Jika Kau Bukan Anak Raja, Juga Bukan Anak Ulama Besar, maka Menulislah

Sabtu, 06 Maret 2021

Perempuan yang Mencumbui Hujan, Jawa Pos grup Radar Bojonegoro, Minggu, 7 Maret 2021

 



Perempuan yang Mencumbui Hujan

Cerpen karya Ahmad Zaini

 

Ranti duduk bersila di halaman rumah. Ia menghadap sebuah baskom berisi bunga tujuh rupa. Dia memejamkan mata. Tangannya menengadah sambil meraih asap dupa yang mengepul ke arah wajahnya. Ranti mendongak seperti mencari sesuatu di langit. Mulutnya berkomat-kamit. Ranti menyenandungkan doa-doa pengundang hujan. Tak lama kemudian mendung berarak-arak datang memayungi desa. Hujan lebat turun mengguyur tubuh Ranti yang dibiarkan terbuka tanpa sehelai kain yang menutupinya.

Kebiasaan seperti ini dilakukan oleh Ranti semenjak ia batal menikah dengan Slamet. Slamet telah berpaling hati pada Zaenab. Lelaki yang sehari-hari sebagai pedagang sayur itu lebih memilih Zaenab karena memiliki wajah yang lebih cantik daripada Ranti. Akhirnya, Ranti minggat dari rumah. Dia malu kepada tetangga yang telah mengetahui rencana pernikahannya dengan Slamet ambyar.

Selama dua tahun lebih Ranti hilang bak ditelan bumi. Dua tahun lebih kedua orang tua Ranti menahan rindu pada anaknya. Mereka berusaha ke sana kemari mencari keberadaan anaknya. Mereka juga mendatangi dukun yang bisa menerawang di mana anak perempuannya tinggal. Namun, tak satu pun dari para peramal itu yang mampu mengetahui tempat Ranti. Kedua orang tua Ranti pasrah dan berserah diri pada Sang Pencipta.

Suatu siang kedua orang tua Ranti dikagetkan oleh kedatangan gadis yang berparas cantik jelita. Matanya berbinar. Hidungnya mancung. Alisnya seperti bulan sabit. Bulu matanya laksana bulu burung merak, mekar dan berkilau.  Bibirnya merah delima. Sepasang suami istri yang selama dua tahun lebih merindukan kedatangan anaknya ini saling menatap. Mereka terperanga melihat keelokan gadis yang saat ini berdiri di depannya.

”Aku Ranti, Bapak-Emak,” kata gadis itu dengan lirih.

Kedua orang tua Ranti tidak langsung percaya mendengar pengakuan gadis tersebut. Mereka melihat dengan jeli sosok jelita di depannya dari ujung rambut sampai telapak kaki. Mereka tidak menemukan wajah asli anak yang telah diasuhnya selama dua puluh tahun.

”Tidak. Kau bukan Ranti,” sanggahnya.

Gadis yang telah malih rupa itu bercerita masa kecilnya. Dia ingin meyakinkan bahwa sosok yang berdiri di depan orang tua tersebut adalah anak perempuannya yang pergi dua tahun silam.

”Emak masih ingat anak kecil yang merengek-rengek meminta boneka? Kemudian Emak membuatkannya bonek dari kain sarung bapak yang tidak dipakai lagi kerena ngepir? Bapak tentu masih ingat menggendong anak kecil di punggung sambil berlarian mengitari balai-balai rumah seperti kuda? Anak tersebut tersungkur lantaran Bapak jatuh akibat kaki tersangkut sandal jepit emak? Masih tidak percayakah kalau aku ini Ranti, anak Bapak dan Emak yang pergi tanpa pamit karena pernikahannya dengan Slamet batal,” kata Ranti meyakinkan kedua orang tuanya yang mulai percaya bahwa gadis itu adalah anak perempuan yang telah dicarinya selama dua tahun. Ranti melebur jadi satu dalam pelukan kedua orang tuanya. Mata mereka banjir air mata karena tangis haru atas kepulangan anak perempuannya.

Sore hari terjadi pemandangan aneh pada diri Ranti. Tubuh Ranti tampak layu. Kulitnya mengeriput seperti kulit jeruk kering. Wajahnya gelap tak bersinar. Matanya seperti orang kurang tidur, merah-redup. Bibir Ranti berkerak. Lidahnya selalu diputar-putar untuk melumasi bibirnya yang semakin lama semakin kering. Ranti mengerang kesakitan. Suaranya mengiris hati orang-orang yang mendengarnya. Beberapa saat kemudian Ranti membawa baskom berisi bunga warna-warni ke halaman rumah. Ia duduk bersila sambil membakar dupa. Wajah ranti mendongak sembari mengucapkan mantra.  Ranti melaksanakan ritual memanggil hujan untuk mengembalikan kondisi tubuh dan wajah yang elok dan memesona seperti semula.

”Cukup Ranti. Malu dilihat tetangga,” tegur Bapaknya ketika melihat Ranti menari sambil telanjang di halaman rumahnya.

Ranti bergeming. Dia tetap melanjutkan ritual mengundang hujan agar tubuhnya bisa segar-bugar seperti yang dipesankan oleh guru spiritualnya.

Mendung datang bergumpal-gumpal menutupi matahari sore. Para tetangga yang baru sehari merasakan kehangatan sinar matahari terpaksa harus masuk rumah. Mereka mengambili jemuran yang baunya apek karena beberapa hari tidak terjamah sinar matahari. Tak berselang lama hujan lebat mengguyur desa tersebut.

Ranti berdiri di tengah halaman rumah. Dia menyambut girang kedatangan hujan. Mulutnya menganga lebar menelan guyuran air hujan. Ranti meliak-liukkan tubuhnya. Ia seperti penari erotis pembangkit syahwat para lelaki hidung belang. Setelah hampir satu jam Ranti bercumbu dengan hujan, tiba-tiba ayahnya keluar dari rumah. Dia berlari-hari menghampiri Ranti untuk menutupkan jarik ke tubuh bugil anaknya lalu menyeretnya masuk ke rumah. Kedua orang tua Ranti terpana saat melihat tubuh Ranti mengalami perubahan. Kulit yang semula keriput menjadi kencang. Mata yang sayu menjadi berbinar. Bibir yang semula kering dan berkerak, sekarang menjadi basah kemerah-merahan seperti delima. Ranti sore itu berubah menjadi sosok wanita yang cantik jelita.

Ranti bernapas lega sambil melihat kedua tangan dan kakinya yang mulus dan putih seperti susu. Ia juga lihat wajahnya dengan bantuan cermin yang tergantung di tiang rumahnya. Dia melihat bayangan wajahnya becahaya seperti purnama. Dia puas karena wajahnya kali ini tujuh kali lebih cantik daripada wajah Zaenab. Nah, Ranti melakukan ritual bercumbu dengan hujan untuk mengubah rupa ini setiap sore. Yakni, ketika nyoni ritual sebelumnya sudah pudar sehingga wajah dan tubuhnya berantakan.

***

Setiap sore hujan deras mengguyur kampung. Got dan sungai tak mampu menampung guyuran air mata langit. Hamparan hijau tanaman padi petani di persawahan berubah seperti lautan. Harapan panen padi para petani menipis. Dua atau tiga hari ke depan apabila curah hujan masih seperti ini, angan-angan panen raya para petani akan sirna. Akan banyak warga yang terpaksa membatalkan rencana gawe  untuk menikahkan atau mengkhitankan anaknya.

Ritual Ranti yang mengudang hujan lalu mengajaknya bercumbu di halaman rumah untuk mengubah rupa menjadi buah bibir warga. Warga kampung merasa mangkel dengan cara ritual Ranti yang menggunakan sarana hujan. Bagaimana tidak kesal, persawahan mereka sudah kebanjiran. Tanaman padi mereka hampir musnah. Persediaan pangan di rumah juga menipis. Sedangkan di sisi lain, Ranti demi mempercantik diri selalu melakukan ritual mengundang hujan.

”Ini tidak bisa dibiarkan. Kita harus mencari cara untuk membujuk Ranti agar menghentikan ritual itu. Kalau kita biarkan, bisa-bisa tanaman padi kita akan tenggelam lagi,” usul Jumari pada teman-temannya yang kebetulan berkumpul di warung kopi pojok kampung.

”Betul sekali. Kita temui dulu kedua orang tuanya. Kita suruh mereka membujuk anaknya agar tidak melanjutkan ritualnya,” sahut Samijan.

”Halah...tidak perlu bertele-tele. Langsung saja kita gelandang si Ranti ke balai desa. Kita hakimi bersama-sama,” pungkas Kasto yang sudah tiga kali gagal menanam padi.

”Sabar! Ranti itu bukan orang sembarangan. Kalau dia murka lalu mengundang badai bagaimana?” sergah Jumari yang didukung oleh Samijan.

” Kita tidak perlu datang bersama-sama ke rumah Ranti. Kasihan orang tuanya. Mereka juga sudah terbebani dengan kebiasaan ritual anaknya yang merugikan kita semua. Cukup saya, Jumari, dan Kasto saja yang ke rumah Ranti,” usul Samijan.

