Jika Kau Bukan Anak Raja, Juga Bukan Anak Ulama Besar, maka Menulislah

Kamis, 13 Agustus 2015

Cerpenku di Majalah Wanita UMMI, edisi Agustus 2015

Serpihan Bunga Kertas
Cerpen Ahmad Zaini*

Serpihan bunga kertas di beranda rumah berserak. Hampir di setiap sudut kutemui cuilan-cuilan bunga kertas. Beranda yang biasanya bersih dan rapi kini tanahnya hampir tak terlihat. Itu semua karena tangan jahil istriku yang selalu memetiki bunga hias di beranda rumah setiap hari. Ia berbuat seperti itu hanya dengan satu alasan, untuk menghilangkan kejenuhan. Aku sendiri tidak tahu apa yang menyebabkan istriku sampai mengalami kejenuhan. Setiap akan kutanya, dia selalu membuang muka lalu pergi menjauh dariku.
Siang itu dia duduk di beranda rumah. Dia mengurai rambutnya yang sebahu. Kedua tangannya tak henti-henti mencuili bunga-bunga kertas dekat tempat duduknya menjadi beberapa bagian. Jika kedua tangannya tak mampu lagi menggenggam cuilan bunga tersebut, ia segera membuang sampai berserakan di seluruh pelataran rumah.
Aku membiarkan dia melampiaskan kejenuhannya dengan bersikap seperti itu. Aku hanya bisa melihat ulahnya yang seperti anak-anak. Bunga-bunga kertas yang berserak pun aku punguti lalu kumasukkan ke dalam tempat sampah. Kalau tempat sampah sudah penuh maka segera aku buang ke pembakaran di halaman rumah.
Sejenak aku mencari tempat duduk agak jauh darinya. Aku ingin tahu apa yang menyebabkan dia seperti itu. Sebagai seorang suami tentu akan terusik pikirannya jika melihat istrinya seperti itu. Wajar saja kalau saya sebagai suami kemudian ingin bertanya masalah yang dihadapi istri kemudian membantu mencari jalan keluarnya. Akan tetapi, saya sebagai suami merasa kesulitan menghadapi istriku yang sulit diajak bicara seperti sekarang ini.
Dari bayangan kaca jendela rumah, aku melihat mata istriku berkaca-kaca. Tak lama kemudian sorot matanya  meredup agak memerah lalu meneteskan air mata. Linangan air matanya kemudian merembet di pipinya. Aku tak tahan melihat istri yang kunikahi sejak lima belas tahun lalu itu meneteskan air mata. Aku dekati dia. Kusentuh pundaknya. Serta merta dia mengusap air mata yang sempat menetes di kursi tempat duduknya.
“Kenapa kamu menangis?”
Dia diam tak menjawab. Pertanyaanku dianggap seperti angin lalu.
“Dik, kenapa kamu menangis?” tanyaku sekali lagi.
Istriku berdiri lantas berjalan masuk ke rumah. Aku segera menyusulnya ke dalam rumah.
Dia duduk di ruang tamu dengan muka kesal. Wajah yang biasanya tampak manis kini carut marut tak berbentuk.
“Aku kesal.”
“Apa yang menyebabkanmu kesal? Bukankah selama ini saya telah memenuhi semua kebutuhan yang kau perlukan?”
“Aku tahu itu. Setiap hari Mas telah memberiku nafkah.”
“Lantas apa yang menyebabkanmu kesal seperti ini?”
“Coba, Mas lihat! Para tetangga bisa membeli ini dan itu. Sedangkan saya kau biarkan seperti ini,” kata istriku sambil menunjukkan penampilannya yang tak karu-karuan.
“Kamu iri dengan tentangga?”
“Tidak.”
“Kalau tidak iri kenapa kamu selalu nyinyir seperti itu?” tanyaku kesal karena sudah hampir seminggu dia bersikap cuek kepadaku.
