Jika Kau Bukan Anak Raja, Juga Bukan Anak Ulama Besar, maka Menulislah

Minggu, 07 Agustus 2022

Foto Keluarga, cerpen di Jawa Pos grup Radar Bojonegoro, MInggu, 31 Agustus 2022

 



Foto Keluarga

Cerpen karya Ahmad Zaini

 

Rumah kecil di tengah kota besar ini setiap hari sepi. Para penghuninya beraktivitas di luar rumah.  Dari pagi sampai sore dan terkadang hingga malam, yang terlihat hanya bunga-bunga hias serta dua sangkar burung tergantung di teras rumah. Bunga hias musim kembang terasa sia-sia lantaran penghuninya tak merasakan aroma wangi dan indah kelopaknya. Demikian juga dengan kicauan burung. Para tetangganyalah yang menikmati kemeruduan suaranya. Bisa dikatakan suami-istri penghuni rumah ini tidak pernah melihat matahari karena berangkat kerja sebelum matahari terbit dan pulang saat matahari sudah terbenam.

Minggu pagi Hidayati libur tugas. Dia duduk sendiri di sofa ruang tamu. Biasanya dia duduk bersama suami di tempat tersebut sambil menikmati camilan yang dibelinya saat bermalam Minggu. Pagi itu Hidayati terpaksa duduk sendiri lantaran laki-laki yang telah memberinya dua anak mendapat giliran piket jaga di kantor.

Punggung Hidayati disandarkan di sofa berwarna cokelat. Dia melakukan peregangan agar bisa duduk lebih rileks. Wanita yang kini berusia 55 tahun ini ingin menikmati hari libur dengan bersantai sambil ngemil kudapan sisa semalam. Mata sayu Hidayati terkadang berair tanpa sebab. Mungkin faktor kecapekan menjadi penyebabnya. Hal itu dikarenakan setiap hari Hidayati harus menyetir mobil sendiri ke tempat dinasnya di usia setengah abad lebih lima tahun ini. Sungguh capek, desisnya dalam hati.

Tempat dinas Hidayati jauh sekali. Untuk sampai ke tempat beraktivitas, Hidayati harus menempuh jarak 120 km pergi-pulang atau dalam waktu satu jam setengah sekali jalan. Bahkan, bisa sampai dua atau tiga jam waktu tempuh tergantung dari kondisi di jalanan. Namun, Hidayati setiap hari malakukannya dengan tanpa beban. Jalan yang menghubungkan antara Surabaya dengan Lamongan dilahap setiap hari.

”Permisi, paket!” seru tukang jasa pengiriman paket.

”Iya,” sahut Hidayati.

Hidayati bangkit dari sofa menghampiri pengirim paket yang berada di luar pagar rumahnya.

”Dari mana, Mas?”

”Jogja, Bu,” jawab tukang mengantar paket.

”Terima kasih, Mas!” ucap Hidayati setelah menandatangani bukti penerimaan barang.

Ibu dua anak ini menerka bahwa paket yang diterimanya ini adalah kiriman Sonia. Anak pertamanya yang kuliah di Jogja. Hidayati membolak-balik paketan kecil seukuran genggaman tangannya. Dia membaca tulisan-demi tulisan yang tertera di wajah paket. Benar sekali bahwa paketan itu dari anaknya.

Jemari Hidayati gemulai dan lincah membuka paketan. Dia mengupas kulit paket dengan sat-set, wat-wet karena sangat penasaran pada isinya. Tak sampai satu menit, Hidayati mampu mengelupas pembungkus paket.

”Wow, jam tangan!” seru Hidayati sembari senyum-senyum sendiri.

Dalam kemasan paketan, selain arloji Hidayati juga menemukan selembar kertas bertuliskan ucapan ulang tahun buat dirinya yang ke-55.

Semula Hidayati merasa haru dan bangga atas hadiah ulang tahun yang diterimanya. Namun, ada secuil rasa yang membuatnya terdiam seketika. Mulut Hidayati berdecak kecewa. Dia menduga-duga arloji yang berbandrol mahal ini dibeli sang anak dari uang kirimannya. Dalam hati kecilnya berbisik bahwa ini bisa mempercepat permintaan transferan uang lagi. Mau dapat uang dari mana bisa membeli barang mahal ini kalau tidak dari uang jatah makan dan biaya kuliah. Sonia itu masih kuliah dan belum bekerja, katanya dalam hati.

Hidayati buru-buru mengambil handphone. Dia menghubungi anaknya yang sudah menempuh semester akhir di kampus kota Jogja. Dia ingin menelisik uang yang dipakai anaknya untuk membeli hadiah ulang tahunnya.

”Selamat ulang tahun, Bu!” sahut suara Sonia dari telepon meskipun ibunya belum mengucapkan salam dan menanyakan kabar.

”Eh, terima kasih, Nak atas ucapan dan kado ultah buat ibu. Tapi, ibu pengen tahu saja. Kamu dapat uang dari mana bisa membeli arloji bermerk ini?”

”Lho, Ibu sendiri kan yang memberi saya uang. Karena uang kiriman ibu kemarin lusa saya gunakan untuk membeli hadiah ultah buat Ibu tercinta, sebagai gantinya segera transfer uang lagi, ya,” suara Sonia menjawab pertanyaan ibunya dengan enteng.

”Dasar anak anak usil. Suka mengusili Ibu saja. Bulan depan saja saya transfer,” sahut bernada gurau Hidayati sambi melempar ponselnya ke sofa.

Abdi negera sebagai guru ini lantas menghempaskan tubuhnya ke sofa lagi. Dia menyeruput kopi yang diseduh sendiri. Mata Hidayati memandang foto keluarga yang tergantung di dinding ruang tamu. Kenangan masa-masa kecil kedua anaknya tiba-tiba mengusik Minggu paginya.

