kursi panjang di depan kantin mereka.
“Kenapa kamu nekat melakukannya?”
“Biar mereka rugi dan tidak
meneruskan program ini. Program makanan gratis ini hanya menguntungkan
orang-orang kaya dan mencekik yang miskin. Aku tetap akan menghentikan program
ini biar kantin-kantin kita ramai lagi. Biar dagangan kita laku semua,” jawab
Tarmijan.
“Konyol. Kelakuanmu ini bodoh. Mereka
tidak mungkin rugi hanya gara-gara lima ompreng nasi kamu jatuhkan. Andai semua
ompreng tempat akan kaubuang ke laut sekalipun, mereka akan membeli lagi lebih
banyak. Usaha dan barang-barang mereka itu sudah diasuransikan,” kata Sukimin
menjelaskan ulah Tarmijan yang konyol itu.
Darah Tarmijan mendidih. Keringat dan
peluhnya menguap. Matanya memerah. Gigi kuningnya menyeringai seperti singa.
Tarmijan berdiri hendak mengobrak-abrik tumpukan ompreng nasi gratis.
“Kamu akan ke mana? Ke situ lagi? Ngamuk lagi? Silakan! Tapi kalau kau
terkena masalah, jangan cari atau sebut namaku. Kamu akan terjerat pasal
pengrusakan inventaris pemerintah. Kamu juga akan dijerat pasal makar karena
menghalang-halangi program pemerintah.”
Tarmijan diam. Dia berdiri seperti
patung. Api amarah yang sempat menyala-nyala, perlahan padam setelah mendengar
risiko yang bakal dihadapinya. Dia lantas duduk kembali sambil menepuk-nepuk
dadanya. Dia putus asa lantaran belum menemukan jalan keluar dari permasalahan
yang dihadapinya.
Dua lelaki yang mulai menua ini
mendesah panjang. Mereka melepas dan memasrahkan beban ini kepada Allah. Mereka
hanya rakyat kecil yang hanya bisa mengeluh tanpa ada yang menampung
keluhannya. Tanpa ada perantara keluh kesahnya kepada pejabat yang punya kebijakan.
“Gusti Allah Mahakaya. Jangan takut
melarat. Yang penting sebagai hamba tetap berusaha. Rezeki diatur Allah,” kata
Sukimin menenangkan hati Tarmijan.
“Betul sekali. Kita sudah diberi
oleh-Nya kesempatan berusaha di kantin ini. Gusti Allah sudah banyak memberikan
nikmat yang tak terhitung jumlahnya,” kata Tarmijan.
“Pak, air dan es batunya habis,”
suara istri Tarmijan dari dalam kantin. Tarmijan menengok ke arah kantin. Dia
melihat beberapa murid sedang mengantre membeli es. Tarmijan lantas bediri. Dia
bergegas pergi untuk belanja es batu dan air galon.
Sukimin melihat urat-urat wajah
Tarmijan yang mulai mengendor. Tidak tegang dan merah menyala seperti
sebelumnya. Sukimin senang karena Tarmijan mulai sadar dan memahami posisi. Dia
mulai mengerti statusnya sebagai hamba Allah penjual nasi, gorengan, dan es di
kantin sekolah. Dia bukan pembuat kebijakan yang sewaktu-waktu bisa mengubah
atau membuat keputusan.
Suasana kantin menjadi tenang lagi.
Dua lelaki setengah tua beraktivitas dengan berbagi tugas bersama istrinya.
Tarmijan dan Sukimin bagian mengangkat beban yang berat-berat, sedangkan para
istrinya mengerjakan yang ringan-ringan di dalam stand kantin.
Hiruk-pikuk para murid mengembalikan ompreng atau wadah menu makanan gratis
kepada petugas piket. Para petugas
menerima dan menghitung ompreng
dengan teliti. Jumlah yang akan dikembalikan kepada pengelola, harus sesuai
dengan jumlah yang diterimanya. Apabila kurang, maka pihak sekolah harus
mengganti sesuai dengan harganya.
Saat itulah Sukimin dan Termijan
terlihat kedewasaannya. Dia ikhlas menerima kondisi yang ada. Meskipun hati
belum sepenuhnya puas, mereka tetap berjalan melenggang sambil memanggul air
galon dan beberapa es batu melintasi tumpukan ratusan ompreng di sebelahnya. Hatinya tetap dingin. Senyumnya pun mulai
tampak saat terjadi saling lihat dengan petugas.
Dalam benak Sukimin, Tarmijan, para
pelaku usaha kantin di sekolah berharap semoga ada kebiajakan baru dari
pemerintah. Program makan bergizi gratis ini dikelola oleh sekolah
masing-masing lalu diserahkan kepada pihak kantin sekolah.
Waktu semakin siang. Para murid mulai
masuk kelas melanjutkan pembelajaran. Kantin kembali lengang. Sukimin, Tarmijan
dan pengelola kantin lainnya mengemasi dagangan yang tersisa. Mereka membawa
pulang sisa dagangan bisa dinikmati anak, cucu, para kerabat, dan tetangga.
Waktunya mereka beristirahat setelah berjualan di kantin hampir seharian.
Mereka ingin berebahan di rumah sambil menikmati anugerah Allah yang telah
diberikan kepadanya.(*)
Wanar, 28 Agustus 2025
Rabu, 06 Agustus 2025
Gara-Gara Lubang, Cerpen Jawa Pos grup Radar Bojonegoro, Sabtu, 2 Agustus 2025
Gara-Gara Lubang
Cerpen karya Ahmad Zaini
Kampung ini sedang tidak baik-baik saja. Penduduknya banyak, namun kurang sejahtera. Setiap hari mereka bekerja di ladang. Menanam segala tanaman yang bisa dimanfaatkan buahnya buat bertahan hidup. Beberapa tahun terakhir ini hasil panen mereka menurun. Para petinggi kampung terkesan menutup mata. Mereka belum pernah memberi solusi untuk mengatasi permasalahan ini. Terkesan kepala kampung dan perangkatnya tidak pernah memerhatikan mereka. Terutama kepala kampung. Kasak-kusuk banyak warga yang menduga semua itu gegara lubang.