Para ibu rumah tangga yang bertetangga denganku saat itu memang usai membeli perhiasan, pakaian, perabot rumah tangga dan lain sebagainya. Mereka mendapatkan rezeki yang  melimpah karena suaminya yang berprofesi sebagai guru baru saja menerima rapelan tunjangan seertifikasi. Mereka telah menerima rapelan tunjangan selama setahun. Tiap bulannya mereka menerima tunjangan kurang lebih satu juta lima ratus ribu rupiah. Sehingga kalau dirapel selama satu tahun mereka menerima sekitar delapan belas juta rupiah. Istriku tidak tahu hal itu. Dia asal iri dan menuntut agar aku bisa memenuhi kebutuhannya seperti mereka.
Terus terang aku tak mampu memenuhi semua itu karena aku hanya bekerja serabutan. Pendapatanku setiap hari tidak menentu. Saat ini penghasilanku hanya cukup digunakan untuk membeli sembako.
“Mas, apakah Sampeyan tidak bisa menjadi guru lagi agar mendapat gaji seperti mereka?”
Mendengar pertanyaan istriku itu aku hanya tersenyum kecut. Aku diam tak menjawab pertanyaannya. Kursi yang sejak tadi kubiarkan tanpa penghuni, kini kududuki lagi. Dengan menyandarkan punggung aku menghela napas panjang untuk menjawab pertanyaan istriku.
Semenjak aku masih kuliah sebenarnya aku sudah menjadi guru. Ketika itu saya diminta oleh kepala sekolah untuk mengajar di sekolah tempat kumenimba ilmu di tingkat dasar. Sebagai alumni sekolah tersebut, saya pun menerima permintaan kepala sekolah menjadi tenaga pendidik di situ. Setiap hari saya bergelut dengan buku dan belajar bersama murid-murid sekolah tersebut. Aku melaksanakan tugas itu dengan senang hati. Aku bangga dengan profesi yang sangat mulya ini. Aku menjalankan tugas mengajar dengan semangat yang tinggi walau dengan gaji yang sangat rendah. Setiap bulan saya hanya menerima gaji tujuh puluh lima ribu rupiah. Gaji sejumlah itu tak mengendurkan niatku untuk selalu mengabdi pada masyarakat demi mencerdaskan kehidupan anak bangsa.
Setelah lulus kuliah aku memutuskan untuk menikahi gadis yang kuincar semenjak aku masih di bangku SMA.  Dia sangat senang karena mempunyai suami yang  berprofesi sebagai guru. Dia bangga karena para tetangga atau murid-murid saya memanggilnya dengan panggilan ‘Bu’. Wah, senangnya bukan main dia ketika ada orang yang memanggilnya dengan sebutan seperti itu. Dia merasa terhormat karena sudah ikut-ikutan dituakan oleh murid-murid saya sebagaimana aku yang dipanggil dengan panggilan ‘Pak’.
“Ini, Dik gaji saya,” kataku kepada istriku sambil menyodorkan amplop yang berisi gajiku mengajar satu bulan.
Saat istriku menerima amplop dariku, aku melihat senyum bahagianya merekah. Kedua bibirnya selalu mengembang dengan sorot mata berbinar-binar. Aku pun turut senang karena mempunyai istri yang qonaah. Dia senang menerima amplop walau isinya hanya tujuh puluh lima ribu rupiah.
Wajah istriku mendadak murung. Mukanya merah padam dengan mata yang melotot seperti akan melompat keluar. Aku terhenyak melihat ekspresi istriku yang berubah seratus delapan puluh derajat celsius.
“Kok, hanya ini ke mana yang lain?”
“Dik, uangnya, ya, hanya itu. Tak ada yang lain.”
Dia lantas tertunduk lesu. Amplop yang baru saja dibuka dibiarkan tergeletak di pangkuannya. Dia menangis sesenggukan.
“Dapat rezeki kok malah menangis? Disyukuri saja, Dik! Barang siapa yang mensyukuri nikmat Allah, niscaya Allah akan menambahnya,” ucapku menenangkannya.
“Mas, kalau setiap bulan saya hanya menerima uang segini, aku bisa mati berdiri,” katanya  menuntutku.
“Habis bagaimana lagi, gajiku memang segitu.”
