Jika Kau Bukan Anak Raja, Juga Bukan Anak Ulama Besar, maka Menulislah

Minggu, 28 April 2019

Ema-Emak Perkasa, Cerpen Jawa Pos Grup Radar Bojonegoro, Minggu, 28 April 2019


 Emak-Emak Perkasa
Cerpen karya Ahmad Zaini

Fajar pagi baru tiba. Warna jingga masih menggores langit yang masih meremang. Kabut tebal belum melepas dekapannya pada kampung petani, sebutan kampung yang berada di bantaran Bengawan Solo ini. Demikian juga embun. Butir-butirnya masih terlihat bening menempel di rerumput sepanjang jalan. Kaki-kaki tanpa alas yang melintas dan menyapu butiran embun, akan terasa dingin dan segar. Konon embun pagi itu bisa digunakan sebagai terapi penyakit linu.
Kampung petani masih lengang. Jalanan masih sepi. Binatang peliharaan warga juga masih ditahan di kandang. Mereka belum berani melepas ayamnya karena khawatir kokoknya mengganggu tetangga yang masih tidur pulas. Kambing-kambing juga masih terikat di kandang. Binatang yang dapat digunakan sebagai kurban Idul Adha itu juga belum dipindah ke luar kandang. Pemilik kambing takut embiknya bisa membangunkan anak-anak yang masih meringkuk di bawah ketiak ibunya.
Meski matahari belum muncul, terlihat iringan emak-emak menyusur jalan kampung yang masih petang menuju ke sawah. Mereka bercakap-cakap dan sesekali disertai dengan bergurau. Dengung percakapan mereka terdengar seperti dengung kawanan lebah yang mengerubuti mekar bunga di kanan-kiri jalan yang dilaluinya.
”Yuk Jah, kekurangan wineh di sawah Gus Jan kemarin bagaimana?” tanya Kasri sambil berjalan akas.
”Sudah tercukupi Yuk Sri. Diambilkan wineh dari tampekan Gus Suto,” jawab Senijah yang giginya masih gemeretak menggilas marning yang memenuhi mulutnya.
Percakapan mereka terus mengalir dan baru berhenti ketika kaki-kaki mereka menginjak lumpur di pesawahan, tempat mereka akan tandur.
Di sawah terlihat dengan samar sosok lelaki yang sedang tempah. Tangan kekarnya mengangkati wineh, lalu membanjarnya dengan rata di hamparan sawah. Hal ini dilakukan agar nanti para emak yang tandur bisa dengan mudah menjangkau wineh-wineh yang sudah tersedia di dekatnya.
Sosok lelaki yang tak lain adalah pemilik sawah itu menghampiri emak-emak yang baru tiba di sawahnya. Dia mengecek emak-emak perkasa yang sudah datang dan siap bergelut dengan lumpur di sawahnya.
”Sudah lengkap dan siap tandur, Gus,” jawab Senijah yang masih sibuk membungkus tangannya dengan kaos kaki bekas milik anaknya.
”Syukurlah. Bila nanti kekurangan wineh, supaya lapor ke saya,” pesan lelaki itu.
”Sampean mau ke mana?” sambung Kasri.
”Yo, tidak ke mana-mana,” jawab lelaki itu dengan enteng.
”Walah, kalau tidak ke mana-mana, yo nggak usah lapor-laporan,” celetuk Supateni yang sedang memakai sepatu khusus dirancang untuk mengamankan kakinya dari cangkang keong sawah atau besusul.
Lelaki pemilik sawah itu menepi. Dia duduk di pematang sambil menyeruput sebungkus kopi yang dibelinya dari warung kopi Yuk Jaenah.
Tanpa dikomando, para emak-emak itu langsung terjun ke sawah. Mereka bertarung dengan lumpur untuk menandur wineh di lahan sawah berlumpur dan berair tipis. Mereka bekerja dengan giat tak mengenal lelah. Mereka tidak pernah mengeluh kecapekan. Mereka setiap hari bekerja sebagai tenaga tandur di sawah orang lain tanpa pernah berhenti. Mereka bekerja untuk membantu suami mencari nafkah agar dapur terus bisa mengepul.
Para emak ini tidak pernah gengsi. Meskipun pekerjaan ini tergolong berat, mereka tidak pernah iri pada suaminya. Mereka tidak mau berdiam diri di rumah menunggu suami pulang kerja. Mereka tidak mau disebut sebagai istri yang hanya bisa menerima, lalu menghabiskan uang belanja pemberian suaminya. Mereka ingin mendapatkan penghasilan sebagaimana suami-suami mereka. Mereka melakukannya dengan penuh keikhlasan.
Para emak sangat menyadari bahwa kebutuhan hidup zaman sekarang sangat tinggi. Bila tidak bisa mengatur pengeluaran, berapa pun uang yang diberi suami akan habis dalam waktu sehari, bahkan dalam hitungan jam. Makanya, emak-emak perkasa ini tidak pernah menolak bila ada orang yang mengajak kerja tandur di sawah.