Dua puluh tahun silam Hidayati terpaksa sering meninggalkan kedua anaknya di rumah. Kala itu anak-anaknya masih duduk di bangku SD. Hidayati berangkat dinas selepas salat shubuh ketika anak-anaknya masih tidur. Mereka hanya ditinggali menu sarapan dan dua buah kunci rumah. Kedua anak Hidayati meskipun masih SD, namun sudah terbiasa hidup sendiri. Mereka bangun dari tidur, mandi, mengenakan pakaian seragam sekolah, lalu sarapan pagi dilakukan sendiri. Kakak beradik yang jarak usianya hanya berselang tiga tahun ini tidak seperti anak-anak pada umumnya. Dia sudah bisa melayani dirinya sendiri tanpa menggantungkan bantuan ibunya.

Pernah suatu hari si sulung menyeterika baju seragam di atas meja. Adiknya yang baru bangun tidur duduk di samping meja tersebut tanpa sepengetahuan Sonia kecil. Ketika dia melihat ke samping meja, Sonia kecil kaget hingga seterikanya lepas dari genggaman tangannya. Permukaan seterika yang panas itu mengenai wajah adiknya. Si bungsu menangis histeris sambil memegangi wajahnya yang terkena seterika. Sonia kecil membujuk adiknya agar tidak menangis sambil membuka perlahan kedua tangan adiknya yang menutupi wajah. Sonia menjerit setelah melihat wajah adiknya melepuh. Dia berteriak-teriak meminta tolong kepada tetangganya. Sontak para tetangga berdatangan ke rumah. Mereka menolong adik Sonia dengan membawanya ke puskesmas yang tidak jauh dari rumahnya.

Hidayati saat itu masih di tempat tugas. Dia gelisah. Ikatan batin ibu dengan anak sangat kuat. Muncul keinginan pulang lebih awal dari tugas. Namun, hal itu tidak mungkin dia lakukan karena rasa tanggung jawabnya terhadap tugas di kedinasan. Akhirnya, dia memutuskan tetap melanjutkan tugas dan pulang sesuai jadwal yang telah ditentukan.

Jelang maghrib Hidayati turun dari becak tepat di depan rumahnya. Dia agak terkejut karena di teras rumahnya terlihat beberapa tetangga yang duduk-duduk di situ. Perasaan seorang ibu muncul. Ingatan Hidayati melesat ke kedua anaknya yang sehari penuh ditinggal bertugas.

”Ada apa dengan anak saya, Pak?” tanya Hidayati serta merta.

”Bu Yati masuk dulu,” saran salah satu tetangga.

Tanpa pertanyaan lanjutan, Hidayati lansung masuk rumah sampai lupa melepas sepatu.

”Di mana anak-anakku?”

”Dalam kamar, Yat,” jawab Retno karibnya yang berdiri di depan pintu ruang tengah.

Kelambu pintu kamar anaknya disibak perlahan. Hidayati melihat kedua anaknya di atas ranjang. Si bungsu telentang dengan wajah diperban, sedangkan si kakak duduk di samping menjaga adiknya.

”Ya, Allah, kenapa adikmu?” tanya Hidayati sambil mendekap putri bungsunya.

”Maaf, Bu! Tadi pagi Sonia menyeterika baju seragam. Seterikanya jatuh mengenai wajah adik,” jawab Sonia kecil dengan polos.

Hidayati lantas mendekap keduanya. Dia tidak mereaksi kejadian ini dengan berlebih-lebihan. Dia juga tidak menyalahkan Sonia karena dia sudah merasa bersalah dan takut dimarahi ibunya.

”Anakku,” seru Hidayati sembari menghamburkan diri bersama kedua anaknya.

Kedua matanya berkaca-kaca. Jiwanya larut dalam kejadian yang menimpa buah hatinya. Dia terharu pada anaknya yang belajar mandiri tanpa tergantung pada dirinya. Meskipun begitu, nurani seorang ibu akan tetap menyalahkannya karena anak-anak yang belum berumur masih menjadi tanggung jawabnya. Ah, sudahlah, ucapnya dalam hati untuk membuang jauh-jauh kenangan pahit kala itu.

Hidayati menyeruput secangkir kopi. Dia memandang foto masa kecil anak-anaknya. Dia merasakan ada yang aneh. Foto keluarga yang digantung di dinding ruang tamu seperti bernyawa. Kedua anaknya yang sekarang sudah menjadi mahasiswa seakan tersenyum bahagia. Bahagia terhadap kegigihan kedua orang tuanya yang telah memberi perhatian dan perjuangan demi masa depannya.

Tak lama kemudian Hidayati beranjak dari tempat duduk. Dia mendekat ke dinding. Hidayati meraih foto keluarga berbingkai ukiran jepara. Perlahan pigura foto itu didekap erat dengan rasa haru bercampur rindu. Mata sayu Hidayati sesekali melihat dan mengajak orang-orang tersayang dalam foto itu bergurau. Dia senyum-senyum sendiri dan merasa bahagia. Apalagi pagi itu burung-burung dalam sangkar yang tergantung di teras rumahnya berkicau merdu  serta semerbak aroma wangi bunga-bunga di taman kecil rumahnya setia menemani Minggu paginya. (*)

 

Wanar, 3 Juli 2022

 

Ahmad Zaini, guru di SMKN 1 Lamongan dan ketua PC Lesbumi NU Babat. Beberapa karya sastranya tersebar di berbagai media cetak dan online serta telah menerbitkan beberapa buku kumpulan puisi dan cerpen. Saat ini menetap di Wanar, Pucuk, Lamongan.