“Mulai besok, Mas berhenti jadi guru,” sahutnya dengan sewot.
“Tidak. Aku tidak akan berhenti menjadi guru. Ini pilihan hidupku.”
Mendengar jawabanku, istriku langsung berlari masuk ke kamar.
“Brak!” suara pintu yang ditutup istriku dengan keras.
Aku membiarkan dia mengurung diri dalam kamar hingga emosinya mereda. Percuma kalau dalam suasana seperti itu aku masuk ke kamar menyusulnya. Biarlah dia menenangkan pikirannya.
Beberapa saat kemudian aku mengetuk daun pintu kamar. Dia bergeming tak mau membuka pintu yang terbuat dari bahan triplek itu. Sejenak aku ingin mendobrak pintu, tetapi aku berpikir uang dari mana yang kugunakan untuk memperbaikinya jika pintu itu rusak. Akhirnya, kubiarkan saja sampai dia keluar kamar.
Seharian dia belum juga keluar. Aku menunggu di kursi ruang tamu hingga ketiduran. Dengan terpaksa aku mencongkel engsel pintu kemudian aku berhasil membukanya. Aku terkejut melihat istriku tidur terlentang dengan mulut berbusa. Ternyata dia nekat ingin mengakhiri hidupnya hanya gara-gara tuntutannya agar aku berhenti menjadi guru tidak kuturuti. Untung saja ketika itu nyawanya dapat diselamatkan. Kalau tidak, dia pasti tidak bisa nyiyir mencibirku lagi. Sejak kejadian itulah saya berhenti menjadi guru dan bekerja sebagai tenaga serabutan yang berpenghasilan tidak pasti. Terkadang sehari mendapat seratus ribu, namun terkadang pula dua hari tidak mendapatkan pekerjaan. Jadi, tekor. Cocok dengan pepatah ‘besar pasak daripada tiang’.
***
“Bisa kan Mas menjadi guru lagi?” desak istriku.
“Dulu siapa yang meminta saya berhenti menjadi guru sampai-sampai akan bunuh diri hanya karena uang gaji tujuh puluh lima ribu rupiah?” Istriku tertunduk mendengar pertanyaanku. Dia diam tak menjawabnya.
“Sekarang ketika pemerintah meningkatkan kesejahteraan guru, Sampeyan menuntutku lagi menjadi guru. Tidak mungkin, Dik!”
“Dicoba, Mas!” rengeknya.
Aku mencoba menuruti permintaannya biar setiap hari dia tidak nyiyir terus. Aku datang ke sekolah tempatku mengajar dulu yang telah kutinggalkan hampir sepuluh tahun lamanya. Dengan berbekal surat lamaran yang kulampiri dengan fotokopi ijazah, akta IV, serta KTP yang kumasukkan ke dalam amplop, aku mengajukan lamaran menjadi guru di sekolah tersebut.
“Maaf, Bapak! Untuk sementara surat lamaran ini saya terima. Akan tetapi saya tidak bisa memastikan apakah Bapak diterima atau ditolak. Saat ini kebutuhan guru sudah lebih dari cukup. Jam mengajar mereka tidak bisa dikurangi karena mereka sudah masuk menjadi guru sertifikasi yang dituntut mengajar dengan  beban 24 jam tatap muka perminggunya. Jadi, sangat kecil peluang Bapak diterima di sekolah ini,” jelas kepala sekolah yang baru.
Usai menerima penjelasan dari kepala sekolah, saya pun pamit dan meninggalkan kantor sekolah yang sudah mengalami banyak kemajuan. Dulu ketika saya masih mengajar, gedungnya banyak yang rusak. Sekarang gedung sekolah kelihatan megah dan bersih. Dulu di tempat parkir, yang saya lihat hanya beberapa sepeda onthel milik para guru. Sekarang sudah ganti sepeda motor terbaru semua.
“Andaikan istriku melihat peningkatan kesejahteraan guru di sekolah ini, saya yakin dia akan nyinyir lagi! Untung dia tidak ikut mengawalku tadi!”