***

Ranti keluar rumah. Dia hanya mengenakan selembar jarik untuk menutupi kemaluannya. Dia duduk bersila menghadap sebuah baskom yang berisi air dan kembang tujuh rupa. Wajahnya mendongak. Mulutnya berkomat-kamit membaca mantra. Perlahan-lahan dia berdiri lalu menari-nari di tengah kepulan asap dupa. Wajahnya menengadah seperti mengeluarkan kekuatan untuk menggeret mendung. Tak lama kemudian, langit mulai remang. Sinar matahari sirna tertutup gumpalan mendung. Butiran hujan mulai menjamah tubuh Ranti. Perempuan yang berkebiasaan ganjil ini lantas melepas jarik yang melekat di tubuhnya. Para lelaki yang mengerumuninya lari berhamburan. Mereka malu melihat tubuh bugil Ranti.

”Ranti, hentikan!” teriak Jumari dan ayah Ranti yang berlari mendekati Ranti. Ia menyeret masuk ke rumahnya.

Ranti gagal melakukan ritual. Dia tidak bisa bercumbu dengan hujan. Jari-jemari hujan tak sempat membelai tubuh Ranti yang sudah bugil. Ranti menjerit histeris karena kesal ritualnya terusik olah ayah dan warga lainnya. Walhasil, tubuh dan wajah Ranti tidak bisa kembali sempurna.

Ayah Ranti tertegun. Ia kaget saat melihat perubahan pada wajah dan tubuh Ranti. Kulit wajah, tangan dan sekujur tubuhnya mengeras, pecah-pecah, lalu mengelupas. Ranti menggelepar kesakitan. Ranti terhuyung-huyung. Tubuh perempuan yang selalu bercumbu dengan hujan ini ambruk dan tengkurap di pembaringan balai-balai rumahnya.

Kedua orang tua Ranti dan sebagian warga yang menyaksikan perstiwa itu tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka hanya bisa menatap dan menyaksikan kejadian langka yang menimpa Ranti. Dia terkena tulah akibat ritual yang dilakukannya. Dia menjadi kembang ranjang sebagaimana sumpah serapah yang pernah diucapkannya pada Zaenab. (*)

Lamongan, 12 Februari 2021

 

Ahmad Zaini, guru SMKN 1 Lamongan. Beberapa cerpen dan puisinya pernah dimuat di berbagai media cetak dan online. Dia juga telah menerbitkan beberapa buku kumpulan cerpen dan puisi. Buku terbarunya berupa kumpulan puisi dengan judul Hanya Waktu Jelang Kematian.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Selasa, 16 Februari 2021

Pertemuan di Stasiun Kota, Cerpen Jawa Pos grup Radar Bojonegoro, Minggu, 12 Januari 2021

 


PERTEMUAN DI STASIUN KOTA

Cerpen karya Ahmad Zaini*

 

Kursi tunggu di stasiun kota penuh sesak calon penumpang kereta. Tak ada celah kursi sedikit pun untuk meletakkan tas di pangkuanku. Aku terpaksa memangkunya karena tas ini berisi barang berharga. Aku tidak berani meletakkannya jauh dariku karena khawatir para pencuri dan pencopet akan mengambilnya.

Beberapa calon penumpang bersliweran di depanku. Mereka memaksa menerobos celah kursi yang menghimpit posisiku. Kedua ujung lututku berkali-kali tersenggol anak-anak yang berlari ke sana kemari. Terkadang aku memegangnya lalu menggoda anak yang kebetulan tidak bisa melewati celah kursi yang menghimpitku.

“Permisi, Om!” kata seorang anak bertubuh gendut dengan lugu.

“Tak bisa. Kamu baru bisa lewat kalau bisa menjawab pertanyaanku,” godaku.

Anak kecil itu salah tingkah. Dia menengok ke kanan-kiri untuk mencari teman atau mungkin saudaranya yang dikejar.

“Adik di sini dengan siapa dan akan ke mana?” Aku memberondongkan dua pertanyaan sekaligus padanya. Dia kebingungan. Dia tidak tahu harus menjawab yang mana. Kepanikannya karena tidak mampu menjawab kedua pertanyaanku membuat aku lebih gemas melihatnya.

“Kemari! Mendekatlah!” tangan lembutnya kutarik pelan lalu kurangkul sambil mengulang pertanyaanku lagi. Dia memperhatikan pertanyaanku lalu menjawabnya satu persatu.

“Saya bersama bunda. Aku mau ke Surabaya.”

‘Di mana ibumu?”

Dia tanpa ragu menunjuk ke arah yang tidak jauh dari tempatku.

“Anak pintar. Silakan lewat!” Aku mengangkat kedua kakiku lalu memberi jalan agar si gendut ini bisa lewat.

“Terima kasih, Om!” katanya sambil berlalu meninggalkan tempat.

***

Wanita yang masih muda dengan rambut  hitam sebahu duduk gelisah di kursi tunggu. Dia rupanya mencemaskan kereta yang belum tiba. Dia berdiri lalu menuju kantin. Tak lama kemudian dia kembali dengan membawa sebungkus kudapan. Dia tampak kesepian sehingga dia membeli makanan ringan sebagai teman.

Saat dia menoleh ke belakang dan menampakkan wajahnya ke tempatku, ternyata wanita itu sudah tidak asing bagiku. Aku sangat mengenalnya karena kami hampir lima tahun menjalin kasih dengannya. Dia adalah Alisa.

Aku sedikit gugup. Aku khawatir jika dia mengetahui keberadaanku yang duduk tidak jauh darinya. Aku membenamkan wajahku di balik topi putih lalu menyembunyikan mataku dengan kacamata hitamku. Aku duduk tenang sambil memerhatikan gerak-gerik Alisa.

“Untung saya membawa kacamata ini sehingga mataku bisa lebih liar memerhatikannya,” kataku dalam hati.

Rupanya si gendut tadi adalah anaknya. Wajah dan sikapnya sedikit pun tidak ada yang mirip dengan ibunya. Si gendut berwajah kalem dan tutur sapanya lebih halus. Tak seperti ibunya yang berwajah garang dan tutur sapanya menggelegar bak guntur di tengah badai. Apalagi kalau dia sedang marah. Semua orang selokasi wisata akan mendengar semua. Ini pernah kualami ketika dia sedang memarahiku. Dia mengamuk dengan suara lantang seperti auman harimau. Seluruh pengunjung objek wisata tertuju pada kami kala itu.

Alisa wanita keras kepala. Dia sosok yang tak mudah diatur. Jika dia memunyai kemauan maka tak satu pun orang yang mampu menghadang.

“Permisi, Om!” si gendut datang lagi dan meminta jalan kepadaku.

“Eh, kamu lagi! Mana temanmu?”

“Dia sudah bersama ibunya,” jawabnya dengan ramah.

“Ayahmu di mana?”

“Ayah? Maaf, Om, saya tidak punya ayah.”

Aku terhenyak. Darahku terasa berhenti mendengar pengakuan lugu anak Alisa.

“Kok, bisa?” jawabku menggoda.

“Kata ibu, ayahku sudah pergi jauh semenjak aku masih bayi.”

Aku menghentikan pertanyaanku. Aku tidak tega dengan jawaban lugunya. Aku menahan berjuta-juta pertanyaan tentang kabar yang disampaikan si gendut perihal ayahnya. Si gendut kupersilakan melintasi celah kursi menuju ibunya yang sedang asyik menikmati camilan.

Sejenak aku menghela napas panjang agar debar jantungku normal kembali. Terus terang aku sangat terkejut mendengar jawaban si gendut. Alisa yang cantik dan menarik itu ternyata sifatnya masih begitu-begitu saja. Masih seperti yang dulu. Garang dan keras kepala.

“Pergi jauh…! Pergi jauh!” Aku memeroleh tugas dari si gendut.

Ayahnya merantau dan tak kembali atau meninggal dunia? Dua pilihan jawaban yang kini berkecamuk dalam pikiranku. Kenapa aku harus bingung-bingung memikirkan ‘pergi jauh’? Di situ masih ada Alisa yang bisa menceritakan segalanya. Ah, tidak! Kalau aku mendekatinya lalu menanyakan perihal itu maka topi dan kacamata hitamku akan sia-sia. Akan tetapi, kalau tidak segera kutemukan jawabannya, maka sampai kapan pun aku dihatui rasa penasaran itu.

Si gendut bersama ibunya. Dia seperti membicarakan sesuatu. Anak yang lucu itu menunjuk ke arahku. Aku berusaha duduk tenang sambil melihat ibunya yang melihat ke arahku juga. Wanita yang sangat kuhafal perangainya ini berjalan mendekatiku. Aku gugup karena takut jika dia mengetahuiku.

“Permisi, Pak! Maaf mengganggu. Saya hanya mencari mainan anakku yang hilang. Mungkin jatuh di sini,” katanya.

Aku kaget setengah mati. Alisa seperti sudah berubah. Selama pacaran aku tidak pernah mendengar Alisa mengucapkan kata maaf, permisi atau kata-kata santun lainnya. Yang kutahu dari dia selama ini selalu dar-der-dor jika berbicara. Tak peduli dengan pacar, orang tua, atau orang lain.

“Oh, silakan dicari!” kataku mempersilakannya.

Dia kaget saat aku berbicara. Dia seperti curiga dengan suaraku. Alisa bangkit setelah beberapa saat merunduk mencari mainan anaknya sambil menatap lebih dalam ke arahku.

“Kau???” tanya Alisa ragu sambil menunjukku.

