Jika Kau Bukan Anak Raja, Juga Bukan Anak Ulama Besar, maka Menulislah

Rabu, 17 Oktober 2018

Cerpen Peraih Juara Harapan I dalam Festival Panji Nusantara 2018


Bayang-Bayang Pernikahan Nggotong Omah
Cerpen karya Ahmad Zaini

Sulaiman terbujur di dipan yang berada di balai rumah. Napasnya tersengal-sengal. Lelaki yang baru sehari menjadi wali pernikahan putrinya ini sedang sekarat. Dia hendak menjemput ajal. Tubuhnya yang tinggi dan besar ini sedang berjuang menghadapi maut. Istri dan anak-anak Sulaiman mengerumuninya. Mereka menangis karena tidak tega melihat kondisi Sulaiman yang napasnya tinggal di tenggorokan. Sementara istrinya terus membimbing Sulaiman menyebut asma Allah. Ia membisikkannya di telinga kanan Sulaiman tanpa henti agar saat nyawa terlepas dari raganya kata terakhir yang diucapkannya adalah kata Allah.
Tangis pecah. Seluruh keluarga yang berada di ruang tamu menangis histeris. Istri dan anak-anaknya memeluk jasad Sulaiman yang kini tidak bernyawa lagi. Terlebih Maimunah. Anak pertama yang baru sehari melangsungkan pernikahan. Dia lemas dan pingsan di sisi jasad walinya. 
Sungguh haru persitiwa yang menimpa keluarga Sulaiman. Kebahagiaan mereka belum terpuaskan. Senyum yang baru saja merekah saat resepsi pernikahan direbut paksa oleh tangis duka kematian. Keluarga yang dibantu warga harus menggali tanah kuburan pada saat Pak Jamin sedang menutup lubang yang digalinya dua hari lalu. Galian di belakang rumah sebagai tempat membuang air kotor bekas mencuci piring atau tempat membuang sisa makanan para tamu saat resepsi pernikahan.
***
Seorang lelaki tua berudeng di kepala datang ke rumah duka. Wajahnya tegang dan  seram. Orang ini datang dengan maksud akan menyampaikan sesuatu kepada keluarga Sulaiman. Lelaki tua ini merupakan sosok yang dianggap warga sebagai tokoh yang sedhik peningal atau dapat menerka sesuatu yang belum terjadi. Dia bernama Suro. Warga kampung memanggilnya dengan sebutan Mbah Suro. Dia adalah kakek dari menantu Sulaiman, Surya.
”Jangan kaulanjutkan perjodohan ini! Berbahaya bagi keluarga kita,” bisik Mbah Suro kepada Rukayah, istri Sulaiman di ruang tamu siang itu.
”Maksud Mbah Suro menceraikan mereka?” tanya Rukayah sambil memandang ke kamar Maimunah.
”Benar. Kau harus menceraikannya,” kata Mbah Suro menjawab pertanyaan Rukayah yang masih belum percaya dengan sarannya.
”Tidak, Mbah. Saya tidak akan menceraikan mereka. Mereka saat ini sedang berbahagia menikmati keluarga yang baru mereka bina.”
”Terserah. Itu hakmu. Tapi, jangan menyalahkan aku kalau ada salah satu dari keluargamu atau keluarga cucuku yang menyusul suamimu,” kata Mbah Suro bernada ancaman dengan maksud agar Rukayah menuruti permintaannya.
”Kita punya Tuhan. Hidup mati kita adalah kehendakNya. Mbah Suro jangan mengait-ngaitkan kematian suami saya dengan perjodohan ini,” bantah Rukayah.
Rukayah heran pada Mbah Suro. Dia hampir tidak percaya karena di zaman seperti ini masih ada orang yang mengait-ngaitkan kematian seseorang dengan hal lain di luar takdir Tuhan. Apalagi Rukayah telah melihat anak dan menantunya saling mencintai. Mereka rukun dan bahagia meskipun sehari setelah pernikahannya harus kehilangan sosok bapak untuk selamanya.
”Perjodohan mereka itu nggotong omah. Perjodohan yang akan membawa kesengsaraan dan bahkan kematian anggota keluarga dari kedua belah pihak,” jelas Mbah Suro.
”Suamiku meninggal bukan karena perjodohan nggotong omah. Kang Sulaiman memang mengidap penyakit lemah jantung. Dia kelelahan karena dua hari dua malam tidak bisa tidur dengan nyenyak. Dia kurang istirahat. Dia kecapekan menerima tamu sehingga jantungnya mengalami masalah,” kata Rukayah menjelaskan perihal kematian suaminya kepada Mbah Suro.
”Seumpama pernikahan itu tidak terjadi, suamimu pasti bisa tertolong,” sela Mbah Suro.
”Kematian itu takdir atau kehendak Allah. Saya dan keluarga sudah ikhlas  menerima takdir tersebut. Saya dan keluarga tidak mengungkit-ungkitnya lagi.”
”Tapi, aku tidak mau pihak keluargaku ada yang menyusul suamimu. Sebagai pihak keluarga Surya, aku tetap akan memisahkan pernikahan mereka. Aku pamit dulu,” pungkas Mbah Suro sembari meninggalkan Rukayah yang tetap bergeming pada keputusannya.
Sebagian masyarakat kampung ini masih memercayai perjodohan nggotong omah atau memikul omah. Yakni, perjodohan antara pihak putra dan putri yang rumahnya saling berhadapan. Kedua rumah tersebut terpisah oleh jalan desa yang dimaknai sebagai pikulan. Oleh karena itu, mereka menamainya dengan istilah nggotong omah. Dalam menggotong atau memikul beban, salah satu atau kedua keluarga pasti ada yang tidak kuat. Pihak yang tidak kuat baik dari pihak putra maupun putri hidupnya akan sengsara. Salah satu anggota keluarganya akan sakit-sakitan bahkan sampai pada kematian. Maka dari itu, sebagian warga kampung ini, terlebih golongan tua menganggap perjodohan seperti itu sebagai suatu pantangan.
Di ruang tengah Rukayah duduk di kursi peninggalan orang tuanya. Tatapan matanya menuju kepada para famili dan tentangga yang ikut membantunya membereskan perabot hajatannya. Dia memikirkan ucapan Mbah Suro yang terkadang masih terngiang di telinganya..
Perjodohan nggotong omah. Hal ini yang masih mengaduk-aduk pikiran Rukayah. Sebelumnya dia belum pernah mendengar istilah itu. Mulai dari lamaran, ganjuran, sampai pada pelaksanaan akad nikah anaknya istilah itu tidak muncul. Namun, kenapa setelah kematian suaminya istilah itu baru muncul dari mulut Mbah Suro yang kempong itu, tanya Rukayah dalam hati.
Dalam agama tidak ada istilah perjodohan nggotong omah atau memikul rumah. Selama Rukayah mengikuti pengajian-pengajian, sekali pun dia tidak pernah mendengar penjelasan dari kiai tentang pantangan perjodohan nggotong omah. Yang diaketahui bahwa pernikahan itu merupakan perbuatan sunnah. Amalan yang sangat dianjurkan oleh agama bagi mereka yang telah mampu memberi nafkah lahir dan batin kepada istrinya. Oleh karena itu, sejak awal rencana sampai pelaksanaan pernikahan anaknya tidak ada yang memermasalahkannya. Semua berjalan dengan lancar tanpa ada perdebatan di antara kedua belah pihak.
Sementara itu, dari atas teras terdengar tawa Sumali. Dia bergirang, berteriak-teriak senang kerena menemukan setakir beras kuning dan sebutir telur ayam kampung. Dia memanggil Kholis, adik Maimunah yang masih berumur sepuluh tahun.
”Kholis, cepat ke sini!” pintanya dari atas teras.
”Ada apa Pakde?” tanya Kholis sambil mendongak ke arah Sumali, kakak kandung ibunya, yang berada di atas teras untuk memasang genting yang sempat dibuka sementara saat pemasangan tarup.
”Cepat terima ini!”
”Tanganku tidak sampai, Pakde,” sahut Kholis yang menjulurkan tangan mungilnya sambil menjinjitkan kedua kaki.
”Ambil kursi itu lalu naiklah agar tanganmu bisa menjangkau takir ini!”
Anak kedua almarhum Sulaiman itu segera mengambil sebuah kursi dari tumpukan kursi di halaman rumah. Dia meletakkan kursi pada bagian tanah yang rata karena khawatir akan terjatuh. Setelah posisi kursi sudah mapan, Kholis menaikinya. Ia menengadahkan tangan untuk menerima sesajen dalam takir atau wadah yang dibentuk dari daun pisang yang menyerupai perahu dari Sumali.
”Asyik, aku dapat telur ayam,” kata Kholis dengan senyum bahagia sambil berlari mendekat ke ibunya.
”Apa ini, Nak?”
”Telur ayam. Diberi Pakde Sumali.”
”Dapat dari mana?”
”Pakde menemukannya di atas teras. Tadi ada campuran beras kuningnya, tapi sudah saya buang,” jawabnya dengan lugu.
Rukayah mengangguk-anggukkan kepala sambil membelai kepala anak keduanya ini. Dia sangat paham pada telur yang dibawa Kholis itu sebagai pelengkap sesajen yang dipasang Mbah Romli sesaat setelah tenda berdiri.
”Minta tolong bude di dapur. Suruh mendadarkan telur ini buat laukmu nanti siang.”
”Baik, Ibu,” kata Kholis sebelum dia berlari menuju dapur menemui budenya.
