Jika Kau Bukan Anak Raja, Juga Bukan Anak Ulama Besar, maka Menulislah

Selasa, 10 Februari 2015

Bulan Merah Darah



Radar Bojonegoro (Jawa Pos Grup), Minggu, 14 Desember 2014

Bulan Merah Darah
Cerpen karya Ahmad Zaini

Matahari sore itu telah duduk di ujung rumpun bambu yang mengelilingi kampung. Jeritan batang bambu yang saling berhimpitan laksana rintihan biola dipanggung orchestra tentang lirik duka yang sangat dalam. Angin yang sepanjang hari bergandeng dengan panas matahari juga telah mereda. Tiupannya tidak sekencang siang yang menerbangkan sampah-sampah dan debu sepanjang jalan.
Waktu siang benar-benar telah membagi tugas dengan waktu malam. Siang sirna malam pun tiba. Malam datang tidak sendirian karena bulan dan bintang selalu setia mendampinginya. Kebetulan malam itu merupakan malam purnama. Bulan akan muncul setelah maghrib dalam bentuk yang paling sempurna. Berbentuk bulat penuh serta memancarkan cahaya putih berkilau.
Para warga khususnya anak-anak telah bersiap-siap memanfaatkan momen purnama. Sejak siang mereka telah melakukan perjanjian bersama teman-teman sepermainan untuk menikmati bulan purnama dengan permainan-permainan yang dapat menghilangkan kejenuhan sewaktu di sekolah atau kecapekan karena membantu orang tua. Demikian pula para kawula muda. Mereka tidak mau kalah dengan anak-anak. Mereka bersiap-siap menuju ke tanah lapang untuk bermain sepak bola dengan alat egrang. Para warga tidak ingin menyia-nyiakan  bulan purnama melintasi  malam begitu saja.
Saat yang mereka tunggu-tunggu sejak sore akan segera tiba. Langit di ufuk timur sudah terlihat kemerah-merahan. Ini menandakan bulan akan segera muncul dari peraduannya. Anak-anak dan kawula muda telah melakukan persiapan. Dia akan bermain dengan sepuas-puasnya sambil bermandikan cahaya bulan purnama.
Warna langit yang kemerah-merahan semakin jelas. Lalu bulan muncul dari balik awan tipis yang memayunginya. Para warga yang telah berkumpul di tanah lapang tertegun. Mereka tidak lantas bermain-main sesuai dengan rencana. Mereka merasa ada yang aneh pada bulan yang muncul malam ini. Biasanya kalau memasuki tanggal lima belas bulan purnama, bulan akan muncul dalam bentuk yang sempurna serta becahaya putih kemilau. Namun, kali ini berbeda. Bulan muncul dalam bentuk bulat telur atau oval serta cahayanya merah darah.
Melihat fenomena aneh seperti itu, anak-anak menganggap sebagai hal yang biasa. Demikian juga para kawula muda. Mereka meneruskan rencana yang telah disusun matang-matang sejak siang. Anak-anak bermain kejar-kejaran sedangkan para kawula muda memainkan atraksi yaitu bermain sepak bola dengan alat egrang. Mereka tetap bersuka cita menikmati bulan purnama yang tidak sempurna. Wajah mereka memerah. Mereka saling menertawakan sewaktu mereka melihat wajah temannya yang merah akibat cahaya purnama. Mereka saling menunjuk wajahnya yang berubah seperti monster yang sering mereka lihat di film-film.
Suasana meriah di tanah lapang yang berada di luar kampung berubah menjadi kepanikan. Orang tua mereka bermunculan dari dalam kampung sambil berteriak-teriak menyerukan agar mereka segera menghentikan permainannya lalu pulang ke rumah masing-masing.
“Ayo, bubar dan pulang ke rumah masing-masing karena akan datang malapetaka!” kata salah satu orang tua kepada anak-anak dan remaja yang sedang berada di tanah lapang.
Mereka tidak segera pulang dengan seruan itu karena belum puas melakukan permainannya. Para orang tua tidak mau kalah dengan anak-anaknya. Mereka memaksa anak-anaknya pulang dengan menyeret tangannya yang mulai licin akibat keringat yang sudah mulai bercucuran.
“Ayo, cepat pulang!” serunya.
Dengan berat hati anak-anak dan remaja mengikuti kemauan orang tua masing-masing. Mereka terpaksa menuruti kehendak orang tua mereka dengan rasa penasaran yang bersarang dalam batok kepalanya.