Kedua tangan para emak terampil bekerja. Tangan kiri memegang wineh, tangan kanan menancapkannya pada lahan sawah yang berlumpur dan berair tipis. Mereka menandur wineh dengan berjalan mundur. Mereka menandur wineh satu demi satu dengan lurus tanpa bantuan benang yang dibentangkan dari satu titik ke titik berikutnya karena sudah terbiasa melakukannya.
Matahari pagi sudah beranjak tinggi. Sinar hangatnya menambah semangat emak-emak bekerja. Tangan-tangan mereka semakin perkasa, semakin cekatan menandur wineh di hamparan sawah.
”Sepertinya wineh yang kita genggam ini kurang. Persediaan yang ada ini akan habis dalam sekali jalan,” lapor Senijah pada lelaki pemilik sawah dengan setengah berteriak.
”Kurang berapa larik?” lantang suara lelaki itu menanyakan kekurangan wineh dari pematang sawah.
”Kurang lima larik,” teriak Senijah menimpali pertanyaan lelaki itu.
Tanpa basa-basi lelaki itu bangkit dari pematang. Dia bergegas menuju tampekan yang berada di sudut sawah. Ia ndaut wineh dengan cepat sekali. Tidak sampai sepuluh menit, wineh-wineh itu sudah tercerabut dari tampekan. Laki-laki itu mengikat lalu mengantarkan wineh ke para emak yang masih sibuk tandur.
”Matur suwun, Gus! Kembalilah ke pematang menyeruput kopi yang masih tersisa!” seloroh Supateni.
”Seruput apanya? Kopi sudah habis,” sahut lelaki itu sambil meninggalkan mereka yang masih bekerja. Di pematang lelaki itu duduk sambil melihat tanduran yang hampir rata berdiri di sawahnya.
Para emak hampir menyelesaikan tugasnya. Mereka tinggal membutuhkan sekali jalan lagi untuk merampungkannya. Wajah-wajah mereka tetap semringah menantang sinar matahari yang mulai terasa panas. Tatapan matanya penuh semangat sebagaimana sinar matahari siang itu yang tak meredupkan sinarnya menerangi bumi. Gurat wajahnya tak sedikitpun menyiratkan aura kecapekan atau kekesalan. Mereka dengan senang hati bekerja demi membantu suami untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Tekad mereka adalah untuk menghapus kesan bahwa istri bisanya hanya menengadahkan tangan untuk menerima nafkah dari suami. Mereka ingin menujukkan bahwa wanita bukanlah manusia lemah. Wanita juga bisa bekerja dan punya penghasilan seperti para lelaki.
”Sudah selesai?” tanya lelaki itu saat melihat para pekerjanya sudah mentas  dari sawah.
”Sudah, Gus,” jawab mereka serentak.
”Beristirahatlah dulu di bawah pohon trembesi itu sambil menunggu kiriman istri,” pinta lelaki itu.
”Iya, iya,” sahutnya.
Para emak itu berjalan menuju kubangan air yang bening. Mereka membersihkan kaki dan tangannya dari balutan lumpur. Setelah kaki dan tangan bersih, mereka meninggalkan kubangan yang kini airnya berubah keruh menuju tempat yang ditunjuk oleh pemilik sawah. Mereka duduk di bawah pohon trembesi yang berdaun rindang seperti payung.
Di bawah pohon trembesi emak-emak ini beristirahat. Mereka duduk-duduk sambil membahas jadwal kerja berikutnya. Biasanya mereka dalam sehari bisa bekerja di dua tempat yang berbeda. Pagi di sawah si A, siangnya di sawah si B. Mereka tidak pernah berhenti tandur sampai musim tandur sudah selesai.
Bila lapangan kerja sebagai tenaga tandur sudah habis masa ’kontrak’, mereka tidak lantas menganggur begitu saja. Mereka akan mencari peluang kerja baru. Misalnya, saat tanduran padi di sawah sudah mengakar dan tumbuh subur, biasanya gulma berupa rumput-rumput liar akan bermunculan. Mereka pun beralih pekerjaan dari tenaga tandur menjadi tenaga matun. Mereka akan menerima tawaran matun dari para petani yang kuwalahan menyiangi rumput liar sendirian di sawahnya.
”Yuk, kemarilah! Ayo, makan bersama-sama!” ajak istri lelaki yang baru tiba di gubuk sawah..
Para Emak-emak itu bergegas menuju gubuk untuk makan siang. Mereka menikmati menu nasi jagung, sayur lodeh, dan lauk tahu serta ikan pindang. Menu yang sangat cocok untuk mengusir jenuh karena sedari pagi sampai siang mereka bergelut dengan lumpur sawah.
Setelah makan siang, lelaki itu  menghampiri emak-emak. Dia menyampaikan ucapan terima kasih sambil memberikan amplop berisi uang sebagai upah kepada mereka.
Usai makan dan menerima upah dari lelaki tersebut, emak-emak berpindah tempat ke sawah lain yang jaraknya tidak jauh dari sawah lelaki itu. Mereka telah dipesan tenaga tandurnya oleh Tarmijo pada dua hari yang lalu. (*)