Warga kampung mendadak geger. Mereka tiba-tiba berdebat tentang lubang. Ada kelompok yang mengatakan lubang itu penting. Ada pula yang berpendapat lubang berbahaya. Sisanya abstain alias tidak mempermasalahkan lubang.
Setiap hari dari pagi sampai sore, di rumah atau di tempat keramaian, bahkan di tempat ibadah mereka berdebat tentang lubang. Sebegitu kuatnya daya tarik lubang buat mereka sampai-sampai mendebatkannya tanpa memedulikan waktu dan tempat.
“Andai tubuh kita tidak ada lubang, kita akan mati,” kata perempuan bertubuh gembrot sambil setengah berdiri dengan bertumpu pada lutut.
“Namun banyak pula orang mati karena lubang,” sanggah lelaki kurus dengan rambut tak terurus.
“Selain kita bisa hidup, lubang juga bermanfaat buat manusia. Tanpa lubang, kita seperti di penjara,” sambung perempuan gembrot.
“Faktanya banyak orang dipenjara juga karena lubang,” respon lelaki kurus mementahkan setiap pendapat si perempuan.
Tiba-tiba perempuan gembrot berdiri. Dia berjalan terhuyung-huyung mendekati lelaki kurus. Serta merta perempuan itu menghempaskan tubuhnya menindih lelaki kurus. Lelaki itu meronta meminta tolong warga lainnya. Dia hampir mati lantaran sulit bernapas. Lubang hidung, mulut, dan lubang lainnya hampir tersumbat tubuh besar perempuan itu. Untung saja para warga sigap. Mereka beramai-ramai mengangkat tubuh perempuan yang menindih lelaki kurus berambut tak terurus.
“Ini sebagai bukti bahwa lubang itu sangat penting. Tanpa lubang, pasti tidak ada kehidupan. Semua manusia akan mati tanpa lubang,” suara lantang perempuan gembrot dengan jumawa.
“Aku hampir mati, juga karena tertindih lubang,” kata si lelaki dengan napas terengah-engah.
“Apa katamu?” perempuan itu berdiri dan hendak menindih lelaki kurus itu lagi.
Lelaki ini berdiri lantas berlari menjauh untuk mencari tempat yang aman. Dia menyusup ke tengah kerumunan warga lainnya.
Dari kejauhan terdengat gemuruh suara orang-orang berdemontrasi. Mereka bergerak akan menunju balai kampung. Mereka menuntut permasalahan lubang. Peserta demo ini mayoritas korban lubang.
“Tutup lubang, tutup lubang, tutup lubang!” teriak mereka sambil membentang spanduk bertuliskan Komunitas Korban Lubang.
Para pendemo antilubang ini rata-rata pernah celaka gegara lubang. Ada yang kepalanya miring, tangan patah, kaki pengkar, tulang hidung remuk, bahkan sampai ada yang tulang ekor retak hampir lumpuh.
Semua pendemo menganggap lubanglah biang keladi semua itu hingga menjadi cacat. Mereka sepakat, lubang segera dilenyapkan dari kampung ini.
Perempuan gembrot spontan berdiri. Dengan suara menggelegar, dia membantah kata-kata para pendemo.
“Kalian jangan menyalahkan lubang. Kalian lahir ini juga karena lubang. Kalian mati juga butuh lubang,” kata perempuan gembrot itu dengan lantang.
“Pokoknya hari ini lubang-lubang itu harus ditutup. Karena lubang, negara kita punya hutang banyak. Karena lubang juga, dana kampung kita semrawut. Gara-gara lubang di jalan juga, banyak kecelakaan. Banyak korban yang mati.
“O, itu yang kalian maksud. Benar juga,” perempuan itu baru memahami maksud para pendemo.
“Huuuu,” warga sekampung dan para pendemo menyoraki perempuan gembrot.
“Sekarang aku ikut gabung kalian. Ayo, bersama-sama menggeruduk balai kampung. Mari kita tutup lubang-lubang di sana agar hidup kita aman dan sejahtera,” ajak perempuan tersebut.
Permasalahan demi permasalahan banyak bersumber dari lubang. Lubang itu menyamar. Banyak orang terkelabui lubang. Banyak juga orang terjebak lubang. Pengakuan mereka yang pernah menjadi korban lubang, katanya lubang itu kelihatan datar. Tidak ada tanda gundukan atau semacamnya. Apalagi jika lubang itu tertutup air. Terlihat halus dan mulus. Mereka tidak menyangka kalau mereka akan celaka. Makanya orang-orang itu tidak pernah menyadari bahwa mereka akan terperosok dalam lubang. Mereka pasti sial atau celaka. Mereka akan benar-benar sadar saat sudah masuk dalam lubang. Mereka terjungkal, terjebak, dan tercabut harga diri bahkan nyawanya.
“Barang siapa menggali lubang, maka dia akan terperosok ke dalamnya,” kata lelaki kurus menirukan peribahasa.
“Tutup lubang, tutup lubang, tutup lubang,” teriak para pendemo yang berduyun-duyun menuju halaman balai kampun.
Sekarang seluruh warga berkumpul di halaman balai kampung. Mereka menyampaikan aspirasi dan menuntut kepala kampung agar menutup lubang.
“Di kampung ini banyak lubang menganga. Makanya kehidupan warganya tidak aman dan sengsara. Kami menuntut lubang-lubang di semua lini kampung ini segera ditutup agar kami bisa hidup aman, nyaman, dan sejahtera,” salah satu pendemo menyampaikan orasinya.
“Betul sekali. Anggaran kampung berlubang. Dana banyak yang masuk lubang. Mari kita tutup lubang agar tidak terjadi kebocoran lagi,” sambung perempuan gembrot.
“Hidup kita masih berlubang. Belum sempurna. Jauh dari kata sejahtera. Mulai hari ini, lubang-lubang itu harus kita tutup agar kita bisa hidup aman,” sambung si lelaki kurus.
“Jalan berlubang berbahaya. Apalagi lubang berjalan, malah sangat berbahaya,” celetuk salah satu pendemo.
“Betul. Betul sekali. Ibu-ibu menjadi korbannya. Suaminya banyak yang tidak pulang karena lubang berjalan,” sahut pendemo lainnya yang paham dengan istilah itu.