***
Di hari ketiga setelah pelaksanaan akad nikah, beluarga besar wanita yang kini telah menjanda itu berkumpul lagi. Mereka dengan sukarela membantu Rukayah memersiapkan acara sepasaran. Mereka yang laki-laki mendapat bagian tugas meminjam gelaran dari tetangga untuk digelar di ruang tamu, sedangkan yang perempuan membantu Rukayah memasak di dapur.
Sesaat setelah persiapan rampung, serombongan keluarga besan datang dari rumah yang jaraknya hanya sejengkal. Kedua orang tua Surya berada di bagian depan kemudian diikuti oleh sanak famili lainnya.
Dalam rombongan itu tidak terlihat Mbah Suro. Padahal, saat acara sebelum-sebelumnya dia tidak pernah ketinggalan. Dia selalu turut serta dalam rombongan keluarga Surya sebagai sesepuh keluarga.
”Silakan duduk! Maaf, hanya bisa menyediakan tempat seperti ini,” kata Rukayah memersilakan tamu duduk di gelaran terpal bewarna biru muda.
”Tidak apa-apa, San! Yang penting kita rukun,” sahut Suntini, ibu Surya, dengan sapaan San kependekan dari kata besan.
”Mbah Suro mana?” tanya Surya setelah mengetahui kakeknya tidak turut serta dalam rombongan itu.
”Kakekmu tidak bisa datang karena tidak enak badan. Menurut pamanmu yang menyusul ke rumahnya tadi asam urat kakekmu kambuh sehingga tidak bisa berjalan,” jawab ibunya.
Mendengar jawaban besannya itu Rukayah tersenyum dalam hati. Dia agak geli menyimak alasan Mbah Suro yang tidak turut serta dalam acara sepasar sebagaimana yang disampaikan oleh besannya. Hal itu karena Rukayah mengetahui alasan yang sebenarnya perihal ketidakikutsertaan Mbah Suro. Kakek Surya ini menghendaki perjodohan cucunya tersebut dibubarkan.
Di sela-sela percakapan mereka, Rukayah memersilakan keluarga besan agar menikmati hidangan yang disuguhkan dalam piring. Senyum ramah dan sikap rendah diri Rukayah tetap terjaga meski dia masih dalam suasana duka karena kematian suaminya. Dia juga tidak menampakkan sikap kecewa terhadap keinginan Mbah Suro yang hendak menceraikan Surya dan Maimunah.
Tawa ringan sesekali mewarnai pertemuan kedua besan itu. Bahkan ada yang berceloteh tentang rambut pengantin putri yang masih terlihat basah hingga menembus jilbab yang dipakainya.
”Pengantin baru rambutnya masih basah. Semoga cepat punya keturuan!” celetuk dari salah satu dari keluarga Surya yang diikuti oleh gemuruh tawa yang lainnya.
Mendengar gojlokan seperti itu, Maimunah yang bersimpuh di sebelah Rukayah jadi tersenyum malu.
”Nak Maimunah, segeralah duduk di samping Surya. Lekaslah, ke sini!” seru Suntini, ibu Surya yang kemudian dituruti oleh Maimunah.
”Nah, begitu biar tidak seperti pengantin yang tidak patut,” sambung Suntini.
Berbagai hidangan disajikan dalam acara itu. Onde-onde, kucur, reteh, wajik, rengginang tersaji dalam perjamuan tersebut. Wedang sirup warna merah muda tidak ketinggalan. Minuman segar dan memiliki rasa khas ini menambah kental suasana sepasaran keluarga dari kedua belah pihak.
”Silakan dinikmati. Maaf, hidangannya hanya sekadarnya saja,” kata Rukayah merendahkan diri.
Rumah Rukayah yang ramai karena pertemuan keluarga kedua pihak mendadak hening.  Mbah Suro tiba-tiba muncul di depan pintu. Dia berdiri tegak dengan pandangan mata yang tajam. Mulutnya mendesis seperti ular yang sedang membelit mangsa. Lelaki tua yang tak pernah melepas udeng dari kepalanya ini terlihat sesekali menyeringai menahan sakit sambil memegangi kedua lututnya. Dia memaksa dirinya datang ke rumah Rukayah tanpa memedulikan asam uratnya yang kambuh.
”Suntini, ke sini!” kata Mbah Suro dengan suara lantang kepada putri sulungnya. Suntini bergegas mendekat ke Mbah Suro yang masih berdiri di depan pintu.
”Kenapa acara sepasar ini masih kauadakan?” tanya Mbah Suro bernada geram.
”Memangnya ada apa, Pak? Bukankah ini sudah menjadi tradisi di daerah kita,” Suntini berbalik tanya kepada bapaknya dengan heran.
”Ke sini, cepat!” ajak Mbah Suro sambil menyeret tangan anaknya menuju ke teras rumah Suntini yang berada tepat di depan rumah Rukayah.
”Pelan-pelan Bapak. Jangan kasar,” keluh Suntini atas perlakuan ayahnya yang kasar.
”Ceraikan Surya!”
”Maksud Bapak?”
”Kalau kau tidak segera menceraikannya, aku akan menjadi korban berikutnya dari pernikahan Surya, anakmu.”
”Astaghfirullah, Bapak! Apa-apaan ini? Kenapa Bapak punya pemikiran seperti ini?”
”Perjodohan anakmu itu adalah pantangan yang harus dihindari. Sulaiman mati karena perjodohan nggotong omah. Asam uratku kambuh seperti ini juga rentetan tulah dari perjodohan anakmu,” ucap Mbah Suro dengan serius.
”Tidak, Pak. Saya tidak percaya dengan hal-hal seperti itu. Saya tidak akan menceraikan mereka. Lihatlah mereka duduk berdampingan dengan bahagia. Mereka cocok sekali. Saya yakin perjodohan mereka akan langgeng,” sergah Suntini.
”Perjodohan anakmu langgeng, namun keluargamu akan mati semua.”
”Bapak, Bapak! Pikiran kotor seperti itu kok masih dirawat. Hidup mati seseorang itu kehendak Allah. Bukan karena yang lain,” kata Suntini menimpali ucapan ayahnya dengan tanpa beban.
”Baiklah kalau begitu. Kau lebih memilih saya mati daripada menceraikan anakmu,” gertak Mbah Suro sambil berdiri dan berkacak pinggang.
”Akan ke mana, Pak? Ayo, ikut ke rumah Rukayah!” ajak Suntini.
”Tidak. Aku tidak sudi datang ke tempat itu,” tolak Mbah Suro.
Mbah Suro emosi. Mukanya memerah karena terbakar api amarah. Dia mencak-mencak keluar rumah sampai-sampai kakinya tersandung batu kumbung yang agak menonjol di pintu rumah Suntini. Tubuh Mbah Suro terhuyung-huyung. Kedua kakinya yang asam urat tidak mampu menahan tubuh gemuk namun berkulit kendor ini. Mbah Suro tersungkur di tengah jalan yang memisahkan rumah Suntini dan Rukayah.
”Bapak, kenapa?” teriak Suntini yang berlari lalu merangkul tubuh bapaknya yang tak berdaya di tengah jalan.
Rukayah, Maimunah, Surya, dan para anggota keluarga kedua mempelai yang berada di rumah Rukayah berhamburan keluar. Mereka menolong Mbah Suro yang lunglai karena pingsan. Sumali dan ayah Surya dibantu kerabat yang lain membopong tubuh Mbah Suro ke dalam rumah Suntini. Mereka membaringkan tubuh Mbah Suro di dipan bambu dengan pelan-pelan. Maimunah tidak ketinggalan. Dia bergegas menuju ke rumah mertuanya dengan membawa minyak angin.
Sang cucu menantu itu mengoleskan minyak angin di bawah lubang hidung Mbah Suryo. Tangan kanan Maimunah tidak merasa risih meskipun menyentuh kumis Mbah Suro yang memutih. Tangan kanannya lemah gemulai menari-nari meratakan minyak angin di bawah lubang hidung Mbah Suro. Tak berselang lama jari-jemari Mbah Suro bergerak. Kedua kelopak matanya perlahan terbuka. Matanya melihat orang-orang di sekelilingnya meski masih agak kabur.
Saat tatapan mata Mbah Suro yang berbaring ini berhenti di wajah Maimunah yang berdiri di sampingnya, ia duduk seketika. Dia mendorong tubuh Maimunah yang baru saja mengoleskan minyak angin dengan lembut di bawah lubang hidungnya. Maimunah jatuh terpental sambil memegang lututnya yang terbentur tanah.
”Menjauhlah dariku. Kau pembawa sial,” bentaknya dengan suara serak.
”Maimunah!” teriak Rukayah mendekati anaknya yang jatuh lalu mendekapnya,”kau tidak apa-apa, Nak?”
”Tidak apa-apa, Bu,” jawab lirih Maimunah sambil menyeringai menahan pedih luka di lututnya.
”Apa yang kaulakukan, Pak?” tanya Suntini sambil mengguncang-guncang badan bapaknya.
”Usir mereka! Suruh pergi semua keluarga besanmu itu,” perintahnya dengan paksa. Mata Mbah Suro terbelalak lebar. Bola matanya seperti mau melompat keluar.
Suntini tidak enak kepada pihak keluarga besannya. Mata Suntini melihat wajah-wajah keluarga besannya yang masih terpaku di samping dipan tua itu. Ia malu karena ulah bapaknya. Dia pun langsung menyembunyikan wajahnya dengan menunduk dalam-dalam.
”Sabar, Mbak Suntini. Kami akan keluar dulu,” kata Rukayah yang masih memapah Maimunah untuk berpamitan pada Suntini. Suntini membalas pamitan itu dengan anggukan. Ia enggan berbicara karena jiwanya terpukul atas sikap bapaknya.
Rukayah dan keluarganya kembali ke rumahnya. Mereka berjalan pelan dengan memendam rasa penasaran atas sikap Mbah Suro yang ganjil. Rukayah berjalan sambil menggandeng Maimunah. Dia berusaha menghibur hati anaknya agar tidak memikirkan sikap kakek Surya yang  hampir saja mencelakakannya.