Aku menahan diri. Aku duduk tenang sambil membuka media sosial di ponselku. Aku tidak mereaksi kecurigaannya terhadapku. Aku berpura-pura tidak tahu kalau dia sedang memperhatikanku.

“Eh, maaf salah orang!” katanya.

Dalam waktu sekejap aku sudah mendengar beberapa kata santun yang keluar dari mulutnya. Alisa  sekarang lebih santun dan halus saat bertutur sapa daripada sebelumnya. Sudah ada perubahan pada sikapnya.

Debar jantungku mereda ketika Alisa meninggalkan tempatku. Dia sudah kembali ke tempat duduknya.

“Hampir saja penyamaranku terbongkar!”

***

Alisa telah menjanda. Dia sudah berpisah dengan suaminya. Aku jadi berpikir apakah aku  harus kembali padanya? Ah, tidak mungkin. Alisa sudah mengeluarkan sumpah serapahnya untuk tidak lagi berhubungan denganku lagi. Tapi itu dulu ketika dia sedang dikuasai emosi. Saat ini ketika kami sama-sama ‘kosong’ kukira hubungan ini bisa dijalin lagi. Dia beranak satu. Aku juga demikian.

Aku menduda sudah lama karena istriku meninggal dunia. Tumor ganas yang bersarang di otaknya memaksaku berpisah dengannya untuk selama-lamanya. Ketika aku bekerja di luar seperti ini, anakku sendiri di rumah dengan ibu mertuaku yang sudah renta. Aku sangat kasihan pada anakku.

Sekarang Alisa sudah tidak seperti dulu. Rupanya dia sudah berubah. Tutur dan sikapnya sekarang lebih halus daripada ketika masih berpacaran denganku. Dia lebih dewasa setelah merasakan hidup berumah tangga.

“Apakah aku harus membongkar penyamaranku lalu menemuinya? Kukira tidak ada jeleknya. Siapa tahu dia masih bersedia menjalin hubungan denganku. Apalagi dulu aku berpisah dengannya karena termakan fitnah orang ketiga,” bisik suara hatiku.

Aku berdiri lalu memberanikan untuk mendekatinya. Topi dan kacamata hitam yang telah menyelamatkanku dalam penyamaran sudah kutanggalkan. Aku ingin menemui Alisa sebagai diriku yang pernah menjadi kekasihnya. Aku merapikan rambutku dengan sisir mungil yang tidak pernah lupa terselip di saku calana. Baju yang kusut kurapikan. Aku ingin menemui Alisa dengan penampilan yang meyakinkan.

Hatiku berdebar kencang ketika semakin dekat dengan Alisa. Jarakku dengannya tinggal selangkah. Saat aku hendak menepuk pundaknya tiba-tiba dia berdiri mengangkat tas koper sambil menuntun si gendut meninggalkan tempat duduknya. Rupanya kereta jurusan Surabaya telah tiba.

“Alisa, tunggu!” seruku yang tergilas suara mesin dan roda-roda besi kereta sehingga tidak sampai ke telinganya.

Aku terpaku sambil menatap Alisa yang sedang naik kereta bersama anaknya. Hasratku untuk menyampaikan maksud menjalin hubungan lagi dengannya telah sirna. Aku hanya bisa melepas Alisa kali kedua yang pergi dengan kereta menuju Surabaya.

Suasana di staisun kota telah sepi. Tinggal aku sendiri berdiri mematung meratapi diri. Tas yang kutinggalkan di tempat duduk juga telah raib. Rupanya para pencuri masih berkeliaran di staisun kota ini. (*)

 

Wanar, November 2020

 

Ahmad Zaini adalah guru di SMKN 1 Lamongan.

Beberapa cerpen dan puisi pernah dimuat diberbagai media cetak dan media online.

Saat ini tinggal di Wanar, Pucuk, Lamongan

Sabtu, 12 Desember 2020

Tahun Duka Robiah, cerpen Lembar Budaya Jawa Pos grup Radar Bjn, Minggu, 13 Desember 2020


 

Tahun Duka Robiah

Cerpen karya Ahmad Zaini


Malam itu purnama bersinar tak sempurna. Cahayanya terhalang mendung di awal pergantian musim. Semilir angin sesekali menyibak gumpalan mendung yang menutup wajah planet malam itu. Purnama menyempatkan diri menyinari sebuah ruang isolasi yang dihuni Robiah berserta keempat anaknya yang masih kecil. 

Robiah terjaga di malam itu. Mata sayunya menatap jarum jam dinding yang berlabuh di angka dua belas. Wanita yang sedang menjalani ujian jiwa dan raga ini turun dari ranjang menuju toilet di sudut ruang isolasi. Rupanya hujan sore itu telah mengubah udara malam menjadi sangat dingin sehingga Robiah beberapa kali harus bangun untuk buang air kecil.

Wanita berambut sepundak ini hendak merebahkan tubuhnya di pembaringan. Namun, tubuhnya tiba-tiba seperti ada yang menahan saat pendangannya menatap keempat anaknya yang tertidur pulas. Ia turun lagi dari pembaringan untuk membenahi selimut anak keempat yang sempat melorot hingga kakinya. Dengan penuh kasih sayang, bibir Robiah mengecup kening anak bungsunya yang sedang bermimpi bertemu dengan ayah, nenek, dan kakeknya di surga.

Robiah tak mampu memejamkan matanya. Pandangan Robiah selalu mengarah ke anak-anaknya. Bayangan demi bayangan masa depan anak-anaknya menahan kelopak mata menutup korneanya. Ia hampir tak mampu berpikir bagaimana nanti masa depan mereka.

”Robiah, kamu harus tegar. Kamu harus tabah menghadapi ujian ini. Kamu jangan larut dalam kesedihan. Fokuslah pada masa depan anak-anakmu. Mereka generasi penerus orang-orang tercintamu yang sekarang sudah damai di alamnya,” bisik Santi, teman akrabnya menjelang keberangkatan ke tempat isolasi di rumah sakit.

Bagaimana seorang wanita mampu memikirkan masa depan keempat anak yang masih kecil sendirian? Pertanyaan seperti ini selalu muncul dari dalam hati Robiah. Ia ragu dapat menjalaninya. Robiah sangat beruntung mempunyai teman-teman yang sangat perhatian padanya. Beberapa pesan yang masuk di ponselnya memberikan nutrisi semangat hidup bagi diri dan anak-anaknya.

”Kelahiran anak-anakmu adalah kehendak Allah. Rezeki mereka telah tersedia. Jangan anggap setelah berpulangnya orang-orang tercintamu, anak-anakmu jadi telantar. Itu anggapan yang salah. Sekali lagi pemberi rezeki dan penentu masa depan anak-anakmu adalah Allah, bukan orang-orang tercintamu yang telah mendahuluimu untuk menghadap ke hadiratNya,” tukas Khozin, teman akrab suaminya.

Hati Robiah menjadi tenang setelah membaca pesan-pesan teman karibnya. Samangat sembuh dan hidup untuk membangun masa depan anak-anaknya kembali bangkit. Robiah sadar bahwa dia hidup tidak hanya beserta keempat anaknya, tetapi juga bersama teman-temannya. 

***

Dalam lingkaran kalender tahun ini, Robiah kehilangan orang-orang yang sangat peduli dan perhatian padanya. Orang-orang yang sangat menyayangi dan menjadi inspirasi dalam hidupnya. Mereka satu persatu menghadap ke pangkuan Tuhan. Mereka meninggal dalam rentang waktu yang tak lama. 

Bulan Mei merupakan awal masa kesedihan Robiah. Mertuanya meninggal dunia. Ayah dari suaminya ini meninggal secara mendadak. Lebih sedih lagi para tetangga menduga mertuanya meninggal karena terpapar virus yang sangat berbahaya. Para tetangga tidak ada yang berani datang ke rumah mertuanya untuk bertakziyah. Mereka takut tertular virus.

Berselang lima bulan, tepatnya bulan November ibu kandung Robiah sakit. Masa sakitnya juga tidak lama. Tidak sampai seminggu. Hasil pemeriksaan dokter, ibunya juga diduga terpapar virus yang sama seperti mertuanya. Sakit ibunya semakin hari semakin parah. Akhirnya, ibu kandung Robiah juga menghadap ke Sang Pencipta.

Robiah telah kehilangan dua orang tuanya. Orang tua mertua dan orang tua kandung. Robiah terpukul atas peristiwa tersebut. Namun, Robiah tahu dan paham bahwa kematian itu adalah kehendak Allah. Hak prerogatif Allah. Tidak ada manusia yang bisa menolak takdir kematian. Dia sangat mengerti dan memahami bahwa semua manusia yang hidup ini akan mengalami kematian. Ibarat sebuah bangunan, kematian adalah pintunya. Semua orang pasti akan melewati pintu tersebut. Hanya saja Allah merahasiakan kapan dan di mana ajal menjemput manusia. Pada usia berapa dan dalam keadaan bagaimana kematian itu terjadi. Semua manusia tidak ada yang tahu. Yang paling penting adalah manusia harus selalu berbuat kebajikan ketika hidup agar saat ajal menjemput, perjalanan hidupnya berakhir khusnul khotimah.

”Mbak Robiah, Mas Naufal, Mas Naufal,” lapor salah satu tetangga dekatnya dengan tergopoh-gopoh.

”Kenapa, kenapa suamiku?” tanya Robiah dengan perasaan yang tidak menentu.

