Jika Kau Bukan Anak Raja, Juga Bukan Anak Ulama Besar, maka Menulislah

Jumat, 06 Maret 2015

Rumah Lebah



Rumah Lebah
Karya Ahmad Zaini


Di belakang rumah Anggun terdapat pohon trembesi. Pohon berdaun teduh tersebut menjadi tempat persinggahan para binatang bersayap. Aneka burung, serangga, dan lebah sangat menyukai pohon itu sebagai tempat beristirahat baik siang maupun malam.
Pohon yang kayunya keras itu ujung batangnya berlubang. Bagian yang lubang tersebut dimanfaatkan lebah sebagai tempat tinggal. Setiap hari terdapat ratusan lebah bahu-membahu membangun rumah. Lebah-lebah itu merangkai beberapa unsur bahan menjadi istana yang megah sekali.
Ayah Anggun mengetahui jika lebah merupakan binatang penyengat yang sangat bermanfaat. Lebah-lebah itu akan menghasilkan madu. Madu bisa dijadikan sebagai obat berbagai macam penyakit dan juga bisa sebagai campuran jamu penambah stamina seseorang. Oleh karena itu, ayah Anggun membiarkan ratusan lebah itu mendiami pohon trembesinya.
Anggun datang dari sekolah. Gadis kecil berseragam putih merah itu menaruh sepeda lipatnya di teras rumahnya. Ia menghampiri ayahnya yang sedang bersantai di bawah pohon trembesi.
“Ayah, kapan kita panen madu lagi?” tanya Anggun kepada ayahnya.
“Sebentar lagi Anggun. Sabar dulu. Kalau sudah waktunya panen, kamu saya beritahu.”
“Terima kasih ayah. Yang penting waktu memanen jangan sampai bersamaan dengan waktu sekolah Anggun. Usahakan hari Minggu, Yah!”
“Baiklah. Besok kamu saya beri tugas untuk memeras madunya ke dalam timba. Ibumu bertugas menuangkan madu ke dalam botol kecil yang sudah saya siapkan di rumah.”
“Kemudian kita jual, Yah. Hasilnya kita gunakan untuk membeli buku dan sepatu baru.”
“Hmmmm…! Lantas bagaimana kalau ada orang sakit yang sangat membutuhkan madu tersebut sedangkan orangnya tidak memunyai uang. Apakah kita tetap menyuruhnya membeli?” kata ayah Anggun memancing putri kesayangannya itu.
“Kalau mereka tidak memunyai uang ya kita beri saja secara cuma-cuma.”
“Anak pintar. Sekarang silakan ganti seragam sekolahmu dulu. Setelah itu silakan makan kemudian bermain dengan Citra dan Sulastri  di sini,” perintah ayahnya.
Anggun bergegas masuk ke rumah. Dia mengganti baju seragamnya dengan baju bermainnya. Setelah makan, Anggun keluar rumah. Ia memanggili teman-temannya untuk diajak bermain di bawah pohon trembesi. Tak lama kemudian, anak-anak yang rajin itu datang. Mereka membawa beraneka mainan ke bawah pohon trembesi yang teduh.
Baru beberapa saat mereka bermain, mereka mendengar ada sekepal batu menghantam daun-daun trembesi yang sangat rindang.
“Hai, siapa?” teriak Anggun dan teman-temannya.  Mereka mencari siapa yang telah melemparkan batu ke pohon trembesi.
“Eh, ternyata kamu, Fan!? Kenapa kau melempari pohon trembesi? Perlu kamu ketahui bahwa di lubang pohon trembesi itu terdapat sarang lebah.” Anggun berkata kepada Fani yang merunduk di balik semak-semak.
“Hahahahaha. Justru itu yang kumau. Aku ingin merusak rumah lebah itu agar mereka pergi biar tidak mengganggu kami lagi,” jawab Fani.
“Apa? Mengganggu? Saya sejak dulu bermain di bawah pohon trembesi ini. Lebah-lebah itu tidak pernah sekali pun mengganggu kami. Apalagi sampai menyengat kami,” bantah Anggun.