”Tidak ada apa-apa, Bu. Mungkin kakek sudah pikun sehingga dia berbuat seperti itu pada saya,” kata Maimunah bernada datar.
”Syukurlah, kalau begitu,” ucap Rukayah lega.
Setelah keluarga Rukayah meninggalkan mereka, terjadi perdebatan sengit dalam rumah Suntini. Mbah Suro masih bersikukuh memertahankan pendapatnya. Keyakinannya kokoh laksana tugu kampung yang tak mudah goyah meskipun setiap hari dinaiki dan dibuat pijakan lompatan warga kampung yang menghibur diri. Saran demi saran dari Suntini dan anggota keluarga yang lain dianggapnya seperti angin lalu. Saran-saran tersebut tak sedikit pun menggoyahkan keyakinan Mbah Suro.
”Sampai kapan pun aku akan berusaha menceraikan mereka. Aku tidak mau menjadi korban dari kengawuran kalian,” ancam Mbah Suro memungkasi perdebatan panjang dalam rumah tersebut.
”Antarkan aku pulang!” pinta Mbah Suro.
Salah seorang anggota keluarga segera mengambil sepeda motor. Dia membonceng Mbah Suro dengan dipangku oleh Surya.
Suntini bingung. Ia berada dalam situasi yang dilematis. Bagai judul film Maju Kena Mundur Kena yang dibintangi oleh Dono, Kasino, dan Indro. Seperti peribahasa bagai makan buah simalakama. Dimakan mati bapak, tidak dimakan mati ibu. Menuruti kata bapaknya yang keras kepala atau memertahankan pernikahan anaknya yang masih hangat ini? Serba sulit menghadapi masalah pelik seperti ini bagi seorang wanita seperti Suntini.
”Kamu ini sejak tadi seperti orang bingung. Mondar-mandir ke sana dan ke sini,” tiba-tiba muncul suara Mat Rokim, suami Suntini.
”Aku bingung. Apa yang harus kita lakukan untuk memertahankan pernikahan Surya sekaligus bisa melunakkan hati bapak,” keluh Suntini kepada suaminya.
”Kita pindah rumah saja,” jawab Mat Rokim dengan enteng.
Mat Rokim yang sejak awal diam tiba-tiba berujar yang teryata bisa menjadi pertimbangan bagi masalah yang sedang mereka hadapi. Suntini lantas teringat rumah kosong kakak kandungnya yang sudah bertahun-tahun tidak dihuni. Rumah itu dibiarkan kosong karena kakak dan anak istrinya sudah menempati rumah permanennya di perantauan.
”Masuk akal juga usulanmu. Rumah Kakak Hambali kosong. Kita bisa pindah ke situ. Apabila suatu saat kakak pulang kampung, mereka biar menempati rumah ini.”
”Itu solusi yang sudah saya rencanakan semenjak bapak punya rencana menceraikan pernikahan anak kita gara-gara takut tulah nggotong omah,” sahut Mat Rokim.
Suntini dan Mat Rokim bergegas menyusul anaknya ke rumah Mbah Suro. Mereka hendak menyampaikan solusi dari permasalah yang dihadapi setelah kematian besannya, Sulaiman. Dengan sepeda onthel mereka menyusuri jalan kampung. Suntini yang berada diboncengan Mat Rokim duduk tenang. Tangannya melingkar erat di perut Mat Rokim agar tidak terjatuh dari boncengan. Wajah wanita ini sudah mulai ceria. Tidak seperti dua, tiga hari sebelumnya yang selalu cemberut karena menyedihkan sikap bapaknya.
Sesampai di rumah bapaknya, Mat Rokim menyandarkan sepeda onthelnya di tiang teras rumah Mbah Suro. Mereka masuk ke dalam rumah sederhana yang hanya dihuni oleh bapaknya itu. Mereka terkejut saat melihat Surya menenggelamkan diri dalam kesedihan dan ketakutan. Suntini lekas mendekati Surya.
”Kenapa, Nak?” tanya Suntini.
”Kakek, Bu.” jawabnya singkat.
Suntini sudah bisa menebak penyebab Surya bersedih seperti itu. Dia yakin bapaknya telah menyampaikan permasalahan perjodohan nggotong omah itu kepada anaknya.
”Mbah Suro memaksa agar saya menceraikan Maimunah,” sambung Surya.
”Jangan bersedih. Ayah dan ibu sudah menemukan jalan keluarnya. Pernikahanmu tidak akan bubar. Tidak akan ada perceraian,” kata Suntini meyakinkan Surya.
”Benarkah? Terima kasih Bu,” kata Surya sambil mengangkat wajahnya lalu menatap ibunya. Kedua orang ini saling berpelukan dengan perasaan penuh keharuan. Mereka berharap agar Mbah Suro bersedia menerima solusi yang saat itu sedang disampaikan oleh Mat Rokim di dalam kamar.
Suntini dan Surya menunggu Mat Rokim yang masih berada dalam kamar. Ibu dan anak itu gelisah karena khawatir Mbah Suro tidak menerima gagasan yang disampaikan oleh imam keluarganya.
Setelah hampir satu jam, Mat Rokim muncul dari kamar Mbah Suro. Wajahnya cemberut tidak mencerminkan kepuasan. Dia perlahan-lahan menyarangkan bokongnya di kursi yang terbuat dari anyaman rotan. Dia duduk di sisi kanan Suntini.
”Bagaimana, Pak?” tanya Suntini hampir bersamaan dengan Surya.
Mat Rokim tidak segera menjawab. Dia masih membenamkan wajahnya sambil menatap lantai rumah Mbah Suro. Suntini dan Suryo semakin gelisah. Mereka takut Mat Rokim tidak berhasil membujuk Mbak Suro.
”Bapak Suro..., Bapak Suro..., menerima saran kita,” jawab Mat Rokim dengan gaya seakan-akan usahanya gagal, namun dipertegas dengan keberhasilannya membujuk Mbah Suro.
”Alhamdulillah, Alhamdulillah!” kata Suntini dan Surya untuk mengungkapkan kebahagiaannya.
Saat mereka berdiri dan hendak masuk ke dalam kamar Mbah Suro untuk menyampaikan terima kasih, tiba-tiba lelaki tua itu muncul dari balik kelambu kamarnya. Mbah Suro sudah berpakaian rapi dengan udeng di kepalanya. Wajahnya tampak santai tidak setegang sebelumnya.
”Mari kita ke rumah mertua Suryo untuk menyampaikan rencana ini sekaligus meminta maaf atas sikap emosi saya kepada mereka,” ajak Mbah Suro.
Sore hari ketiga orang ini berjalan bersama-sama menuju rumah Rukayah. Mbah Suro berjalan agak pincang karena menahan sakit asam uratnya. Surya berada di samping kiri kakeknya, sedangkan Suntini dan Mat Rokim yang menuntun sepeda onthelnya berjalan di belakang mereka.
Di rumah Rukayah, tepatnya di balai-balai rumah, Rukayah dan keluarga lainnya berusaha menenangkan hati Maimunah. Mereka mengerubuti istri Surya ini sambil menasihati agar dia bersabar atas ulah kakek suaminya secara bergantian.
Maimunah tengkurap di atas dipan luas yang berada di ruang di sebelah kiri ruang tamu. Dia menutup wajahnya dengan bantal bermotif bunga mawar. Jiwanya sedang terluka oleh sayatan pernyataan Mbah Suro yang hendak memisahkannya dengan Surya. Dia takut menjadi janda kepagian. Janda muda dari usia perkawinannya yang baru sepasar.
”Assalamualaikum!” ucap salam Mbah Suro dari depan pintu secara tiba-tiba.
Mereka yang sedang dalam suasana sedih lantas menjawab suara salam yang sudah tidak asing bagi mereka.
Semua pandangan mengarah ke pintu rumah. Mereka melihat Mbah Suro, Surya, Mat Rokim, dan Suntini. Rukayah bergegas menyambut kedatangan mereka lalu memersilakan duduk di gelaran terpal warna biru.
Maimunah bangkit. Dia mengangkat wajahnya yang dibenamkan di atas bantal. Ia pun berdiri dan menyalami mereka satu persatu. Mata Maimunah masih lembab. Air mata yang sempat terkuras belum kering sepenuhnya. Sisa-sisa kepedihan dan ketakutan masih tergores jelas di wajah itu.
”Duduklah di sebelah kiri Surya, Nduk!” pinta Mbah Suro.
Rukayah dan keluarga heran dan hampir tidak percaya pada sikap Mbah Suro. Sikapnya berubah menjadi lunak. Tutur sapanya tidak sekeras seperti sebelumnya. Mbah Suro menyampaikan permintaan maaf atas perilakunya yang kasar pada Maimunah dan keluarga. Dia juga menyampaikan telah mengurungkan niatnya yang hendak membubarkan rumah tangga Surya dan Maimunah.
Suntini menyambung pembicaraan bapaknya. Ia menyampaikan rencananya yang akan pindah rumah. Suntini dan keluarga menempati rumah saudaranya yang berada di dekat rumah Mbah Suro. Rumahnya yang berhadapan dengan rumah Rukayah akan dikosongkan. Suatu saat apabila saudaranya pulang dari perantauan, rumah tersebut akan ditempati saudaranya itu.
Suasana telah mencair. Kedua pihak keluarga telah mendapatkan jalan keluar untuk memertahankan mahligai rumah tangga yang baru dibentuk oleh Surya dan Maimunah. Mereka larut dalam suasana haru dengan saling meminta dan memberi maaf. Mereka sangat senang dan bersyukur kepada Tuhan. Mereka telah mampu memertahankan adat untuk menghormati orang tuanya dan memertahankan keutuhan keluarga yang baru dibangun oleh Surya dan Maimunah. (*)