”Mas Naufal pingsan. Sekarang dia dibawa ke rumah sakit oleh teman-temannya,” jelasnya.

Setelah mendengar penjelasan tetangganya, jiwa Robiah terguncang-guncang. Jantungnya berdegub kencang. Ia takut. Ia teringat peristiwa kematian yang telah merenggut dua orang tua sebelumnya. Pikiranya semrawut tak beraturan. Ia menjerit hingga keempat anaknya berlarian mendekat dan memeluk dirinya.

”Ada apa, Ma? Ada apa, kok, Mama menangis?” tanya anak sulungnya.

Robiah tak mampu membuka mulut untuk menjawab pertanyaan anaknya. Dia menggandeng keempat anaknya berjalan pelan masuk ke rumah. Dengan derai air mata, Robiah berusaha tetap tegar sambil berdoa semoga suaminya tidak apa-apa. 

Mendung benar-benar memayungi kehidupan keluarga Robiah. Ia bertubi-tubi dirundung duka. Robiah berusaha menenagkan diri. Ia duduk sambil berharap-harap cemas pada kabar perkembangan suaminya. Maklum, ia hanya bisa menunggu kabar karena tidak bisa meninggalkan keempat anaknya yang masih kecil-kecil di rumah. Dia tidak bisa berangkat ke rumah sakit untuk menunggui suaminya yang sedang menjalani perawatan.

Wajah ibu dari empat anak yang masih kecil-kecil ini menampakkan kecemasan. Kerut di keningnya terlihat jelas. Apalagi semenjak pagi dia belum sempat memoles wajah dengan make up istimewa hadiah ulang tahun dari suaminya tercinta. Jelas sekali wajah Robiah menggambarkan jiwanya sedang berada dalam kondisi tak menentu.

Beberapa kali Robiah hendak mengusir rasa itu dengan mengajak bicara anak-anaknya yang masih bergelayut di kedua lengannya. Namun, usaha itu selalu gagal. wajarlah, karena sekarang ini tinggal suaminya yang bisa diharapkan bisa melindungi dan mendampingi dirinya dalam mengasuh dan membina anak-anak. 

”Sekuat-kuatnya wanita tak mungkin bisa hidup sendiri bersama keempat anaknya yang masih kecil secara normal tanpa bantuan orang lain. Tumpuan terakhirnya dalam menjalani hidup sesudah kematian kedua orang tua terkasihnya adalah suami. Lebih-lebih Robiah anak tunggal. Dia tidak punya siapa-siapa lagi selain suaminya saat ini,” cibir salah satu tetangga yang sempat iri pada kedamaian di rumah Robiah sebelumnya. 

Robiah melepas perlahan rangkulan anak-anaknya. Ia menyandarkan anak-anaknya di kursi. Ia mengambil ponsel yang berdering di atas meja. Tangannya terasa berat bergerak untuk mengambil ponsel. Ia khawatir kabar buruk bakal diterimanya. Ketakutan itu buyar. Tangannya berubah menjadi gesit. Ia menyambar ponsel tersebut setelah mengetahui yang menelepon dirinya adalah sang suami.

”Selamat siang, Bu Robiah! Ini kami dari pihak rumah sakit mengabarkan bahwa suami Ibu telah meninggal dunia. Mohon Ibu bersabar dan bertawakkal kepada Tuhan!” suara salah satu petugas rumah sakit yang menelepon Robiah dengan menggunakan ponsel suaminya.

Darah yang mengalir di tubuh Robiah seakan berhenti. Ia berdiri seperti patung. Energi di sekujur tubuhnya sirna dengan perlahan. Jari-jari yang menggenggam ponsel melemah. Kekuatannya hilang meski hanya dibuat menggenggam ponsel. Ponsel jatuh hingga pecah berantakan.

”Mama...!” jerit anak-anaknya yang seketika mengembalikan kekuatannya.

Robiah duduk lantas merengkul keempat anaknya. Mereka larut ke dalam tangis karena kehilangan orang terakhir yang menjadi tumpuan hidupnya. Robiah menciumi kening keempat anaknya satu persatu. Ia memeluk erat para buah hati dari pernikahan dengan Naufal, suaminya. Bayang-bayang masa depan keempat anaknya terlintas dalam bening air mata yang menggenangi wajahnya.

Duka mendalam benar-benar dialami oleh Robiah setelah kematian ayah mertua, ibu kandung, dan kini suaminya. Apalagi saat ini dia tidak bisa menyaksikan secara langsung pemakaman suami dan ayah dari keempat anaknya yang tercinta. Dia tidak boleh turut serta bersama para tetangga dekat untuk memberikan penghormatan terakhir imam hidupnya. Hasil swab menyatakan Robiah dan keempat anaknya dinyatakan positif covid-19. Mereka terpaksa harus menjalani isolasi di rumah sakit. Robiah dan anak-anaknya hanya bisa menyaksikan pemakaman suaminya memalui video call tetangganya.  (*)


Wanar, 5 Desember 2020 


Ahmad Zaini merupakan guru di SMKN 1 Lamongan. Ia tercatat sebagai ketua PC Lesbumi NU Babat, aktif sebagai anggota Komunitas Sastra dan Teater Lamongan (Kostela), serta Forum Penulis dan Pegiatan Literasi (FP2L) Lamongan. Beberapa karyanya telah terbukukan dan sering dimuat di berbagai media cetak dan online. Saat ini ia berdomisili di Wanar, Pucuk, Lamongan.
















Selasa, 06 Oktober 2020

Layang-Layang Buku-Cerpen Jawa Pos grup Radar Bojonegoro, edisi MInggu, 4 Oktober 2020

 



Layang-Layang Buku

Cerpen karya Ahmad Zaini

 

Buku-buku anakku berserakan di samping meja belajar. Beberapa pensil dan penghapus berjumpalitan di atas meja. Tas menganga. Tlepak atau tempat alat tulis mulutnya terbuka. Seragam sekolahnya pun tergantung tak rapi di samping almari. Sepatu dan kaos kaki olahraganya dibiarkan berdaki sampai baunya seperti ikan asin yang dijemur namun belum kering.

”Abduh, di mana kamu?” tanyaku dengan suara datar.

”Di kamar belajarnya,” sahut istriku yang sedang menyiapkan sarapan pagi.

”Tidak ada di kamar belajarnya. Buku dan alat tulis lainnya berserakan. Amburadul semua.”

Aku mencarinya ke belakang tempat dia biasanya membuat layang-layang. Aku tidak menemukannya. Aku hanya mendapati bilahan bambu yang akan dibuat kerangka layang-layang yang tersandar di pohon mangga. Aku menuju ke tempat yang biasanya digunakan anakku bersembunyi untuk bermain game. Di tempat itu juga tidak ada. Aku hanya menemukan bekas kepalan tangannya yang memukul-mukul tanah jika dia kecewa karena kalah dalam permainan.

Beberapa hari ini aku melihat sikap dan tingkahnya agak berbeda. Dia tak seperti biasanya yang rajin dan sigap mempersiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan sekolahnya. Untuk kali ini dia hanya menatap jadwal pelajaran yang tertempel di depan meja belajar. Beberapa detik kemudian dia pergi. Dia membiarkan buku-buku yang morat-marit di atas meja tanpa membuka, membaca, menata lalu memasukkan bukunya ke dalam tas.

Belajar dari rumah secara daring memang cara yang terpaksa diterapkan oleh sekolah dalam masa pendemi virus corona  ini. Anak-anak menerima materi yang disampaikan oleh gurunya dengan menggunakan laptop atau sejenisnya. Pembelajaran nontatap muka ini ternyata mendapat reaksi yang berbeda dari para siswa. Ada siswa yang serius mengikutinya. Ada siswa yang kurang serius. Bahkan, ada pula siswa yang mengabaikan pembelajaran jarak jauh ini. Siswa tidak peduli. Dia mengacuhkan semua materi dan tugas yang disampaikan oleh gurunya.

”Saya bosan dengan tugas-tugas dari guru, Yah,” ungkap anakku karena lelah mengerjakan beberapa tugas yang diberikan oleh gurunya hari itu.

”Yang sabar, Nak. Kerjakan yang mudah-mudah dulu. Yang sulit dicatat atau diberi tanda, kemudian tanyakan ke bapak atau ibu guru.”

”Sudah, Yah. Namun saya tidak mengerti dengan penjelasannya yang hanya lewat tulisan. Saya ingin dijelaskan secara langsung seperti biasanya,” sanggah anakku.

Aku memaklumi alasan anakku. Aku mengerti bagaimana kondisi fisik dan psikis anak saat menghadapi tugas yang menumpuk. Bagaimana tidak lelah, dalam sehari ada lima tugas dari guru yang berbeda-beda. Kemampuan berpikir anak jelas tidak menjangkau untuk menyelesaikannya dalam sehari. Maka sangat wajar jika anak-anak sekarang ini malas membuka buku atau gawai untuk belajar. Mereka lebih senang bermain game daripada pusing-puising memikirkan tugas yang tak kelar-kelar.

Siang hari menjelang zuhur anakku datang dari luar. Napasnya ngos-ngosan seperti habis mengikuti lomba lari cepat, bukan lari liar, lho. Dia menyandarkan punggungnya di tiang penyangga teras.

”Dari mana kamu dari pagi sampai siang baru pulang?” tanyaku sambil melihat keringat berleleran di kening anakku.