Suasana semakin panas karena kepala kampung tidak segera muncul menemui mereka. Si gembrot berdiri, lalu merangsek, mendorong para hansip yang membentuk pagar betis mengamankan kepala desa. Mereka merasa diabaikan oleh kepala kampung. Merasa pendapatnya tidak dihargai.
“Jangan-jangan…, kepala kampung bersembunyi dalam lubang di ruang kerjanya?” lelaki kurus curiga.
“Benar juga,” sahut salah satu pendemo.
Karena hampir setengah hari kepala kampung tidak segera keluar, para pendemo tidak sabar. Mereka serempak memaksa masuk ke ruang kerja kepala kampung. Pendemo dan hansip saling dorong hingga pagar betis yang mereka bentuk berlubang. Para pendemo menerobos lubang-lubang itu, kemudian masuk ke ruang kerja kepala desa.
Mereka bengong lantaran tidak menemukan kepala kampung di ruangan. Mata mereka menjelajah di setiap titik ruang. Mereka belum juga melihat batang hidung kepala kampung. Perempuan gembrot beraksi. Tangan berototnya mengangkat meja kerja kepala kampung. Dia yakin dan seyakin-yakinnya, kepala kampung pasti bersembunyi di bawah meja kerjanya.
Perempuan gembrot, lelaki kurus, dan para pendemo yang ikut masuk ke ruang kerja kepala kampung terkejut. Mata mereka terbelalak. Mereka menemukan lubang di bawah meja kerja kepala kampung. Lubang yang sangat dalam. Lubang berdiameter seukuran tubuh manusia. Lubang itu gelap. Tidak tahu apa atau siapa yang ada di dalamnya. Tidak tahu lubang itu memiliki terusan atau tidak.
Mereka menerka-nerka kegunaan lubang ini. Apakah berfungsi sebagai bunker, tempat kepala kampung menyelamatkan diri dari serangan rudal para warganya? Atau jalur rahasia kepala kampung pulang ke rumah istri mudanya? Jangan-jangan, lubang ini digunakan oleh kepala kampung menyimpan penghasilan yang tidak halal? Atau berfungsi sebagai lumbung pangan yang disiapkan buat warga sebagai antisipasi bila terjadi bencana kelaparan? Semua itu hanya usaha menebak-nebak para pendemo mengenai lubang yang mereka temukan ini.
Ternyata. oh, tenyata! Lubang di bawah meja kerja kepala kampung itu multifungsi. Ada beberapa cabang lorong dalam lubang. Lorong pertama digunakan sebagai penadah kebocoran anggaran kampung. Lorong kedua sebagai terusan kepala kampung melarikan diri dari kejaran warga dan KPK. Lorong yang terakhir, sebagai tempat persiapan bunuh diri apabila kejahatannya terkuak oleh aparat penegak hukum.
Warga kampung baru mengerti sebab-musabab infrastruktur di kampung ini tertinggal dari kampung lainnya. Jalan-jalan berlubang. Irigasi persawahan mangkrak serta proyek-proyek lain banyak yang terbengkalai. Ternyata gara-gara lubang.
Warga kampung yang berdemo itu lantas keluar ruang kerja kepala kampung. Mereka mengambil pasir dan pedel. Mereka bahu-membahu membereskan persoalan yang melilit kehidupan warga kampung. Mereka menutup semua lubang dan lorong-lorong yang ada di dalamnya. Para warga tidak mau hidupnya menderita gegara lubang itu.
Setelah melampiaskan kekesalannya dengan menutup lubang dan lorong-lorong tersebut, para pendemo kembali ke rumah masing-masing. Mereka yakin hidup mereka akan sejahtera seperti yang mereka dambakan selama ini. Mereka akan hidup damai dan rukun bersama keluarga dan warga lainnya. (*)
Wanar, 18 Juli 2025
Ahmad Zaini merupakan sastrawan asal Lamongan. Beberapa karyanya baik puisi dan cerpen telah beredar di berbagai media cetak dan online.
Selasa, 15 Juli 2025
Ayah dan Keteladanannya, NU Online , Ahad, 13 Juli 2025
https://www.nu.or.id/cerpen/ayah-dan-keteladanannya-fVVIG
Ayah dan Keteladanannya
Cerpen
karya Ahmad Zaini
Tubuh
kurus ayah terkulai di ranjang medis. Beberapa selang infus berjuntai untuk
menyuplai obat dan nutrisi ke dalam tubuh. Pada jam-jam tertentu, datang
perawat. Dia bertanya tentang perkembangan kesehatan ayah. Perawat itu pun
memberikan suntikan obat. Mulut kering ayah menyeringai menahan sakit. Air mata
cekung menerawang kosong ke langit-langit ruang peerawatan. Ayah cemas. Hal itu
terlihat tatapan kosong dari kornea mata yang tak putih sempurna.
“Mbah,
lekas sembuh, ya!” kata perawat sambil mengemasi peralatan medis ke dalam
sebuah kotak yang diletakkan di samping tubuh ayah.
“Terima
kasih,” sahut ayah dengan suara lirih.
Aku
tertegun berdiri menatap tubuh kurus ayah yang terkulai di ranjang. Bahu yang
dulu kekar, kini tinggal tulang yang terbalut kulit. Tangan kurus itu tak mampu
dibuat menyangga tubuhnya sekadar ingin berbaring. Aku sigap menyangga tubuh
ayah lalu membaringkannya pelan-pelan.
Ini
merupakan hari kelima ayah dirawat di rumah sakit. Ayah terdeteksi mengidap
paru-paru. Sebelum aku bawa ke rumah sakit, ayah sudah beberapa minggu
merasakan sesak napas dan batuk yang tiada henti. Menurut cerita adik-adikku
yang tinggal serumah dengan ayah, selama itu pula ayah tidak pernah tidur. Raut
wajah ayah memucat. Matanya memerah. Tulang-tulang pipinya semakin menonjol.
Sebagai
anak sulung, aku tak tega melihat kondisi ayah sedemikian itu. Aku membujuk
agar ayah mau berobat ke rumah sakit. Namun, ayah selalu menolak.
“Kenapa?”
tanyaku. Ayah diam. Dia tidak menjawab pertanyaanku. Ia Kembali berbaring di dipan berkasur kusam.