 

 

 

  

  

 

 

 

 

 

 

 

Kamis, 02 Juni 2022

Hidayah di Ujung Sya'ban, 22 Mei 2022

 


Hidayah di Ujung Sya’ban

Cerpen karya Ahmad Zaini

 

Tubuh Minah tergolek lemas. Dia tak punya tenaga. Rupanya usia telah menggerogoti kekuatan yang sudah hampir 80 tahun digunakan. Dulunya Minah merupakan wanita perkasa. Dia mampu mengerjakan pekerjaan laki-laki. Minah bisa mengelola sawah, kebun, dan lain-lain yang biasanya dikerjakan suaminya. Pekerjaan berat ini dilakukan semenjak suaminya meninggal dunia akibat asma.

Kulitnya keriput. Rambutnya memutih. Giginya tersisa di bagian depan saja. Itu pun sudah tidak sekokoh sebelumnya. Apabila dia menginginkan makanan yang agak keras, anak perempuan Minah melembutkan makanan tersebut terlebih dulu. Makanan yang telah dilembutkan  itu kemudian disuapkan perlahan-lahan oleh anak perempuan satu-satunya. Minah merasakan dan menikmati makanan melalui suapan anak yang selama ini merawatnya.

Hampir tiga bulan lamanya Mbok Minah terkulai di ranjang. Dia merasakan sakit di punggung hingga tembus dada. Minah mengandalkan bantuan anak perempuan itu untuk sekadar bisa duduk. Itu pun tidak bertahan lama karena punggungnya tidak mampu menahan beban tubuhnya. Dia ingin berbaring. Sekali lagi dia juga tidak mampu berbaring sendiri. Minah menunggu anak yang dianggap gemati padanya itu membaringkannya.

”Kakakmu di mana?” tanya Minah lirih.

”Dia kerja ke luar kota,” jawab anak perempuannya.

”Lama sekali dia tidak pulang?” sambung Minah.

”Tidak usah dipikirkan. Kakak sudah dewasa dan bisa menjaga diri. Kalau sudah menyelesaikan pekerjaannya, kakak pasti pulang,” hibur Suci agar si ibu tidak selalu memikirkan anak laki-lakinya.

Sebetulnya Minah memiliki empat anak. Anak sulungnya laki-laki. Dia sudah menikah dan dikaruniai dua anak. Anak pertama tersebut meninggal dunia dan dimakamkan di perantuan. Anak kedua laki-laki dan sudah menikah pula. Dia dikaruniai satu orang anak. Namun, anak keduanya menetap di luar kota. Anak ketiga juga laki-laki. Saat ini dia tinggal di luar kota juga dan telah memiliki tiga anak. Anak keempat Minah atau si bungsu berjenis kelamin perempuan. Namanya Suci. Dia memunyai tiga anak. Dia tinggal satu rumah dengan Minah. Anak perempuan satu-satunya inilah yang setiap hari merawat dan memenuhi semua kebutuhan Minah.

Pagi buta ketika orang-orang masih tidur, Suci sudah bangun. Dengan masih menahan rasa kantuk, Suci mengerjakan pekerjaan dapur. Dia harus bangun lebih awal untuk menyiapkan sarapan buat ibu, anak-anak, dan suaminya yang berprofesi sebagai guru. Suami dan anak-anaknya biasanya berangkat ke sekolah pada pukul enam pagi. Maka dari itu, Suci harus bangun pagi-pagi untuk menyelesaikan semua pekerjaan dapur sebelum jam tersebut.

Di sela-sela kesibukan menyiapkan sarapan pagi, Suci mengerjakan tugas baru sebagai anak yang berbakti kepada orang tua. Dia membantu ibu bangun tidur dan membersihkan semua kotoran yang belepotan di selimut ibunya. Suci tidak merasa jijik. Kedua tangannya sigap membersihkan kotoran yang menempel di selimut dan di tubuh ibunya. Dia membopong tubuh kurus Mina ke kamar mandi. Suci memandikan dan menyucikan Mbok Mina dari najis kemudian membantu ibunya melaksanakan salat shubuh sembari berbaring di ranjang.

”Pak, sarapan pagi sudah siap. Silakan makan agar tidak telat sampai sekolah,” seru Suci pada sauminya yang masih duduk dan berkutat di depan kaptop.

”Siap, Bu,” sahutnya.

Begitulah keseharian yang dijalani oleh Suci. Dia sendirian mengurusi ibu dan kebutuhan keluarga.

”Kakakmu di mana?” tanya Minah mengulang pertanyaan-pertanyaan sebelumnya.

Suci tidak segera menjawab. Dia kesal mengamati sikap kakak yang dimaksud ibunya karena tidak punya rasa peduli sedikit pun pada Mina. Lambat laun Suci tidak tega melihat air muka ibunya yang gelisah. Raut muka Mina melukiskan kesedihan mendalam. Ada rasa cemas menggerogoti jiwanya setiap kali menanyakan anak ketiga ini.

”Bu, jangan memikirkan kakak. Dia bisa menjaga diri,” kata Suci mengulang kata yang pernah diucapkan sebelumnya.

Suci sebenarnya geregetan setiap kali ibunya menanyakan kakaknya itu. Dia menyesalkan sikap sang kakak tidak pernah memedulikan ibunya. Jangankan membantu ibu membangunkan dari tempat tidur, menanyakan kabar saja tidak pernah, gerutu Suci. Padahal, kakak yang satu ini setiap hari di rumah dan beberapa kali melintas di depan kamar ibu. Namun, dia menoleh untuk melihat ibu sekali saja tidak pernah. Sikap kakaknya seperti itulah yang paling dibenci oleh Suci.

”Itu tadi yang baru saja lewat siapa?” Minah sempat melihat sekelebat bayangan anak emasnya dari kaca almari.