***
 Orang-orang kampung memercayai jika bulan berwajah merah darah maka itu sebagai pertanda akan terjadi marabahaya atau malapetaka yang akan melanda negeri. Akan terjadi pertumpahan darah atau perang saudara untuk merebutkan kekuasaan. Mereka kemudian menghubung-hubungkan pergantian kepemimpinan yang terjadi di negeri ini.
Menurut ingatan mereka, setiap pergantian kepemimpinan  di negeri ini selalu ada pertumpahan darah. Pemimpin yang telah habis masa tugasnya tidak legowo menyerahkan tampuk kekuasaanya kepada pemimpin yang baru terpilih. Mereka berupaya memertahankan kekuasaannya agar bisa mencapai tujuan yang hingga kini belum tercapai. Bahkan ada yang berdalih karena dana yang mereka keluarkan sewaktu proses pemilihan sebagai pemimpin belum seimbang dengan gaji yang mereka dapatkan selama berkuasa. Hal itulah yang menyebabkan mereka tidak mau menyerahkan kekuasaan kepada generasi penerusnya.
Bulan purnama beranjak semakin tinggi. Bulan merah darah menapaki tangga langit yang ikut memerah bagai tumpahan darah. Warga kampung semakin merinding. Mereka takut jika peristiwa-peristiwa masa silam akan terjadi lagi.
Kepala kampung dan para perangkatnya berkeliling kampung menyerukan agar semua warga jangan sampai ada yang keluar rumah atau bepergian ke luar kampung. Mereka mengkhawatirkan warganya akan menjadi korban dalam kerusuhan jika peristiwa pergantian kepemimpinan akan rusuh seperti tahun-tahun sebelumnya.
“Seluruh warga harap masuk! Para warga dilarang bepergian ke luar kampung. Semua harap menahan diri dalam rumah!” serunya.
Usai ada larangan dari kepala kampung, kampung itu senyap. Tak ada seorang pun yang berani keluar rumah. Kampung itu bagai kampung mati karena tak ada seorang pun yang terlihat di luar rumah.
Bulan merah darah semakin menjadi-jadi. Cahaya merahnya menerobos rumah warga lewat celah atap atau dinding bambu. Cahayanya seperti darah yang diguyurkan purnama dari langit ke  bumi yang tak berdaya ini. Wajah para warga ikut memerah terkena pantulan cahaya bulan. Tanah dan seluruh isi kampung juga berwarna merah darah. Kampung itu laksana sedang dilanda banjir darah. Pertumpahan darah akibat pergantian tampuk kepemimpinan yang dikuasai amarah dan nafsu berkuasa yang semakin membuncah.
Para warga berdiam diri dalam rumah. Mereka belum ada yang berani keluar dari rumah sebelum ada instruksi dari kepala kampung. Mereka jenuh. Mereka bosan. Tangan dan kakinya terasa gatal dan kesemutan. Mereka ingin keluar rumah agar bisa menikmati malam yang dihiasi bulan yang berwarna merah darah.
Pertumpahan darah yang mereka takutkan benar-benar menjadi kenyataan. Akan tetapi, peristiwa mengerikan itu hanya terjadi di pemerintahan pusat dan tidak sampai merembet ke daerah-daerah. Bulan merah darah telah membakar emosi para penghuni gedung parlemen. Penghuni gedung parlemen saling membantai, saling menjegal demi melampiaskan kekecewaan kepada pihak yang berkuasa. Gedung parlemen membara. Gedung parlemen penuh dengan emosi, angkara murka, nafsu keserakahan. Gedung parlemen ditenggelamkan nafsu syetan yang tak terkendalikan. Gedung parlemen telah melenyapkan mata hati dan nurani kepemimpinan. Sungguh mengenaskan!
***
Cahaya merah mencengkeram gedung parlemen. Bulan merah darah telah meluapkan  kepedihan dan kekecewaan atas perilaku penghuninya yang saling menjegal di gedung tersebut. Bulan purnama menangis tiada henti menumpahkan amarah dengan air mata darah. Bulan itu kecewa karena musyawarah dan mufakat tidak lagi singgah di dalam gedung tersebut. Yang ada hanyalah ambisi pribadi dan golongan untuk menguasai negeri yang tercinta ini.
Lambat laun bulan merah darah berhenti tepat di puncak gedung parlemen. Ia mencair lalu meluluri gedung, tempat orang-orang yang berambisi pada kekuasaan. Bulan itu menyatu dengan gedung tersebut serta melebur dengan penghuninya yang selalu dikuasai nafsu serakah dan amarah. Gedung parlemen memerah karena karena cahaya bulan merah darah. (*)