“Kawan-kawan, ke mari!” Seru Fani.
Dari balik semak-semak muncul Roni, Anton, dan Supri. Mereka menghampiri Fani dengan membawa ketepel lengkap dengan pulurunya.
“Ayo, kita berondong rumah lebah itu biar mereka tidak menyengat kita lagi,” perintah Fani.
“Jangan! Jangan kalian rusak rumah lebah itu. Mereka tidak pernah mengganggu kalian. Lebah itu memberikan manfaat kepada kita. Setiap hari mereka selalu mengeluarkan madu. Madu dapat dijadikan obat bagi manusia agar tetap sehat.”
“Ah, aku tidak menggubris omonganmu. Yang penting saat ini kami akan balas dendam kepada lebah-lebah itu. Kami akan memusnahkan rumahnya agar lebah-lebah itu pergi dari sini,” kata Fani dengan congkak.
“Jangan! Kami mohon jangan kalian rusak rumah lebah itu!” rengek Anggun.
Fani dan teman-temannya tak menghiraukan rengekan Anggun. Mereka bersikeras akan menghancurkan istana lebah itu dengan ketepel yang telah mereka siapkan.
Fani, Anton, dan Supri merogoh sakunya. Mereka mengambil peluru berupa butiran-butiran tanah yang sudah mengeras. Fani sebagai anak yang keras kepala itu memberikan komando kepada teman-temannya.
“Satu, dua, tiga! Lepaskan pelurunya!” teriak Fani mengomando teman-temannya. Butiran-butiran tanah itu meluncur kencang dari ketepel dan tepat mengenai sasaran. Rumah lebah itu hancur berantakan. Rumah lebah bermadu itu tak  berbentuk sehingga ratusan lebah itu kalang kabut menyelamatkan diri.
“Hore…, hore…, hore…!!!” Fani dan teman-temannya bergirang ria karena telah berhasil merusak rumah lebah.
Baru beberapa saat mereka meluapkan kegembiraannya karena telah berhasil merusak rumah lebah, tiba-tiba ada ratusan lebah mendengung dari kejauhan. Gerombolan lebah itu melesat cepat menyerang Fani dan kawan-kawannya. Mereka berusaha lari tunggang langgang menyelamatkan diri.
Kecepatan lari mereka masih kalah dengan gerakan lebah. Mereka tidak berdaya. Mereka disengat lebah-lebah itu. Wajah, tubuh Fani dan kawan-kawan bentol-bentol bahkan ada bagian tubuhnya yang bengkak. Mereka berteriak  meminta tolong kepada ayah Anggun.
“Tolong, Pak! Tolong…!” terika mereka.
Ayah Anggun yang mendengar teriakan mereka bergegas keluar rumah. Dia menolong mereka yang mengerang-erang kesakitan akibat sengatan lebah.
“Kenap kalian?”
“Saya disengat lebah, Pak,” jawab Fani.
“Pasti kalian telah mengganggu mereka. Maka dari itu, jangan kalian ulangi lagi perilaku kalian. Mereka juga makhluk Allah sama seperti kita. Lebah-lebah itu juga butuh rumah. Bahkan mereka menghasilkan madu. Madunya bisa kita manfaatkan sebagai obat.”
Ayah Anggun mengambil minyak tawon lalu dioleskan ke tubuh mereka yang bentol-bentol akibat sengatan lebah.
“Terima kasih, Pak! Kami minta maaf dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Kami pamit dulu!”
Fani dan kawan-kawan meninggalkan tempat itu. Mereka pulang sambil memegangi kepala dan bagian tubuhnya yang bentol-bentol.
Anggun dan teman-temannya terdiam. Mereka hanya tersenyum geli melihat Fani dan kawan-kawannya yang telah menerima ganjaran dari ulah yang mereka lakukan. Anggun dan kawan-kawan akhirnya melanjutkan permainannya lagi. (*)