”Tidak ada siapa-siapa,” jawab Suci membohongi ibunya. Hal ini terpaksa dilakukan agar ibu tidak semakin merana karena dicueki oleh kakaknya.

Mata Mina berkaca-kaca setelah mendengar jawaban Suci. Dia merasakan seperti ada yang ditutup-tupi mengenai kakaknya. Wajah Mina menggoreskan kegelisahan dan kesedihan. Dia menyedihkan kenapa anak-anaknya tidak ada yang memedulikannya ketika dalam kondisi sakit seperti yang dialami saat ini.

”Jangan khawatir, Bu! Saya siap merawat dan mengurus Ibu sehari semalam,” hibur Suci.

”Aku sedih saat pagi. Kamu dan suamimu ke sekolah. Aku sendiri di rumah,” keluh Mina pada Suci yang juga seorang guru TK.

”Semua kebutuhan Ibu sudah saya siapkan. Kalau ingin buang air, di sini saja. Ibu tidak usah ke kamar mandi. Nanti biar saya bersihkan ketika pulang,” saran Suci sambil menunjuk ke ember yang diletakkan di bawah ranjang.

Mina diam. Tatapan matanya kosong meskipun Suci telah berjanji merawat dan mengurusnya. Dia tetap memikirkan dan menyedihkan anak ketiganya. Anak gandolan ing ati atau anak emas itu sampai saat ini belum pernah menjenguk atau menanyakan kondisi ibunya. 

Di ujung bulan Sya’ban suasana agak berbeda. Guncangan dalam jiwa Mbok Mina mereda. Kata-kata yang keluar dari mulutnya melandai. Tak ada ungkapan kecewa atau sakit hati pada anak yang dianggapnya tak punya niat balas budi. Dia sadar bahwa harapan mendapat balas jasa dari anak itu tidak tepat. Hal ini dikarenakan merawat dan mengasuh anak sudah menjadi keewajiban orang tua. Lebih-lebih sosok ibu. Mbok Minah telah mengikhlaskan apa yang pernah dilakukan kepada anak-anaknya.

”Aku ikhlas. Aku tak mengharapkan imbalan apa-apa dari kalian. Semoga anak-anakku menjadi anak yang berbakti kepada kedua orang tua agar kelak anak-anaknya juga melakukan hal yang sama. Aku rela,” kata lirih Minah saat Suci menyuapinya.

Suci sangat lega mendengar kata-kata sang ibu. Dia meyakini kondisi ibunya akan memulih lantaran hati dan pikiran tidak terbebani dengan harapan balas budi anak ketiganya. Perkataan ibunya tidak sekeras sebelum-sebelumnya. Emosi juga terkontrol. Ini sangat membantu Suci saat memberikan asupan makanan dan nutrisi kepada ibunya.

”Makan dan minum secukupnya agar tenaga cepat pulih dan kuat sehingga besok bisa melaksanakan puasa,” pinta Suci sambil menyuapkan nasi kepada ibunya.

”Kapan mulai puasa?”

”Besok pagi,” jawab Suci.

Senja bulan Sya’ban Allah telah membuka hati anak ketiga Mbok Minah. Allah telah memberi hidayah dan menuntun lelaki beranak tiga itu datang ke rumah. Tubuh tinggi besar dan berotot kekar dengan rambut berkuncir datang bersama istri dan ketiga anaknya. Dia masuk rumah dengan gaya biasanya, sluman-slumun-slamet. Istri dan anak-anaknya mengiringi di belakang. Mereka serempak mengucap salam lalu disahut Suci serta Mbok Minah dari dalam kamar.

Suci  menyambut kakak perempuan ipar beserta para keponakannya. Dia mengarahkan para keponakan menjenguk nenek dalam kamar. Anak-anak yang lugu itu menghampiri dan meraih tangan kanan si nenek. Mereka bersalaman. Para cucunya mencium tangan kanan neneknya, sedangkan Mbok Minah membelai kepala cucu-cucunya yang lugu itu.

Tak berselang lama anak ketiganya bersama istri berdiri di pintu kamar. Sang anak yang selama ini menjadi beban pikiran Minah menghamburkan diri ke tubuh Minah yang terbaring di ranjang. Lelaki itu mendekap tubuh ringkih ibunya sambil menangis. Dia memohon maaf atas ketidakpedulian yang selama ini dialakukan pada sang pemilik surganya. Lelaki itu menyesal karena tidak mengacuhkan ibu. Dia sadar bahwa itu adalah kekeliruan terbesar dalam hidupnya. Dia berharap sang ibu memberi maaf dan ridlo atas kesalahan yang dilakukan.

Suci dan kakak perempuan iparnya berdiri mematung di sebelah ranjang. Mereka terharu melihat peristiwa itu. Mata Suci berkaca-kaca. Sedetik kemudian air matanya mengalir melintasi pipi yang dibiarkan polos tanpa bedak ini. Suci melepas napas panjang. Dia merasa lega dan bangga karena kakaknya telah menyadari kesalahannya.

Matahari senja semakin menjingga. Sinarnya berubah kuning keemasan. Hembus angin tak sekencang sebelumnya. Angin memberi kesempatan malam menyapa siang. Perlahan si raja siang perlahan undur diri di balik rerimbunan rumpun bambu. Saat itu juga, Mbok Minah bangkit dari pembaringan panjangnya. Dia duduk dan menyaksikan anak-anak, menantu, dan para cucu berwudlu untuk persiapan menunaikan salat maghrib secara berjamaah. (*)

 

  Wanar, Maret-April 2022

Senin, 25 April 2022

Gara-Gara Tetangga Baru, Minggu, 17 April 2022

 



Gara-Gara Tetangga Baru

Cerpen karya Ahmad Zaini

 

Siapa yang mau keluarganya hancur? Semua orang yang waras tentu tidak menginginkannya. Semua orang bercita-cita ingin mengarungi samudera dengan bahteranya sampai dermaga bersama pasangannya. Semua pasangan pasti menginginkan keluarganya utuh sampai mati. Bakhan, sampai akhirat kelak. Namun, kehidupan tidak bisa dihitung secara matematika. Ibarat kabut, kita tidak tahu apa yang ada di baliknya. Kabut itu kelihatan indah, tetapi di belakang terkadang ada  sesuatu yang menjijikkan. Sesuatu itu  dapat membuat kita muak.

