Jika Kau Bukan Anak Raja, Juga Bukan Anak Ulama Besar, maka Menulislah

Jumat, 17 April 2015

Ketika Senyum Itu Tiba



Ketika Senyum itu Tiba
Cerpen karya Ahmad Zaini*

Jalan di sebuah gang menuntun langkah lelaki setengah tua yang memikul dua buah keranjang telur puyuh di pundaknya. Lelaki setengah tua itu setiap hari mengais rezeki sebagai pedagang telur puyuh yang berkeliling di gang-gang kota Surabaya. Dengan berbekal semangat dan keinginan agar mampu mencukupi kehidupan keluarganya, dia tidak pernah mengeluh karena kecapekan atau kepanasan. Terpaan sinar matahari di siang hari tak pernah dia rasakan. Dia menganggap sengatan sinar matahari itu ibarat sinar rembulan di malam purnama.
“Telur…! Telur…!” suaranya parau menjajakan telur puyuhnya yang masih tersisa setengah keranjang.
Suasana sepi di sebuah gang tak menyurutkan nyali dari lelaki itu. Dia tetap berjalan menyusuri gang-gang kota Surabaya sampai telur puyuhnya benar-benar habis.
“Telur puyuhnya, Pak!” seorang penjual bakso memanggilnya. Lelaki setengah tua berhenti. Dia menghampiri penjual bakso yang baru saja memanggilnya.
Penjual bakso akan membeli telur puyuh. Dia akan menggunakan telur puyuh itu sebagai isi baksonya.
Lelaki setengah tua itu dengan sigap melayani penjual bakso. Dia menghitung bungkus demi bungkus telur puyuh sesuai dengan permintaan penjual bakso.
“Tinggal lima puluh bungkus, Pak.”
“Tidak apa-apa,” sahut penjual bakso.
Wajah kusam karena hampir setengah hari belum tersentuh air sedikit ceria. Si lelaki setengah tua ini merasa bangga karena hasil dari dagangannya ini akan bisa dikirimkan kepada anaknya yang tinggal di sebuah rumah kos yang tidak jauh dari tempatnya saat ini.
Dua buah keranjang yang dipikulnya sudah kosong. Dia melenggang ke sebuah toko yang menyediakan alat tulis dan alat kantor. Toko yang juga menyediakan jasa fotokopi ini dijadikan lelaki setengah tua sebagai langganan menitipkan keranjang telur puyuhnya setiap dia akan mampir ke rumah kos naknya.
Di sebuah rumah kos yang berjarak sekitar seratus meter dari toko itu tinggal seorang pemuda yang bertubuh kurus. Dia sibuk membaca dan membolak-balik beberapa buku yang berada di sampingnya. Rupanya pemuda itu sedang mengerjakan tugas kuliah.
“Nak, Nak!” ucap lelaki setengah tua.
Pemuda tersebut lantas bangkit dari tempat duduknya lalu membuka pintu rumah kosnya yang terkunci dari dalam.
“Bapak!?” kata pemuda itu kaget setelah mengetahui yang berdiri di depan pintu rumah kosnya adalah ayahnya.
Pemuda berkulit sawo matang itu  lantas mempersilakan ayahnya masuk. Dia merapikan buku-buku yang berserakan di lantai agar ayahnya bisa duduk dengan nyaman. Dia masuk ke ruang belakang lalu kembali ke ruang depan dengan membawa sebotol air putih serta sebuah gelas.
“Diminum, Pak!” pintanya.
Lelaki setengah tua itu bermaksud membuka tutup botol air putih. Namun, dia tidak mampu membukanya. Dengan cekatan pemuda itu meraih botol untuk membantu ayahnya membukakan tutup botol lalu menuangkan airnya ke gelas yang berada di depan ayahnya. Lelaki setengah tua itu kemudian meminum segelas air yang dituangkan oleh anaknya.
Pemuda itu manatap ayahnya dengan iba. Dia merasa kasihan melihat ayahnya yang sudah tidak muda lagi, akan tetapi masih bersemangat mencari rezeki demi membiayai kuliahnya. Semangat orang tuanya dalam menyukseskan pendidikannya memang sejak dulu sangat tinggi. Sampai-sampai orang tuanya rela menjual sebagian sawah yang dimilikinya untuk membayar semua biaya perkuliahannya yang saat ini masih di semester dua.