Lelaki Penakluk Panggung



Lelaki Penakluk Panggung
Cerpen karya Ahmad Zaini*

Gema membahana tetabuhan perkusi mengiringi sebuah pementasan. Berhiaskan kilatan lighting aneka warna menerangi pelataran panggung yang senyap. Lampu berangsur remang. Lama kelamaan gelap. Muka panggung kelam menyembunyikan cerita. Suara perkusi semakin mengabur. Suaranya  perlahan sepi. Sunyi sekali.
Dalam hitungan detik para penabuh menghentakkan kedua telapak tangannya lagi di gendang perkusi yang menanti. Suaranya mengundang hasrat penonton yang duduk berlarik-larik di depan panggung. Suara perkusi mulai mengantar lakon pementasan teater malam ini. Ya. Pementasan terakhir dari lelaki penakluk panggung yang tersohor di jagad teater.
“Samiun…! Samiun…!” suara di balik panggung memanggil tokoh Samiun.
Seruan suara di balik panggung tak henti-henti memanggili tokoh Samiun. Namun, Samiun tidak segera muncul. Mata para penonton mengintip tempat keluar para pemain. Akan tetapi, tatapan mereka hampa karena tokoh Samiun tidak kunjung muncul dari balik kain hitam yang dijadikan setting pada pertunjukan kali ini.
Penonton mulai gaduh. Suara demi suara para penonton yang memadati gedung pertunjukan menjejali ruang hingga telinga ini disesakkan suara-suara mereka. Para penonton gusar karena tokoh yang ditunggu-tunggu tidak segera muncul.
Para penonton berdebat hebat. Mereka memperdebatkan tokoh Samiun yang tak muncul-muncul. Ada yang mengatakan kejadian ini adalah bagian dari skenario pementasan malam ini. Ada juga penonton yang mengatakan ini bukan dari skenario. Ini adalah kecelakaan pementasan yang sering dialami para pekerja teater.
“Samiun…, di mana kau? Muncullah!” suara dibalik panggung itu berimprovisasi dengan menambah dialog yang tidak dituntut dalam naskah dengan tujuan agar tokoh Samiun segera muncul.
Ratusan penonton mengangkat wajahnya. Mereka berharap tokoh Samiun yang diperankan oleh akctor kawakan ini segera muncul di panggung. Mereka kecewa kesekian kalinya lantaran tokoh yang ditunggu-tunggu tidak segera menampakkan wujudnya.
Sang sutradara yang duduk di depan panggung juga heran. Dia tak menyangka jika alur cerita yang telah dia persiapkan menjadi kacau-balau seperti ini. Sang sutradara dengan cekatan mengambil sikap. Dia memunculkan tokoh-tokoh lain yang tidak direncanakan dalam pementasan ini. Ada lima tokoh yang memakai kostum lucu bermunculan ke atas penggung. Mereka berupaya meredam kegaduhan penonton yang tak sabar menunggu tokoh Samiun dengan pantomim. Mereka mengangkat kisah jenaka agar penonton tertawa.
Harapan sang sutradara sirna. Para penonton bergolak-golak. Mereka menyoraki lima tokoh pantomim di atas panggung. Mereka tidak mau niat mereka datang ke gedung pertunjukkan ini sia-sia. Mereka hanya ingin menyaksikan pementasan tokoh Samiun, bukan yang lain.
Gelombang suara penonton yang mayoritas adalah pekerja dan penggila teater ini seperti gelegar suara halilintar. Suara itu saling bersabung di ruang pertunjukan. Suara-suara itu saling bertabrakan hingga memercikkan bunga-bunga api di atas panggung.
Panggung yang semula diam perlahan bergerak. Panggung itu seakan bernyawa. Gerakan panggung itu semakin lama semakin keras. Panggung tersebut meronta bagai banteng yang tak rela punggungnya dinaiki para matador. Punggung panggung tersebut melonjak-lonjak. Panggung itu melempar kelima tokoh pantomim dari atas punggungnya. ke tengah-tengah penonton.
Sang sutradara panik. Ia mengalami kepanikan yang luar biasa. Dia tak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya dapat menghela napas panjang. Ia berusaha menenangkan jiwanya untuk mencari jalan keluar dari kejadian di luar batas kewajaran ini.
“Sial, sial, sial…!” umpat sutradara.
Sang sutradara  berlari ke belakang panggung. Ia mencari lelaki pemeran tokoh Samiun. Setiap ia bertanya kepada orang yang dijumpai, tak satu pun dari mereka yang menjawab. Mereka diam. Mereka membisu. Ia bagai patung yang tak bisa memberikan manfaat kepada manusia.