Dua kali sudah upaya Astuti mempertahankan rumah tangga. Batu sandungan itu muncul ketika dia punya tetangga baru pindahan dari Jakarta. Marlena namanya. Dia janda beranak lima. Dia pindah dari ibu kota dan menetap di samping rumah Astuti. Marlena memang janda beranak lima. Akan tetapi, penampilannya seperti lebih muda dari Astuti. Usut punya usut ternyata Marlena punya resep manjur untuk merawat kebugaran dan kesempurnaan gayanya. Satu-dua-tiga kali suami Astuti melihatnya.  Lama-lama suami Astuti berkenalan, bercanda, lalu berpacaran.

Sungguh Astuti tidak menyangka cobaan rumah tangga itu datang menerpa. Semenjak pernikahan hingga punya dua momongan, kehidupan keluarga bejalan harmonis. Astuti dan suami sangat kompak mengawal keluarga demi kebahagiaan anak-anaknya. Dia bisa membangun rumah dan membeli mobil. Setiap Minggu mereka piknik bersama-sama. Pokonya sangat harmonis sehingga sebagian tetangga banyak yang iri kepada mereka.

Wanita itu diciptakan Tuhan sebagai makhluk lemah. Secara kodrati wanita kalah kuat dibandingkan laki-laki. Namun, fakta berkata lain. Marlena mampu membuat suami Astuti klepek-klepek. Mestinya dia tidak memunyai daya tarik karena kelemahannya. Nah, ini yang jadi pertanyaan. Astuti sering duduk sambil memikirkan hal-hal lain yang membuat suaminya berpindah ke lain hati. Mungkin Astuti tidak menarik lagi karena lemak di tubuhnya semakin menumpuk. Bisa pula suami Astuti berpaling karena wajah Astutik tidak semulus sebelumnya karena efek kerja di pabrik plastik. Atau mungkin dia kurang bisa memuaskan kehidupan ranjang. Ah, itu mungkin hanya alibi dari para lelaki yang mencampakkan istinya agar bisa berganti wanita lain.

Suatu hari Astuti menyusun strategi untuk menjebak suami. Dia berpura-pura akan berangkat kerja. Suaminya tidak menaruh curiga sedikit pun bahwa itu hanyalah siasat Astuti untuk menjebak kelakukan bejatnya. Motor ditaruh Astuti di tempat penitipan sepeda. Kemudian, Astuti diam-diam pulang melalui pintu belakang yang sengaja tidak dikunci. Astuti menyelinap lalu menyembunyikan diri di kamar anaknya. Diam-diam dia  memperhatikan gerak-gerik suaminya dari celah pintu kamar. Ia melihat suaminya berdandan. Ia memakai celana yang baru dibeli seminggu lalu. Tubuhnya disemprot parfum. Rambutnya diguyur minyak dengan aroma menyengat lalu disisir seperti model rambut anak-anak masa kini. Tangan suami Astuti meraih telepon. Dia mengacak nomor telepon Marlena. Ternyata benar, nomor yang dihubungi adalah nomor janda beranak lima itu. Mereka janjian bertemu.

Astuti menahan amarah. Dia meredam emosi dengan mengendalikan dengus napas dari mulutnya. Suaminya keluar rumah melalui pintu depan. Dia menguncinya dari luar. Astuti melihat suaminya berjalan menuju rumah Marlena. Dia masuk ke rumah janda beranak lima itu. Asem, umpat Astuti dalam hati. Dia memanfaatkan waktu pagi yang sepi. Anak-anak Marlena tidak berada di rumah karena berangkat kerja dan sekolah seperti kedua anaknya. Wanita yang berlaga seperti detektif ini keluar dari pintu belakang. Astuti berjalan mengendap-endap mengikuti suami. Ternyata benar. Suaminya masuk rumah Marlena. Seperti dugaan sebelumnya,  mereka benar-benar berselingkuh.

Ibu dua anak ini tidak segera melancarkan aksi menangkap basah mangsa. Dia menguping dan mengintip ulah mereka dari depan rumah Marlena. Astuti membiarkan mereka bercanda dan saling melontarkan kata-kata mesra. Dari celah kaca yang kelambunya agak tersingkap, Astuti melihat Marlena menarik tangan suaminya diajak masuk dalam kamar. Suami Astuti menuruti saja kemauan Marlena. Suami Astuti seperti kerbau dicocok hidungnya. Astuti membiarkan mereka mengubur diri dalam kamar beberapa saat. Dia berusaha tenang dengan menahan api cemburu. Setelah lima menit, Astuti masuk. Dengan leluasa Astuti menyelinap ke dalam karena mereka lupa mengunci pintu. Dia membuka pintu kamar. Astuti berteriak histeris saat melihat mereka dalam bersatu dalam pergumulan syetan. Akibat jeritannya itu, para tentangga berhamburan keluar dari rumah menuju asal jeritan Astuti.

”Kurang ajar! Ternyata seperti ini kelakuan kalian. Dasar binatang yang tidak tahu aturan,” umpat Astuti kepada mereka.

”Tunggu, As! Saya jelaskan.”