*Penulis merupakan guru di SMK Negeri 1 Lamongan
Buku kumpulan cerpen terbarunya berjudul Tadarus Hujan (Februari, 2019)
Dia tinggal di Wanar, Pucuk, Lamongan











Kamis, 07 Maret 2019

Puisi-Puisi di Jawa Pos grup (Radar Bojonegoro), 24 Februari 2019


GERBANG PERTAMA

ceritcit sekawanan burung
terdengar nyaring dari rindang dedaun
merdu menghibur perjalananku

kabut lembut merangkul senyum
turut bahagia menuju tempat baru

o, senyum matahari
di gerbang pertama

Lamongan, Februari 2019

KARENA TEKAD

tak terkira betapa mesra alam
dalam perjalanan
jalan lubang
tak menjadi penghalang
rintik hujan
tak menjadi ujian
mata layu
tak manja merayu 

aku tegak masuk
di alam penuh pesona

Lamongan, Februari 2019

SENAM IRAMA

pagi pertama
diiring musik ceria
olahraga dan olahrasa
menjadi sajian gembira
kala embun belum kering sempurna

derap kaki
gerak badan
bergoyang seirama

peluh kepuasan
sehat terasakan
berpuluh wajah
tersenyum riang

Lamongan, Februari 2019


SEKUNTUM BUNGA

ada yang tertinggal
di setapak jalanku
sekuntum bunga layu
tak sempat mekar
tak menyerbak wangi
di pelataran sebuah ruang

aku kembali memutar waktu
kubelai iba
kusiram manja

bunga-bunga
kembali segar
memandang matahari
jelang siang

Lamongan, Februari 2019

TERIMA KASIHKU
       :buat SMKN 1 Lamongan

Terima kasihku padamu
telah menyambutku
di pelabuhan baru

meski tanpa ombak
air tenang itu
cukup menghanyutkan diriku
menyatu bersamamu

kukingat selalu
uluran tangan penyambutanmu

meski tanpa kalungan bunga
semerbaknya telah memabukkan rinduku
gembira bersama mekarmu

mimpiku kaubawa
ke alam nyata

Lamongan, Februari 2019


Ahmad Zaini, lahir di Lamongan, 7 Mei 1976. Beberapa puisi dan cerpennya pernah dimuat di berbagai media massa. Penulis yang baru saja meluncurkan buku kumpulan cerpen Tadarus Hujan ini berdomisili di Wanar, Pucuk, Lamongan.