Panggung pertunjukan meronta-ronta semakin liar. Semua properti yang telah disiapkan di atas panggung terlempar dan berserak memenuhi ruang. Bahkan ada yang menghantam para penonton hingga terluka.
Para penonton tidak mau kalah. Mereka tak ingin ditaklukkan benda mati yang kini bertenaga seperti banteng terluka. Para penonton berusaha mengerahkan segala kemampuannya untuk menaklukkan panggung. Akan tetapi, usaha mereka selalu gagal karena tak mampu menjinakkan panggung yang menggila.
“Awas…!!” teriak salah seorang penonton saat melihat sebuah properti meluncur hampir mengenai kepala sang sutradara.
Sang sutradara dan para penonton berlarian menjauh dari panggung. Lalu mereka berdiskusi tentang bagaimana cara menaklukkan panggung tersebut.
“Di mana lelaki pemeran tokoh Samiun? Dialah orang yang mungkin bisa menaklukkan panggung. Jiwanya telah menyatu dengan panggung. Ruhnya telah bersatu dengan panggung. Segera cari lelaki itu,” kata seorang penonton yang juga pengagum dari lelaki maestro teater di daerah ini.
Sang sutradara terpaku. Dia kagum pada usulan yang disampaikan oleh salah satu penonton. Sang sutradara menatap salah seorang penonton yang berlari sambil mengendap-endap di samping panggung. Salah seorang penonton itu bermaksud mencari lelaki pemeran tokoh Samiun.
“Kau lihat lelaki pemeran tokoh Samiun?” tanya orang tersebut kepada para kru teater yang masih ketakutan.
“Kami tidak tahu. Kami sejak tadi juga mencarinya.”
Orang itu kembali ke sutradara dan para penonton yang masih berkerumun di luar ruang pertunjukan. Ia mengabarkan kalau lelaki pemeran Samiun belum berhasil iatemukan.
Sang sutradara manggut-manggut. Ia salut pada usaha orang itu. Sang sutradara kemudian duduk bersandar pada dinding ruang pertunjukan. Dia ingin mencari cara bagaimana agar aktornya itu muncul lalu menaklukkan panggung yang mengamuk dan telah menelan banyak korban.
“Para penabuh, segera bunyikan gendang kalian!” perintah sang sutradara.
Para penabuh segera mengambili gendang yang masih berserak di pelataran. Mereka kemudian menata gendang lalu duduk seperti sebelum kejadian ini.
Suara gendang mengalun pelan. Tetabuhan berirama rancak itu menyenandungkan gending yang biasa digunakan untuk mengiringi lelaki pemeran Samiun. Mereka sangat paham pada gending yang disukai Samiun.
Baru beberapa saat gending itu mengalun, panggung kembali mengamuk. Namun, amukan panggung ini tidak memengaruhi para penabuh. Mereka tetap tenang merangkai gending. Mereka tak menghiraukan panggung yang mengancam keselamatanya.
“Samiun…! Samiun…!” Sang sutradara memanggil tokoh Samiun.
Tiba-tiba dari balik panggung yang berdiri tegak itu, muncullah lelaki pemeran Samiun sambil menari mengikuti iringan gendang para penabuh. Lelaki berperawakan kerempeng itu menggerakkan kedua tangannya dengan lemah gemulai. Dia menari sesuai hentakan gendang yang semakin lama semakin keras.
Lelaki itu menaiki panggung. Ia bermonolog tentang kegaduhan-kegaduhan di negeri ini. Ia menceritakan peristiwa-peristiwa ganjil yang membingungkan rakyat. Dalam monolognya ia juga mengajak agar kita tetap menjadi orang yang eling lan waspodo.
“Wong eling lan waspodo bakal bejo senahoso gak kaduman opo-opo,” katanya dalam monolog.
Lelaki itu berakting total. Aktingnya semakin menjadi-jadi. Dia telah menyatu dengan panggung dan ruang pertunjukan. Ia sangat mamahami dan menghayati peran yang ia bawakan. Ia mampu memeras air mata penonton dengan cerita sedih tentang negeri ini. Tentang negeri yang tak pernah surut air mata.
Baru setengah cerita yang dibawakan Samiun, panggung kini jinak. Panggung itu tenang tak beringas seperti sebelumnya. Panggung tersebut telah  menyatu dengan peran yang dibawakan lelaki itu. Seorang laki-laki yang telah menghambakan diri pada teater.
Cerita dalam skenario telah usai. Panggung terdiam. Panggung sunyi. Suara senyap. Demikian juga para penonton yang berada di tempat pertunjukan. Mereka terhipnotis oleh cerita Samiun. Mereka menangis, meratap, lalu merebah tak sadarkan diri. Panggung dan para penonton tak berdaya. Mereka hanyut dalam cerita lalu menyatu dengan jiwa lelaki yang mementaskan lakon terakhir kalinya ini. (*)