”Tidak ada yang perlu dijelaskan,” potong Astuti.

Wanita yang dirundung malang akibat perselingkuhan suaminya ini kemudian belari sambil menahan tangis. Sementera itu Suami dan Marlena sekarang menjadi urusan warga. Mereka digelandang para warga untuk diadili di balai kelurahan.

”Sungguh memalukan,” ungkap Astuti kesal. Dia kesal dan malu pada perilaku suaminya. Hatinya hancur ketika bayang-bayang peristiwa memalukan itu muncul di kelopak matanya. Astuti tidak dapat menyembunyikan rasa sakit hati dan emosi karena dikhianati suami. Dia mengemasi pakaian ke dalam koper. Astuti pulang ke rumah orang tua bersama dua anak untuk menenangkan diri.

Astuti bercerita banyak tentang kejadian yang menimpanya. Namun, ibu Astuti tidak ingin rumah tangga anaknya hancur. Dia membujuk Astuti agar kembali ke rumah berkumpul dengan suaminya. Ibunya tidak rela apabila kedua cucunya menjadi korban dari keretakan hubungan keluarga Astuti. Dia membujuk Astuti sebisa mungkin. Ibu Astuti bersyukur karena anaknya masih mau mendengar nasihatnya. Astuti menuruti keinginan ibunya. Astuti kembali ke rumah lagi meskipun sempat menginap semalam di rumah ibunya.

”Tata hatimu, Nak! Niatlah berbakti kepada suami karena itu dapat menuntunmu ke surga kelak. Ingat  masa depan anak-anakmu. Anakmu pasti tidak menginginkan keretakan hubungan kalian,” pesan ibu Astuti.

Sungguh berat Astuti melangkahkan kaki. Akan tetapi, pesan ibunya sangat menyentuh hati. Astuti meninggalkan rumah ibunya untuk kembali kepada suami.

Astuti memberi kesempatan kedua buat suaminya. Dia memberi kepercayaan kepada lelaki tampan yang sering membuat para wanita tertarik padanya agar membenahi diri. Benar sekali pesan ibunya. Kepercayaan yang diberikan kepada suaminya itu membuat hubungan mereka erat lagi. Mereka mendayung biduk melintasi sungai yang kini berair tenang. Mereka bisa saling menyayangi dan mencintai.

Siang hari Astuti diajak suaminya jalan-jalan. Mereka berdua berbaur dalam satu  mobil yang cicilannya belum selesai. Mereka menembus keramaian kendaraan di Sabtu petang.

”Kita ke mana, Mas?” tanya Astuti penasaran. Dia merasa ada sesuartu yang mengganjal dalam hatinya.

”Kita ke mall. Kita bermalam Minggu untuk mencairkan suasana. Kita cari kesenangan di sana. Nanti kamu pilih baju kesukaanmu. Sesukamu,” jawab enteng suami Astuti.

Mendengar kata-kata suaminya, Astuti jadi tersanjung. Dia senyum-senyum sendiri sambil sesekali melirik suaminya yang sibuk mengemudi mobil.

”Jangan khianati aku lagi, Mas!” pinta Astuti manja sambil menyandarkan kepala.

”Tidak. Aku tidak akan mengkhianatimu lagi. Kita akan selalu bersama-sama. Hidup bersama. Mati pun bersama,” kata suami Astuti.

Astuti seperti tersedak. Dadanya sesak dan susah bernapas ketika mendengar kata terakhir. Hatinya tidak enak. Dia merasakan ada rencana terselubung dibalik kata-kata terakhir suaminya.

Firasat Astuti tajam. Dia mampu menebak peristiwa yang bakal dihadapinya. Dia merasakan dari cara mengemudi suaminya. Suami melajukan kendaraan dengan kecepatan tinggi serta kasar. Puncaknya ketika di depannya ada truk. Suaminya tidak mengurangi kecepatan. Kaki kanan suaminya malah menginjak pedal gas semakin dalam.

”Awas ada truk. Jangan kencang-kencang, Mas!” seru Astuti. Akan tetapi, suami Astuti tidak mengindahkan seruannya sama sekali.

Astuti merasa dirinya dalam bahaya. Suami Astuti hendak menabrakkan mobil yang ditumpangi berdua ke truk di depannya. Astuti memberanikan diri. Dia membuka pengunci pintu di sebelah kiri. Tangan kanannya memegang tuas handrem. Tanpa ada yang menghitung, Astuti menarik tuas kuat-kuat sambil membuka pintu mobil. Dia melompat keluar sebelum mobil benar-benar menabrak truk.

Tubuh Astuti terguling-guling di jalan raya. Kedua lengan, kaki dan keningnya berdarah. Dia menjerit untuk meminta pertolongan para pengguna jalan lainnya supaya menolong suami yang terjepit bodi mobil. Mata Astuti terbelalak ketika melihat darah mengucur deras dari dalam mobil yang ringsek.

”Maaf, Mbak! Lelaki itu telah meninggal dunia,” kata salah satu warga yang turut menolong suaminya.

Astuti menjerit. Dia tidak menyangka suaminya meninggal dalam peritiwa itu. Dia telah mengakhiri hidup dengan tragis. Disisi lain Tuhan masih sayang kepada Astuti. Dia selamat dan hanya mengalami luka ringan di bagian tubuh dalam insiden itu.