Sesampai di rumah istriku sudah nyanggong di depan pintu dengan muka kecut. Dia sudah mengira bahwa lamaranku menjadi guru ditolak oleh kepala sekolah. Dia kecewa kepadaku. Namun apa boleh buat nasi telah menjadi bubur. Aku tak bisa menjadi guru lagi sehingga tidak mendapatkan tunjangan sertifikasi. Aku tak bisa memenuhi keinginan istriku seperti istri-istri guru sertifikasi. Biarlah aku menjadi tenaga serabutan yang berpenghasilan tidak menentu. Aku pasrah! (*)


*Cepenis tinggal di Lamongan Jawa Timur
 

Rabu, 03 Juni 2015

Pemburu Matahari



Pemburu Matahari
Cerpen Ahmad Zaini*

Jalan berbatu dan berdebu menuntun langkah seorang wanita renta. Ia setiap hari mengikuti perjalanan matahari dari ufuk timur hingga ufuk barat. Wanita renta itu tak kenal lelah. Ia tetap melangkah meskipun usia kalah oleh waktu yang terus mencari tempat singgah.
Si Mbah Pemburu Matahari biasa warga memanggilnya. Disebut sebagai pemburu matahari karena ia terus mengejar matahari. Setiap pagi, wanita renta selalu berjalan ke Timur. Siang hari ketika matahari tegak di langit biru, wanita renta itu akan berhenti di tempatnya berdiri. Waktu  sore ketika matahari telah lingsir ke barat, ia melanjutkan perjalanan ke barat. Pada malam hari wanita renta merebahkan tubuhnya di tempat ia terakhir berdiri. Jika kebetulan dia berdiri di pelataran rumah warga, ia akan merebahkan tubuhnya di tempat itu. Kalau ia berdiri di pinggir jalan, ia pun akan beristirahat di pinggir jalan. Bahkan suatu ketika ia harus menelentangkan tubuhnya di tengah jalan karena sebelum matahari benar-benar tenggelam dia berdiri di tengah jalan.
Wanita renta itu memburu matahari semenjak anak lelakinya yang berumur tujuh tahun lenyap. Entah mengapa anak pertama yang ia idam-idamkan kelahirannya hilang seperti ditelan bumi. Ia mencari anak lelakinya bersama suaminya ke sana kemari. Namun, usahanya tidak pernah membuahkan hasil. Anak semata wayang yang akan dijadikan sebagai generasi penerus pada silsilah terakhir keluarganya tidak pernah ketemu. Bahkan kabar keberadaannya pun tidak pernah terlacak. Setiap hari mereka bermunajat kepada Tuhan agar dipertemukan dengan anaknya. Akan akan tetapi, Tuhan belum mengabulkan permohonannya. Pada angin yang melintas, pada daun-daun akasia yang berguguran, mereka selalu menanyakan anaknya. Namun, angin dan dedaun akasia selalu menjawab tidak pernah tahu keberadaan anaknya. Mereka juga menangkapi jari-jari hujan yang sempat mengguyurnya. Mereka bertanya tentang anaknya. Rinai hujan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya karena juga tidak mengetahui anaknya. Pada malam purnama mereka duduk menghadap rembulan. Mereka mencoba menanyakan keberadaan anaknya. Rembulan pun hanya tersenyum simpul sambil menggeleng karena tidak mengetahuinya.
“Pada matahari. Ya. Dia pasti mengetahuinya. Mari kita bertanya kepadanya,” kata suaminya dengan yakin.
“Betul. Dia yang mengetahui segalanya. Dia adalah matanya hari. Matanya waktu. Pasti dia mengetahi anak kita,” sambung wanita renta membenarkan ucapan suaminya.
Ketika embun masih menempel pada ujung dan batang rerumputan, mereka duduk di tanah lapang menunggu matahari muncul. Mereka yakin jika upaya mencari anaknya akan berhasil. Mereka mantap pada keyakinannya kalau matahari pasti mengetahuinya.
Sorot cahaya merah jingga melukis langit di ufuk timur. Mata mereka menatap matahari yang baru lahir dari rahim bumi. Mereka berdiri lalu bertanya lantang kepada matahari.