“Ini uang untuk membayar kos kamu, Nak,” kata lelaki setengah tua itu sambil menyodorkan uang lima puluh ribu rupiah kepada anaknya.
Pemuda itu menerimanya dengan beban yang sangat berat. Dia ingin mengatakan kepada ayahnya kalau uang tersebut masih kurang, tetapi dia tidak berani menyampaikannya.
“Kenapa, Nak? Masih kurang?” tanya lelaki tua itu.
Pemuda itu diam sambil menundukkan kepalanya.
“Kenapa diam? Kalau kurang, katakana saja!”
“Iya, Pak. Uangnya kurang. Besok saya harus membeli buku perkuliahan,” kata pemuda itu dengan nada berat sekali.
Setelah mendengar jawaban anaknya, lelaki setengah tua itu mengeluarkan dompetnya lagi untuk mengambil uang yang sudah tertata rapi. Uang tersebut adalah uang untuk setoran telur puyuh dagangannya dari pengepul telur puyuh di desa.
“Ini saya tambah lima puluh ribu lagi,” katanya sambil memberikan uang tersebut kepada pemuda itu.
“Jangan dulu, Pak! Itu uang setoran Bapak. Kalau belum ada uang, kapan-kapan saja. Saya akan pinjam ke teman dulu,” tolak pemuda itu.
“Tidak usah pinjam ke teman! Ini diterima dulu. Masalah uang setoran, itu urusanku,” kata lelaki setengah tua itu meyakinkan anaknya.
Setelah memberikan uang untuk kebutuhan hidup dan kuliah anaknya, lelaki setengah tua itu pamit dan menuju ke toko tempat dia menitipkan keranjangnya.
“Permisi, Pak saya mengambil keranjang!”
“O, silakan, silakan!” jawab pemilik toko dengan ramah sekali.
Ketika lelaki tua itu sudah mengambil keranjangnya dan ingin meninggalkan toko, dia terkejut karena dia mendengar suara pemilik toko menahannya.
“Tunggu dulu, Pak! Mari, masuk ke rumah sebentar!” ajak pemilik toko.
Lelaki setengah tua itu mengikuti saja permintaan pemilik toko. Dia diajak masuk oleh pemilik toko ke ruang tamu yang berada tepat di belakang tempatnya berusaha karena toko itu satu lokasi dengan tempat tinggalnya.
“Maaf, saya ingin menanyakan sesuatu kepada Bapak!” kata pemillik toko.
“Tanya apa, Pak?” tanya lelaki setengah tua dengan nada penasaran.
“Bapak sering menitipkan kerangjang telur puyuh di sini. Sebenarnya Bapak pergi ke mana dan ada perlu apa?”
Pertanyaan dari pemilik toko ini tidak segera dijawab oleh lelaki setengah tua. Dia terkejut karena laki-laki pemilik toko ini bertanya seperti itu.
“Kenapa, Pak? Ceritakan saja!” desak pemilik toko setelah melihat lelaki setengah tua itu tidak segera menjawab.
Karena terdesak oleh pertanyaan pemilik toko, lelaki setengah tua yang biasa menitipkan keranjang telur puyuhnya itu bercerita.
“Saya dari tempat kos anak saya. Setiap selesai berjualan telur puyuh saya harus mampir ke tempat kos anak saya untuk memberinya uang.”
“Anak Bapak kerja?”
“Tidak. Dia masih kuliah semester dua.”
“Lantas biaya kulihnya dari mana?”
“Saya membiayai kuliahnya dari hasil menjual telur puyuh ini.”
“Hasil berjualan telur puyuh mana mungkin cukup untuk biaya kuliah?”
“Ya, begitulah. Terkadang uang setorannya juga ikut-ikutan saya berikan kepada anak saya.”
“Masya Allah! Lantas untuk kebutuhan keluarga di desa bagaimana?”
“Kami di desa masih menggarap sebagaian sawah yang tersisa setelah beberapa sawah saya juga terjual untuk biaya kuliah dan hidup anak saya di sini,” kata lelaki setengah tua dengan memelas.