Minggu, 13 Januari 2019

Veteran Perang


Veteran Perang
Cerpen karya Ahmad Zaini

Mbah Karpen berbaring di atas dipan dari bahan bambu. Ia kembali menyelimuti tubuh rentanya dengan sarung kusam usai menjalankan salat subuh. Dua bantal digunakan menyangga kepalanya agar mudah bangun jika hendak memerlukan sesuatu. Mata sayu karena dia terjaga sejak pukul dua, menatap kerangka atas rumahnya. Sinar matahari yang kian terang menerobos celah genting memaksanya bangkit dari pembaringan. Mbah Karpen melihat secangkir kopi di atas meja. Rupanya Sulasiyem, anaknya, yang telah menyediakannya sebelum berangkat ke sawah.
Tangan renta berkulit keriput agak gemetar meraih secangkir kopi. Mbah Karpen bersusah payah untuk sekadar mendekatkan bibir cangkir ke bibirnya yang menghitam dan kering. Keinginan kuatnya mendaratkan kopi di mulutnya akhirnya berhasil. Ia menyeruput kopi pahit buatan anaknya.
”Kamdulillah!” ucap syukur terdengar tak sempurna sembari tangan kirinya mengusap sisa kopi yang melekat di bibir.
Mbah Karpen meletakkan secangkir kopi di atas meja. Lelaki renta veteran ini menyisakannya untuk diminum pada siangnya. Dia tidak ingin merepotkan anaknya yang telah menjanda sejak puluhan tahun silam.
”Blummm!” gelegar suara terdengar dari luar rumahnya.
Mbah Karpen menahan gerakan tubuhnya yang hendak direbahkan di pembaringan. Sisa-sisa gerak saat masih aktif menjadi pejuang masih kental. Dia berdiri tegap meski sudah tak segagah dulu. Bebet sarung dikencangkan. Ia berjalan tertatih ke arah pintu depan. Sesampai di pintu, Mbah Karpen melihat bendera merah putih yang baru dua jam dipasang Sulasiyem.
Tubuh renta Mbah Karpen yang semula di sandarkan padan kusen pintu seketika berdiri pada posisi siap. Tangan kanan keriputnya diangkat perlahan lalu melakukan sikap hormat pada sang saka merah putih.
”Hormat, gerak!” katanya lirih.
”Blummm!” suara itu lagi dari kejauhan.
Mbah Karpen kaget. Ia bergegas mendekat ke almari di samping pembaringannya. Kedua tangannya memilah-milah tumpukan lipatan baju dengan gemetar. Dia mencari pakaian perang yang  pernah dikenakan sewaktu pertempuran merebut kemerdekaan.
Mbah Karpen ke ruang belakang. Dia melihat sebatang bambu penahan pintu dapur rumahnya. Dia mengambilnya sebagai senjata perang meski meski bambu tersebut digunakan anaknya sebagai penahan pintu bambu rumahnya.
Mbah Karpen berjalan keluar dengan pakaian dan peralatan perang. Tangan kanannya mengepal ke udara sambil memekikkan kata ’merdeka’. Kedua kaki yang sudah tak tegak berjalan menyusuri jalan kampung yang berdebu. Ia mencari suara yang mirip dentuman meriam penjajah kala perang merebut kemerdekaan.
Matahari telah merangkak tinggi. Debu di tengah jalan diterpa angin siang hingga terbang ke sana kemari. Mbah Karpen tetap berjalan menembus hempasan angin bercampur debu itu. Dia tidak memedulikan butiran debu menampar wajah keriputnya. Veteran perang yang sudah berusia lanjut ini berjalan mengendap-endap. Matanya manatap teliti menyapu semua yang terhampar di depannya. Ia tidak melihat satu orang pun di depannya. Jalan itu sepi. Maklumlah, siang itu sebagian besar warga masih bekerja di sawah. Mereka belum ada yang pulang.
”Blummm!” dentuman suara yang mirip meriam itu terdengar lagi.
Mbah Karpen sembunyi di balik pagar hidup rumah Kastawi. Dia tiarap sambil memoncongkan bambunya ke arah suara. Ia siaga dan siap menancapkan bambu runcingnya ke musuh bila sewaktu-waktu mereka muncul dari arah depannya.
Tubuh renta Mbah Karpen bergerak pelan. Ia merayap di tanah. Dia mengintai musuh yang hingga kini belum muncul. Peci yang hampir jatuh dikenakan lagi. Kacu leher merah putih diikatkan kencang. Ia bergerak seperti buaya di atas rerumput kering di balik pagar tanaman beluntas. Sebotol air yang terselip di pinggangnya dibuka. Ia meneguk air putih yang diisi dari gentong menjelang keberangkatannya ‘berperang’. Setelah dirasa aman dan tak ada musuh, Mbah Karpen muncul dari pagar rumah Kastawi.
Mbah Karpen melanjutkan perjalanan. Dia mengelilingi jalan kampung untuk mencari musuh. Ketika melintas di atas jembatan, Mbah Karpen dikejutkan suara dentuman itu lagi. Dia lantas terjun ke kali yang berlumpur dan berair tipis .