“Matahari, di mana anakku?” teriak suami wanita itu.
“Apakah kau melihat anakku? Di mana ia berada?” sambung wanita renta dengan berteriak pula.
Matahari perlahan menapaki tangga pagi. Matanya tak berkedip untuk memberikan isyarat jawaban pada teriakan suami istri ini. Matahari angkuh. Ia tetap memanjat langit cerah pagi itu tanpa memedulikan teriakan suami istri yang menanyakan keberadaan anak laki-lakinya.
“Matahari … di manakah anakku?” tanya mereka bersama-sama.
Hingga suara mereka parau matahari tidak memberikan jawaban pasti pada kedua orang tua yang telah kehilangan anaknya.
“Dia tahu. Matahari mengetahui keberadaan anak kita,” kata wanita itu.
“Tapi mengapa dia tidak menjawab?” sahut suaminya.
“Dia telah menyembunyikan sesuatu. Jangan-jangan dia yang telah menculik anak kita!”
“Mungkin saja. Andaikan dia tidak mengetahuinya pasti dia menjawab tidak tahu. Atau paling tidak dia akan menggeleng-gelengkan kepala sebagai isyarat tidak mengetahuinya.”
“Bukan mungkin lagi. Dia pasti yang menculiknya. Dia yang telah mengambil anak kita.”
“Lantas apa yang bisa kita lakukan?” tanya suaminya.
“Kita akan memburunya sampai dia menyerahkan anak kita.”
“Baiklah, mari kita buru!”
Hanya berbekal beras satu kaleng serta sekendi air minum mereka bangkit dari duduknya. Mereka berjalan ke arah timur ke tempat matahari yang masih berada di ujung pepohonan rindang.
“Percepat jalanmu sebelum matahari meninggi!”
Wanita itu menuruti ucapan suaminya. Ia mempercepat langkahnya menuju ke timur. Ke arah matahari yang belum meninggi meninggalkan bumi.
Perjalanan jauh mereka melintasi bebatuan dan perbukitan belum membuahkan hasil. Semakin jauh mereka melangkah semakin tinggi matahari meninggalkan mereka. Suami-istri itu pun duduk di tengah gundukan tanah untuk melepas lelah. Sedangkan matahari semakin tegak di tengah langit yang cerah.
“Kita beristirahat dulu,” ucap wanita sambil menuangkan air kendi ke dalam batok. Mereka meminumnya dengan bergantian.
Setelah meminum air dari batok kelapa, napas suaminya tersengal-sengal. Ia kolap. Wanita itu panik. Dia tidak bisa menyelamatkan suaminya yang sekarat. Pada akhirnya, sang suami yang telah menemani perjalanan memburu matahari itu menutup mata. Suaminya meninggal dunia di bawah terpaan sinar matahari yang terik.
Wanita itu menelentangkan tubuh suaminya di atas gundukan tanah. Dia diam sambil meratapi nasih yang menimpanya. Dia tak punya teman perjalanan lagi dalam memburu matahari yang masih belum berhasil hingga kini. Harapan satu-satunya tinggallah pada anak lelaki semata wayangnya yang menurut keyakinannya masih disembunyikan matahari.
Wanita yang kini sebatang kara itu terkejut. Dia kehilangan jasad suaminya. Dia tidak mendapati jasad suaminya yang tadi ditelentangkan di atas gundukan tanah.
“Di manakah kau …???” suaranya menggema di tengah siang yang menyala.
Gundukan tanah yang diduduki itu bergerak. Tanah itu seakan memberitahu bahwa jasad suaminya telah menyelinap di dalamnya.
“Baiklah kalau begitu. Tenanglah di alammu. Aku akan mengejar matahari sendirian hingga dia menyerahkan anak kita. Aku akan menerjang segala rintangan meskipun nyawa taruhannya!” kata wanita itu berjanji.