Lamongan, Juni 2018



BIODATA PENULIS


Ahmad Zaini, Lahir di Lamongan, 7 Mei 1976. Karya sastranya baik berupa cerpen maupun puisi pernah dimuat oleh beberapa media massa. Antara lain Kompas.com, okezone.com. Radar Bojonegoro, Duta Masyarakat, majalah MPA (kemenag Jawa Timur), majalah Indupati, Tabloid Maarif Lamongan, Tabloid Lensa Lamongan, Media (PGRI Jawa Timur), dan Majalah Wanita UMMI Jakarta.
Puisi-puisinya terkumpul dalam buku antologi bersama di antaranya Bulan Merayap (DKL,2004), Lanskap Telunjuk (DKL, 2004), Khianat Waktu, Antologi Penyair Jawa Timur (DKL, 2006), Absurditas Rindu (Sastra Nesia Lamongan, 2006), Sehelai Waktu (Scolar, 2011), , Pengembaraan Burung (DKL, 2015), Matahari Cinta Samudra Kata (Yayasan Hari Puisi Indonesia, 2016), Antologi Puisi Penyair Dunia Kopi 1.550 mdpl (Takengon, Aceh, 2016), Mengunyah Geram (Yayasan Manikaya Kauci, YMK, Bali, 2017), Musafir Ilmu (Perkumpulan Rumah Seni Asnur, Depok, 2018).
Cerpen-cerpennya terkumpul dalam buku kumpulan cerpenTelaga Lanang (Lima Dua, Gresik, 2012), A Moment to Feel (Pustaka Jingga, 2012), Sayap-Sayap Cinta (D3M Kail Tangerang, 2013), Matahari Baru Buat Katro (D3M Kail Tengerang, 2014), Lentera Sepanjang Rel Kereta (Pustaka Ilalang,2014), Titik Nol (Pustaka Ilalang, 2015), Bukit Kalam (DKL, 2015) dan Penitis Jiwa (Pena Ananda Indie Publishing, Tulungagung). Salah satu cerpennya yang berjudul Bayang-Bayang Pernikahan Nggotong Omah meraih juara harapan I pada Sayembara Penulisan Prosa (cerpen) dalam rangka Festival Panji Nusantara 2018. Novel perdananya berjudul Mahar Cinta Berair Mata (Pustaka Ilalang, 2017). Saat ini berdomisili di Wanar, Pucuk, Lamongan, Jawa Timur. Nomor HP/Wa 085732613412, Facebook: ilazen@yahoo.co.id/ Ahmad Zaini. Nomor rekening 0532067634, Bank Jatim atas nama A. Zaini.











Jumat, 24 Agustus 2018

Para Pencari Ikan Sili (Cerpen Jawa Pos Grup, Radar Bojonegoro, 19 Agustus 2018)