“Kenapa Bapak tidak pernah cerita kepada saya kalau anak Bapak kuliah di sini dan masih menggantungkan biaya kuliahnya kepada Bapak yang hanya bekerja dengan menjual telur puyuh? Sekarang saya minta alamat tempat kos anak Bapak,” pinta laki-laki pemilik toko.
Lelaki setengah tua itu memberi tahu alamat rumah kos anaknya. Dia merasa malu setelah masalahnya ini diketahui oleh pemilik toko. Setelah memberikan alamat rumah kos anaknya, lelaki setengah tua itu akhirnya berpamitan kepada pemilik toko lalu meninggalkan rumah tersebut sambil memikul dua buah kerangjang telur puyuh yang sudah kosong.
***
Pemuda, anak penjual teluar puyuh, sedang merapikan buku-bukunya usai mengerjakan tugas. Dia menata buku-bukunya di rak yang sudah lapuk. Mesin ketik manual yang berada di ruang tamu diangkat lalu diletakkan di atas rak buku.
“Permisi!” ucap seseorang dari depan pintu.
Pemuda itu bergegas menuju ke pintu.  Setelah membuka pintu, dia melihat seorang laki-laki yang sudah tidak asing lagi bagi dirinya. Pemuda itu sering memfotokopi tugasnya di toko milik laki-laki itu.
“Eh, Pak Imran! Ada apa, Pak? Silakan masuk!”
“Ternyata kamu yang tinggal di sini?” kata pemilik toko kepada pemuda tersebut. Laki-laki pemilik toko itu juga sudah tidak asing lagi dengan pemuda itu karena dia sering datang ke tokonya.
“Memang ada apa, Pak?”
“Saya ada keperluan yang sangat penting dengan kamu. Sekarang kamu kemasi pakaian dan buku-bukumu,” kata laki-laki pemilik toko.
Pemuda itu semakin tidak mengerti dengan maksud laki-laki itu. Dia datang tanpa pemberitahuan  lalu tiba-tiba menyuruhnya mengemasi pakaian dan buku-bukunya.
“Saya minta kamu bersedia tinggal di rumah saya sambil membantu saya kerja di toko. Urusan biaya makan dan tempat tinggal adalah tanggung jawab saya. Saya tadi mendapat cerita yang banyak dari lelaki setengah tua penjual telur puyuh. Ternyata dia adalah ayahmu. Jadi, Kamu jangan menolak permintaan saya.”
Pemuda itu tidak bisa berkutik lagi. Dia menuruti semua permintaan pemilik toko. Dia mengemasi pakaian dan buku-bukunya lalu berpamitan kepada pemilik rumah kos.
Sejak itulah pemuda tersebut merasa beruntung karena ditolong oleh pemilik toko langganan ayahnya menitipkan keranjang telur puyuh. Dia bisa kuliah sambil bekerja dan tidak lagi menggantungkan semua biaya hidup dan kuliahnya dari ayahnya yang hanya sebagai penjual telur puyuh.
***
Beberapa tahun kemudian, pemuda itu menamatkan kuliahnya tepat waktu. Dia termasuk lulusan yang mendapatkan IP yang baik. Saat ada lowongan pendaftaran CPNS, dia memberanikan diri dengan mengadu nasib sebagai peserta tes CPNS di daerahnya. Betapa beruntung dia karena dia termasuk salah satu dari dua ratus peserta tes yang diterima sebagai CPNS yang ditugaskan di daerahnya sendiri.(*)
Lamongan, Juli 2014

Jumat, 06 Maret 2015

Rumah Lebah



Rumah Lebah
Karya Ahmad Zaini


Di belakang rumah Anggun terdapat pohon trembesi. Pohon berdaun teduh tersebut menjadi tempat persinggahan para binatang bersayap. Aneka burung, serangga, dan lebah sangat menyukai pohon itu sebagai tempat beristirahat baik siang maupun malam.
Pohon yang kayunya keras itu ujung batangnya berlubang. Bagian yang lubang tersebut dimanfaatkan lebah sebagai tempat tinggal. Setiap hari terdapat ratusan lebah bahu-membahu membangun rumah. Lebah-lebah itu merangkai beberapa unsur bahan menjadi istana yang megah sekali.