Dengan bekal yang tersisa, wanita itu melanjutkan perjalanan ke arah barat karena matahari saat itu telah berada di sore hari. Dia akan tetap melangkah meskipun harus melintasi daratan dan lautan. Semak belukar akan dia terjang, gunung-gunung tinggi akan ia daki, serta lautan akan ia seberangi. Semua itu akan dia lakukan hanya demi satu tujuan. Yakni, menangkap matahari yang telah menyembunyikan anak semata wayangnya. Anak generasi terakhir dari silsilah keluarganya. (*)
Wanar, 28 Mei 2015


Dimuat di Radar Bojonegoro (Jawa Pos Grup) Minggu, 31 Mei 2015




Jumat, 17 April 2015

Ketika Senyum Itu Tiba



Ketika Senyum itu Tiba
Cerpen karya Ahmad Zaini*

Jalan di sebuah gang menuntun langkah lelaki setengah tua yang memikul dua buah keranjang telur puyuh di pundaknya. Lelaki setengah tua itu setiap hari mengais rezeki sebagai pedagang telur puyuh yang berkeliling di gang-gang kota Surabaya. Dengan berbekal semangat dan keinginan agar mampu mencukupi kehidupan keluarganya, dia tidak pernah mengeluh karena kecapekan atau kepanasan. Terpaan sinar matahari di siang hari tak pernah dia rasakan. Dia menganggap sengatan sinar matahari itu ibarat sinar rembulan di malam purnama.
“Telur…! Telur…!” suaranya parau menjajakan telur puyuhnya yang masih tersisa setengah keranjang.
Suasana sepi di sebuah gang tak menyurutkan nyali dari lelaki itu. Dia tetap berjalan menyusuri gang-gang kota Surabaya sampai telur puyuhnya benar-benar habis.
“Telur puyuhnya, Pak!” seorang penjual bakso memanggilnya. Lelaki setengah tua berhenti. Dia menghampiri penjual bakso yang baru saja memanggilnya.
Penjual bakso akan membeli telur puyuh. Dia akan menggunakan telur puyuh itu sebagai isi baksonya.
Lelaki setengah tua itu dengan sigap melayani penjual bakso. Dia menghitung bungkus demi bungkus telur puyuh sesuai dengan permintaan penjual bakso.
“Tinggal lima puluh bungkus, Pak.”
“Tidak apa-apa,” sahut penjual bakso.
Wajah kusam karena hampir setengah hari belum tersentuh air sedikit ceria. Si lelaki setengah tua ini merasa bangga karena hasil dari dagangannya ini akan bisa dikirimkan kepada anaknya yang tinggal di sebuah rumah kos yang tidak jauh dari tempatnya saat ini.
Dua buah keranjang yang dipikulnya sudah kosong. Dia melenggang ke sebuah toko yang menyediakan alat tulis dan alat kantor. Toko yang juga menyediakan jasa fotokopi ini dijadikan lelaki setengah tua sebagai langganan menitipkan keranjang telur puyuhnya setiap dia akan mampir ke rumah kos naknya.
Di sebuah rumah kos yang berjarak sekitar seratus meter dari toko itu tinggal seorang pemuda yang bertubuh kurus. Dia sibuk membaca dan membolak-balik beberapa buku yang berada di sampingnya. Rupanya pemuda itu sedang mengerjakan tugas kuliah.
“Nak, Nak!” ucap lelaki setengah tua.
Pemuda tersebut lantas bangkit dari tempat duduknya lalu membuka pintu rumah kosnya yang terkunci dari dalam.
“Bapak!?” kata pemuda itu kaget setelah mengetahui yang berdiri di depan pintu rumah kosnya adalah ayahnya.
Pemuda berkulit sawo matang itu  lantas mempersilakan ayahnya masuk. Dia merapikan buku-buku yang berserakan di lantai agar ayahnya bisa duduk dengan nyaman. Dia masuk ke ruang belakang lalu kembali ke ruang depan dengan membawa sebotol air putih serta sebuah gelas.
“Diminum, Pak!” pintanya.
Lelaki setengah tua itu bermaksud membuka tutup botol air putih. Namun, dia tidak mampu membukanya. Dengan cekatan pemuda itu meraih botol untuk membantu ayahnya membukakan tutup botol lalu menuangkan airnya ke gelas yang berada di depan ayahnya. Lelaki setengah tua itu kemudian meminum segelas air yang dituangkan oleh anaknya.