Berbagai
cara telah kutempuh untuk membujuknya. Tapi ayah bersikukuh menolaknya. Alasan
biaya? Kurasa tidak. Aku sejak awal berniat akan membiayai pengobatan ayah. Aku
bertanya lagi kepada ayah. Dia tetap menggeleng-gelengkan kepala. Aku bertanya,
bertanya, dan bertanya lagi. Lambat laun tembok kokoh yang merahasikan alasan
ayah tidak bersedia berobat ke rumah sakit akhirnya runtuh juga.
“Aku
tidak mau merepotkan kalian,” jawabnya.
Seperti
itulah ayah sejak dulu. Dia tidak mau merepotkan anak-anaknya. Padahal, sedikit
pun aku merasa tidak terbebani. Dia juga tidak mau merepotkan tetangga yang
apabila mendengar tetangga lain sakit langsung berbondong-bondong menjenguknya.
Tradisi
anjangsana, berlisaturrahmai di desa seperti menjenguk orang sakit sudah
mandarah daging. Ayah termasuk orang yang mejaga dan turut melestarikan tradisi
itu. Semua kelurga baik yang tinggal satu desa maupun lain desa pernah dikunjunginya.
Aku masih ingat betul ketika diajak ayah bersilaturrahmi ke rumah pakde. Rumah
pakde berjarak sekitar tiga kilometer dari tempat tinggalnya. Jarak tidak
menjadi pengalang ayah bersilaturrahmi. Ayah berjalan kaki sambil menggendongku
di punggung.
“Ayah,
capek,” kataku kala itu.
“Sini
naik ke punggug,” pintanya.
Aku
segera melompat ke punggung ayah dan merasakan betapa kuat niat dan tenaga ayah
untuk bersilaturrahmi. Dia mampu berjalan sambil menggendongku di belakang menyusuri
jalan becek dan berlumpur.
“Aku
tidak pernah merasa ayah merepotkanku. Aku siap dan ikhlas menjaga ayah di
rumah sakit sampai sembuh,” kataku.
Ayah
bergeming. Dia sedikit pun tak menunjukkan kesediaan berobat ke rumah sakit.
Dia memilih dirawat di rumah dengan obat-obatan yang dibeli di warung
kelontong. Padahal, obat tanpa resep dokter itu juga berbahaya. Bisa salah obat
dan menyebabkan sakit semakin parah.
“Aku
tidak enak sama tetangga,” jawabnya dengan jujur.
Nah,
rupanya ini yang menjadi penyebab kenapa ayah tidak mau berobat ke rumah sakit.
Dia malu menjadi beban tetangga yang menjenguknya ke rumah sakit.
“Ayah
sering menjenguk famili atau tetangga yang sakit, kan? Ayah selalu datang
dengan membawa oleh-oleh. Bahkan, kalau tidak ada barang bawaan saat menjenguk,
ayah ke pasar dulu membeli pisang atau pepaya. Apakah waktu itu ayah
terbebani?”
“Tidak.
Aku tidak terbebani sama sekali karena itu kewajiban kita sebagai manusia,
sebagai tetangga.”
“Nah,
para tetangga juga demikian. Mereka ingin berbuat baik kepada ayah. Kalau
ayah menolak karena merasa membebani mereka, berarti ayah menghalang-halangi
orang berbuat baik. Yang perlu ayah pikirkan saat ini adalah kesembuhan dan kesehatan
ayah. Tentang tetangga kita pikir belakangan. Bagaimana? Kita berangkat untuk
berobat ke rumah sakit?”
“Kalau
begitu, terserah kalian. Aku pasrah,” kata ayah yang membuat aku dan adik-adik
tersenyum lega.
***
Penjaga
rumah sakit menghampiri kami yang baru turun dari mobil sambil mendorong kursi
roda. Tubuh ayah yang kurus kupapah bersama adik lalu kududukkan pelan-pelan di
kursi roda. Kami berjalan menyusuri Lorong rumah sakit menuju tempat
pendaftaran pasien. Setelah semua data pasien kuberikan kepada petugas, kami
diarahkan ke ruang pemeriksaan.
Tubuh
ayah yang ringkih kubopong seorang diri lalu kurebahkan di ranjang pemeriksaan.
Seorang dokter memeriksa kondisi ayah dengan teliti. Tubuh kurus telentang di
ranjang itu terguncang-guncang karena batuk. Dokter mengangkat stetoskopnya
dari dada ayah agar bisa batuk tanpa penghalang. Dokter mengulangi pengecekan kesehatan
ayah dengan lebih teliti.
“Perwakilan
keluarga silakan ikut ke ruang saya,” kata dokter.
“Baik,
Dok,” sahutku sambil berjalan mengikuti dokter.
Raut
dokter tampak cemas. Dia seperti terbebani mengeluarkan kata-kata kepadaku.
Dalam benakku, ini pasti ada hubungannya dengan penyakit yang diderita ayah.
“Bapak
ini punya hubungan apa dengan pasien?”
“Anak
kandung, Dok,” jawabku tegas.
“Dari
hasil pemeriksaan, ayah Bapak mengidap TBC yang menyerang di paru-paru. Pasien
harus menjalani rawat inap beberapa hari ke depan,” kata dokter.
“Baik,
Dok. Kami sekeluarga siap mengikuti arahan dokter demi kesembuhan ayah.”
Aku
segera keluar dari ruangan untuk menyampaikan pesan dokter kepada adik-adikku
yang menunggu ayah di ruang observasi. Adik-adikku bisa menerima arahan dokter
yang baru kusampaikan. Mereka menyadari bahwa arahan dokter itu pasti yang
terbaik buat kesembuahan ayah.
“Ruang
rawat inap sudah siap. Mari kami bantu memindah pasien ruangan,” kata dua
perawat yang muncul dari balik kelambu ruang observasi.
Aku
melihat tubuh ayah yang tergolek lemas di atas brangkar yang didorong
dua perawat. Wajahnya pucat dan sayu. Sedangkan di tangan kirinya bergelantung
selang infus untuk menyuplai cairan melalui pembuluh darah.