Separuh tubuh renta Mbah Karpen dibenamkan di dalam lumpur berair tipis di bawah jembatan. Dia menelungkup sambil mengangkat kepala agar matanya bisa melihat musuh yang sewaktu-waktu datang.
Dari kejauhan dia mendengar deru suara mobil. Mbah Karpen yakin bahwa itu adalah suara truk yang mengangkut tentara musuh. Suara truk itu semakin lama semakin dekat. Sebentar lagi truk itu akan melintas di jembatan kayu persembunyian Mbah Karpen.
Truk itu berhenti sebelum melintasi jembatan. Mesinnya masih mengeluarkan bunyi bising memekakkan telinga. Dua orang turun dari truk untuk mengecek kondisi jembatan kayu.  Setelah itu, kedua orang tersebut naik ke truk lagi.
Truk bergerak pelan. Pengangkut drum kosong minyak tanah dari toko Pak Munjali ini melintas jembatan dengan hati-hati. Saat posisi truk tepat di atas jembatan, rodanya melindas batu sebesar kepalaan tangan orang dewasa. Batu itu jatuh lewat celah jembatan kayu lalu  mengenai punggung Mbah Karpen yang masih bertiarap di bawah jembatan.
”Aduh, punggungku tertembak musuh,” ucap Mbah Karpen sambil menyengir kesakitan.
Lelaki tua dan sudah pikun ini mengangkat tubuhnya yang terbenaman di dalam lumpur berair tipis di bawah jembatan. Dia bergeser mendekat ke tiang penyangga jembatan. Dia menyandarkan tubuhnya pada kayu penyangga itu sambil menunggu bantuan relawan medis peperangan.
***
Sulasiyem datang dari sawah. Dia menyangkutkan caping lebar di tiang emper rumahnya. Sulasiyem masuk rumah lewat pintu belakang. Tangannya merogoh penahan pintu dari celah gedek atau dinding bambu. Tangannya tidak menyentuh benda yang dimaksud. Pintu yang biasanya ditahan dengan sebatang bambu itu dapat dibuka dengan mudah.
”Pak, Pak!” Sulasiyem memanggil-manggil bapaknya.
Rumah sepi. Tak ada sahutan jawaban Mbah Karpen seperti biasanya. Sulasiyem lantas menuju ke dipan bambu, pembaringan bapaknya. Dipan kosong. Mbah Karpen tidak ada di situ. Sulasiyem lantas keluar rumah dengan panik. Dia menjinjing jariknya sambil memanggil-manggil bapaknya. Hingga matahari lingsir ke barat, veteran perang yang telah pikun ini belum juga ditemukan.
Sulasiyem tidak berputus asa. Dia tetap mencari bapaknya di seantero kampung. Sulasiyem menanyakan keberadaan bapaknya pada semua orang yang dijumpai. Akan tetapi, tak satu pun dari mereka yang mengetahui keberadaan bapaknya.
Setelah sampai sore gagal menemukan bapaknya, Sulasiyem melapor kepada kepala dusun.
”Pak Kasun, bapakku hilang,” lapornya kepada kepala dusun.
”Hilang ke mana?”
”Tidak tahu. Saya sudah mencarinya, namun belum menemukannya. Tolong, Pak Kasun! Bantu saya mencari bapak,” pinta Sulasiyem.
”Baiklah, mari kita cari bersama-sama!” sanggup kepala dusun.
Sulasiyem, kepala dusun, dan dibantu oleh beberapa warga kampung bergerak bersama-sama mencari Mbah Karpen. Mereka menyusuri gang-gang kampung agar bisa menemukan Mbah Karpen. Akan tetapi, sampai matahari menjingga, Mbah Karpen belum juga ditemukan.
Ketika serombongan warga pencari Mbah Karpen melintas di atas jembatan kayu, mereka berhenti. Salah satu dari mereka ada yang mendengar suara orang yang meminta tolong dengan samar. Setelah diperhatikan dengan saksama ternyata benar. Dari bawah jembatan mereka mendengar suara orang tua yang merintih kesakitan sambil meminta pertolongan. Mereka berhamburan menuruni jalan kampung itu menuju ke bawah jembatan.
”Bapak!” teriak histeris Sulasiyem saat melihat lelaki tua yang menyandarkan tubuhnya pada tiang kayu penyangga jembatan.
”Yem, aku tertembak musuh. Lihatlah punggungku!” kata Mbah Karpen dengan suara serak kepada anaknya.
Sulasiyem, Pak Kasun, dan para warga lantas mengangkat tubuh renta Mbah Karpen dari bawah jembatan. Mereka membawa lelaki tua ini ke rumahnya. Bibir Mbah Karpen gemetar dengan tubuh menggigil kedinginan karena terlalu lama berendam dalam lumpur berair tipis di bawah jembatan.
Setelah memandikan dan merapikan pakaian bapaknya, Sulasiyem menyuapkan sepiring nasi pada veteran perang ini. Mbah Karpen melahap nasi berlauk tahu tempe ini dengan cepat. Mbah Karpen mengakhiri makan sorenya dengan menyeruput secangkir kopi hangat. Sesaat kemudian, tubuh renta yang mulai menghangat itu dibaringkan di dipan bambu dengan diselimuti sarung kusam oleh anaknya.  (*)
 Wanar, Agustus 2018