Ayah Anggun mengetahui jika lebah merupakan binatang penyengat yang sangat bermanfaat. Lebah-lebah itu akan menghasilkan madu. Madu bisa dijadikan sebagai obat berbagai macam penyakit dan juga bisa sebagai campuran jamu penambah stamina seseorang. Oleh karena itu, ayah Anggun membiarkan ratusan lebah itu mendiami pohon trembesinya.
Anggun datang dari sekolah. Gadis kecil berseragam putih merah itu menaruh sepeda lipatnya di teras rumahnya. Ia menghampiri ayahnya yang sedang bersantai di bawah pohon trembesi.
“Ayah, kapan kita panen madu lagi?” tanya Anggun kepada ayahnya.
“Sebentar lagi Anggun. Sabar dulu. Kalau sudah waktunya panen, kamu saya beritahu.”
“Terima kasih ayah. Yang penting waktu memanen jangan sampai bersamaan dengan waktu sekolah Anggun. Usahakan hari Minggu, Yah!”
“Baiklah. Besok kamu saya beri tugas untuk memeras madunya ke dalam timba. Ibumu bertugas menuangkan madu ke dalam botol kecil yang sudah saya siapkan di rumah.”
“Kemudian kita jual, Yah. Hasilnya kita gunakan untuk membeli buku dan sepatu baru.”
“Hmmmm…! Lantas bagaimana kalau ada orang sakit yang sangat membutuhkan madu tersebut sedangkan orangnya tidak memunyai uang. Apakah kita tetap menyuruhnya membeli?” kata ayah Anggun memancing putri kesayangannya itu.
“Kalau mereka tidak memunyai uang ya kita beri saja secara cuma-cuma.”
“Anak pintar. Sekarang silakan ganti seragam sekolahmu dulu. Setelah itu silakan makan kemudian bermain dengan Citra dan Sulastri  di sini,” perintah ayahnya.
Anggun bergegas masuk ke rumah. Dia mengganti baju seragamnya dengan baju bermainnya. Setelah makan, Anggun keluar rumah. Ia memanggili teman-temannya untuk diajak bermain di bawah pohon trembesi. Tak lama kemudian, anak-anak yang rajin itu datang. Mereka membawa beraneka mainan ke bawah pohon trembesi yang teduh.
Baru beberapa saat mereka bermain, mereka mendengar ada sekepal batu menghantam daun-daun trembesi yang sangat rindang.
“Hai, siapa?” teriak Anggun dan teman-temannya.  Mereka mencari siapa yang telah melemparkan batu ke pohon trembesi.
“Eh, ternyata kamu, Fan!? Kenapa kau melempari pohon trembesi? Perlu kamu ketahui bahwa di lubang pohon trembesi itu terdapat sarang lebah.” Anggun berkata kepada Fani yang merunduk di balik semak-semak.
“Hahahahaha. Justru itu yang kumau. Aku ingin merusak rumah lebah itu agar mereka pergi biar tidak mengganggu kami lagi,” jawab Fani.
“Apa? Mengganggu? Saya sejak dulu bermain di bawah pohon trembesi ini. Lebah-lebah itu tidak pernah sekali pun mengganggu kami. Apalagi sampai menyengat kami,” bantah Anggun.
“Kawan-kawan, ke mari!” Seru Fani.
Dari balik semak-semak muncul Roni, Anton, dan Supri. Mereka menghampiri Fani dengan membawa ketepel lengkap dengan pulurunya.
“Ayo, kita berondong rumah lebah itu biar mereka tidak menyengat kita lagi,” perintah Fani.
“Jangan! Jangan kalian rusak rumah lebah itu. Mereka tidak pernah mengganggu kalian. Lebah itu memberikan manfaat kepada kita. Setiap hari mereka selalu mengeluarkan madu. Madu dapat dijadikan obat bagi manusia agar tetap sehat.”
“Ah, aku tidak menggubris omonganmu. Yang penting saat ini kami akan balas dendam kepada lebah-lebah itu. Kami akan memusnahkan rumahnya agar lebah-lebah itu pergi dari sini,” kata Fani dengan congkak.