Lamongan, 17-18 Oktober 2014

Kamis, 04 Desember 2014

Gelas-Gelas Retak



Gelas-Gelas Retak
Cerpen Ahmad Zaini*

Halaman depan kantor, tempat Ahmad bekerja, sedikit becek akibat hujan yang turun kemarin sore. Jalan licin yang mengantar ke ruang tampatnya berkerja siap menggelincirkan setiap kaki yang menginjaknya. Ia melangkah hati-hati agar terhindar dari petaka yang menghadangnya kini. Bunga-bunga di depan kantor masih basah. Kupu-kupu enggan menghinggapinya. Setelah sejam berlalu, sinar matahari perlahan mengusir air yang melapis tipis mahkotanya.
Setahun lalu, di kantor ini para karyawan tampak familier. Nuansa kekeluargaan sangat kental. Hubungan antarkaryawan sangat hangat hingga tak ada lagi yang membatasi hubungan mereka. Latar belakang sosial, keluarga,  bahkan faham yang dianut mereka abaikan. Yang ada hanyalah sesama karyawan yang memiliki nasib dan tujuan bersama. ”Mangan gak mangan, sing penting kumpul. Mikul dhuwur mendhem jero” prinsip orang jawa itu yang mereka pegang erat. Juga peribahasa ”Duduk sama rendah, berdiri sama tinggi”.
Rasa persaudaraan yang kuat antarkaryawan di kantor itu, juga dirasakan Ahmad bisa semakin mengencangkan ikatan batin mereka. Apa yang dirasakan oleh salah satu karyawan, maka yang lain ikut merasakannya. Pernah suatu ketika ada karyawan yang mengalami musibah. Ia jatuh dari motor ketika pulang dari bekerja. Para karyawan yang ada di kantor tersebut menggalang dana secara spontan untuk meringankan beban dari temannya yang sedang mengalami musibah. Dalam sekejap terkumpul dana hingga satu juta rupiah. Kemudian dana yang terkumpul itu diserahkan bersama-sama ke rumah temannya itu.
”Pagi, Pak Ahmad!” sapa tukang sapu.
”Pagi! Tolong, Pak! Nanti kalau Amir sudah datang suruh ke ruanganku,” perintahnya.
”Baik, Pak!” jawab tukang sapu.
Ahmad masuk ke ruang kerja. Dia membersihkan kotoran-kotoran yang menempel di meja kerjanya. Tangannya sedikit tergores oleh kaca meja saat mengelap permukaan mejanya. Luka sayatan di jari telunjuknya kemudian ditetesi obat merah yang diambil dari  kotak P3K yang tersimpan di belakang meja kerjanya.
Pagi ini benar-benar hari yang suram bagi Ahmad. Ia merasakan sesuatu yang ganjil di kantor itu. Ia sangat merasakan hubungan yang tidak harmonis antarkaryawan. Suasana familier seperti tahun-tahun yang lalu, kini jarang ia temui. Para karyawan kantornya seakan-akan lebih mementingkan urusan masing-masing. Bahkan ia merasakan ada semacam persaingan yang tidak sehat dalam kantornya.
”Jika hal ini kubiarkan, mana mungkin bisa maju lembaga ini!” katanya dalam hati.
Ibarat sebatang pohon, agar bisa menghasilkan buah yang berkualitas maka diperlukan kerjasama yang baik antarunsur-unsur pohon tersebut. Akar, batang, dahan, ranting, sampai daun harus bersatu untuk menghasilkan buah hingga dapat dirasakan oleh orang lain. Demkian halnya di kantor itu, antara karyawan, staf, dan pimpinan harus bersatu padu untuk mencapai tujuan yang dikehendakinya agar dapat bermanfaat bagi manusia yang lain.
Ahmad merenung sebentar. Ia diam sambil menundukkan kepalanya. Ia berusaha merekatkan lagi gelas-gelas retak yang selama ini sangat bermanfaat bagi manusia. Kantor di bidang usaha peminjaman modal usaha kecil dan menengah yang selama ini ia kelola sudah dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat sekitar hingga kantornya pernah mendapatkan penghargaan dari Bupati sebagai kantor yang memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat. Dengan indikasi ada keretakan  antarkaryawan, dimungkinkan akan muncul keluhan-keluhan masyarakat terhadap pelayanan kantor yang dipimpinnya itu.
”Maaf, Pak ada surat tagihan dari dinas perpajakan,” tukang kurir menyodorkan surat dari dinas perpajakan.
Ahmad perlahan membuka amplop yang baru saja ia terima. Ternyata isinya tagihan pajak yang belum dilunasi.
Dengan tenang, ia mencari penyebab keterlambatan pembayaran pajak. Dia memanggil bagian keuangan. Ia menanyakan pada karyawan bagian keuangan yang ruangannya bersebelahan dengan ruangannya.
”Bulan lalu saat akan kubayarkan ke dinas pajak, saya mengalami musibah. Anakku sakit keras dan dirawat inap di rumah sakit. Maka uang itu kugunakan dulu untuk keperluan pengobatan anakku,” jawab karyawan bagian keuangan.