Ayah
terdiam. Dia lemas hingga enggan berkata-kata. Dia pasrah kepada anak-anaknya
yang terpaksa membawanya ke rumah sakit untuk mendapatkan pengobatan yang
maksimal. Guncangan brangkar melewati Lorong-lorong ruang rumah sakit
tak dihiraukannya. Tak ada suara mengaduh atau mengeluh saat roda brangkar
melindas kerikil atau lantai yang tidak rata. Air mata ayah tiba-tiba menetes.
Aku mendekat dan membisikinya.
“Ayah,
jangan menangis. Banyak berdoa memohon kesembuhan pada Allah. Anak-anakmu
Ikhlas menjagamu selama dalam perawatan di rumah sakit ini,” bisikku.
Ayahku
orang kuat. Kuat dalam pendirian, perjuangan dan pengabdian. Kuat menata
pendidikan anak-anaknya. Aku teringat saat akan berhenti sekolah setelah lulus SMP.
Aku menyadari ketika itu ekonomi keluarga benar-benar sulit. Aku pamit
kepadanya meminta izin bekerja untuk membantu ekonomi keluarga. Namun, orang
tuaku kukuh pendirian. Dia tetap memaksaku untuk melanjutkan sekolah ke jenjang
SMA. Ayah siap peras keringat banting tulang demi membiayai sekolahku.
Para
tetangga dan anggota masyarakat juga mengakui bahwa ayah merupakan tokoh
penting. Kiprah beliau tidak diragukan lagi. Meskipun hanya lulusan sekolah
rakyat, beliau punya jiwa pengabdian tinggi di masyarakat.
“Sebaik-baik
manusia adalah manusia yang berguna buat manusia lainnya,” tutur ayah.
Kini
ayah masih tergolek lemas. Guratan di keningnya menjadi bukti bahwa beliau
sering berpikir dan berbuat untuk kemaslahan umum. Otot-otot yang mulai timbul
di lengannya menandakan ayah juga pekerja keras untuk menghidupi keluarga.
Selain itu, ayah juga terkenal sebagai dermawan. Punya jiwa sosial yang tinggi.
“Ayah,
semoga lekas sembuh. Masyarakat masih sangat mengharapkan tenaga dan pikiranmu.
Ayah, anak-anakmu merindukan senyum dan nasihat-nasihatmu. Cepat sehat, ayah,”
bisikku di telinga ayah.
Ayah
tersenyum. Perlahan dia membuka kedua matanya. Bola matanya berputar mengamati
sekeliling. Dia menatap wajahku dan wajah adik-adikku. Ayah mengangkat kepala
kemudian duduk. Kedua tangannya tiba-tiba merangkul kami sembari membisikkan
ucapan terima kasih. Ayah juga berpesan agar kami selalu rukun dengan saudara
dan siapa pun. Satu lagi yang diapesankan agar kami selalu menjadi manusia yang
bermanfaat bagi manusia lainnya.
Lamongan,
19 Maret 2025
Ahmad
Zaini, ketua
Lesbumi PCNU Babat dan guru SMKN 1 Lamongan.
Minggu, 08 Juni 2025
Sopir Angkot, Cerpen Jawa Pos grup Radar Bojonegoro, Minggu, 5 Juli 2020
Cerpen karya Ahmad Zaini
“Menjangan, Menjangan, Menjangan!” seru Katam mencari penumpang ke arah Karangmenjangan. Namun, sampai jarum arlojinya hampir menyentuh angka sepuluh, baru ada satu penumpang yang tertambat dalam armada angkutan kotanya.
”Bagaimana, Cak? Jadi berangkat nggak?” tanya satu-satunya penumpang yang sudah hampir setengah jam duduk di bangku belakang.
”Sabar, Bu! Ini masih saya carikan penumpang lain.”
”Tapi, jam sebelas saya harus sudah sampai di tempat kos anakku.”
”Sebentar, Bu. Jika sudah ada dua penumpang lagi, kita berangkat.”
”Lalu sampai kapan kamu dapat dua penumpang itu?” desak perempuan yang memangku koper berisi barang yang akan dikirimkan ke anaknya.
Katam terdiam. Dia tidak bisa memberi jawaban pasti atas pertanyaan terakhir ini. Katam hanya bisa menelan kelu lantaran beberapa hari ini selama pandemi korona penumpang sangat sepi. Dalam sehari terkadang Katam hanya membawa dua atau tiga penumpang dari terminal Joyoboyo ke Karangmenjangan. Tapi apa boleh buat. Daripada berdiam diri di rumah dan tak mendapatkan penghasilan apa-apa, lebih baik tetap mengangkut penumpang meskipun tidak seimbang dengan pendapatan.
Hampir sepuluh tahun Katam menjadi sopir angkutan kota. Dia sudah merasakan pahit getirnya kehidupan di embongan. Pasang surut penghasilan merupakan hal yang biasa. Akan tetapi kali ini, dia benar-benar merasakan keterpurukan yang tidak pernah terbesit dalam batok kepalanya.
Sebelum diberlakukan PSBB di Surabaya karena pandemi korona, dalam sehari dia bisa mendapatkan penghasilan dua ratus sampai tiga ratus ribu. Apalagi saat menjelang lebaran. Dia bisa mendapatkan keuntungan dari sisa setoran ke juragan 500 ribu dalam sehari.
Dari penghasilan itu, Katam bisa memenuhi semua kebutuhan pokok rumah tangganya. Bahkan, dia bisa membeli barang-barang berharga lainnya seperti gelang dan anting-anting istrinya. Dia juga bisa mengajak anak dan istrinya rekreasi ke objek wisata terkenal di Malang. Selain itu, dia pernah mencicipi hobi shooping di pusat perbelanjaan di Surabaya.
Penghasilan Katam sekarang jauh menurun. Bisa dikatakan terjun bebas. Sehari dapat lima puluh ribu saja sudah untung-untungan. Terkadang buat setoran saja masih kurang. Lebih ironisnya lagi dia beberapa kali dia tidak bisa memberi uang belanja kepada istrinya dari hasil sopir angkot. Dia terpaksa menjual hape andorid yang pernah dia bangga-banggakan dulu demi memenuhi kebutuhan belanja keluarga.
”Maaf, Dik! Saya terpaksa menjual hape untuk memenuhi kebutuhan keluarga,” ujarnya pada sang istri.