*Ahmad Zaini merupakan pemenang Sayembara Penulisan Prosa Fiksi Jawa Timur dalam rangka Festival Panji Nusantara 2018.
Saat ini tinggal di Wanar, Pucuk, Lamongan




Minggu, 18 November 2018

Kesaksian Selepas Isyak


Kesaksian Selepas Isyak
Cerpen karya Ahmad Zaini

Dari kejauhan aku sudah merasakan keramaian destinasi wisata ini. Lewat jendela kaca mobil yang kutumpangi, aku melihat ratusan orang berlalu lalang datang dan pergi dari lokasi ini. Lokasi yang sangat indah karena hamparan pasir putih dan lembut memanjakan mata serta gulungan ombak dengan suara debur menggelorakan jiwa.
Seratus meter lagi aku dan teman-teman serombongan segera sampai lokasi itu. Jarak yang sebenarnya sangat dekat apabila ditempuh dengan berjalan kaki. Karena ditempuh dengan mobil, waktu tempuh menjadi agak molor. Antrean kendaraan yang keluar masuk lokasi menahan laju mobil kami.
Pemandu wisata yang kami sewa heran. Lelaki setengah baya ini menggelang-gelengkan kepala. Dia seakan tidak percaya situasi di pantai ini begitu ramai. Padahal, di hari-hari sebelumnya tidak seramai hari ini. Meski harus berjalan merayap dan tersendat-sendat, akhirnya kami serombongan sampai di area parkir wisata.
”Kita turun di sini. Barang-barang yang tidak berharga ditinggal saja di mobil,” kata Mahdi, pemandu wisata yang terpaksa kami butuhkan jasanya karena kami masih asing dengan daerah ini.
Subhanallah, ucapku dalam hati. Baru sekali ini aku melihat pemandangan yang begitu indah. Laut biru membahana dan berair jernih. Sampai-sampai mata telanjangku bisa menembus dasarnya. Aku bisa melihat dengan jelas karang dan biota laut yang berenang-renang. Aku bisa mengamati perilaku para wisatawan asing yang bergurau di kedalaman air.
”Salman, kemari!” Sutris memanggilku.
”Ada apa?” tanyaku penasaran.
”Lihatlah mereka! Apakah kau tetap akan berlama-lama membujang?” tanya Sutris menggodaku sambil menunjuk dua turis wanita mancanegara yang mengenakan bikini sedang berjalan lenggak-lenggok di pantai.
”Ah, bisa saja kamu ini,” kataku malu-malu sambil mengintip dua gadis itu dari celah jemari yang menutup wajahku.
Matahari hampir berdiri tegak di atas kepala. Sinarnya sedikit terhalang daun-daun kelapa. Angin terasa agak hangat. Aku dan Sutris mampir di kedai kopi tradisonal untuk beristirahat sambil melihat pengunjung wisata dengan berbagai-bagai perilakunya.
Pemilik kedai ini ramah sekali. Ia bergerak mendekat ke kami. Sambil tersenyum, ia bertanya kepada kami.
”Maaf, Bapak-Bapak, pesan apa?”
”Kopi dua, Pak,” jawabku singkat.
Tak berselang lama, lelaki itu menyuguhkan dua cangkir kopi. Secangkir kubiarkan parkir di depanku, secangkir lagi kugeser ke depan Sutris, temanku.
”Mohon, maaf! Kami tinggal dulu sebentar. Silakan menikmati kopi khas daerah ini,” kata pemilik kedai berpamitan kepada kami.