Hari-hari berikutnya Astuti berusaha menenangkan diri. Dia berusaha melepas bayangan kejadian yang dialami. Semua itu merupakan lika-liku perjalanan hidup. Semua telah tercatat dalam garis nasib yang dibentangkan Tuhan. Yang terpenting Astuti telah menjalankan kewajibannya sebagai manusia. Yakni, berusaha mempertahankan kehidupan normal dalam sebuah keluarga.  (*)

Wanar, April 2022


 

 

 

Selasa, 08 Februari 2022

Cerpen Jawa Pos grup Radar Bojonegoro, Minggu, 6 Februari 2022

 


Cahaya dari Pesantren

Cerpen karya Ahmad Zaini

 

Sulur jingga sinar matahari jelang senja mengguyur sebuah pondok pesantren. Pancaran cahaya keemasan disemprotkan oleh si raja siang yang sejam lagi akan membenamkan diri ke peraduannya. Bangunan asrama yang dihuni beberapa santri tempak begitu anggun. Bangunan tersebut sebagai tempat para santri belajar, berdiskusi, dan bersama-sama menampa diri menjadi insan kamil. Manusia yang sempurna lahir dan batin.

Para santri serentak keluar dari kamar masing-masing. Mereka memenuhi pengumuman yang dikumandangkan dari kantor pengurus pesantren. Para santri putra dan putri berduyun-duyun menuju ke masjid pesantren. Mereka berkumpul untuk mengadakan kegiatan rutin, yaitu berdoa bersama yang dilaksanakan setiap Kamis sore.

Ratusan santri berpakaian putih. Mereka duduk rapi membentuk shof atau barisan sebagaimana orang sedang salat berjamaah. Lautan putih pakaian mereka seakan-akan memancar cahaya kesucian. Kesucian niat mereka belajar ilmu-ilmu agama di pondok pesantren.

Kiai Maghfur sebagai pengasuh pondok pesantren hadir dalam majlis tersebut. Beliau terkenal sebagai sosok yang sangat istiqomah dalam menjalankan amanat wali santri meskipun usianya sudah sepuh. Beliau juga sosok sabar dan telaten membimbing para santri yang rata-rata berusia remaja. Usia yang masih labil dan mudah terpapar pengaruh negatif lingkungan.

Dengan didampingi Rosyad, Kiai Maghfur duduk bersila di barisan depan. Beliau memimpin atau memandu ratusan santri membaca istighotsah, tahlil, dan doa selamat bagi orang-orang sholih, para guru dan orang tua. Mereka melafalkan doa-doa serupa gema yang menggetarkan langit. Mereka khusuk bermunajad kepada Allah agar dikabulkan segala keinginan yang disampaikannya lewat doa.

Lampu-lampu di masjid pondok pesantren mulai dinyalakan. Sinar lampu menerpa wajah-wajah khusuk yang masih tenggelam dalam doa. Kegiatan doa selesai ketika bedug yang tergantung di serambi masjid dipukul salah satu santri dengan irama khas sebagai penanda waktu salat maghrib telah tiba.

Azan maghrib berkumandang. Seruan melaksanakan kewajiban makhluk kepada Sang Khaliq lantang mengarungi seluruh area pondok pesantren dan sekitarnya. Para penghuni pondok pesantren yang ketika itu baru selesai melaksanakan kegiatan doa bersama tetap berada di posisi masing-masing sambil mendengarkan azan serta menjawabnya. Setelah azan selesai mereka membaca doa kemudian dilanjutkan dengan pujian-pujian yang wajib dibaca ketika hari Kamis malam Jumat oleh para santri.

”Ilahi lastu lil fidausi ahla, wala aqwa ala naril jahimi. Fahabli taubatan waghfir dzunubi, fainnaka ghofirun dzanbil adzimi,” suara para santri menggema melantunkan pujian yang apabila dibaca dan dihayati isinya dapat merontokkan sifat keangkuhan serta kesombongan manusia.

Setelah para santri salat maghrib dengan berjamaah, selesai pula rangkaian kegiatan itu. Para santri berbondong-bondong kembali ke asrama masing-masing. Di Asrama, mereka tidak bersantai-santai. Mereka nderes pelajaran yang disampaikan oleh para pengasuh sebelumnya. Dalam kesempatan seperti itu, terkadang mereka juga terlibat dalam sebuah diskusi tentang materi yang belum dipahaminya. Mereka belajar dengan didampingi santri senior yang ditugaskan sebagai mentor di setiap asrama.

Ketika para santri sedang nderes atau belajar, terdengar pengumuman dari kantor pengurus pondok. Para santri diam sejenak untuk mendengarkan pengumuman. Para santri yang menghuni asrama Arrahman tertegun ketika nama asramanya disebut.

Tanpa komando susulan, para santri memenuhi panggilan itu. Penghuni asrama Arrahman yang berjumlah sembilan santri langsung berdiri di depan pos keamanan pondok pesantren.

”Amri dan Syamsul, kemari! Yang lain silakan kembali ke asrama,” kata Khobir sebagai ketua keamanan. Kedua santri tersebut menghampiri Khobir.

”Ada apa, Kang?” tanya Syamsul.

”Mari ikut saya ke majlis tahkim!” ajaknya.

Amri dan Syamsul saling pandang. Dalam hati mereka bertanya-tanya tentang kesalahan yang diperbuat hingga dibawa ke majlis tahkim atau pengadilan pondok pesantren. Hati mereka semakin remuk ketika mereka masuk di ruang khusus. Mereka melihat pengasuh dan pengurus pondok pesantren yang sudah menunggunya. Di sebelahnya lagi ada dua santri putri yang sudah tidak asing lagi bagi Amri dan Syamsul.

”Amri dan Syamsul, apakah kalian mengenal dua santri putri ini?” tanya Rosyad, salah satu anggota majlis tahkim. Kedua santri tersebut mengangguk.

”Siapa mereka?” pertanyaan lanjutan Rosyad.

”Mereka Anita dan Lusi,” jawab Amri yang dibenarkan oleh Syamsul.

”Sepertinya kalian sangat akrab. Apakah kalian pernah saling bertemu?”