Pak Ahmad mengelus dada dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia sendiri heran mengapa ada salah satu karyawannya yang terkena musibah dia sendiri sampai tidak tahu?
Mungkin yang disinyalir selama ini jika hubungan antarkayawan di kantornya sudah tak harmonis lagi itu benar.
Setelah mendapatkan keterangan dari bagian keuangan tersebut, dia menepuk-nepuk pundak bawahannya itu. Dia memberikan semangat agar dia tetap bekerja dengan baik.
“Kalau begitu masalahnya, ya sudah. Tapi ingat kejadian seperti ini jangan diulangi lagi. Kalau Saudara terkena musibah, lapor saja ke saya. Insya Allah akan saya bantu. Jadi, kita tidak sampai ditagih dari dinas perpajakan gara-gara terlambat membayar pajak,” jelas Ahmad kepada karyawannya itu.
Sebagai seorang pimpinan, ia juga merasa bersalah. Mestinya, setiap hari ia harus mengontrol keberadaan para karyawannya. Ahmad kemudian teringat kisah Amirul Mukminin, Umar bin Abdul Aziz. Seorang kholifah yang selalu peduli kepada rakyat-rakyatnya. Agar ia mengetahui kondisi rakyatnya, dia sampai rela setiap malam keluyuran memantau keadaan rakyatnya.
Pada suatu malam Umar bin Abdul Aziz menjumpai seorang perempuan tua yang sedang memasak. Kholifah mengamati rakyat jelata yang duduk lesu di depan tungkunya itu. Nyala api kayu bakar menyinari wajahnya yang cemberut memikirkan sesuatu. Sekian lamanya perempuan tua itu memasak, belum juga usai. Kholifah penasaran. Lalu beliau mendekati perempuan itu.
”Sedang apa, Bu?”
”Saya sedang memasak,” jawabnya.
”Tapi kenapa sejak tadi belum selesai?”
”Iya. Karena yang kumasak adalah batu-batu yang kuambil di piggir jalan.”
”Subhannallah!” Kholifah Umar kaget.
”Kenapa ibu memasak batu?”
”Ini kulakukan untuk mengelabui anakku yang sejak tadi menangis kelaparan minta makan. Sementara kami tidak mempunyai beras sejak kemarin,” jawab perempuan tua itu sambil menunjuk ke arah anak lelakinya yang meringkuk kelaparan.
Mendengar jawaban perempuan tua tersebut, kemudian beliau pergi ke baitul mal untuk mengambil sekarung beras kemudian diberikan kepada perempuan miskin tadi.
Dari kisah itu, kemudian Ahmad menitikkan air mata. Sebagai pemimpin dia tidak tahu kalau ada karyawannya yang terkena musibah hingga berani menggunakan uang pembayaran pajak kantornya untuk membiayai anaknya yang dirawat di rumah sakit.
Kejadian itu juga imbas dari hubungan para karyawan yang luput dari pengawasannya. Mereka satu sama lain tak pernah bersentuhan. Mereka hidup sendiri-sendiri. Mereka tak peduli dengan rekan kerjanya yang tekena musibah. Yang ada dalam pikiran mereka adalah bekerja untuk kebutuhan mereka sendiri dan keluarganya.
Sapu tangan yang terselip di saku celananya kemudia diraih. Dengan sigap ia mengusap air mata yang sempat keluar dari kelopak matanya. Ia mengibaratkan kantornya ini seperti gelas retak yang tak mampu lagi menampung air. Gelas itu sudah tak ada gunanya lagi.
”Mir, buat undangan untuk rapat besok pagi! Hari ini para karyawan harus sudah menerima undangan semuanya. Karena ini masalah penting,” perintahnya kepada Amir, sekretarisnya.
Pagi hari saat jam kerja tiba, Ahmad sudah berada di ruang pertemuan. Dia mengumpulkan para karyawan untuk memberikan pengarahan-pengarahan tentang masa depan kantornya yang sempat terseok di tengah perjalan akibat dari kekurangharmonisan  hubungan para karyawan.
”Kita harus menyatukan visi dan misi instansi ini. Buang jauh-jauh kepentingan pribadi yang tidak memberikan kemaslahatan bagi kita dan juga masyarakat.  Kita harus guyup, bersatu demi kemajuan instansi kita. Gelas-gelas yang sempat retak, mari kita rekatkan lagi agar gelas tersebut berguna lagi bagi kita dan juga masyarakat,” kata Pak Ahmad dalam sambutannya. Para karyawan diam. Mereka mendengarkan sambutan dari pimpinannya dengan serius. Mereka merenungi bahwa yang selama ini mereka lakukan adalah salah.
Di akhir pertemuan, para karyawan yang selama ini tak pernah bersentuhan, kemudian saling berjabat tangan untuk merekatkan lagi tali silaturrahim yang selama ini sempat memudar. Ahmad sebagai pimpinan di instansi tersebut tersenyum gembira melihat bawahannya yang rukun, dan bersatu lagi seperti beberapa tahun yang lalu.
Bunga di halaman kantor mekar dan menebarkan aroma wangi. Kupu-kupu dan kumbang jalang mengerubuti bunga itu berebut menghisap madunya. Langit yang sempat mendung kini cerah menerangi wajah-wajah ceria dalam suasana kebersamaan.  (*)