”Kok, dijual? Lalu dengan apa kamu melayani carteran jika ada yang membutuhkan jasamu?”
”Tidak ada carteran. Semua tempat wisata ditutup. Langganan carteranku tidak ada yang membuat kegiatan di objek wisata seperti tahun-tahun sebelumnya. Dapat dipastikan tahun ini tidak ada carteran,” pungkas Katam supaya istrinya tidak terlalu berharap pada langganan carterannya. Istri katam terdiam. Dia tidak bisa menghindari nasib yang dialaminya sekarang ini.
***
”Menjangan, Menjangan, Menjangan!” teriak Katam mencari dua penumpang tambahan agar bisa segera berangkat ke Karangmenjangan.
”Cak, sudah jam setengah sebelas. Bagaimana ini?” tuntut penumpangnya yang sejak tadi sudah menunggu dalam mobil angkutan kotanya.
”Iya, Bu. Sabar! Sebentar lagi kita berangkat.”
”Sejak tadi selalu menjawab sebentar lagi, sebentar lagi! Ini anak saya sudah menunggu,” sergah ibu penumpangnya.
”Lima menit lagi, Bu,” tegas Katam. Dia berani memastikan lima menit lagi karena biasanya dua karyawan di toko kawasan Joyoboyo itu waktunya pulang. Mereka merupakan langganan Katam.
”Oke. Lima menit lagi. Kalau sampai lebih dari lima menit, saya akan menggunakan jasa angkutan lainnya,” ancamnya.
Katam menggaruk-garuk rambut yang tertutup topi. Dia merasa gelisah dengan kondisi penumpang yang sangat sepi gegara pandemi korona. Dia tidak menyangka sama sekali bila dampak korona sangat berpengaruh pada usahanya.
Di belakang armada angkutan kota Katam, terlihat beberapa armada lain yang mengantre. Mereka menunggu giliran menaikkan penumpang. Selama armada angkutan kota di depannya belum penuh, mereka tidak boleh merebut penumpang yang menjadi jatah angkot di depannya itu. Apabila ada yang melakukan itu, maka sopir tersebut harus bersiap-siap menerima sanksi dari organisasi atau paguyuban sopir angkot.
”Cak, sudah lima menit,” teriak penumpang yang sejak tadi sudah bersabar menunggu angkot diberangkatkan.
”Iya, Bu. Saya jemput penumpang dulu di toko sebelah,” sahut Katam.
Katam berlari-lari kecil. Dia berjalan gesit menerobos celah angkot yang berjajar rapi di semua sisi angkotnya untuk menjemput penumpang langganannya.
”Mas, di mana Mbak Laila dan Mbak Nuraini penumpang langgananku? Biasanya jam segini dia waktunya pulang.”
”Mulai hari ini mereka tidak kerja, Cak. Juragan terpaksa memberhentikannya karena konsumen di toko ini sangat sepi,” jawab lelaki pelayan toko.
”O, gitu. Terima kasih, Mas!” sambungnya.
Katam kembali ke angkot dengan lesu. Satu-satunya harapan untuk mendapatkan dua penumpang telah lenyap. Dia pasrah pada nasib karena hari ini tidak bisa membawa penumpang ke Karangmenjangan sesuai harapannya.
”Maaf, Bu! Kedua penumpang langganan saya telah dipecat dari pekerjaannya. Jadi, mereka tidak bekerja lagi di toko itu.”
”Oalah, andai sejak tadi saya tahu begini, lebih baik saya naik angkutan lainnya. Lantas sekarang bagaimana?”
”Sebagai bentuk tanggung jawab saya sebagai sopir angkutan kota, ibu tetap saya antarkan ke tempat tujuan meskipun hanya sendirian,” jawab Katam dengan tegas.
Katam berangkat menuju Karangmenjangan. Dia hanya membawa seorang penumpang melintas di jalanan kota Surabaya yang sangat lengang. Maklumlah di kota pahlawan saat ini masih diberlakukan PSBB jilid ketiga sehingga suasana di jalan raya seperti jalanan mati. Di trotoar yang biasanya ramai pejalan kaki, saat ini hanya terlihat halte-halte bus yang tak berpenghuni. Halaman gedung-gedung pencakar langit yang biasanya dipenuhi mobil-mobil mewah para karyawannya, saat ini juga tampak seperti tanah lapang. Semuanya pegawainya bekerja dari rumah.
”Depan, Cak!” kata penumpangnya.
”Iya, Bu,” jawab Katam singkat.
Katam menurunkan penumpang di depan gang yang akan membawanya ke rumah kos anaknya. Dia menerima ongkos dari perempuan itu lalu melanjutkan perjalanan menuju tempat mangkal terakhirnya di kawasan Karangmenjangan.
Di tempat mangkalnya, Katam melihat beberapa armada angkotan kota yang mengular. Mereka masih mengantre mendapatkan giliran mengangkut penumpang. Itu pun apabila ada calon penumpang yang diangkut. Jika tidak ada penumpang, mereka terpaksa harus berlama-lama di tempat itu untuk menunggu penumpang.
Katam mendapat nomor antrean paling belakang. Di depannya masih ada puluhan armada yang berderet menunggu giliran berangkat untuk mengangkut penumpang. Karena masih lama menunggu antrean, Katam menyempatkan makan di warung langganan.
”Makan, Mbok. Pakai menu biasanya,” pesan katam pada pemilik warung.
”Iya. Tumben baru datang?” tanya pelayan warung.
”Nunggu penumpang, Mbok. Sepi sekali sehingga baru sampai di sini,” jawab Katam.
”Situasi seperti ini semua usaha mengalami penurunan. Termasuk warungku. Malah hutang para sopir angkot di sini semakin menumpuk saja,” timpal Mbok Ijah, pemilik sekaligus pelayan warung.
”Aku masih punya hutang berapa, Mbok?” Katam berbasa-basi.
”Kalau ditambah makan hari ini, hutangmu seratus ribu rupiah,” jawabnya.
”Dicatat dulu, Mbok. Besok kalau situasi pekerjaan sudah normal, pasti kubayar.”
”Iya, iya!” sahut perempuan itu sambil menyodorkan nasi dengan sayur ikan lodeh dicampur ikan pe kepada Katam.