“Jangan! Kami mohon jangan kalian rusak rumah lebah itu!” rengek Anggun.
Fani dan teman-temannya tak menghiraukan rengekan Anggun. Mereka bersikeras akan menghancurkan istana lebah itu dengan ketepel yang telah mereka siapkan.
Fani, Anton, dan Supri merogoh sakunya. Mereka mengambil peluru berupa butiran-butiran tanah yang sudah mengeras. Fani sebagai anak yang keras kepala itu memberikan komando kepada teman-temannya.
“Satu, dua, tiga! Lepaskan pelurunya!” teriak Fani mengomando teman-temannya. Butiran-butiran tanah itu meluncur kencang dari ketepel dan tepat mengenai sasaran. Rumah lebah itu hancur berantakan. Rumah lebah bermadu itu tak  berbentuk sehingga ratusan lebah itu kalang kabut menyelamatkan diri.
“Hore…, hore…, hore…!!!” Fani dan teman-temannya bergirang ria karena telah berhasil merusak rumah lebah.
Baru beberapa saat mereka meluapkan kegembiraannya karena telah berhasil merusak rumah lebah, tiba-tiba ada ratusan lebah mendengung dari kejauhan. Gerombolan lebah itu melesat cepat menyerang Fani dan kawan-kawannya. Mereka berusaha lari tunggang langgang menyelamatkan diri.
Kecepatan lari mereka masih kalah dengan gerakan lebah. Mereka tidak berdaya. Mereka disengat lebah-lebah itu. Wajah, tubuh Fani dan kawan-kawan bentol-bentol bahkan ada bagian tubuhnya yang bengkak. Mereka berteriak  meminta tolong kepada ayah Anggun.
“Tolong, Pak! Tolong…!” terika mereka.
Ayah Anggun yang mendengar teriakan mereka bergegas keluar rumah. Dia menolong mereka yang mengerang-erang kesakitan akibat sengatan lebah.
“Kenap kalian?”
“Saya disengat lebah, Pak,” jawab Fani.
“Pasti kalian telah mengganggu mereka. Maka dari itu, jangan kalian ulangi lagi perilaku kalian. Mereka juga makhluk Allah sama seperti kita. Lebah-lebah itu juga butuh rumah. Bahkan mereka menghasilkan madu. Madunya bisa kita manfaatkan sebagai obat.”
Ayah Anggun mengambil minyak tawon lalu dioleskan ke tubuh mereka yang bentol-bentol akibat sengatan lebah.
“Terima kasih, Pak! Kami minta maaf dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Kami pamit dulu!”
Fani dan kawan-kawan meninggalkan tempat itu. Mereka pulang sambil memegangi kepala dan bagian tubuhnya yang bentol-bentol.
Anggun dan teman-temannya terdiam. Mereka hanya tersenyum geli melihat Fani dan kawan-kawannya yang telah menerima ganjaran dari ulah yang mereka lakukan. Anggun dan kawan-kawan akhirnya melanjutkan permainannya lagi. (*)

Lelaki Penakluk Panggung



Lelaki Penakluk Panggung
Cerpen karya Ahmad Zaini*

Gema membahana tetabuhan perkusi mengiringi sebuah pementasan. Berhiaskan kilatan lighting aneka warna menerangi pelataran panggung yang senyap. Lampu berangsur remang. Lama kelamaan gelap. Muka panggung kelam menyembunyikan cerita. Suara perkusi semakin mengabur. Suaranya  perlahan sepi. Sunyi sekali.
Dalam hitungan detik para penabuh menghentakkan kedua telapak tangannya lagi di gendang perkusi yang menanti. Suaranya mengundang hasrat penonton yang duduk berlarik-larik di depan panggung. Suara perkusi mulai mengantar lakon pementasan teater malam ini. Ya. Pementasan terakhir dari lelaki penakluk panggung yang tersohor di jagad teater.
“Samiun…! Samiun…!” suara di balik panggung memanggil tokoh Samiun.
Seruan suara di balik panggung tak henti-henti memanggili tokoh Samiun. Namun, Samiun tidak segera muncul. Mata para penonton mengintip tempat keluar para pemain. Akan tetapi, tatapan mereka hampa karena tokoh Samiun tidak kunjung muncul dari balik kain hitam yang dijadikan setting pada pertunjukan kali ini.