_____________________________________________________________________
* Lahir di Lamongan, 7 Mei 1976. Karya-karyanya pernah dimuat di beberapa media cetak. Di antaranya Tabloid Telunjuk, majalah Indupati, majalah MPA dan Radar Bojonegoro. Beberapa puisinya  juga dimuat dalam Antologi Puisi Bersama Dewan Kesenian Lamongan (DKL) seperti Bulan Merayap (2004), Lanskap Telunjuk (2004), Absurditas Rindu (Sastra Nesia Lamongan, 2006), Khianat Waktu, Antologi Penyair Jawa Timur (DKL, 2006).  Selain menulis, juga sebagai guru dpk di SMA Raudlatul Muta’allimin Babat Lamongan. Sekarang beralamat di Sanggar Sastra ”Telaga Biru”,  Wanar, Pucuk, Lamongan. e-mail: ilazen@yahoo.co.id.


Jumat, 22 Agustus 2014

Surat dari Gaza (Cerpen Radar Bjn, Jawa Pos Grup)

SURAT DARI GAZA
Cerpen karya Ahmad Zaini*

Sudah puluhan tahun Zainab menjadi TKW di Palestina. Dia berpisah dengan suami dan kedua anaknya ketika anak-anaknya masih sekolah di bangku SD. Berulang-ulang Zainab ingin pulang ke negaranya, akan tetapi selalu gagal. Zainab terperangkap oleh konflik yang berkepanjangan di negeri Yassir Arafat ini.
Menjelang puasa tahun ini Zainab juga berencana mudik ke kampung halaman. Dia tidak mampu lagi menahan rasa rindunya kepada keluarga yang telah ditinggalkannya sejak puluhan tahun yang lalu. Dia ingin berlebaran dengan anggota keluarganya.
Rencana itu sudah matang. Bahkan dia sudah diajak majikannya memesan tiket pesawat. Namun, harapan itu sirna lagi lantaran Israil membombardir negeri tempatnya bekerja.
Sebagai pengobat rindunya kepada keluarga, Zainab mengirim surat kepada keluarga di Indonesia. Ini adalah satu-satunya jalan  agar dia bisa berkomunikasi dengan keluarga untuk mengungkapkan semua keluh-kesahnya di Gaza. Zainab memanfaatkan waktu lima menit setelah terjadi ledakan roket tentara Israil untuk memasukkan suratnya ke kotak pos yang ada di depan rumah majikannya. Hal ini dikarenakan tentara Israil meluncurkan roket-roketnya ke pemukiman sipil di Gaza dalam durasi lima menitan. Setelah berhasil memasukkan suratnya ke kotak pos, dia kembali bersembunyi di bawah bunker atau ruang bawah tanah untuk menyelamatkan diri dari serangan rudal orang-orang Yahudi itu.
Dalam surat yang dikirimkan Zainab kepada keluarganya, dia bercerita banyak tentang rasa kangennya kepada keluarganya serta kondisi yang dialaminya. Dia juga bercerita tentang saat-saat  menegangkan dalam suasana perang seperti yang terjadi sekarang ini.
Sambil beruarai air mata, Zainab menulis surat dari ruang bawah tanah. Dia teringat keluarganya, terutama anak-anaknya. Nafasnya terasa sesak apabila dia menorehkan tinta yang mengukir bayangan-bayangan anaknya. Zainab membayangkan lalu membandingkan nasib kedua anaknya yang ada di kampung halaman dengan anak-anak di Gaza ini.
Anak-anak di Gaza tidak pernah tersenyum. Mereka tidak pernah tertawa. Anak-anak di Gaza tidak pernah bermain kejar-kejaran di tanah lapang. Mererka tidak pernah memakai seragam lalu berangkat ke sekolah bersama-sama seperti anak-anak di Indonesia. Mereka selalu menjerit dan larut dalam tangis ketakutan. Jiwa mereka terguncang oleh suasana perang yang tidak bisa dibayangkan sampai kapan selesainya.
Zainab mengenang puluhan tahun silam ketika dia belum berangkat ke Gaza sebagai tenaga kerja wanita. Sewaktu dia masih berkumpul dengan keluarganya. Saat bulan puasa seperti sekarang ini ketika menjelang berbuka puasa, dia dan anak-anaknya jalan-jalan sambil menunggu maghrib tiba. Setelah terdengar beduk maghrib yang menandakan waktu berbuka puasa, mereka berlari-larian pulang ke rumah untuk menunaikan buka puasa bersama keluarga. Aneka hidangan yang telah disiapkan sebelumnya di atas meja makan telah siap dinikmati bersama-sama. Kedua anaknya menikmati masa berbuka puasa ini dengan riang gembira. Mereka makan sepiring nasi dan minum semangkok kolak kacang hijau sesuai dengan porsi maisng-masing.
Setelah menghabiskan menu berbuka puasa, mereka lantas melaksanakan salat maghrib berjamaah. Sang suami menjadi imam sedangkan Zainab dan anak-anaknya menjadi makmum. Usai menunaikan kewajiban itu, mereka lantas menggelar tikar pandan di halaman rumahnya. Mereka duduk santai sambil menunggu waktu salat isyak dan tarawih datang.
Suasana yang membuat Zainab berderai air mata ketika dia mengingat waktu istirahat itu. Dia dan suaminya duduk santai di atas tikar pandan sedangkan kedua anaknya bermain kembang api. Kedua anaknya yang masih lugu itu berlari-larian membawa kembang api mengelilingi dirinya yang sedang menikmati camilan dengan suaminya.