Pemuda itu manatap ayahnya dengan iba. Dia merasa kasihan melihat ayahnya yang sudah tidak muda lagi, akan tetapi masih bersemangat mencari rezeki demi membiayai kuliahnya. Semangat orang tuanya dalam menyukseskan pendidikannya memang sejak dulu sangat tinggi. Sampai-sampai orang tuanya rela menjual sebagian sawah yang dimilikinya untuk membayar semua biaya perkuliahannya yang saat ini masih di semester dua.
“Ini uang untuk membayar kos kamu, Nak,” kata lelaki setengah tua itu sambil menyodorkan uang lima puluh ribu rupiah kepada anaknya.
Pemuda itu menerimanya dengan beban yang sangat berat. Dia ingin mengatakan kepada ayahnya kalau uang tersebut masih kurang, tetapi dia tidak berani menyampaikannya.
“Kenapa, Nak? Masih kurang?” tanya lelaki tua itu.
Pemuda itu diam sambil menundukkan kepalanya.
“Kenapa diam? Kalau kurang, katakana saja!”
“Iya, Pak. Uangnya kurang. Besok saya harus membeli buku perkuliahan,” kata pemuda itu dengan nada berat sekali.
Setelah mendengar jawaban anaknya, lelaki setengah tua itu mengeluarkan dompetnya lagi untuk mengambil uang yang sudah tertata rapi. Uang tersebut adalah uang untuk setoran telur puyuh dagangannya dari pengepul telur puyuh di desa.
“Ini saya tambah lima puluh ribu lagi,” katanya sambil memberikan uang tersebut kepada pemuda itu.
“Jangan dulu, Pak! Itu uang setoran Bapak. Kalau belum ada uang, kapan-kapan saja. Saya akan pinjam ke teman dulu,” tolak pemuda itu.
“Tidak usah pinjam ke teman! Ini diterima dulu. Masalah uang setoran, itu urusanku,” kata lelaki setengah tua itu meyakinkan anaknya.
Setelah memberikan uang untuk kebutuhan hidup dan kuliah anaknya, lelaki setengah tua itu pamit dan menuju ke toko tempat dia menitipkan keranjangnya.
“Permisi, Pak saya mengambil keranjang!”
“O, silakan, silakan!” jawab pemilik toko dengan ramah sekali.
Ketika lelaki tua itu sudah mengambil keranjangnya dan ingin meninggalkan toko, dia terkejut karena dia mendengar suara pemilik toko menahannya.
“Tunggu dulu, Pak! Mari, masuk ke rumah sebentar!” ajak pemilik toko.
Lelaki setengah tua itu mengikuti saja permintaan pemilik toko. Dia diajak masuk oleh pemilik toko ke ruang tamu yang berada tepat di belakang tempatnya berusaha karena toko itu satu lokasi dengan tempat tinggalnya.
“Maaf, saya ingin menanyakan sesuatu kepada Bapak!” kata pemillik toko.
“Tanya apa, Pak?” tanya lelaki setengah tua dengan nada penasaran.
“Bapak sering menitipkan kerangjang telur puyuh di sini. Sebenarnya Bapak pergi ke mana dan ada perlu apa?”
Pertanyaan dari pemilik toko ini tidak segera dijawab oleh lelaki setengah tua. Dia terkejut karena laki-laki pemilik toko ini bertanya seperti itu.
“Kenapa, Pak? Ceritakan saja!” desak pemilik toko setelah melihat lelaki setengah tua itu tidak segera menjawab.
Karena terdesak oleh pertanyaan pemilik toko, lelaki setengah tua yang biasa menitipkan keranjang telur puyuhnya itu bercerita.
“Saya dari tempat kos anak saya. Setiap selesai berjualan telur puyuh saya harus mampir ke tempat kos anak saya untuk memberinya uang.”
“Anak Bapak kerja?”
“Tidak. Dia masih kuliah semester dua.”
“Lantas biaya kulihnya dari mana?”