”Main layang-layang di persawahan, Yah,” jawabnya.

“Bukankah kamu tahu bahwa saat ini waktunya belajar daring? Meski kamu tidak ke sekolah, namun pembelajaran tetap dilaksanakan secara jarak jauh,” aku memberi sedikit penjelasan pada anakku.

”Malas, Yah. Guru-guru hanya memberi materi lewat tulisan, disuruh membaca, lalu diberi tugas. Setiap hari begitu. Padahal, tugas-tugas yang saya kerjakan sebelumnya belum dinilai,” anakku menyampaikan alasannya padaku.

”Mungkin gurumu masih sibuk dengan urusan yang lain sehingga belum sempat mengoreksinya.”

”Hari ini sudah tugas yang ketujuh, Yah. Masak setiap hari ada urusan,” bantahnya.

”Sssst! Tidak boleh ngomong begitu tentang gurumu. Awas kuwalat jadi jambu mente.”

”Buktinya!” desak anakku.

”Sudah, sudah. Jangan diteruskan!” pungkasku.

Anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar sudah mempunyai penilaian seperti itu tentang gurunya. Dia memberikan reaksi tentang tugas belajar jarak jauh yang sama sekali tidak pernah kubayangkan sebelumnya. Namun, aku tidak menerimanya begitu saja. Mungkin itu hanya sebagai alasan untuk menutup-nutupi kemalasannya.

”Tidak, Yah. Ini benar. Kalau ayah tidak percaya, tanyakan ke Rangga, Ubet, Sadli, dan teman-teman saya yang lain,” kata anakku untuk meyakinkan bahwa yang dikatakannya itu bukanlah kebohongan.

Tak berselang lama azan zuhur berkumandang. Anakku beranjak ke kamar mandi guna membersihkan diri. Setelah itu dia berpakaian rapi dengan mengenakan songkok, baju koko, dan sarung yang dibelikan pakdenya sebagai hadiah khitanannya. Dia pergi ke masjid untuk melaksanakan salat zuhur secara berjamaah.

***

Angin siang berhembus kencang. Anakku dan teman-temannya keluar rumah sambil membawa layang-layang. Mereka berlarian ke persawahan yang korantang karena kemarau panjang. Mereka menerbangkan layang-layang yang dimodel seperti buku. Setelah terbang tinggi, mereka mengikatkan benang layang-layang di sebatang pohon turi. Mereka bertepuk tangan dan bernyanyi riang tentang belajar dan bermain layang-layang.

Anak-anak melupakan tugas dan tanggung jawabnya sebagai seorang pelajar. Mereka melupakan buku-buku yang berisi materi dan tugas. Mereka lebih senang dengan ’buku’ yang diterbangkan. Layang-layang buku ini lebih menyenangkan daripada belajar tanpa bertemu guru dan handai taulan, pikirnya.

Aku sebagai orang tua prihatin pada sikap anakku dan teman-temannya. Mereka enggan menjamah buku. Mereka lebih senang bermain layang-layang yang dibentuk seperti buku. Hal ini mestinya tidak bisa dibiarkan begitu saja. Sekolah dan orang tua harus mencari solusi bagaimana anak-anak bisa senang dan giat belajar lagi.

”Sampai kapan anak kita begini terus, Bu?” tanyaku pada istri yang juga kebingungan mencari cara mengembalikan minat belejar sang anak.

”Anak kita akan kembali bersemangat belajar apabila sekolah sudah masuk. Belajar tatap muka mulai dilaksanakan,” jawab istriku.

”Sama. Aku juga mempunya jawaban yang sama seperti itu. Tapi ini masih masa pandemi virus corona. Tidak mungkin anak-anak disuruh masuk ke sekolah. Nanti kalau mereka terpapar virus bagaimana?”

”Mereka disuruh belajar di rumah itu agar tidak berkerumun dengan teman-teman sekolah. Tapi mereka malah bermain layang-layang dan berkerumuan dengan teman-temannya di persawahan. Apa bedanya? Lebih baik mereka dimasukkan saja biar bisa belajar tatap muka dan bersemangat dalam belajar,” katanya yang mematikan alasanku.

Aku terdiam. Aku tidak bisa melanjutkan pembicaraanku tentang pernyataan istriku. Aku membenarkan argumen istriku. Namun apa boleh buat. Kebijakan para pemangku pendidikan seperti itu. Mau atau tidak mau kita harus ikhlas dan pasrah menerima keputusan tersebut. Masalah belajar anak, kita terima kondisi apa adanya. Yang penting anak-anak sehat dan bisa bermain layang-layang buku.

Aku dan istri duduk berdampingan di bawah teras rumah. Kami berdua menikmati es Morena di atas meja kecil di antara kursi secara bergantian. Setelah itu, kami menikmati keindahan dan ketenangan layang-layang buku anakku yang terbang tinggi di langit biru. (*)

 

Wanar, 25 September 2020

 

Sabtu, 15 Agustus 2020

PELUKIS NASIB cerpen Jawa Pos grup Radar Bojonegoro edisi Minggu, 16 Agustus 2020



 Pelukis Nasib

Cerpen karya Ahmad Zaini



Tumpukan kertas di kamarku semakin meninggi. Kertas-kertas itu hampir mengubur diriku dalam kamar. Ah, tak pernah sesulit ini aku melukis nasib. Biasanya dalam sekali lukis, nasib itu dapat terlihat jelas. Namun, kali ini entah apa yang menyebabkan lukisan nasibku selalu gagal. Apakah aku kurang fokus atau karena aku memang tak becus melukis nasib yang bakal terjadi pada diriku.

”Sejak kapan kau mulai gila, Mas?” tanya istriku pada suatu malam. Dia kesal melihat diriku yang selalu begadang dalam tiga minggu ini sambil menghasilkan limbah-limbah kertas yang hampir membunuh diriku.

Aku tak memedulikannya. Aku tetap memungut kertas demi kertas yang berada di rak buku sampai benar-benar menghasilkan lukisan nasib yang sempurna. Aku ingin seperti beberapa tahun lalu sebelum aku menikah dengannya. Kala itu aku melukis nasib mendapatkan jodoh wanita yang cantik, sabar, dan rendah hati. Dua bulan kemudian datanglah dia dalam kehidupanku. Aku juga pernah melulis nasib dapat membeli mobil baru. Tiga bulan berselang, aku dapat membeli mobil meskipun bukan mobil baru. Setidaknya punya mobil yang pernah baru.

”Nasib manusia itu sudah ditulis Tuhan di lauhul mahfudz. Tak perlu kau melanjutkan pekerjaan gilamu ini,” cerca istriku sambil berdiri mematung di pintu kamar.

Tanganku terus bergerak. Jemari tanganku menggores lukisan karierku yang akan datang tanpa memedulikan ocehan istri. Dia belum tahu bahwa nasib itu bisa dilukis. Kita bisa mengubah nasib sesuai dengan kemauan kita dalam selembar kertas. 

”Mimpi, Mas. Semua itu tidak mungkin,” sergah wanita yang kunikahi dua puluh tahun silam.

”Kamu masih belum percaya pada lukisan nasib yang pernah kubuat beberapa tahun lalu? Tentang rumah, mobil, dan termasuk dirimu. Semua yang kualami saat ini adalah berkat lukisanku,” bantahku.

”Jangan kau teruskan, Mas! Bisa-bisa kau nanti melupakan Tuhan yang telah menggariskan nasib dalam kehidupan yang kita jalani. Rumah, mobil, dan termasuk saya adalah kehendak Tuhan. Semua itu anugerah Tuhan yang harus kau syukuri,” sanggahnya.

”Nasib yang digariskan Tuhan itu masih berupa sketsa. Kita bisa mengubahnya sesuai kehendak kita,” jelasku padanya.

”Terserah apa katamu. Yang penting aku tidak setuju dengan aksi gilamu ini. Berminggu-minggu mengurung diri di kamar melakukan pekerjaan konyol yang sekonyol-konyolnya,” kata istri yang semakin kesal pada diriku.

Beberapa hari tidak kuperhatikan, istriku sering marah-marah padaku. Mungkin dia cemburu pada kertas-kertas putih yang selalu kupegangi dan kulukisi nasib hidupku. Dia merasa tersingkirkan oleh kesibukanku untuk mewujudkan nasib sesusai dengan keinginanku. Tahun ini aku berusaha mewujudkan nasib hidupku lebih mapan dan nyaman. Aku ingin hidup damai tanpa memikirkan ratusan, ribuan, bahkan jutaan permasalahan dalam hidupku. Aku juga melukis nasib anak-anakku menjadi anak yang sukses dunia dan akhirat. Aku ingin mereka menjadi anak-anak yang berguna bagi nusa dan bangsa. Aku melukis wajah ceria mereka pada selembar kertas yang sudah hampir setengah jam tergelar di depanku. Aku akan mempertegas sketsa nasib dari Tuhan lewat tangan-tanganku sendiri. 

Istriku pernah mengkhawatirkanku tentang perilakuku ini. Dia khawatir aku menjadi Firaun yang sombong. Dia takut kegemaranku melukis nasib ini dapat menjauhkan, bahkan melupakanku pada Tuhan. Namun, itu tidak mungkin. Aku masih masih percaya Tuhan. Tuhan sendiri yang telah memerintahkan kita agar memperjelas sketsa nasib yang telah dibuat-Nya. Kita jangan pasrah pada ketidakberuntungan nasib. Kita harus berusaha mengubahnya menjadi lebih beruntung.