Aku mengamati lelaki pemilik kedai ini. Dia keluar dari pintu belakang kedai dengan berpakaian salat. Ia mengenakan kopiah, sarung, serta berbaju koko. Aku menatap lelaki itu. Aku ingin tahu ke mana ia pergi. Subhanallah, ternyata pemilik kedai tersebut menuju ke musala yang terletak di sudut area wisata. Rupanya lelaki itu sosok yang taat beribadah. Ia tetap berangkat menunaikan salat meski di kedainya sangat ramai pengunjung.
Di sudut lain, aku melihat para penduduk berlari-lari mendekat ke pantai dengan tergesa-gesa. Mereka membawa timba. Mereka tampak memperebutkan sesuatu. Aku sangat penasaran. Aku berdiri dari tempat duduk agar bisa melihat dengan jelas apa yang terjadi di tempat tersebut.
”Ada apa, Pak?” tanya pemilik kedai yang tiba-tiba sudah kembali ke kedainya ini.
Aku menunjukkan pemilik kedai dengan mengarahkan jari telunjuk ke tempat para penduduk yang saling berebut itu.
”Sepertinya mereka berebut ikan,” sahut pemilik kedai.
”Ternyata benar. Mereka berebut ikan,” kataku setelah melihat salah satu dari mereka yang melintas di depan kedai sambil membawa timba yang penuh ikan laut.
Lelaki pemilik kedai tiba-tiba sudah berganti pakaian. Ia berlari kencang sambil membawa timba ke bibir laut itu tanpa memedulikan kami yang masih duduk di kedainya.
”Pak, kopinya,” teriakku.
”Taruh di situ saja uangnya. Sepuluh ribu,” sahutnya sambil tetap berlari untuk bergabung dengan warga di sana.
***
 Menjelang isyak, kami berhenti di sebuah masjid. Aku melihat puluhan penduduk daerah ini duduk-duduk di serambi masjid untuk menunggu waktu isyak tiba. Sebagian dari mereka ada yang berktikaf. Sebagian lagi ada yang tidur-tiduran, dan yang lainnya ada yang sedang bercengkerama tentang air laut yang sempat surut dan banyak ikan yang terdampar di pantai.
”Permisi, Pak!” kataku sambil menanyakan tempat wudlu.
Mereka memersilakan kami masuk ke masjid dengan sangat sopan. Mereka lantas menunjukkan kami tempat wudlu pria dan wanita. Kami pun menuju ke tempat wudlu sesuai dengan petunjuk lelaki itu.
Azan isyak berkumandang. Para penduduk berdatangan. Mereka yang sudah suci lantas duduk di masjid membentuk shof atau baris dengan lurus. Mereka berdoa dan berzikir sambil menunggu imam masjid datang.
Iqomah dilantunkan seorang remaja dengan suara sangat merdu. Muncul seorang lelaki yang menjadi imam masjid ini. Dia menuju imaman. Setelah seluruh makmum sudah berdiri sempurna di belakangnya, lelaki itu lantas melakukan takbiratul ihram yang diikuti oleh ratusan makmum. Mereka melaksanakan salat berjamaah dengan khusuk.
Pada rakaat kedua, aku terkejut. Tanah seperti bergerak. Orang-orang yang berada di kanan-kiriku seperti juga merasakannya. Mereka tampak tertegun sejenak. Tanah bergerak lagi dengan kekuatan yang semakin tinggi. Lampu yang tergantung di tengah masjid bergoyang-goyang. Almari tempat mukena di tempat jamaah wanita pun berderit. Guncangan itu semakin lama semakin dasyat. Tumpuan kakiku tidak seimbang. Aku terhuyung-huyung dan hampir tersungkur. Demikian halnya dengan para jamaah lainnya. Aku terpaksa membatalkan salatku lantas berlari keluar dari masjid.