Sambil mengusap air mata, Zainab mengabarkan kepada keluarganya bahwa suasana di kampung halaman tidak pernah ia lihat di Jalur Gaza. Suasana sore bulan Ramadan atau bulan puasa seperti sekarang ini anak-anak di Gaza tidak bisa berjalan-jalan dengan orang tuanya untuk menunggu waktu berbuka puasa. Mereka lebih mementingkan keselamatan jiwanya dan jiwa anak-anaknya dengan berlindung di ruang bawah tanah. Setiap hari mereka hanya bisa duduk dalam ketakutan di ruang yang sempit dan pengap. Mereka termenung dengan sinar lilin di atas meja makan yang menyediakan menu berbuka seadanya hingga saat berbuka benar-benar tiba.
Mereka makan ala kadarnya. Tak ada menu yang melimpah di Gaza. Tak ada camilan seperti yang ada di kampung halaman. Tada singkong rebus. Tak ada talas. Tak ada kolak kacang hijau. Bahkan kalau tidak ada bantuan makanan dari para relawan, mereka terpaksa hanya berbuka dengan seteguk air. Setelah itu mereka duduk lagi dengan penerang lilin dalam suasana yang mencekam di bawah ruang bawah tanah.
Selepas maghrib ketika langit benar-benar kelam anak-anak tak bisa bermain kembang api atau petasan. Mereka tidak pernah berlari-larian membawa kembang api lalu diikuti teman-teman sebayanya di belakang mereka. Anak-anak di Gaza selepas maghrib hanya bisa berlindung dalam dekapan orang tuanya. Mereka ketakutan saat melihat api roket meluncur ke sana kemari mencari sasaran tembak seperti kembang api raksasa. Sesaat kemudian terdengar dentuman bom menggema di tengah-tengah permukiman warga sipil yang diikuti suara gemuruh gedung dan rumah-rumah yang roboh, rata dengan tanah.
Jerit tangis anak-anak karena ketakutan, pecah di tengah-tengah perkampungan. Tangis ratap anak-anak karena orang tuanya meninggal dunia menyayat kalbu setiap orang yang mendengar. Mereka mencari-cari orang tuanya yang tertimbun rertuntuhan rumah. Mereka mengais-ngais serpihan bangunan untuk mencari orang tuanya yang tertelan material rumahnya. Akan tetapi, tangan-tangan kecil itu tak mampu mengangkat puing-puing bangunan rumahnya dan tidak bisa menemukan kedua orang tuanya.
Relawan datang membantu. Mereka mengangkat puing-puing bangunan untuk mengangkat korban ledakan bom. Satu persatu mayat berhasil diangkat. Ratusan mayat dijajar di pinggir jalan. Ledak suara tangis bocah-bocah kecil bersahutan ketika mereka menemukan jasad orang tuanya sudah tak bernyawa lagi. Mereka mendekap janazah orang tuanya yang masih bersimbah darah. Mereka memegangi lalu menciumi tangan, kaki, atau bahkan kepala orang tuanya yang sudah terpisah-pisah dengan anggota tubuh yang lain.
“Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!” gema takbir berkumandang di tengah-tengah kerumunan warga untuk menguatkan batin dan mental mereka, para korban kebiadaban tentara Israil.
Anak-anak di Jalur Gaza tak memunyai rumah lagi karena hantaman roket para tentara zionis Israil. Mereka tak memunyai tempat berteduh, tempat berlindung, tempat bercengkerama, tempat menerima tamu saat lebaran nanti. Mereka tak memunyai apa-apa lagi selain jiwa jihad yang akan mereka gunakan untuk mempertahankan negeri dan martabatnya ketika mereka beranjak remaja nanti.
Sungguh peristiwa yang mengerikan dan menyedihkan karena rasa kemanusiaan di negeri Palestina telah diinjak-injak oleh pemerintah Israil.
***
Surat yang dikirim Zainab dari Jalur Gaza Palestina telah sampai di kampung halaman. Amiran, suami Zainab, mengajak anak-anaknya duduk di ruang tamu. Sofi, anak pertama Zainab, disodori ayahnya agar membacakan surat dari Gaza tersebut. Sofi segera membuka surat itu lalu membacanya. Mereka dengan serius mendengarkan isi surat yang dibacakan Sofi.
Tanpa disadari mata mereka berkaca-kaca. Mereka larut dalam penderitaan yang dialami oleh warga Jalur Gaza Palestina terutama nasib anak-anak yang kehilangan orang tuanya. Mereka hidup tanpa orang tua. Mereka hidup tanpa rumah. Mereka hidup di pengungsian dan menggantungkan hidupnya pada kedermawanan orang lain.
Lembaran surat yang dipegang oleh Sofi tiba-tiba bergetar. Getaran itu semakin lama semakin dasyat karena Sofi membacanya dengan penuh emosi. Kertas surat itu perlahan jatuh di pangkuan Sofi. Tubuh Sofi lemas tak berdaya. Kedua tengannya lunglai di pangkuannya. Suami dan anak-anak Zainab ini kemudian saling berangkulan dengan berderai air mata. Mereka mengingat nasib Zainab yang sudah puluhan tahun tidak pernah pulang kampung karena terjebak di negeri yang tak pernah berhenti dari peperangan ini.
Dalam suasana haru ini Amiran membisikkan pesan kepada anak-anaknya agar mereka tetap tabah, sabar serta memohon kepada Allah agar konflik di Gaza segera berakhir dan ibunya dapat pulang ke kampung halaman dengan selamat.(*)
Wanar, Juli 2014