Sungguh ketololan yang amat tinggi bagi mereka yang rela hidup miskin karena alasan nasib. Mereka tidak mau melukis kesejahteraan hidup untuk bisa mentas dari jurang kemiskinan. Manusia punya akal dan tangan. Manusia punya pikiran. Gunakan akal dan pikiran untuk mengubah sketsa nasib hidup dalam kemiskinan menjadi sebuah lukisan nasib hidup yang lebih sejahtera. Jangan berpangku tangan. Jangan bertopang dagu. Gerakkan tangan untuk melukis kehidupan yang lebih cemerlang.

Aku terkejut karena sentuhan tangan yang mendarat di pundakku. Sentuhan ini lebih halus dan memiliki rasa tersendiri. Aku sontak menoleh ke belakang. Ternyata anakku yang datang.

”Kapan kau pulang, Nak?” tanyaku padanya. 

”Baru saja, ayah,” jawab anakku dengan suara yang berat. Rupa-rupanya dia menangis.

”Kamu menangis? Apa yang kau tangiskan?” sambungku.

”Aku menangisi ayah. Aku sudah mendengar semua dari ibu tentang ayah. Berhentilah melukisi lembaran-lembaran kertas kosong yang tiada bermakna ini. Beraktivitaslah seperti biasanya. Melakukan hal seperti ini akan membuat ayah semakin terpuruk. Ayah akan sakit karena berhari-hari mengurung diri di kamar tanpa tidur, tanpa makan dan minum. Itu sama halnya menjerumuskan diri dalam kerusakan,” kata anakku.

”Tidak, Nak. Aku tidak akan berhenti melukis nasib ini. Aku ingin hidup lebih enak dari sebelumnya.”

”Kurang apa hidup kita ayah. Tuhan telah memberi kenikmatan yang lebih dari cukup kepada kita. Kita syukuri anugerah ini agar Tuhan memberi tambahan kenikmatan kepada kita. Sebagai anak, aku sudah bangga pada ayah. Ayah telah mewujudkan semua impian anak. Ayah telah berhasil mendidik anak sehingga aku sekarang bisa seperti ini. Lihatlah ayah. Lihat apa yang aku pegang ini. Aku telah berhasil meraih cita-cita sesuai dengan harapan ayah. Kurang apa lagi ayah?” kata anakku sambil menunjukkan penghargaan dari sebuah prestasi yang ia raih di sekolah.

”Satu lagi, ayah. Aku berhasil mendapatkan beasiswa kuliah di fakultas kedokteran,” sambungnya.

Aku tertegun. Mataku berkaca-kaca sehingga samar melihat wajah anakku yang tersenyum bahagia sambil menunjukkan penghargaan itu. Tiba-tiba aku ingat kalau wajah anakku ini persis seperti yang telah kulukis dua hari yang lalu. Tapi aku lupa di mana lukisan itu. Aku akan mencari dan menunjukkan kepada istri dan anakku bahwa aku pernah melukis nasib anakku persis seperti yang terjadi saat ini. 

Aku membongkar-bongkar tumpukan kertas yang hampir menguburku. Aku mengambil lalu membuka kertas-kertas yang sudah kuremas-remas dan berbentuk bulat seperti bola itu. Satu persatu aku buka lagi untuk mencari lukisan wajah ceria anakku. Ternyata yang kubuka dan kulihat malah lukisan nasib tentang keinginanku menikah lagi. Sial, istriku melihatnya! Dia berdiri di belakang punggung anakku yang sudah beranjak dewasa.

Istriku menyambar kertas yang kupegang. Dia melihat ada lukisan nasibku yang sudah barang tentu sangat ia benci. 

”Kau ingin menikah lagi?” tanya istriku dengan nada tinggi. Matanya mendelik seperti harimau betina. Dia geram seakan-akan ingin menerkamku.

”Tidak. Aku tidak bermaksud seperti itu.Yang kau pegang itu hanyalah lukisan,” jawabku mengelak.

”Kau sering mengatakan bahwa yang kau lukis ini adalah gambaran nasib hidupmu di masa mendatang. Berarti kau ingin mengingkari pernikahan kita?” sergah istriku.

”Lukisan itu hanyalah iseng. Hanyalah mainan belaka. Aku sama sekali tidak punya keinginan seperti yang kaukatakan.”

”Nah, kalau yang kau katakan itu benar, maka mulai sekarang kau harus meninggalkan pekerjaan konyolmu. Hentikan kebiasaan melukis nasib yang sia-sia ini. Ubahlah nasib dengan bekerja, bukan dengan membuat lukisan,” kata istriku sembari membuang lukisan nasib yang membuatnya gerasm

”Benar yang dikatakan ibu, ayah. Sekarang ayah keluar dari kamar biar tumpukan kertas yang hampir mengubur ayah ini kurapikan,” pinta anakku.

Perlahan aku bangkit dari tempat duduk yang menyatu dengan pantatku karena sudah tiga minggu duduk dan melukis nasib yang tidak menentu. Sekarang aku baru sadar bahwa kebahaagiaan tidak bisa diraih dengan lamunan dalam lukisan. Kebahagiaan hidup harus direngkuh dengan usaha. 

Tumpukan-tumpukan kertas yang hampir menguburku dalam kamar menjadi saksi bisu. Kertas-kertas itu suatu saat nanti akan bercerita kepada orang-orang yang selama ini menganggapku sebagai pemalas bahwa aku juga ingin seperti mereka. Mereka yang sukses menjalani karier, mendidik dan mengantarkan anak-anakknya ke puncak karier. (*)


Wanar, Agustus 2020


Ahmad Zaini, guru di SMK Negeri 1 Lamongan. Dia juga menjadi anggota Forum Penulis dan Pegiat Literasi (FP2L) Lamongan serta aktif di Komunitas Sastra dan Teater Lamongan (Kostela). Beperapa buku telah ia terbitkan. Buku tebarunya adalah kumpulan puisi yang berjudul Hanya Waktu Jelang Kematian. Saat ini tinggal di Wanar, Pucuk, Lamongan.