Listrik seketika padam. Tak ada penerangan. Suasana gelap gulita. Para jamaah semakin panik. Mereka terlempar ke sana kemari dan berusaha keluar dari masjid untuk menyelematkan diri. Teriak histeris dengan gema takbir tiada berhenti. Mereka menyebut kebesaran Allah dengan kepanikan serta ketakutan. Sebagian kecil dari jamaah yang berhasil keluar lalu berlari ke halaman masjid dan berkumpul dengan kami.
Kami merinding ketakutan dan saling berangkulan. Aku melihat dengan samar kubah masjid yang megah dan indah itu tiba-tiba runtuh diikuti suara gemuruh reruntuhan puing bangunan yang lain. Ratusan jamaah yang panik dan belum berhasil keluar tertimbun reruntuhan itu. Teriak hsiteris mereka dari dalam masjid seketika senyap. Tak terdengar lagi suara takbir mereka di sela guncangan gempa yang melanda.
”Astaghfirullah, subhanallah, Allahu Akbar!” ungkapku ketakutan sembari memuji kebesaran Allah di tengah kerumunan warga di halaman masjid.
Isak tangis, rintih, dan ratap kesakitan terdengar pilu di sekitarku. Mereka yang selamat dari reruntuhan puing bangunan saling berangkulan haru. Masjid megah itu runtuh dan rata dengan tanah. Demikian juga dengan rumah-rumah yang berada di sekitarnya. Semua ambruk tanpa sisa.
***
Pagi hari daerah ini tak berbentuk lagi. Daerah yang indah kini luluh lantak dilanda gempa. Warga yang selamat tertunduk lemas meratapi janazah-janazah keluarganya yang terbujur kaku di depannya. Air mata kehilangan keluarga dan tempat tinggal terus mengalir. Tak ada yang bisa membendung deras alirnya meski dengan bantuan material yang kini mulai berdatangan.
Tim SAR dan relawan mulai bekerja. Mereka saling membahu mengurus janazah serta menolong warga yang terluka dengan alat medis seadanya. Di tempat terbuka seperti tanah lapang dan persawahan, mereka merawat para korban gempa. Mereka tidak berani tinggal di bangunan sisa yang berdiri tidak sempurna.
Aku dan teman-teman yang melancong di tempat ini duduk berkerumuan dan bersebelahan dengan reruntuhan bangunan. Ratap dan tangis kematian di sekeliling kami terdengar menyayat hati. Tak ada senyum. Tak ada tawa kekeh yang terdengar seperti di pinggir pantai siang itu. Aku termenung sambil menutup mata yang lembab dengan kedua tangan. Sesekali aku berangkulan dengan teman-teman serombongan yang selamat.
Sinar matahari tak seterang ketika kami mendaratkan kaki di daerah ini. Hembusan angin pagi tak sesegar saat kami kali pertama menghirup udara di sini. Daun-daun mengatup. Bunga-bunga melayu. Semua tampak sendu dalam tangisan pilu. Mobil yang kusewa juga ringsek karena tertimpa reruntuhan gerbang masjid. Kami terpaksa dievakuasi tim SAR dengan mobil bak terbuka menuju ke pelabuhan tempat menyeberang ke daerah kami. (*)
  
  Lamongan, Agustus 2018