“Saya membiayai kuliahnya dari hasil menjual telur puyuh ini.”
“Hasil berjualan telur puyuh mana mungkin cukup untuk biaya kuliah?”
“Ya, begitulah. Terkadang uang setorannya juga ikut-ikutan saya berikan kepada anak saya.”
“Masya Allah! Lantas untuk kebutuhan keluarga di desa bagaimana?”
“Kami di desa masih menggarap sebagaian sawah yang tersisa setelah beberapa sawah saya juga terjual untuk biaya kuliah dan hidup anak saya di sini,” kata lelaki setengah tua dengan memelas.
“Kenapa Bapak tidak pernah cerita kepada saya kalau anak Bapak kuliah di sini dan masih menggantungkan biaya kuliahnya kepada Bapak yang hanya bekerja dengan menjual telur puyuh? Sekarang saya minta alamat tempat kos anak Bapak,” pinta laki-laki pemilik toko.
Lelaki setengah tua itu memberi tahu alamat rumah kos anaknya. Dia merasa malu setelah masalahnya ini diketahui oleh pemilik toko. Setelah memberikan alamat rumah kos anaknya, lelaki setengah tua itu akhirnya berpamitan kepada pemilik toko lalu meninggalkan rumah tersebut sambil memikul dua buah kerangjang telur puyuh yang sudah kosong.
***
Pemuda, anak penjual teluar puyuh, sedang merapikan buku-bukunya usai mengerjakan tugas. Dia menata buku-bukunya di rak yang sudah lapuk. Mesin ketik manual yang berada di ruang tamu diangkat lalu diletakkan di atas rak buku.
“Permisi!” ucap seseorang dari depan pintu.
Pemuda itu bergegas menuju ke pintu.  Setelah membuka pintu, dia melihat seorang laki-laki yang sudah tidak asing lagi bagi dirinya. Pemuda itu sering memfotokopi tugasnya di toko milik laki-laki itu.
“Eh, Pak Imran! Ada apa, Pak? Silakan masuk!”
“Ternyata kamu yang tinggal di sini?” kata pemilik toko kepada pemuda tersebut. Laki-laki pemilik toko itu juga sudah tidak asing lagi dengan pemuda itu karena dia sering datang ke tokonya.
“Memang ada apa, Pak?”
“Saya ada keperluan yang sangat penting dengan kamu. Sekarang kamu kemasi pakaian dan buku-bukumu,” kata laki-laki pemilik toko.
Pemuda itu semakin tidak mengerti dengan maksud laki-laki itu. Dia datang tanpa pemberitahuan  lalu tiba-tiba menyuruhnya mengemasi pakaian dan buku-bukunya.
“Saya minta kamu bersedia tinggal di rumah saya sambil membantu saya kerja di toko. Urusan biaya makan dan tempat tinggal adalah tanggung jawab saya. Saya tadi mendapat cerita yang banyak dari lelaki setengah tua penjual telur puyuh. Ternyata dia adalah ayahmu. Jadi, Kamu jangan menolak permintaan saya.”
Pemuda itu tidak bisa berkutik lagi. Dia menuruti semua permintaan pemilik toko. Dia mengemasi pakaian dan buku-bukunya lalu berpamitan kepada pemilik rumah kos.
Sejak itulah pemuda tersebut merasa beruntung karena ditolong oleh pemilik toko langganan ayahnya menitipkan keranjang telur puyuh. Dia bisa kuliah sambil bekerja dan tidak lagi menggantungkan semua biaya hidup dan kuliahnya dari ayahnya yang hanya sebagai penjual telur puyuh.
***
Beberapa tahun kemudian, pemuda itu menamatkan kuliahnya tepat waktu. Dia termasuk lulusan yang mendapatkan IP yang baik. Saat ada lowongan pendaftaran CPNS, dia memberanikan diri dengan mengadu nasib sebagai peserta tes CPNS di daerahnya. Betapa beruntung dia karena dia termasuk salah satu dari dua ratus peserta tes yang diterima sebagai CPNS yang ditugaskan di daerahnya sendiri.(*)
Lamongan, Juli 2014