Minggu, 05 Juli 2020

Cerpen Jawa Pos grup Radar Bojonegoro, Minggu, 5 Juli 2020



Sopir Angkot
Cerpen karya Ahmad Zaini

“Menjangan, Menjangan, Menjangan!” seru Katam mencari penumpang ke arah Karangmenjangan. Namun, sampai jarum arlojinya hampir menyentuh angka sepuluh, baru ada satu penumpang yang tertambat dalam armada angkutan kotanya.
”Bagaimana, Cak? Jadi berangkat nggak?” tanya satu-satunya penumpang yang sudah hampir setengah jam duduk di bangku belakang.
”Sabar, Bu! Ini masih saya carikan penumpang lain.”
”Tapi, jam sebelas saya harus sudah sampai di tempat kos anakku.”
”Sebentar, Bu. Jika sudah ada dua penumpang lagi, kita berangkat.”
”Lalu sampai kapan kamu dapat dua penumpang itu?” desak perempuan yang memangku koper berisi barang yang akan dikirimkan ke anaknya.
Katam terdiam. Dia tidak bisa memberi jawaban pasti atas pertanyaan terakhir ini. Katam hanya bisa menelan kelu lantaran beberapa hari ini selama pandemi korona penumpang sangat sepi. Dalam sehari terkadang Katam hanya membawa dua atau tiga penumpang dari terminal Joyoboyo ke Karangmenjangan. Tapi apa boleh buat. Daripada berdiam diri di rumah dan tak mendapatkan penghasilan apa-apa, lebih baik tetap mengangkut penumpang meskipun tidak seimbang dengan pendapatan.
Hampir sepuluh tahun Katam menjadi sopir angkutan kota. Dia sudah merasakan pahit getirnya kehidupan di embongan. Pasang surut penghasilan merupakan hal yang biasa. Akan tetapi kali ini, dia benar-benar merasakan keterpurukan yang tidak pernah terbesit dalam batok kepalanya.
Sebelum diberlakukan PSBB di Surabaya karena pandemi korona, dalam sehari dia bisa mendapatkan penghasilan dua ratus sampai tiga ratus ribu. Apalagi saat menjelang lebaran. Dia bisa mendapatkan keuntungan dari sisa setoran ke juragan 500 ribu dalam sehari.
Dari penghasilan itu, Katam bisa memenuhi semua kebutuhan pokok rumah tangganya. Bahkan, dia bisa membeli barang-barang berharga lainnya seperti gelang dan anting-anting istrinya. Dia juga bisa mengajak anak dan istrinya rekreasi ke objek wisata terkenal di Malang. Selain itu, dia pernah mencicipi hobi shooping di pusat perbelanjaan di Surabaya.
Penghasilan Katam sekarang jauh menurun. Bisa dikatakan terjun bebas. Sehari dapat lima puluh ribu saja sudah untung-untungan. Terkadang buat setoran saja masih kurang. Lebih ironisnya lagi dia beberapa kali dia tidak bisa memberi uang belanja kepada istrinya dari hasil sopir angkot. Dia terpaksa menjual hape andorid yang pernah dia bangga-banggakan dulu demi memenuhi kebutuhan belanja keluarga.
”Maaf, Dik! Saya terpaksa menjual hape untuk memenuhi kebutuhan keluarga,” ujarnya pada sang istri.
”Kok, dijual? Lalu dengan apa kamu melayani carteran jika ada yang membutuhkan jasamu?”
”Tidak ada carteran. Semua tempat wisata ditutup. Langganan carteranku tidak ada yang membuat kegiatan di objek wisata seperti tahun-tahun sebelumnya. Dapat dipastikan tahun ini tidak ada carteran,” pungkas Katam supaya istrinya tidak terlalu berharap pada langganan carterannya. Istri katam terdiam. Dia tidak bisa menghindari nasib yang dialaminya sekarang ini.
***
”Menjangan, Menjangan, Menjangan!” teriak Katam mencari dua penumpang tambahan agar bisa segera berangkat ke Karangmenjangan.
”Cak, sudah jam setengah sebelas. Bagaimana ini?” tuntut penumpangnya yang sejak tadi sudah menunggu dalam mobil angkutan kotanya.
”Iya, Bu. Sabar! Sebentar lagi kita berangkat.”
”Sejak tadi selalu menjawab sebentar lagi, sebentar lagi! Ini anak saya sudah menunggu,” sergah ibu penumpangnya.
”Lima menit lagi, Bu,” tegas Katam. Dia berani memastikan lima menit lagi karena biasanya dua karyawan di toko kawasan Joyoboyo itu waktunya pulang. Mereka merupakan langganan Katam.
”Oke. Lima menit lagi. Kalau sampai lebih dari  lima menit, saya akan menggunakan jasa angkutan lainnya,” ancamnya.
Katam menggaruk-garuk rambut yang tertutup topi. Dia merasa gelisah dengan kondisi penumpang yang sangat sepi gegara pandemi korona. Dia tidak menyangka sama sekali bila dampak korona sangat berpengaruh pada usahanya.
Di belakang armada angkutan kota Katam, terlihat beberapa armada lain yang mengantre. Mereka menunggu giliran menaikkan penumpang. Selama armada angkutan kota di depannya belum penuh, mereka tidak boleh merebut penumpang yang menjadi jatah angkot di depannya itu. Apabila ada yang melakukan itu, maka sopir tersebut harus bersiap-siap menerima sanksi dari organisasi  atau paguyuban sopir angkot.
”Cak, sudah lima menit,” teriak penumpang yang sejak tadi sudah bersabar menunggu angkot diberangkatkan.
”Iya, Bu. Saya jemput penumpang dulu di toko sebelah,” sahut Katam.
Katam berlari-lari kecil. Dia berjalan gesit menerobos celah angkot yang berjajar rapi di semua sisi angkotnya untuk menjemput penumpang langganannya.
”Mas, di mana Mbak Laila dan Mbak Nuraini penumpang langgananku? Biasanya jam segini dia waktunya pulang.”
”Mulai hari ini mereka tidak kerja, Cak. Juragan terpaksa memberhentikannya karena konsumen di toko ini sangat sepi,” jawab lelaki pelayan toko.
”O, gitu. Terima kasih, Mas!” sambungnya.
Katam kembali ke angkot dengan lesu. Satu-satunya harapan untuk mendapatkan dua penumpang telah lenyap. Dia pasrah pada nasib karena hari ini tidak bisa membawa penumpang ke Karangmenjangan sesuai harapannya.
”Maaf, Bu! Kedua penumpang langganan saya telah dipecat dari pekerjaannya. Jadi, mereka tidak bekerja lagi di toko itu.”
”Oalah, andai sejak tadi saya tahu begini, lebih baik saya naik angkutan lainnya. Lantas sekarang bagaimana?”
”Sebagai bentuk tanggung jawab saya sebagai sopir angkutan kota, ibu tetap saya antarkan ke tempat tujuan meskipun hanya sendirian,” jawab Katam dengan tegas.
Katam berangkat menuju Karangmenjangan. Dia hanya membawa seorang penumpang melintas di jalanan kota Surabaya yang sangat lengang. Maklumlah di kota pahlawan saat ini masih diberlakukan PSBB jilid ketiga sehingga suasana di jalan raya seperti jalanan mati. Di trotoar yang biasanya ramai pejalan kaki, saat ini hanya terlihat halte-halte bus yang tak berpenghuni.  Halaman gedung-gedung pencakar langit yang biasanya dipenuhi mobil-mobil mewah para karyawannya, saat ini juga tampak seperti tanah lapang. Semuanya pegawainya bekerja dari rumah.
”Depan, Cak!” kata penumpangnya.
”Iya, Bu,” jawab Katam singkat.
Katam menurunkan penumpang di depan gang yang akan membawanya ke rumah kos anaknya. Dia menerima ongkos dari perempuan itu lalu melanjutkan perjalanan menuju tempat mangkal terakhirnya di kawasan Karangmenjangan.
Di tempat mangkalnya, Katam melihat beberapa armada angkotan kota yang mengular. Mereka masih mengantre mendapatkan giliran mengangkut penumpang. Itu pun apabila ada calon penumpang yang diangkut. Jika tidak ada penumpang, mereka terpaksa harus berlama-lama di tempat itu untuk menunggu penumpang.
Katam mendapat nomor antrean paling belakang. Di depannya masih ada puluhan armada yang berderet menunggu giliran berangkat untuk mengangkut penumpang. Karena masih lama menunggu antrean, Katam menyempatkan makan di warung langganan.
”Makan, Mbok. Pakai menu biasanya,” pesan katam pada pemilik warung.
”Iya. Tumben baru datang?” tanya pelayan warung.
”Nunggu penumpang, Mbok. Sepi sekali sehingga baru sampai di sini,” jawab Katam.
”Situasi seperti ini semua usaha mengalami penurunan. Termasuk warungku. Malah hutang para sopir angkot di sini semakin menumpuk saja,” timpal Mbok Ijah, pemilik sekaligus pelayan warung.
”Aku masih punya hutang berapa, Mbok?” Katam berbasa-basi.
”Kalau ditambah makan hari ini, hutangmu seratus ribu rupiah,” jawabnya.
”Dicatat dulu, Mbok. Besok kalau situasi pekerjaan sudah normal, pasti kubayar.”
”Iya, iya!” sahut perempuan itu sambil menyodorkan nasi dengan sayur ikan lodeh dicampur ikan pe kepada Katam.
Katam makan dengan lahap. Sejenak dia melupakan kesumpekan hati gara-gara pekerjaannya yang sepi demi menikmati menu kesukaannya. Dalam hatinya berkata bahwa kesehatan adalah segala-galanya. Penghasilan dapat dicari di hari-hari berikutnya.
Raja siang di ufuk barat sudah memerah. Sebentar lagi planet penerang bumi ini akan bersembunyi demi menenangkan diri. Sepanjang siang matahari hanya melihat dan mendengara keluh kesah penghuni bumi karena usahanya surut. Katam segera meninggalkan pangkalan Karangmenjangan. Dia menjejak pedal gasnya agar segera sampai rumahnya di kawaswan Wonokromo.
Sesampai di rumah, Katam disambut istrinya dengan senyum. Katam menyerahkan kunci mobil kepada istrinya. Wanita yang dinikahinya sejak lima belas tahun lalu itu  meletakkan kunci tersebut di pucuk paku yang tertancap di belakang pintu kamar. Katam menghempaskan tubuhnya di atas shofa kumal ruang tamunya. Dia mendesah lantaran tidak membawa hasil kerja hari ini. Istrinya berusaha menghibur agar suaminya tidak larut dalam ketidakmujuran pekerjaan hari ini. Besok, lusa, tulat, tubin, atau kapan saja pasti ada rezeki yang menghampirinya. Yang penting tetap bekerja. (*)

Wanar, Juli 2020

Ahmad Zaini merupakan guru di SMKN 1 Lamongan. Beberapa cerpen, puisi dan esainya pernah di muat di surat kabar. Dia juga telah menerbitkan beberpa buku kumpulan cerpen dan puisi. Buku kumpulan puisi terbarunya berjudul Hanya Waktu Jelang Kematian (Maret, 2020). Saat ini dia tinggal di Wanar, Pucuk, Lamongan.






