Katam makan dengan lahap. Sejenak dia melupakan kesumpekan hati gara-gara pekerjaannya yang sepi demi menikmati menu kesukaannya. Dalam hatinya berkata bahwa kesehatan adalah segala-galanya. Penghasilan dapat dicari di hari-hari berikutnya.
Raja siang di ufuk barat sudah memerah. Sebentar lagi planet penerang bumi ini akan bersembunyi demi menenangkan diri. Sepanjang siang matahari hanya melihat dan mendengara keluh kesah penghuni bumi karena usahanya surut. Katam segera meninggalkan pangkalan Karangmenjangan. Dia menjejak pedal gasnya agar segera sampai rumahnya di kawaswan Wonokromo.
Sesampai di rumah, Katam disambut istrinya dengan senyum. Katam menyerahkan kunci mobil kepada istrinya. Wanita yang dinikahinya sejak lima belas tahun lalu itu meletakkan kunci tersebut di pucuk paku yang tertancap di belakang pintu kamar. Katam menghempaskan tubuhnya di atas shofa kumal ruang tamunya. Dia mendesah lantaran tidak membawa hasil kerja hari ini. Istrinya berusaha menghibur agar suaminya tidak larut dalam ketidakmujuran pekerjaan hari ini. Besok, lusa, tulat, tubin, atau kapan saja pasti ada rezeki yang menghampirinya. Yang penting tetap bekerja. (*)
Wanar, Juli 2020
Ahmad Zaini merupakan guru di SMKN 1 Lamongan. Beberapa cerpen, puisi dan esainya pernah di muat di surat kabar. Dia juga telah menerbitkan beberpa buku kumpulan cerpen dan puisi. Buku kumpulan puisi terbarunya berjudul Hanya Waktu Jelang Kematian (Maret, 2020). Saat ini dia tinggal di Wanar, Pucuk, Lamongan.
Sajadah Ibu Dibawa Terbang Malaikat, cerpen di Jawa Pos grup Radar Bojonegoro, Sabtu, 7 Juni 2025
Sajadah Ibu Dibawa Terbang Malaikat
Cerpen karya Ahmad Zaini
Kata ibu saat mengandungku, dia bermimpi sajadahnya dibawa terbang malaikat. Anehnya, ibu diam tidak meminta tolong siapa pun. Ibu ikhlas dan merasa bahagia kehilangan sajadah kesukaannya. Ibu bertafakkur. Beliau mengingat kata-kata kakek yang mengatakan suatu saat anak-anaknya ada yang berangkat haji. Benarkah janin yang kukandung ini akan berangkat haji kelak dewasa nanti, pikir ibu. Sajadah yang dibawa terbang malaikat dalam mimpi itu menjadi isyarat janin yang dikandungnya akan berangkat haji.
Janin lahir pada ngat legi atau Ahad legi tepatnya di sepertiga malam. Saat orang-orang qiyamullail. Waktu mustajabah buat bermunajat kepada Allah. Tepatnya, ketika ayah sedang melaksanakan salat hajat. Ibu merasakan janin akan lahir. Ibu memanggil ayah untuk menyampaikan tanda-tanda kelahiran. Ayah segera turun dari dipan, tempatnya salat. Ayah lantas ke rumah dukun bayi yang tak jauh dari tempat tinggal untuk meminta bantuan persalinan ibu.
Mak Sikar, si dukun bayi bergegas ke rumah. Dia menangani persalinan ibu. Tak berselang lama, bayi laki-laki lahir di sepertiga malam dengan aura wajah yang putih bersih.
”Anakmu laki-laki. Wajahnya seperti Kaji,” kata Mak Sikar kepada ibu. Kaji yang dimakud adalah saudara kakek yang semasa hidupnya berangkat haji puluhan kali.
Ayah dan ibu tersenyum atas kelahiraku. Beliau berdua bersyukur karena aku dilahirkan dengan selamat. Ibu berharap wajah serupa Kaji yang disampaikan Mak Sikar benar-benar menitis kepadaku. Bayi yang kelak dapat meniru saudara kakek yang bisa berangkat haji berkali-kali. Begitu kisah ibu yang disampaikan kepadaku.
***
Kini aku tumbuh dewasa. Aku menjadi laki-laki bertubuh tinggi besar dan tampan. Aku juga telah menikah dan dikaruniai tiga anak. Impian sang ibu mulai mendekati kenyataan. Aku yang dimimpikan sebagai sajadah yang dibawa terbang malaikat menjadi orang kaya. Hartaku berlebih-lebih. Menurut Islam, orang sepertiku telah memenuhi syarat berangkat haji. Aku mampu dalam perjalanan karena situasi aman dan fisikku kuat. Istriku juga demikian. Sehat jasmani dan rohani. Hartaku juga cukup untuk menghidupi ketiga anak yang akan kutinggal di rumah.
Ibu menyarankan kepadaku agar segera mendaftar haji. Namun, aku tidak segera menindaklanjuti. Ada keraguan yang tiba-tiba datang menggangu keyakinanku.
”Jangan turuti keraguanmu. Itu syetan yang menggoda agar kamu tidak berangkat haji,” kata ibu.
Aku sempat bingung karena ada lagi yang menyebabkan ketidaktegasanku. Ketiga anakku nanti di rumah dengan siapa.
”Jangan khawatir, aku siap menjaganya,” sanggup ibu.
”Lantas siapa yang menjalankan usaha toko di pasar, Bu?”
”Ayahmu siap menjaga tokomu selama kamu di tanah suci,” pungkas ibu.
Keraguan pelan-pelan terkikis. Aku mulai bangkit. Aku ingat pesan kiai bahwa selama berhaji, harta dan anak-anak yang ditinggal di rumah akan dijaga oleh Allah. Hartanya tidak akan habis atau hilang. Hartanya akan bertambah banyak dan barokah.
”Kalau begitu, besok pagi aku dan istri akan mendaftar haji,” kataku yang disambut anggukan serta senyum ibu.
Tiada kebahagiaan seorang ibu kecuali memunyai anak yang patuh kepadanya. Dia bangga karena aku menuruti saran dan nasihatnya. Meskipun beliau sendiri belum sempat berangkat haji, ibu tetap bangga dan bersyukur karena anaknya bisa berangkat haji.