Para Pencari Ikan Sili
Cerpen karya Ahmad Zaini

Pagi masih berkabut. Jarak pandang belum seluas ketika siang. Hawa dingin masih betah menggelitik tubuh para warga meskipun mereka usai memanggang kedua telapaknya di atas bediang mencari kehangatan. Para istri sangat pengertian. Mereka menyeduhkan kopi buat para suaminya yang akan berangkat mencari ikan sili di rawa.
”Pak, ini kopinya!” seru Kustiyah kepada Wiro yang masih membungkus tubuhnya dengan sarung kumal.
”Sebentar. Saya matikan bediangnya dulu,” sahut Wiro.
”Bapak, jangan dimatikan bediangnya!” tiba-tiba suara anak lelakinya muncul dari dalam rumah. Anaknya hendak mengusir hawa dingin dari tubuhnya.
Wiro meninggalkan bediang. Dia masuk ke rumah memenuhi seruan Kustiyah. Ia melihat secangkir kopi dan pisang goreng bersandingan di atas meja. Lelaki yang sehari-hari mencari ikan sili di rawa ini menyeruput secangkir kopi selir. Sececap ia meneguk kopi diselingi dengan makan pisang goreng buatan Yuk Pinah, penjual makanan pendamping menu utama di perempatan jalan.
”Wiro, ayo, berangkat!” panggil Suro dari luar.
”Sebentar!” kata Wiro sambil menghabiskan kopi dan sepotong pisang goreng yang sempat digeletakkan di meja.
Wiro dan Suro berjalan kaki ke rawa. Mereka memangguil susuk atau alat mencari ikan yang terbuat dari anyaman bambu menyerupai kurungan ayam dan kepis atau wadah ikan di pinggangnya. Mereka tak menghiraukan udara dingin yang belum segera sirna dari aliran darahnya. Mereka melangkah cepat tanpa menghiraukan kedua telapak kakinya menggilas kerikil-kerikil yang mulai mengeras.
Awal musim kemarau, air di rawa yang berada di sebelah utara kampung mulai surut. Banyak ikan sili terdampar dan geraknya terbatas. Ikan sili yang menyerupai belut dalam bentuk dan kandungan gizinya ini menjadi buruan utama warga di rawa tersebut. Hasil tangkapan biasanya dijual keliling kampung. Terkadang pula didatangi para penjual nasi boran dari kota.
Wiro trengginas menyergapkan susuk ke titik-titik yang dianggap sebagai tempat ikan sili. Dari ke sekian kali sergapan susuk Wiro menerpa area kosong dan belum menemukan seekor pun ikan sili.
Mata Wiro liar melihat riak-riak air rawa yang menipis. Pandangannya menerpa gerakan-gerakan pelan ikan sili yang menyembul dari tanah lumpur. Wiro melangkah dengan hati-hati. Ia tidak ingin ikan sili sasarannya bubar mendengar langkah kakinya. Mata Wiro terbelalak lebar saat melihat dengan jelas ikan sili yang sangat banyak di tempat itu. Dia mengangkat susuknya lantas menyergap dan mengurung kerumunan ikan sili yang sangat banyak. Puluhan dan bahkan ratusan ikan sili itu tak bisa ke mana-mena. Ikan buruan Wiro hanya meronta dan berusaha lepas dari sergapan Wiro. Lelaki ini lantas merogoh dan memunguti ikan sili dari susuknya satu per satu. Jemarinya mencengkeram kuat ikan sili yang sangat licin. Wiro memasukkan tangkapan ikan silinya ke dalam mulut kepis. Dalam sekejap kepis Wiro sudah tidak mampu lagi menampung ikan sili.
Wiro lebih cepat mentas dari rawa daripada hari-hari sebelumnya. Ia duduk santai sambil menyulut rokok kelobot yang diambil dari buntalan plastik di saku celana komprang. Wiro berteduh di bawah sebatang pohon pisang sambil menunggu Suro yang masih telaten mencari ikan.
”Suro, cepat naik. Kita rokok-rokok dulu.”
”Sebentar lagi. Kepisku masih belum penuh,” jawabnya dengan suara keras dari tengah rawa.
Suro menyelamkan kedua tangannya ke dasar lumpur. Dia meraba-rabakan jemarinya di kedalaman lumpur sambil berharap tangannya menyentuk ikan sili. Akan tetapi, tangan Suro yang menari-nari berbalut lumpur itu tak sekali pun menyenggol buruannya. Suro kecapekan. Dia tampak lelah. Akhirnya, dia berjalan tertatih-tatih menuju tempat Wiro yang sedang mengisap rokok terwenya.
”Wah, ikan silimu banyak sekali!” kata Suro heran pada ikan sili tangkapan Wiro.
”Besar mana dengan tangkapanmu?” timpal Wiro sambil melihat ikan-ikan tangkapan Suro dari mulut kepis.
”Kamu tadi mendapat sili yang besar-besar ini dari sebelah mana?” tanya Suro.
”Dari situ,” jawab singkat Wiro dengan pelafalan yang kurang jelas karena mulutnya setengah tersumbat rokok kelobot.
Suro kaget setelah melihat jari telunjuk Wiro mengarah ke sebuah tempat. Wiro mengambili ikan-ikan di tempat yang menurut warga adalah tempat angker.
”Kamu dapat ikan dari situ?”
”Memang kenapa?” sambung Wiro.
”Tempat itu angker.”
”Kata siapa?” tanya Wiro kurang percaya.
”Coba lihat ikan sili tangkapanmu! Besar-besar dan gemuk-gemuk. Menurut orang-orang sini, ikan sili di tempat itu memakan lunturan mayat yang pernah dikubur warga di situ.”
”Mayat itu sudah dikubur zaman kolobendu. Tidak mungkinlah lunturannya masih tersisa sampai saat ini. Kamu iri dengan tangkapan saya?” tanya Wiro setengah meledek.
”Kenapa iri? Saya mengatakan dengan sesungguhnya. Begini ceritanya,” Suro hendak bercerita kepada Wiro.
”Tidak usah cerita. Kamu hanya akan menakut-nakutiku agar aku mengembalikan ikan ini ke tempatnya atau memberikan ikan-ikan ini kepadamu.”
”Sungguh saya tidak berniat seperti itu. Kakek pernah bercerita bahwa dulu terjadi pembantai massal di jembatan sana,” kata Suro sambil menunjuk ke arah jembatan jalan raya, ”orang-orang PKI ditangkapi dan dibunuh beramai-ramai di jembatan itu. Di antara mereka ada yang sakti. Mereka tidak mempan dibacok dengan pedang. Lehernya keras bagai beton sehingga tidak bisa dipenggal meskipun dengan puluhan pedang. Akhirnya, orang-orang PKI yang sakti itu diseret beramai-ramai ke tempatmu menangkap ikan dan dikubur hidup-hidup. Makanya ikan sili di jembatan dan di tempat itu dagingnya gemuk karena mereka memakan sisa-sisa mayat orang sakti itu.”
”Ah, omong kobot. Saya tidak percaya,” sergah Wiro sembari mengambil kepis yang diletakkan di samping tempat duduknya, lalu berjalan cepat meninggalkan andil rawa.
”Wiro, tunggu!” teriak Suro sambil berlari-lari kecil menyusul Wiro.
”Ayo, cepat!” pinta Wiro kepada Suro.
”Langkahmu cepat sekali. Kepismu terlihat ringan,” kata Suro setengah heran saat melihat kepis Wiro yang melayang-layang ringan seperti tidak berisi.
”Kamu ini ada-ada saja,” timpal Wiro tak menghiraukan kata-kata Suro. Ia tetap berjalan dengan keyakinan ikan-ikan sili itu masih berada di kepisnya.
Suro menghadang langkah Wiro. Tangannya berusaha merebut dan ingin melihat kepis yang bergelayut di pinggang Wiro. Terjadi pergumulan sesaat. Suro ingin merebut kepis sedangkan Wiro ingin mempertahankannya. Namun, setelah itu Wiro mempersilakan Suro mengecek isi kepis itu.
”Lihat! Kepismu kosong. Ikan-ikan sili tangkapanmu lenyap,” kata Suro sambil mendekatkan kepis ke arah wajah Wiro.
Wiro tersentak kaget. Dia seakan tidak percaya pada kenyataan yang disuguhkan temannya itu. Wiro melihat mulut kepis lebih teliti. Ternyata benar kata-kata Suro. Ikan sili tangkapannya lenyap dan tak satu pun yang tersisa di dalam kepis.
”Benar. Ikan-ikanku hilang,” ungkapnya heran sambil melihat bagian sisi-sisi kepis yang masih utuh tak berlubang, ”atau kamu yang mengambilnya dan memindahkan ikan-ikanku ke kepismu!?”
”Periksalah!” suruh Suro.
Wiro semakin heran. Dia tidak menemukan ikannya dalam Kepis Suro. Wiro hanya melihat ikan sili tangkapan temannya itu yang lebih kurus daripada hasil tangkapannya tadi.
”Tidak ada. Ikan-ikanku hilang. Ikan itu bisa menghilang. Menghilang,” katanya berulang-ulang dengan wajah ketakutan.
Wajah Wiro tiba-tiba berubah. Dia seperti orang kesurupan. Wiro seketika itu berlari kencang sambil berteriak-teriak ketakutan. Kaki kekarnya menerjang rumpun-rumpun klorak di sepanjang pinggiran rawa. Kakinya terus menggilas kerikil-keril tajam di atas andil atau tanggul rawa. Suro yang tak mampu mengejar temannya itu hanya bisa melihat dari kejauhan. Sosok Wiro yang mengecil itu tampak turun dari tanggul dan hilang di sekitar kali jembatan jalan raya.
Sesampai di jembatan, Suro tidak melihat Wiro. Ia hanya mendapati jejak kaki Wiro di wajah lumpur menuju ke arah kali dangkal berair tipis di permukaannya. Tiba-tiba dari dasar lumpur kali itu, Suro dikagetkan oleh ratusan ikan sili yang menggeliat-geliat ke permukaan. Suro terperangah keheranan. Baru kali ini ia melihat ikan sili sebanyak itu. Ia tidak berani memunguti ikan-ikan sili yang terdampar tersebut. Suro menduga ikan-ikan itu merupakan jelmaan temannya yang lenyap dan menyatu dengan lumpur di bawah jembatan jalan raya. Dia bengong dan tidak mampu berkata apa-apa. Suro melanjutkan perjalanan pulang dengan wajah hampa serta tatapan mata kosong ke arah kampung halaman yang masih jauh di depannya.  (*)
Lamongan, Juli 2018

*Penulis merupakan salah satu dari enam pemenang Sayembara Penulisan Prosa Fiksi Berbasis Kearifan Lokal Jawa Timur dalam rangka Festival Panji Nusantara 2018. Dia tinggal di Wanar, Pucuk, Lamongan.