Minggu, 20 April 2014

Gerumbul (cerpen Radar Bojonegoro (Jawa Pos Grup)

Gerumbul
Cerpen karya Ahmad Zaini

Sebatang pohon berdiri kokoh di perempatan jalan. Batangnya besar, daunnya lebat, serta akar-akarnya bergelantungan menjulur ke tanah. Setiap sore terdapat kawanan burung hinggap di pohon itu. Beraneka macam burung telah menjadikan pohon tersebut sebagai tempat persinggahan sementara setiap malam. Jika pagi datang, kicau burung-burung itu menghibur para warga yang melintas di pinggir pohon itu.
Para warga menyebut pohon itu dengan sebutan gerumbul. Entah apa alasannya mereka menyebutnya gerumbul. Padahal pohon itu terkenal dengan pohon beringin. Mungkin dari daunnya yang rindang dan sering digunakan para warga bergerombol untuk berteduh itu  mereka kemudian menyebutnya gerumbul.
Pohon berusia ratusan tahun ini sering digunakan warga sebagai tempat ritual. Mereka memercayai bahwa pohon tersebut memiliki berkah dan bisa menentukan nasib kehidupan manusia. Kebanyakan mereka yang melakukan ritual di bawah pohon tersebut adalah para orang tua yang masih memercayai adanya hal-hal yang berbau mistis demi tujuan tertentu. Umumnya mereka melakukan ritual pada malam hari karena mereka tidak mau ritualnya ini diketahui oleh masyarakat umum dan mereka takut dicap sebagai pengikut aliran sesat.
Setiap pagi anak-anak yang tinggal di sekitar pohon itu selalu berlomba menuju gerumbul itu. Mereka yang datang lebih awal akan mendapatkan sisa sesajen. Setelah mereka mendapatkan sisa sesajen, mereka akan memakannya bersama-sama di bawah pohon itu juga.
“Wuahahahaha...!” gertak wanita setengah tua dari balik pohon itu.
Anak-anak yang sedang menikmati sisa sesajen itu ketakutan lalu berlarian tak tentu arah. Mereka meninggalkan setampah nasi yang bercampur lauk ayam panggang serta ditaburi urap-urap.
Wanita setengah tua yang tak lain adalah warga kampung yang terganggu jiwanya itu menyantap sisa sesajen yang ditiggal lari anak-anak itu hingga habis. Wanita itu kemudian duduk di atas akar pohon gerumbul sambil meracau ke sana kemari.
Gerumbul itu kini menjadi bahan perbincangan dan perdebatan warga kampung. Warga terpecah menjadi dua kubu. Ada yang pro dan ada kontra terhadap keberadaan pohon tersebut.
Pihak yang pro terhadap keberadaan pohon itu ingin mempertahankan pohon tersebut karena pohon itu merupakan peninggalan nenek moyang yang disakralkan sebagai tempat ritual atau pemujaan. Mereka memercayai bahwa gerumbul itu ada penunggunya. Penunggu gerumbul tersebut bisa memberikan manfaat kepada para warga. Terutama mereka yang masih percaya pada hal-hal yang berbau mistis. Kelompok inilah yang setiap malam sering datang ke pohon tersebut sambil membawa sesajen untuk mengadakan pemujaan.
Sedangkan masyarakat yang kontra terhadap keberadaan pohon itu beralasan bahwa pohon itu menimbulkan banyak madharat atau membahayakan warga. Banyak warga yang berkendaraan terjatuh atau bertabrakan karena pandangan mereka terhalang pohon yang berada tepat di perempatan jalan. Alasan lain yang menguatkan mereka adalah pohon itu sering dimanfaatkan warga untuk melakukan ritual yang mengarah pada kemusyrikan sehingga dikhawatirkan akan merusak aqidah anak-anak, pemuda dan warga semuanya.
“Jika pohon itu dilenyapkan, maka kita bisa menyelamatkan warga dan menghindarkan mereka dari sifat syirik atau menyekutukan Tuhan,” kata Muslim, tokoh agama, di kampung itu.
Peseteruan dua kubu di kampung itu terus berlanjut bahkan mulai memanas. Kubu yang pro atau yang masih membutuhkan keberdaan pohon itu kini semakin berani. Biasanya mereka mengadakan ritual di bawah pohon itu hanya kalau malam telah tiba. Kini mereka siang bolong pun datang ke tempat itu dengan membawa sesaji lalu dengan terang-terangan mengadakan ritual di tempat tersebut. Perilaku nyeleneh dari sebagian warga yang mengultuskan pohon itu sontak menjadi tontonan warga yang lain. Warga yang memahami bahwa yang mereka lakukan adalah perbuatan syirik ada yang sampai melemparinya dengan bebatuan bahkan ada yang melemparinya dengan kotoran.
“Mereka telah menyekutukan Tuhan. Kita wajib menyadarkan. Kita juga harus menebang pohon itu agar tidak dijadikan sebagai alat menyukutan Tuhan,” usul salah satu pemuda yang menentang ajaran sesat itu.
Sebagai tokoh masyarakat, Muslim tidak tinggal diam. Dia mengumpulkan para warga kemudian mengajaknya berembuk di balai desa. Rencana ini mendapat persetujuan dari kepala desa.
“Saya sangat setuju dengan rencana rembukan ini. besok pagi saya akan mengirimkan undangan kepada para tokoh masyarakat dari kedua belah pihak. Mereka yang pro terhadap keberadaan pohon itu kita undang. Demikian juga dengan kubu yang kontra. Kita rembukan bersama untuk menyelesaikan masalah pohon tersebut,” jelas kepala desa.