Sabtu, 06 Juni 2020

Cerpen Jawa Pos grup Radar Bojonegoro, Minggu, 7 Juni 2020

Lebaran Mbok Darsi
Cerpen karya Ahmad Zaini

Mbok Darsi bersila di gelaran karpet ruang tamu. Wajahnya menampakkan kecemasan. Hatinya gelisah setiap melihat bermacam sajian menu lebaran. Toples-toples yang sarat makanan khas lebaran masih tertutup rapat. Belum ada satu pun tamu yang unjung-unjung berlebaran ke rumahnya lalu menikmati jajan hasil karyanya. Padahal, Mbok Darsi telah menyiapkan menu lebaran tersebut dari jauh hari sebelumnya.
Kue retih dan madumangsa kesukaan anak-anaknya juga masih utuh. Anak-anaknya yang merantau di Jakarta tidak bisa pulang. Mereka dilarang mudik untuk memutus penyebaran pandemi virus korona. 
Mata Mbok Darsi menatap ruang hampa. Dia kesepian. Tidak ada celoteh cucu dan gelegar tawa anak-anaknya yang bergurau bersama di rumahnya. Tangan keriputnya sesekali mengambil retih. Dia mengamati menu tradisional itu sambil membayangkan Rahmat, anak pertamanya yang sangat menyukai retih. Setelah itu, retih diletakkan lagi di tempatnya. Mbok Darsi juga mengambil madumangsa. Dia mengelupas kulit madumangsa yang terebuat dari kertas kuning dengan perlahan. Dia membayangkan menyuapkan madumangsa buatan sendiri itu ke mulut Ratih, anak keduanya.
Bola mata Mbok Darsi berkaca-kaca. Dia benar-benar kesepian pada lebaran tahun ini. anak-anaknya tidak ada yang pulang. Para tetangga juga baru satu yang datang bertamu ke rumahnya. Itu pun anak dari besannya. Selain itu tidak ada.
Lebaran bagi Mbok Darsi merupakan saat yang dinanti-nanti. Saat berbahagia karena bisa berkumpul bersama keluarga dan para tentangga. Bagi Mbok Darsi, lebaran juga dianggap sebagai kesempatan untuk berbagi-bagi. Dia bisa berbagi rezeki pada anak-anak yang unjung-unjung ke rumahnya. Dia juga biasanya menerima salam tempel dari anak, cucu, dan keponakan. Dalam seminggu lebaran, amplop yang diterima Mbok Darsi bisa mencapai ratusan. Nilai isinya juga bervariasi. Minimal lima puluh ribu, maksimal lima ratus ribu rupiah. Maklumlah para anggota keluarga Mbok Darsi yang kebanyakan sebagai pengusaha warung di Jakarta, terbilang sukses. Warungya ramai. Penghasilan mereka dalam sehari bisa mencapai enam sampai sepuluh juta.
Pada lebaran tahun ini, Mbok Darsi harus mengubur kebahagiaan bisa berkumpul dengan mereka. Keluarganya tidak ada yang bisa pulang. Di samping itu, usahanya mengalami penurunan. Penghasilannya turun drastis. Bahkan ada sebagaian warung keponakannya ditutup total karena terdampak wabah korona.
Lamunan Mbok Darsi buyar seketika saat ada tamu yang mengetuk pintunya. Mbok Darsi berdiri dengan tertatih. Kedua tangannya gemetar memegang tembok tempat bersandar punggungnya agar dapat membantu menyangga tubuhnya. Dia melihat sosok lelaki berbadan tegap berdiri di depan pintu rumahnya.
”Silakan masuk, Nak!” Mbok Darsi memersilakan tamu tersebut.
”Terima kasih, Mbok Darsi,” sahut lelaki itu.
Mbok Darsi terkejut karena lelaki itu bisa menyebut namanya dengan jelas. Tamu tersebut seperti sudah mengenal Mbok Darsi.
”Kamu ini siapa kok seperti sudah mengenal saya?” tanya Mbok Darsi penasaran.
”Iya, Mbok. Saya sudah mengenal nama Mbok Darsi cukup lama. Tapi baru kali ini saya bisa bertatap muka dengan Mbok,” jawab lelaki itu.
”Kenal nama saya dari mana?”
”Saya teman karib Rahmat, anak Mbok Darsi. Saya sudah puluhan tahun kerja dengan Rahmat,” jelasnya.
”Oalah, kamu ini yang bernama Kasim?”
”Benar, Mbok. Saya Kasim.”
”Saya juga sudah lama mengenal namamu dari Rahmat. Ayo, dibuka toplesnya! Silakan dinikmati,” pinta Mbok Darsi.
Setelah dipersilakan, tamu yang ternyata Kasim, teman akrab Rahmat itu mengambil retih. Dia sangat menikmati menu andalan Mbok Darsi. Dalam waktu tidak sampai lima menit, Kasim telah melahap tiga retih.
”Enak sekali retih ini, Mbok,” ucap Kasim.
”Iya. Kue lebaran yang saya buat beberapa hari lalu. Kue kesukaan Rahmat,” sahut Mbok Darsi dengan sedih.
”Oh, iya, Mbok. Ini ada titipan dari Rahmat,” kata Kasim dengan tiba-tiba sambil merogoh amplop dari saku bajunya.
”Apa ini?”
”Kata Rahmat sekadar uang jajan Mbok Darsi.”
Mbok Darsi menerima amplop itu pelan-pelan. Dia merasa berat sekali menerima amplop itu karena hati kecilnya berkata yang diinginkan bukanlah amplop, tapi kehadiran orangnya. Namun, dalam situasi pandemi korona sekarang ini dia tidak boleh arogan. Mbok Darmi harus tegar menerima nasib yang dialaminya. Dia harus ikhlas tidak bertemu dengan anak-anaknya demi keselamatan diri dan anak-anaknya.
”Ngomong-ngomong bagaimana ceritanya kamu bisa pulang, sedangkan Rahmat tidak bisa?” tanya Mbok Darsi.
Kasim bingung. Dia cerita apa adanya atau diam saja tentang kondisi Rahmat. Kalau menyampaikan cerita yang sebenarnya, dia khawatir Mbok Darsi akan semakin sedih. Kalau ditutup-tutupi, dia akan terbebani menyembunyikan cerita yang sesungguhnya pada Mbok Darsi.
”Maaf, Mbok!”
”Kok, maaf! Memangnya ada sesuatu yang kau sembunyikan?”
”Tidak, Mbok. Tidak ada,” jawab Kasim dengan ragu.
”Kamu berbohong. Kamu pasti menyembunyikan sesuatu. Mulutmu bisa berbohong, tapi sorot matamu tidak bisa membohongiku. Ayo, katakan yang sebenarnya,” desak Mbok Darsi.
Kasim semakin bingung. Dia terdesak. Akhirnya, Kasim memutuskan untuk menyampaikan cerita yang sebenarnya pada Mbok Darsi.
”Astaghfirullahal azim! Jadi, Rahmat anakku terkena virus korona?” kata Mbok Darsi sambil menangis sedih.
”Belum positif, baru gejala mirip korona. Jangan menangis, Mbok! Saya merasa berdosa karena tidak bisa memegang janji dengan Rahmat untuk tidak menyampaikan hal ini pada Mbok Darsi,” ujar Kasim.
”Bagaimana saya tidak menangis mendengar kabar anak yang terpapar virus korona?” sergahnya.
”Sekali lagi ini masih gejala, Mbok. Belum positif. Doakan semoga hasil tes di laboratorium menunjukkan hasil negatif!”
”Ya, Allah, selamatkanlah anak-anak dan cucu kami dari ancaman wabah ini,” doa Mbok Darsi sambil mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi.
”Amin!” sahut Kasim.
”Sekarang mereka tinggal di mana?”
”Rahmat, istri, dan anak-anaknya dikarantina di sebuah hotel yang disiapkan oleh tim buat mereka yang diduga terpapar virus korona. Jika hasil tes mereka dinyatakan negatif, baru diperbolehkan pulang dan harus menjalanani karantina mandiri selama empat belas hari di rumah,” kata Kasim memberi penjelasan kepada Mbok Darsi.
”Masyaallah, anak-anak dan cucuku!”
”Mbok Darsi bersabar, ya! Tetap berdoa buat keluarga dan bertawakkal. Insyaallah hasil tes negatif,” kata Kasim menghibur Mbok Darsi.
”Terima kasih, Nak Kasim!”
”Sama-sama, Mbok. Saya pamit dulu,” kata Kasim untuk undur diri dari perjamuan yang terasa hambar ini.
Mbok Darsi mengusap air mata yang sempat membasahi pipi keriputnya dengan kerudung panjangnya. Dia berjalan pelan mengantar Kasim sampai di pintu rumah. Setelah Kasim meninggalkan halaman rumahnya, Mbok Darsi kembali masuk ke rumah. Dia berdiri mematung sambil memandangi beberapa foto keluarga Rahmat yang dipajang di dinding ruang tamu. Mbok Darsi tak kuasa membendung air mata. Dia menangis setiap terlintas suara Kasim yang menceritakan kondisi Rahmat yang sebenarnya.
Wanita tua yang kini sendirian tinggal di rumah itu duduk lagi. Dia bersila sambil memandangi kue lebaran di atas karpet yang masih utuh. Retih hanya berkurang tiga setelah dimakan Kasim. Madumangsa masih tertutup rapat dalam toples karena anak perempuan penyukanya sudah pasti tidak pulang. Para tetangga  yang lain juga belum ada yang unjung-unjung karena dianjurkan oleh pemerintah desa agar semua warga berlebaran di rumah saja.
Mbok Darsi belajar ikhlas menerima nasib. Dia pasrah pada Allah sambil berharap semoga virus korona segera minggat dari negeri ini. Kesehatan dan keselamatan yang paling penting. Lebaran tahun ini tanpa berkumpul dengan anak cucu tidak apa-apa. Yang penting semua keluarga sehat dan panjang umur. Tahun depan pasti bisa berlebaran dan berkumpul dengan  mereka lagi, harap Mbok Darsi dalam hati. (*)
Wanar, Mei 2020

Ahmad Zaini merupakan guru di SMKN 1 Lamongan. Beberapa cerpen, puisi dan esainya pernah di muat di surat kabar. Dia juga telah menerbitkan beberpa buku kumpulan cerpen dan puisi. Buku kumpulan puisi terbarunya berjudul Hanya Waktu Jelang Kematian (Maret, 2020). Saat ini dia tinggal di Wanar, Pucuk, Lamongan.