Kamis, 12 Juli 2018

Puisi Jawa Pos grup Radar Bojonegoro, 1 Juli 2018

Puisi-Puisi karya Ahmad Zaini

Pilihan Hati

Pucuk paku laksana mata hati
Dialah yang menentukan arah pilihan nanti
Beralas kelembutan bantal
Kulunakkan diri
Menentukan pilihan
Demi kemajuan negeri

Wanar, Juni 2018

Bilik Suwung

Kurahasiakan pilihan di suwung bilik
Mata buta
Telinga tuli
Mulut bisu
Tangan dan kaki lumpuh

Hati yang membimbing
Gerak kami
Menentukan  sengsara
Atau sejahtera rakyat
Di negeri ini

Wanar, Juni 2018



Klimaks Panggung  Politik

Tawa kesombongan
Duka nestapa
Klimak syahwat
Di siang hari

Tak perlu menguras air mata
Setelah kau lemah dalam persaingan
Lunglai sebelum hitung kekalahan

Tak perlu mengumbar kesombongan
Setelah kau digdaya dalam pertempuran
Membusungkan dada
Sebelum hitung kemenangan

Tak perlu kau banggakan
Tak perlu kau sedihkan
Di alam demokrasi
Semua serba kemungkinan
Karena rakyatlah yang menentukan

Wanar, Juni 2018

Rakyat atau Uang

Apa yang kau pikirkan
Setelah kemenangan
Rakyat atau uang

Jika rakyat kau pikirkan
Martabat yang kau dapatkan
Jika uang kau lamunkan
Kehinaan dan kenistaan yang kau rasakan

Kemenangan adalah amanat rakyat
Yang kaupertanggungjawabkan
Di hadapan pengadilan Tuhan

Wanar, Juni 2018

Boleh Beda

Pilihan boleh beda
Namun rasa tetap sama
Bendera boleh beda
Negara tetap sama

Bersama kita maju
Tak perlu ada cemburu
Bersatu kita jaya
Tak perlu ada curiga

Bersama kita jaya
Bersama kita bahagia

Wanar, Juni 2018

Matahari Tak Pilih Kasih

Matahari itu terbit
Muncul dari rerimbun daun
Mencairkan kebekuan embun
Di ujung rerumput malam

Kebuntuan jalan
Menuju kehangatan
Adalah beban di pundak kekuasaan
Tangis kelaparan
Di gubuk penderitaan
Adalah pekerjaan di setumpuk program

Matahari tak pilih kasih
Ia ikhlas menyinari
Tanpa pandang hati

Wanar, Juni 2018

Merajut Serpihan Hati

Tuhan,
Engkau telah melahirkan pemimpin
Dari peselisihan dan perbedaan pilihan
Aku menangis di tengah perseteruan

Tuhan,
Pilu hatiku memendam cara
Merajut kusut benang persaingan
Yang sulit terurai
Di hamparan siang

Aku yang lemah
Memohon kepadaMu
Rajutlah serpihan hati
Yang tercecer di bendera partai
Agar utuh di bendera negeri
Berseri

Wanar, Juni 2018

Ahmad Zaini, lahir di Lamongan, 7 Mei 1976. Beberapa puisi dan cerpennya pernah dimuat di berbagai media cetak dan online nasional serta di berba
gai buku antologi puisi dan cerpen bersama sastrawan nusantara. Ia tinggal di Wanar, Pucuk, Lamongan, Jawa Timur.