”Pernah. Tanpa sengaja kami pernah bertemu di kantin,” jawab Syamsul.

”Benar begitu Amri?”

”Benar.”

”Setelah itu apakah kalian pernah bertemu lagi di tempat lain?” Rosyad menelusuri lebih lanjut.

Mereka tidak langsung menjawab. Amri dan Syamsul diam. Mereka tertunduk malu. Demikian juga dengan Anita dan Lusi. Kedua santri putri ini membenamkan wajahnya dalam jilbab yang dikenakannya. Mereka malu kepada Kiai.

”Kenapa diam? Ayo, dijawab!” bentak Rosyad.

”Sabar Rosyad. Beri kesempatan pada mereka untuk mengingat-ingat kejadiannya,” tegur Kiai Maghfur pada Rosyad yang mukanya memerah.

”Mohon maaf, Kiai. Saya khilaf karena terbawa emosi,” kata Rosyad pada Kiai.

”Amri dan Syamsul harap menjawab pertanyaan Kang Rosyad dengan jujur dan ikhlas,” dawuh Kiai Maghfur.

”Kami bertemu lagi di kafe dekat pasar.”

”Kapan dan apa yang kalian lakukan di sana?” selidik Rosyad.

”Kamis sore minggu lalu kami janjian keluar dan bertemu di kafe tersebut. Kami pesan kopi dan sekadar bercakap-cakap biasa. Setelah itu, kami kembali lagi ke pondok ketika azan maghrib,” pengakuan Amri.

Pengasuh dan para pengurus memutuskan bahwa mereka sudah terbukti bersalah. Mereka keluar pondok tanpa izin keamanan. Apalagi mereka keluar lokasi dengan berpasang-pasangan. Hal ini berdasarkan informasi yang disampaikan oleh Anita dan Lusi yang didukung oleh pengakuan Amri dan Syamsul.

”Anita, Lusi, Amri, dan Syamsul, kalian telah terbukti melakukan pelanggaran besar. Kalian telah sengaja keluar dari lokasi pondok pesantren secara bersama-sama. Kalian sudah paham bahwa di pondok pesantren ini ada peraturan yang melarang keras santri putra dan santri putri melakukan interaksi. Apalagi ini dilakukan di luar pondok pesantren tanpa sepengetahuan pengurus dan pengasuh. Konsekuesinya, kalian harus menerima takzir atau sanksi yang akan diberikan oleh pengurus dan keamanan pondok sesuai dengan kesalahan kalian. Sebelum kalian melaksanakan takzir, kami akan mengundang kedua orang tua kalian,” kata Kiai Maghfur.

Keempat santri hanya berdiam diri di depan para pengurus dan pengasuh. Mereka tidak berani berkilah karena terbukti melanggar peraturan pesantren. Meskipun mereka hanya bercakap-cakap sambil menikmati menu di kafe, mereka sangat menghargai keputusan itu. Pengurus dan pengasuh pesantren membuat aturan dan menegakkan aturan tersebut sebagai langkah prefentif atau pencegahan agar para santri tidak terjerumus pada perbuatan tercela, yakni perzinaan. Berpacaran atau berduaan antara laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim di tempat tertentu merupakan perbuatan yang mendekati zina. Hal ini disebabkan berawal dari situlah syetan akan memengaruhi hati dan menjerumuskan manusia ke dalam perbuatan mesum.

Keesokan harinya wali santri keempatnya hadir di pesantren. Para orang tua yang berharap anaknya mendapat gemblengan pendidikan agama menyerahkan sepenuhnya semua keputusan pesantren terhadap putra-putrinya. Mereka ikhlas dan rela atas takzir atau sanksi yang telah diberikan oleh pengurus dan pengasuh pondok pesantren kepada Amri, Syamsul, Anita, dan Lusi.

Kiai Maghfur yang didampingi para pengurus pesantren mengantar para orang tua seusai bermusyawarah tentang pendidikan anaknya. Para pemangku pesantren sangat berterima kasih dan mengapresiasi para wali santri yang sangat peduli dengan pendidikan pesantren anak-anaknya. Hal itu sangat membantu para pengasuh dan pengurus pondok dalam menata dan membina akhlaq para santri.

Setelah kejadian tersebut keempat santri itu santri jera dan berjanji tidak mengulanginya lagi. Para santri yang lain juga tidak berani melakukan perbuatan seperti yang dilakukan keempat santri itu. Mereka bertekad akan fokus mempelajari ilmu agama sebagaimana niat mereka belajar di pondok pesantren.

Minggu berikutnya, tepat hari Kamis sore ratusan santri serempak datang ke masjid pondok pesantren.  Mereka melaksanakan kegiatan rutin. Amri, Syamsul berada di barisan depan. Mereka ditakzir oleh pengurus dan pengasuh pondok pesantren sebagai pemimpin dalam kegiatan tersebut. Demikian pula dengan Anita dan Lusi. Keempat santri tersebut menjalankan sanksi yang menurutnya positif itu dengan ikhlas dan penuh tanggung jawab.

Kalimah-kalimah toyyibah berkumandang dari pengeras suara di masjid pondok pesantren. Suara para santri bergema hingga menggetarkan hati orang-orang yang mendengarnya. Mereka khusuk berdzikir dan berdoa untuk melunakkan hati agar mudah menerima nasihat dan bimbingan ilmu agama dari para kiai dan ustadz di pondok pesantren. (*) 

Lamongan, 8 Januari 2022

Ahmad Zaini adalah guru di SMKN 1 Lamongan dan ketua PC Lesbumi NU Babat. Penerima penghargaan dari Gubernur Jawa Timur karena buku kumpulan cerpennya berjudul Lorong Kenangan memenangi lomba GTK Creative Camp (GCC) 2021.