Penonton mulai gaduh. Suara demi suara para penonton yang memadati gedung pertunjukan menjejali ruang hingga telinga ini disesakkan suara-suara mereka. Para penonton gusar karena tokoh yang ditunggu-tunggu tidak segera muncul.
Para penonton berdebat hebat. Mereka memperdebatkan tokoh Samiun yang tak muncul-muncul. Ada yang mengatakan kejadian ini adalah bagian dari skenario pementasan malam ini. Ada juga penonton yang mengatakan ini bukan dari skenario. Ini adalah kecelakaan pementasan yang sering dialami para pekerja teater.
“Samiun…, di mana kau? Muncullah!” suara dibalik panggung itu berimprovisasi dengan menambah dialog yang tidak dituntut dalam naskah dengan tujuan agar tokoh Samiun segera muncul.
Ratusan penonton mengangkat wajahnya. Mereka berharap tokoh Samiun yang diperankan oleh akctor kawakan ini segera muncul di panggung. Mereka kecewa kesekian kalinya lantaran tokoh yang ditunggu-tunggu tidak segera menampakkan wujudnya.
Sang sutradara yang duduk di depan panggung juga heran. Dia tak menyangka jika alur cerita yang telah dia persiapkan menjadi kacau-balau seperti ini. Sang sutradara dengan cekatan mengambil sikap. Dia memunculkan tokoh-tokoh lain yang tidak direncanakan dalam pementasan ini. Ada lima tokoh yang memakai kostum lucu bermunculan ke atas penggung. Mereka berupaya meredam kegaduhan penonton yang tak sabar menunggu tokoh Samiun dengan pantomim. Mereka mengangkat kisah jenaka agar penonton tertawa.
Harapan sang sutradara sirna. Para penonton bergolak-golak. Mereka menyoraki lima tokoh pantomim di atas panggung. Mereka tidak mau niat mereka datang ke gedung pertunjukkan ini sia-sia. Mereka hanya ingin menyaksikan pementasan tokoh Samiun, bukan yang lain.
Gelombang suara penonton yang mayoritas adalah pekerja dan penggila teater ini seperti gelegar suara halilintar. Suara itu saling bersabung di ruang pertunjukan. Suara-suara itu saling bertabrakan hingga memercikkan bunga-bunga api di atas panggung.
Panggung yang semula diam perlahan bergerak. Panggung itu seakan bernyawa. Gerakan panggung itu semakin lama semakin keras. Panggung tersebut meronta bagai banteng yang tak rela punggungnya dinaiki para matador. Punggung panggung tersebut melonjak-lonjak. Panggung itu melempar kelima tokoh pantomim dari atas punggungnya. ke tengah-tengah penonton.
Sang sutradara panik. Ia mengalami kepanikan yang luar biasa. Dia tak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya dapat menghela napas panjang. Ia berusaha menenangkan jiwanya untuk mencari jalan keluar dari kejadian di luar batas kewajaran ini.
“Sial, sial, sial…!” umpat sutradara.
Sang sutradara  berlari ke belakang panggung. Ia mencari lelaki pemeran tokoh Samiun. Setiap ia bertanya kepada orang yang dijumpai, tak satu pun dari mereka yang menjawab. Mereka diam. Mereka membisu. Ia bagai patung yang tak bisa memberikan manfaat kepada manusia.
Panggung pertunjukan meronta-ronta semakin liar. Semua properti yang telah disiapkan di atas panggung terlempar dan berserak memenuhi ruang. Bahkan ada yang menghantam para penonton hingga terluka.
Para penonton tidak mau kalah. Mereka tak ingin ditaklukkan benda mati yang kini bertenaga seperti banteng terluka. Para penonton berusaha mengerahkan segala kemampuannya untuk menaklukkan panggung. Akan tetapi, usaha mereka selalu gagal karena tak mampu menjinakkan panggung yang menggila.
“Awas…!!” teriak salah seorang penonton saat melihat sebuah properti meluncur hampir mengenai kepala sang sutradara.