Jumat, 25 Mei 2018

Cerpen Kaum Pendatang


Kaum Pendatang
Cerpen karya Ahmad Zaini*

Kesibukan warga di daerah ini meningkat tajam. Mereka menghias wajah daerahnya dengan berbagai umbul-umbul dan hasil kreasi lainnya. Mulai pagi sampai menjelang senja, para warga bekerja bakti tanpa mengenal lelah. Mereka ingin segera merampungkan semua keperluan untuk menyambut kedatangan orang-orang modern. Orang-orang berpengalaman dari kota. Konon mereka datang ke daerah ini untuk membantu warga dalam rangka meningkatkan hasil pertaniannya.
Sudah dua minggu para warga menyiapkan tempat tinggal buat orang-orang yang diyakini akan membawa kemajuan daerah. Ada yang rela membantu bahan baku rumah seperti kayu, genting, gedhek atau dinding rumah dari anyaman bambu, serta keperluan hidup lainnya secara cuma-cuma. Mereka sangat antusias menyambut kedatangan orang-orang milenia. Warga sangat yakin pada kiprah kaum pendatang nanti. Orang-orang modern ini dianggap sebagai malaikat yang bisa mengubah kehidupan warga menjadi lebih baik. Seperti yang sudah disampaikan oleh kepala daerah sebagai pihak yang mengundang mereka datang ke sini.
Subroto sebagai kepala daerah datang untuk melakukan sidak. Didampingi para pejabat lainnya, ia mengecek semua persiapan penyambutan orang-orang itu mulai dari tempat sampai fasilitas-fasilitas lainnya. Kepala daerah tidak mau kedatangan mereka nanti meninggalkan kesan yang kurang memuaskan. Ia tidak ingin mengecewakan orang-orang itu.
”Saya sangat puas dengan persiapan penyambutan ini. Terima kasih Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu serta Saudara sekalian yang telah mempersiapkan semua fasilitas demi menyambut mereka nanti. Orang-orang itu nanti pasti akan membawa perubahan demi kemajuan pertanian daerah kita nanti,” ucap Subroto di depan para warga yang mengerubutinya.
Jarwo, pemuda yang tidak setuju pada program ini. Dia meninggalkan kerumunan warga yang sedang dimabuk sanjungan. Jarwo tidak habis pikir kenapa warga di daerah ini begitu yakin dan bersemangat pada rencana kedatangan orang-orang ini. Mereka hanyalah orang-orang yang tahu teori saja. Ia khawatir malah sebaliknya. Mereka akan menguasai warga daerah ini dan menjadikannya sebagai pelayan mereka.
”Akan ke mana, Wo?” tanya Muis, tetangga sekaligus teman akrab Jarwo.
”Akan pulang.”
”Pulang? Acara belum selesai, kan?”
”Ah, sudah banyak orang di sana. Aku kurang setuju dengan rencana ini.”
”Kenapa tidak setuju? Bukankah kedatangan mereka nanti akan membawa kemajuan daerah kita?”
”Itu hanyalah propaganda mereka untuk mengelabui warga. Saya curiga ada maksud-maksud terselubung di balik rencana ini,” kataku yang disambut dengan tatapan hampa oleh Muis.
”Kamu ini terlalu mengada-ada. Jangan berprasangka yang tidak-tidak. Jelas-jelas mereka akan datang untuk membantu pertanian kita,” sergahnya dengan perasaan yakin.
”Itu hakmu. Terserah kamu menilai program ini. Yang penting saya tidak setuju,” kata Jarwo mengakhiri perdebatan kecil dengan Muis.
***
Para warga berjajar rapi di sepanjang jalan. Mereka berdiri saling berhimpitan. Para warga dari berbagai usia rela berpanas-panasan untuk menyambut kedatangan rombongan tamu agung. Mereka bernyanyi, bersorak, dan beryel-yel untuk menunjukkan kekompakan kepada kepala daerah dan rombongan orang-orang kota. Kepala daerah yang didampingi para pejabat lainnya tak mau ketinggalan. Mereka berdiri di gerbang pendopo. Subroto dan para pengawal berbaur dengan warga lainnya menyambut kehadiran orang-orang andalan program ini.
Sirine patwal yang mengawal tamu agung terdengar dari kejauhan. Para warga berdesak-desakan. Mereka yang berdiri di lapis kedua barisan menyelinapkan kepalanya di sela-sela himpitan orang-orang di depannya. Mereka melihat langsung rombongan tamu agung yang sebentar lagi akan melintas di depannya. Tak lama kemudian iring-iringan mobil semakin mendekat. Rombongan orang-orang dalam mobil itu berhenti di depan pendopo.
Di pintu gerbang pendopo, Subroto didampingi para pejabat daerah lainnya berdiri. Para pejabat itu memberi sambutan hangat pada kedatangan mereka. Subroto dan para pegawainya membawa beberapa rangkaian kalung bunga. Mereka siap mengalungkan bunga kepada para tamu.
Dari mini bus bewarna hitam, turunlah lima lelaki berpakaian resmi. Mereka bergerak menuju pendopo. Subroto yang didampingi wanita yang membawa baki berisi kalung bunga. Dia mengalungkan bunga satu per satu kepada para lelaki itu sebagai ucapan selamat datang di daerahnya.
Para warga yang memadati pendopo duduk di kursi plastik. Mereka menunggu sambutan dari para pejabatnya. Mereka ingin mengetahui dan mengenal lebih dalam tentang program-program yang dibawa oleh kaum pendatang.
Jarwo duduk di kursi paling belakang. Ia menyimak paparan program yang disampaikan oleh pihak pejabat dan orang-orang itu. Jarwo yakin dalam program-programnya terselip upaya untuk menguasai kehidupan warga daerah ini. Mereka tidak mungkin datang dan tinggal berlama-lama di daerah ini tanpa ada tujuan tersembunyi.
Muis yang duduk di kursi terdepan menoleh ke arah Jarwo. Dia memanggil Jarwo sambil menujuk ke kursi kosong di sebelahnya. Jarwo menggelengkan kepala. Saat ini ia hanya berpartisipasi saja agar tidak kelihatan ketidaksetujuannya pada program mereka.
Subroto sebagai kepala daerah memberi sambutan selamat datang kepada kaum pendatang. Sambutannya berapi-api. Subroto yakin para kaum pendatang akan membawa perubahan di daerahnya. Dalam sambutannya,  ia membayangkan kehidupan warganya makmur, sejahtera, dan bergaya hidup modern. Pertanian mereka akan lebih maju karena sentuhan tangan dingin orang-orang yang didatangkannya. Para warga yang mendengarkan pidato kepala daerah yang berapi-api ini menyambutnya dengan riuh tepuk tangan. Para warga mengelu-elukan kaum pendatang. Mereka memberi sanjungan yang luar biasa kepada orang-orang itu.
”Aku tidak yakin hal itu akan terwujud. Kesengsaraanlah yang akan dirasakan oleh warga daerah ini nantinya,” gerutu Jarwo.
Para warga yang semula duduk tenang mendadak berdiri semua. Mereka ingin melihat sosok pemimpin rombongan yang akan berpidato setelah pemandu acara mempersilakannya.
”Hadirin diharap tenang dan duduk kembali,” pinta pemandu acara lewat pengeras suara.
Warga pun menurut. Mereka kembali duduk dengan tenang. Mereka diam sambil mendengarkan paparan program yang akan mereka lakukan selama tinggal di daerah ini.
Pidato ketua kaum pendatang ini lebih bersemangat. Isinya lebih menyentuh hati warga. Rupa-rupanya dia orator ulung yang mampu memengaruhi dan mengusai pendengarnya. Alhhasil, setiap laki-laki pendatang itu memberi jeda pada sambutannya, gemuruh tepuk tangan dan yel-yel ’hidup kaum pendatang’ menggema dan memenuhi pendopo daerah ini. Para warga seperti terhipnotis oleh isi sambutannya. Setelah memberi sambutan, mereka pun berebut berjabatan tangan dengan sang ketua rombongan ini. Para warga yakin program-program yang telah dipaparkan kaum pendatang akan membawa kesejahteraan warga sehingga mereka bisa hidup lebih makmur dan lebih modern.
***
Setahun sudah program ini berjalan. Akan tetapi, program-program ini belum memberikan dampak perubahan pada kehidupan warga petani. Yang terjadi saat ini malah keluh-kesah dari warga yang dulu mengelu-elukan orang-orang itu. Mereka merasa tidak bisa bebas bekerja karena serba diatur dengan dalih teori pertanian modern. Mereka tidak bisa bertani dengan menerapkan cara lama yang sudah mereka jalani semenjak hidup di daerah ini. Orang-orng itu telah menggantinya dengan cara dan alat pertanian baru serta modern. Hal inilah yang membuat warga merasa mati kutu dan tidak bisa bebas berkreasi sebagaimana sebelum-sebelumnya.
Orang-orang pintar itu mendatangkan alat pertanian modern. Semua alat tradisional pengolahan sawah yang mereka miliki seperti bajak, sabut atau alat memanen padi secara manual sekarang tidak berfungsi lagi. Para warga yang berprofesi sebagai petani hanya duduk dan melihat orang-orang itu sedang mengoperasikan alat-alat modern karena warga tidak mampu mengoperasikannya. Mereka tinggal duduk-duduk menunggu dan mengawasi alat-alat modern pemanen padi di pematang sawah sambil menikmati rokok dan kopi. Mereka takjub. Mereka heran karena pekerjaan memanen padi yang biasanya mereka lakukan membutuhkan waktu sehari atau setengah hari. Dengan alat panen modern itu hanya dalam hitungan jam, bahkan kurang satu jam padi mereka sudah ludes dan masuk dalam kemasan karung.
Muis, pemuda asli daerah ini, dipercaya oleh mereka untuk mengordinir biaya operasional panen warga. Teman Jarwo itu mendata nama-nama para pemilik sawah yang telah dipanen menggunakan jasa mereka. Para petani dikenakan biaya panen per bidang sawahnya satu juta rupiah. Para warga terkejut. Mereka keberatan dengan biaya segitu. Mereka menganggap ini adalah penindasan.  
”Ini terlalu mahal, Muis. Ini penindasan, pemaksaan,” keluh salah satu petani.
”Kalau dihitung-hitung, ya, tidak mahal. Pekerjaan kalian sudah diringankan oleh mereka. Kalian tidak perlu turun ke sawah berlepotan lumpur. Kalian tinggal melihat dan membawa hasil panen ke rumah atau ke para tengkulak,” kata muis menjawab keluhan para petani yang merasa dibodohi.
”Tidak. Kami sepakat tidak mau membayarnya bila tetap dengan biaya sebesar itu. Apabila kami membayar biaya sebesar itu, kami tidak mendapatkan untung. Bahkan, kami rugi karena biaya pengolahan dan perawatan padi kami sudah tinggi,” protes salah satu perwakilan petani yang didukung oleh petani lainnya.
Muis tidak berkutik. Ia tidak mampu menampung protes yang dilakukan oleh warga. Muis pun pergi menjauh dari petani yang tetap menolak membayar biaya panen. Dia akan melaporkan hal ini kepada pemimpinnya.
***
Orang-orang itu mendatangi para warga. Mereka masuk dari rumah satu ke rumah lainnya untuk menagih hutang para warga yang belum mau dibayar.
”Kamu saya beri waktu dua hari lagi untuk membayar biaya panen. Apabila sampai hari itu kamu masih tidak mau membayar, kamu akan saya polisikan,” ancam salah satu dari mereka kepada Mukidin yang bersikukuh tidak mau membayarnya.
”Dasar penjajah, penindas. Kalian penghisap rakyat. Dan Kau, Muis, jangan hidup di daerah kami. Pergilah bersama mereka meninggalkan daerah ini dan jangan kembali lagi,” sambung Mukidin.
Kehidupan rakyat semakin menderita. Mereka semakin sengsara. Para warga tidak bisa bekerja seperti biasanya. Mereka terikat kontrak perjanjian kerja sama dengan orang-orang yang didatangkan oleh Subroto, kepala daerahnya. Mereka dibina, diberi penyuluhan pertanian, serta dipinjami dana. Namun, setelah panen para warga harus membayar orang-orang itu dengan biaya yang sangat tinggi.
Jarwo, pemuda desa yang sejak awal tidak setuju dan mencurigai program ini, diam-diam mulai bergerak. Ia ditemani para ketua kelompok tani mendatangi polres setempat. Mereka melaporkan ada kejanggalan dan ketidakberesan pada program ini sambil membawa data pendukung yang lengkap sebagai bukti.
Keesokan harinya para warga dihebohkan oleh pemberitaan di media massa. Subroto, kepala daerah mereka, terkena operasi tangkap tangan atau OTT KPK. Subroto ditangkap di sebuah rumah makan saat menerima uang setoran dari para penindas rakyat itu. Penjajah kaum petani daerah ini.
Setelah para penghisap keringat warga itu ditahan KPK dan meringkuk di tahanan, warga tenang kembali. Mereka berkerja di sawah tanpa ada tekanan dari pihak mana pun. Mereka bebas mengolah sawah sendiri dan menikmati hasil panen sendiri tanpa bergantung kepada kaum pendatang. (*)
Lamongan, Maret 2018

*Cerpenis tinggal di Pucuk, Lamongan, Jawa Timur

















Senin, 23 April 2018

Mat Tompel, Pemimpin Tanpa Kursi (Jawa Pos grup, Radar Bojonegoro, Minggu, 22 April 2018)