***
Suasana rembukan di balai desa sangat sengit. Kedua kubu bersikukuh mempertahankan keyakinan masing-masing. Muslim sebagai tokoh agama sangat mengutuk sikap para pemuja pohon dan mengecap mereka sebagai orang musyrik karena telah menyekutukan Tuhan. Kerto dari pihak pemuja pohon juga bersikukuh mempertahankan keberadaan pohon itu. Dia bahkan mengancam jika pohon itu ditebang, maka Mbah Karihun yang dianggap sebagai penunggu pohon itu akan murka.
“Kampung ini akan mendapatkan balak atau bencana yang mahadasyat,” ucapnya.
Mendengar ancaman dari Kerto, Muslim sebagai orang yang ditokohkan di kampung itu tidak tinggal diam.
“Hidup mati seseorang itu Allah yang menentukan. Balak atau bencana itu juga kehendak Allah. Pohon hanyalah sebatang pohon yang tak mempunyai kekuatan apa-apa. Jangankan melindungi manusia, melindungi dirinya sendiri saja dia tidak mampu. Saudara Kerto, saya ingin tanya apakah pohon itu bisa mengusir lalat atau binatang lain yang membahayakan dirinya?” tanya Muslim.
“Tidak bisa,” jawab Kerto.
“Kalau Saudara tahu kalau pohon itu tidak bisa melindungi dirinya, kenapa kamu masih meyakini bahwa pohon itu bisa memberi berkah dan perlindungan kepada manusia? Segeralah bertobat dan meninggalkan perbuatan syirik ini,” kata Muslim meyakinkan Kerto dan segelintir pengikutnya.
“Tidak. Kami tidak akan meninggalkan ajaran nenek moyang ini. Kami tetap berikukuh menentang rencana penebangan pohon ini,” ucap Kerto dengan tegas.
“Huuuuuuuu!!” sorak para warga yang mengikuti rembukan di balai desa.
Kepala desa sebagai mediator dalam acara itu segera mengambil jalan tengah. Dia mengadakan poling terbuka.
“Kalau kita memperdebatkan keyakinan masing-masing maka sebulan pun rembukan ini tidak akan selesai. Sekarang kita adakan jajak pendapat saja. Antara yang pro dan kontra terhadap gerumbul itu nanti saya persilakan mengacungkan tangan saja. Bagaimana?” kata kepala desa.
“Setuju. Saya sangat setuju dengan pendapat kepala desa,” kata Muslim yang diikuti para warga yang lain.
Jajak pendapat dimulai. Kepala desa memberikan kesempatan mengacungkan tangan kepada warga yang masih menginginkan keberadaan gerumbul itu. Dari puluhan warga yang datang ke balai desa yang mengacungkan tangannya hanya sembilan orang.
“Yang pro ada sembilan orang,” ucap kepala desa setelah menghitung warga yang mengacungkan tangannya.
“Sekarang giliran warga yang menentang keberadaan gerumbul. Silakan angkat tangan!” kepala desa mempersilakan Muslim dan kawan-kawan untuk mengacungkan tangannya.
Seluruh warga yang hadir di balai desa mengacungkan tangan. Kecuali Kerto dan pengikutnya.
“Nah, sekarang kita sudah mendapatkan hasilnya. Sebagaan besar warga yang datang di tempat ini menolak keberadaan gerumbul tersebut. Oleh karena itu, saya mohon kepada Pak Kerto dan kawan-kawan harus mengikuti hasil musyawarah ini,” imbau kepala desa.
“Saya tetap bersikukuh pada pendapat kami. Sampai kapan pun kami tidak akan rela gerumbul itu dilenyapkan. Kalau gerumbul itu ditebang, kemana kami akan mengadakan ritual? Kalau ada permasalahan pertanian dan jodoh anak-anak kita, kepada siapa kita akan mengadu?” sambung Kerto.
“Pak Kerto, taubatlah! Sadarlah bahwa yang telah Pak Kerto lakukan selama ini adalah sesat. Itu perbuatan syirik. Kita beribadah ke tempat yang suci seperti masjid dan musalla. Kita mengadukan semua permasalahan hanya kepada Allah. Allahlah Tuhan yang harus kita sembah. Bukan gerumbul yang tidak memunyai kekuatan apa-apa,” imbuh Muslim.
“Tidak. Yang membuat panen kita tiap tahun melimpah itu adalah Mbah Karihun, penunggu gerumbul itu. Bukan yang lain,” sanggah Kerto.
Para warga yang datang pada pertemuan itu kemarahannya memuncak. Selain menyoraki jawaban-jawaban Kerto, mereka juga melempari Kerto dan pengikutnya dengan sandal dan barang-barang bekas.
“Tenang! Tenang para Bapak dan Saudara-Saudara! Kita telah menyepakati gerumbul itu ditebang. Maka tidak ada alasan lagi untuk menunda-nundanya. Maaf, Pak Kerto dan pengikut-pengikut Pak Kerto, kami akan tetap melaksanakan hasil rembukan ini,” kata kepala desa dengan tegas.
Usai rembukan dan telah menyepakati penebangan gerumbul itu, para warga pulang untuk mengambil peralatan. Mereka membawa kapak, pedang dan sejenisnya.
Kerto dan pengikutnya mencoba mengahalangi warga yang akan merobohkan pemujaannya. Namun, Kerto dan pengikutnya ditahan warga yang lain. Sementara itu, Muslim yang dibantu sebagian besar warga kampung itu bahu-membahu menebang pohon tersebut.  Dalam waktu sekejap gerumbul itu roboh dan membujur kaku di perempatan jalan.
Saat pohon itu benar-benar ambruk, warga dikejutkan oleh jeritan wanita dari balik rindang dedaunan gerumbul. Mereka sempat menghentikan aksinya. Ketika mereka amati, ternyata jeritan itu adalah jeritan wanita gila yang biasanya berteduh di bawah gerumbul itu. (*)
Lamongan, Maret 2014