Sang sutradara dan para penonton berlarian menjauh dari panggung. Lalu mereka berdiskusi tentang bagaimana cara menaklukkan panggung tersebut.
“Di mana lelaki pemeran tokoh Samiun? Dialah orang yang mungkin bisa menaklukkan panggung. Jiwanya telah menyatu dengan panggung. Ruhnya telah bersatu dengan panggung. Segera cari lelaki itu,” kata seorang penonton yang juga pengagum dari lelaki maestro teater di daerah ini.
Sang sutradara terpaku. Dia kagum pada usulan yang disampaikan oleh salah satu penonton. Sang sutradara menatap salah seorang penonton yang berlari sambil mengendap-endap di samping panggung. Salah seorang penonton itu bermaksud mencari lelaki pemeran tokoh Samiun.
“Kau lihat lelaki pemeran tokoh Samiun?” tanya orang tersebut kepada para kru teater yang masih ketakutan.
“Kami tidak tahu. Kami sejak tadi juga mencarinya.”
Orang itu kembali ke sutradara dan para penonton yang masih berkerumun di luar ruang pertunjukan. Ia mengabarkan kalau lelaki pemeran Samiun belum berhasil iatemukan.
Sang sutradara manggut-manggut. Ia salut pada usaha orang itu. Sang sutradara kemudian duduk bersandar pada dinding ruang pertunjukan. Dia ingin mencari cara bagaimana agar aktornya itu muncul lalu menaklukkan panggung yang mengamuk dan telah menelan banyak korban.
“Para penabuh, segera bunyikan gendang kalian!” perintah sang sutradara.
Para penabuh segera mengambili gendang yang masih berserak di pelataran. Mereka kemudian menata gendang lalu duduk seperti sebelum kejadian ini.
Suara gendang mengalun pelan. Tetabuhan berirama rancak itu menyenandungkan gending yang biasa digunakan untuk mengiringi lelaki pemeran Samiun. Mereka sangat paham pada gending yang disukai Samiun.
Baru beberapa saat gending itu mengalun, panggung kembali mengamuk. Namun, amukan panggung ini tidak memengaruhi para penabuh. Mereka tetap tenang merangkai gending. Mereka tak menghiraukan panggung yang mengancam keselamatanya.
“Samiun…! Samiun…!” Sang sutradara memanggil tokoh Samiun.
Tiba-tiba dari balik panggung yang berdiri tegak itu, muncullah lelaki pemeran Samiun sambil menari mengikuti iringan gendang para penabuh. Lelaki berperawakan kerempeng itu menggerakkan kedua tangannya dengan lemah gemulai. Dia menari sesuai hentakan gendang yang semakin lama semakin keras.
Lelaki itu menaiki panggung. Ia bermonolog tentang kegaduhan-kegaduhan di negeri ini. Ia menceritakan peristiwa-peristiwa ganjil yang membingungkan rakyat. Dalam monolognya ia juga mengajak agar kita tetap menjadi orang yang eling lan waspodo.
“Wong eling lan waspodo bakal bejo senahoso gak kaduman opo-opo,” katanya dalam monolog.
Lelaki itu berakting total. Aktingnya semakin menjadi-jadi. Dia telah menyatu dengan panggung dan ruang pertunjukan. Ia sangat mamahami dan menghayati peran yang ia bawakan. Ia mampu memeras air mata penonton dengan cerita sedih tentang negeri ini. Tentang negeri yang tak pernah surut air mata.
Baru setengah cerita yang dibawakan Samiun, panggung kini jinak. Panggung itu tenang tak beringas seperti sebelumnya. Panggung tersebut telah  menyatu dengan peran yang dibawakan lelaki itu. Seorang laki-laki yang telah menghambakan diri pada teater.
Cerita dalam skenario telah usai. Panggung terdiam. Panggung sunyi. Suara senyap. Demikian juga para penonton yang berada di tempat pertunjukan. Mereka terhipnotis oleh cerita Samiun. Mereka menangis, meratap, lalu merebah tak sadarkan diri. Panggung dan para penonton tak berdaya. Mereka hanyut dalam cerita lalu menyatu dengan jiwa lelaki yang mementaskan lakon terakhir kalinya ini. (*)

Wanar, 27 Januari 2015