Mat Tompel, Pemimpin Tanpa Kursi
Cerpen Ahmad Zaini

Mat Tompel. Nama aneh bagi sebagian warga. Entah siapa yang pertama menyebut lelaki yang punya kepedulian tinggi pada kehidupan warga ini dengan sebutan tersebut. Padahal, nama aslinya Ahmad Khoiruz Zaman. Mungkin saja warga menyebutnya dengan panggilan itu karena di kampung ini banyak warga yang dipanggil dengan sebutan Mat. Akhirnya, warga sepakat dengan panggilan Mat Tompel sesuai dengan ciri fisiknya. Kebetulan di pipi sebelah kanan Ahmad Khoiruz Zaman ini ada tompel bundar seperti uang logam.
Mat Tompel tak pernah memersalahkan sebutan yang tersemat pada dirinya. Meskipun, setiap hari ribuan bahkan puluhan ribu orang menyebutnya dengan nama Mat Tompel. Lelaki ini tidak pernah menuntut mereka ke pengadilan.
Mat Tompel orang yang kaya raya di kampung ini. Sawah dan pekarangannya tersebar di berbagai daerah. Dia juga memiliki beberapa rumah di kota yang dikontrakkan kepada para pegawai kantor dan pekerja pabrik. Mat Tompel tidak pernah turun ke sawah. Dia juga tidak pernah bekerja di pekarangannya. Dia tidak pernah sibuk mengurus rumah kontrakannya. Setiap hari ia hanya ongkang-ongkang kaki di rumah. Mat Tompel saban pagi sampai sore hanya cangkruan bersama warga di gazebo di halaman rumahnya yang luas.
Nama Mat Tompel terkenal di seantero daerah. Semua orang, mulai anak-anak, remaja, dewasa, sampai mereka yang berusia renta mengenal sosok yang satu ini. Hal ini tidak terlepas dari kekayaan yang dimilikinya serta sifat kedermawanannya kepada warga. Mat Tompel sosok yang tidak pelit dan senang  membantu warga yang membutuhkan uluran tangannya.
Rumah Mat Tompel berada di tengah perkampungan. Rumahnya sederhana. Berdinding kayu dan berlantai tanah. Tanpa keramik dan marmer. Di ruang tamu tidak terlihat kursi atau sofa mewah. Di ruang yang biasanya digunakan menyambut tamu dari berbagai daerah ini hanya tergelar karpet warna merah polos. Sedangkan di ruang tangah rumahnya hanya terlihat kursi kayu panjang yang bisa digunakan duduk lima sampai sepuluh orang serta meja kayu tanpa taplak meja.
Setiap hari puluhan warga keluar-masuk rumah Mat Tompel. Warga yang terdesak kebutuhan datang ke rumahnya untuk sekadar meminta bantuan baik bahan makanan atau uang. Mereka yang datang ke rumah Mat Tompel tidak ada yang kembali dengan tangan hampa. Warga yang datang pasti pulang dengan membawa buah tangan dari Mat Tompel.
”Mat, saya butuh beras buat buwoh ke rumah Kamson,” kata Rojali yang datang menghadapnya dengan tiba-tiba.
”Butuh berapa karung?” tanya Mat Tompel.
”Tidak banyak. Mungkin hanya sekarung beras sembako,” timpal Rojali dengan nada ringan.
”Masuk dan mintalah pada Parmin. Sampaikan kepadanya saya yang menyuruh,” kata Mat Tompel yang diikuti anggukan Rojali.
Tak lama berselang, Rojali keluar dengan memanggul beras sekarung sembako.
”Terima kasih, Mat!”
Suatu hari juga pernah ada wanita setengah tua datang ke rumah Mat Tompel. Dia menghadap kepada Mat Tompel dengan derai air mata. Wanita setengah tua itu menangis sesenggukan di depannya.
”Kenapa, Yuk? Apa yang membuatmu menangis seperti ini? Bukankah kemarin semua hutangmu sudah kulunasi?” tanya Mat Tompel kepada wanita setangah tua yang bersimpuh di depannya itu.
”Karena itulah saya datang lagi sambil menangis. Saya sebenarnya malu akan minta uang lagi padamu karena kemarin sudah kauberi,” terang wanita setengah tua itu.
”Jangan berkata seperti itu. Setiap kau butuh uang, datang saja ke sini! Memang butuh berapa dan buat apa?” tanya Mat Tompel sambil menepuk pundak wanita setengah tua tersebut.
”Anak saya disuruh pulang oleh kepala sekolahnya. Saya belum bisa melunasi keuangan sekolahnya karena uang yang kauberi kemarin kugunakan membayar hutang pada Yuk Tarmi dan Mat Sodron. Anakku akan ujian nasional besok pagi. Dia belum mendapat nomor ujian. Dia akan diberi nomor peserta ujian oleh sekolah apabila semua tunggakan keuangannya dilunasi,” kata wanita setengah tua itu menjelaskan permasalahannya kepada Mat Tompel.
”Silakan masuk! Menghadaplah ke Tuminah dan sampaikan keperluanmu. Katakan kepadanya saya yang menyuruh,” pinta Mat Tompel.
Setelah mengikuti perintah Mat Tompel, sedetik kemudian wanita setengah tua itu keluar rumah dengan wajah yang ceria. Dia menimang-nimang bungkusan uang yang diberi Tuminah, adik Mat Tompel.
”Terima kasih, Mat! Terima Kasih! Semoga Pengeran membalas kebaikanmu!” ujar wanita setengah tua itu sambil berpamitan meninggalkan Mat Tompel yang masih bersantai-santai di gazebo rumahnya.
***
Ribuan orang datang ke rumah Mat Tompel pada suatu siang. Mereka membawa aneka poster menuntut Mat Tompel agar bersedia maju sebagai kepala daerah. Mereka mengelu-elukan Mat Tompel sebagai sosok yang pantas memimpin daerahnya. Mereka menganggap Mat Tompel sebagai sosok yang bersahaja, memunyai jiwa sosial tinggi, peduli pada rakyat kecil meski dia tergolong orang yang kaya raya.
”Hidup Mat Tompel!” teriak salah satu dari mereka.
”Hiduuuppp!” sahut yang lain.
Mat Tompel meletakkan secangkir kopi yang ketika itu masih menempel di bibirnya. Ia berdiri sambil membenahi sarungnya yang agak kedodoran. Dengan didampingi Parmin dan Tuminah, Mat Tompel menemui ribuan warga yang membentangkan aneka poster di halaman rumahnya.
”Ada apa ini?” tanya Mat Tompel sambil membaca dalam hati tulisan di poster yang dibentangkan oleh warga.
”Yang terhormat Bapak Mat Tompel. Dengar dan kabulkan suara kami. Ini suara rakyat yang menghendaki agar Bapak Mat Tompel bersedia mencalonkan diri sebagai kepala daerah di sini,” kata salah satu warga sambil menyodorkan kertas yang berisi tuntutan kepada Mat Tompel.
Lelaki hartawan dan dermawan ini hanya tersenyum. Dia geli dan ingin tertawa lepas mendengar tuntutan warga.
”Kalian ini aneh. Orang seperti saya apakah pantas sebagai pemimpian kalian?” tanya Mat Tompel.
”Pantas. Bapak Mat Tompel sangat pantas dan layak menjadi pemimpin kami,” jawab mereka dengan serentak.
”Emoh. Untuk kali ini saya tidak mengabulkan permintaan kalian. Saya tidak mau jadi pemimpin. Sampai kiamat pun saya tidak mau mencalonkan diri dalam pilkada ini. Enak jadi rakyat. Bisa ngopi, cangkruk, dan bisa membantu sesama tanpa dikejar-kejar KPK dan wartawan,” kata Mat Tompel.
”Pokoknya Bapak Mat Tompel adalah pemimpin kami,” tegas salah satu warga yang menerobos pagar hidup untuk sekadar menyampaikan aspirasinya.
”Itu terserah. Saya tidak bisa melarang kalian mengangkatku jadi pemimpin. Tapi –.”
”Tapi apa Pak Mat?”
”Saya tidak punya kursi,” jawab Mat Tompel dengan lugas.
”Kami punya kursi banyak di rumah. Pak Mat boleh mengambilnya,” sahut tiga lelaki sambil menunjukkan jarinya lalu disambut tawa oleh warga.
”Meski Pak Mat tidak punya kursi, kami tetap mengakui Pak Mat Tompel sebagai pemimpin kami,” desak salah satu dari mereka untuk menegaskan tuntutannya.
”Terserah. Yang penting sekarang kalian pulang dulu. Saya akan menghabiskan kopiku yang masih separuh. Eman!” sambung Mat Tompel yang kembali ke tempat duduk semula untuk mengambil kopinya.
Mat Tompel menyeruput kopi pahit kesukaannya sambil melihat para warga yang perlahan membubarkan diri.
Tiga minggu sebelum aksi ribuan warga di rumah sederhana itu, Mat Tompel juga pernah didatangi beberapa petinggi partai. Mat Tompel ditawari agar mau menjadi calon kepala daerah dari partai mereka. Lagi-lagi Mat Tompel menolak meski partai yang menawarinya itu partai besar yang memiliki massa yang banyak. Andai Mat Tompel mau menerimanya, bisa dipastikan dia akan terpilih menjadi pemimpin selama lima tahun ke depan.
Mat Tompel bersama sebagian warga duduk di gazebo depan rumahnya. Mereka mengobrol ke sana kemari sambil menikmati kopi. Mereka tidak memedulikan pembicaraan warga yang menilai dirinya konyol karena menolak tawaran dicalonkan sebagai pemimpin daerah. Hal terpenting dalam hidup Mat Tompel adalah dia berusaha agar bisa memberikan manfaat kepada orang lain. Itu saja tanpa yang lain. (*)

Wanar, April 2018