”Mohon doa dan restu ibu,” pintaku pada wanita penyimpan surgaku.
”Ibu merestui dan mendoakan kelancaran niat sucimu, Nak,” jawabnya lirih dengan penuh haru.
***
Penantian panjang setelah mendaftar haji telah tiba. Tiga belas tahun bukanlah waktu pendek. Sewaktu dapat kepastian estimasi pemberangkatan selama itu, rasanya mustahil. Aku bersandar pada takdir Allah. Aku memasrahkan semua pada ketentuan Allah. Jika menurut Allah berangkat haji bagiku adalah yang terbaik, maka Allah akan memudahkan segalanya. Jika tidak, cukup dengan mendaftar saja insyaallah niatku berhaji telah dicatat Allah telah melaksanakan haji.
Siang hari seusai salat Jumat aku dan istri melakukan ritual pemberangkatan haji. Sanak kerabat dan para tetangga berkumpul di rumah. Mula-mula ayah-ibu kandung dan mertua duduk di sebelah kanan serta kiri pintu rumah. Kami bergantian sungkem kepada kedua sosok yang paling berarti dalam hidup ini. Kami berlutut di hadapan keduanya, mencium kedua telapak kakinya serta memohon maaf atas segala dosa dan khilaf. Kedua orang tua memberi doa restu keberangkatan, kesehatan, keselamatan, kekhusukan ibadah, serta kelancaran perjalanan pergi-pulang hingga dapat berkumpul dengan keluarga lagi di tanah air. Yang paling dasyat adalah doa ibu agar hajiku mabrur.
Kami berdiri lalu bergeser ke pintu. Kami menulis ayat Alquran di pintu. Ayat tersebut sebagai ikhtiar doa agar senantiasa diberi keselamatan dalam perjalanan dan bisa kembali ke rumah dengan selamat.
Iringan salawat dan talbiyah menggema dari masyarakat yang hadir. Ditambah lagi alunan merdu azan menyentuh hati. Tiba-tiba air mata kami mengalir deras dan menetes di setiap langkah menuju mobil. Di setiap tetesnya, ada kilau bayangan membuka mata hatiku. Aku merasa sebagai manusia biasa, lemah dan tak berdaya-upaya. Yang menggerakkan hidup dan Yang menentukan takdir bisa berangkat haji adalah Allah.
”Kami memenuhi panggilan-Mu, ya, Allah,” ucap kami ketika mobil membawaku ke asrama haji bersamaan dengan lambai tangan perpisahan dan doa dari orang-orang yang hadir.
Wajah mereka yang hadir di rumah terbawa dalam genang air mataku. Wajah ceria dan harap keselamatan pada kami terukir jelas. Kelopak mata mereka berkilau laksana kaca. Mereka terharu saat aku dan istri benar-benar berangkat ke tanah suci menunaikan ibadah haji. Kami berjanji akan mengingat wajah mereka yang hadir saat di padang Arafah. Akan kami mohonkan kepada Allah agar yang hadir ini kelak dapat bertamu ke baitullah untuk melaksanakan ibadah haji.
Doa restu tergurat melalui pancaran wajah ayah dan ibu. Ridlonya kepadaku telah mendatangkan ridlo Allah kepadaku. Selama perjalanan hidup, aku selalu bernaung kepada keduanya. Tanpa restu ayah-ibu, aku tak akan bisa hidup seperti ini. Sampai-sampai ibu mengikhlaskan sajadah kesayangannya dibawa terbang malaikat meskipun dalam mimpi.
***
Aku tak akan melupakan ta’bir mimpi ibu sewaktu mengandungku. Mimpi itu ternyata menjadi firasat baik sebagaimana yang disampaikan oleh buyut Kaji. Sajadah kesayangan yang setiap hari menjadi alas sujud ibu telah membawaku terbang ke tanah suci. Ketaatan ayah-ibu menjalankan agama menjadi sebab sajadah sebagai tempat penyerahan hamba pada Tuhan mempunyai kekuatan. Sajadah sederhana bermotif ka’bah melahirkan aura suci yang terbawa mimpi hingga kau berangkat haji.
”Ibu, sajadah ini akan kusimpan sebagai prasasti,” kataku menjelang keberangkatan ke tanah suci.
”Jangan, Nak. Biarlah sajadah ini tergelar di tempatnya. Sajadah itu menjadi pasebanan ibu menghadap Gusti Allah,” tolak ibu.
”Nanti akan kuganti dengan yang baru. Ibu akan saya belikan sajadah yang lebih bagus dari Makkah,” desakku.
”Tidak, Nak. Sajadah ini sangat bernilai meskipun sudah pudar di bagian permukaannya.”
Sebegitunya ibu menilai sajadah ini. Aku memaklumi pendirian ibu yang bersikukuh memertahankan sajadahnya. Sajadah yang dimimpikannya dibawa terbang oleh malaikat. Mimpi yang menjadi firasat turunnya takdir Allah aku bisa berangkat haji.
”Baiklah, Bu,” ucapku ikhlas pada sikap ibu.
Sajadah bermotifkan ka’bah tergelar di pesalatan ibu. Sajadah yang menjadi alas penyerahan jiwa raga ibu pada Allah. Tempatnya bersujud mengagungkan sifat-sifat-Nya. Tempat menyebut dan mengingat-Nya dengan asmaul Husna.
Malam semakin larut. Mata ibuku sayu dan terlihat redup. Beberapa kali ibu menguak. Rasa kantuk tak kuasa iatahan. Pada akhirnya, ibu masuk kamar. Beliau ingin beristirahat dengan pulas. Aku ingin melihat senyum ibu jelang keberangkatanku ke tanah suci. Aku berdoa kepada Allah agar ridlo dan kasih saya kedua orang tua menaungi kami selama melaksanakan ibadah haji. (*)
Lamongan, 1 Juni 2025
Ahmad Zaini, guru di SMKN 1 Lamongan dan ketua Lesbumi PCNU Babat. Beberapa cerpennya telah diterbitkan di beberapa media cetak dan online. Buku kumpulan cerpen terbarunya berjudul Bingkai Jendela Tanpa Kaca (2024).
.png)