Wanar, 27 Januari 2015






Selasa, 10 Februari 2015

Bulan Merah Darah



Radar Bojonegoro (Jawa Pos Grup), Minggu, 14 Desember 2014

Bulan Merah Darah
Cerpen karya Ahmad Zaini

Matahari sore itu telah duduk di ujung rumpun bambu yang mengelilingi kampung. Jeritan batang bambu yang saling berhimpitan laksana rintihan biola dipanggung orchestra tentang lirik duka yang sangat dalam. Angin yang sepanjang hari bergandeng dengan panas matahari juga telah mereda. Tiupannya tidak sekencang siang yang menerbangkan sampah-sampah dan debu sepanjang jalan.
Waktu siang benar-benar telah membagi tugas dengan waktu malam. Siang sirna malam pun tiba. Malam datang tidak sendirian karena bulan dan bintang selalu setia mendampinginya. Kebetulan malam itu merupakan malam purnama. Bulan akan muncul setelah maghrib dalam bentuk yang paling sempurna. Berbentuk bulat penuh serta memancarkan cahaya putih berkilau.
Para warga khususnya anak-anak telah bersiap-siap memanfaatkan momen purnama. Sejak siang mereka telah melakukan perjanjian bersama teman-teman sepermainan untuk menikmati bulan purnama dengan permainan-permainan yang dapat menghilangkan kejenuhan sewaktu di sekolah atau kecapekan karena membantu orang tua. Demikian pula para kawula muda. Mereka tidak mau kalah dengan anak-anak. Mereka bersiap-siap menuju ke tanah lapang untuk bermain sepak bola dengan alat egrang. Para warga tidak ingin menyia-nyiakan  bulan purnama melintasi  malam begitu saja.
Saat yang mereka tunggu-tunggu sejak sore akan segera tiba. Langit di ufuk timur sudah terlihat kemerah-merahan. Ini menandakan bulan akan segera muncul dari peraduannya. Anak-anak dan kawula muda telah melakukan persiapan. Dia akan bermain dengan sepuas-puasnya sambil bermandikan cahaya bulan purnama.
Warna langit yang kemerah-merahan semakin jelas. Lalu bulan muncul dari balik awan tipis yang memayunginya. Para warga yang telah berkumpul di tanah lapang tertegun. Mereka tidak lantas bermain-main sesuai dengan rencana. Mereka merasa ada yang aneh pada bulan yang muncul malam ini. Biasanya kalau memasuki tanggal lima belas bulan purnama, bulan akan muncul dalam bentuk yang sempurna serta becahaya putih kemilau. Namun, kali ini berbeda. Bulan muncul dalam bentuk bulat telur atau oval serta cahayanya merah darah.
Melihat fenomena aneh seperti itu, anak-anak menganggap sebagai hal yang biasa. Demikian juga para kawula muda. Mereka meneruskan rencana yang telah disusun matang-matang sejak siang. Anak-anak bermain kejar-kejaran sedangkan para kawula muda memainkan atraksi yaitu bermain sepak bola dengan alat egrang. Mereka tetap bersuka cita menikmati bulan purnama yang tidak sempurna. Wajah mereka memerah. Mereka saling menertawakan sewaktu mereka melihat wajah temannya yang merah akibat cahaya purnama. Mereka saling menunjuk wajahnya yang berubah seperti monster yang sering mereka lihat di film-film.
Suasana meriah di tanah lapang yang berada di luar kampung berubah menjadi kepanikan. Orang tua mereka bermunculan dari dalam kampung sambil berteriak-teriak menyerukan agar mereka segera menghentikan permainannya lalu pulang ke rumah masing-masing.
“Ayo, bubar dan pulang ke rumah masing-masing karena akan datang malapetaka!” kata salah satu orang tua kepada anak-anak dan remaja yang sedang berada di tanah lapang.
Mereka tidak segera pulang dengan seruan itu karena belum puas melakukan permainannya. Para orang tua tidak mau kalah dengan anak-anaknya. Mereka memaksa anak-anaknya pulang dengan menyeret tangannya yang mulai licin akibat keringat yang sudah mulai bercucuran.
“Ayo, cepat pulang!” serunya.
Dengan berat hati anak-anak dan remaja mengikuti kemauan orang tua masing-masing. Mereka terpaksa menuruti kehendak orang tua mereka dengan rasa penasaran yang bersarang dalam batok kepalanya.
***
 Orang-orang kampung memercayai jika bulan berwajah merah darah maka itu sebagai pertanda akan terjadi marabahaya atau malapetaka yang akan melanda negeri. Akan terjadi pertumpahan darah atau perang saudara untuk merebutkan kekuasaan. Mereka kemudian menghubung-hubungkan pergantian kepemimpinan yang terjadi di negeri ini.
Menurut ingatan mereka, setiap pergantian kepemimpinan  di negeri ini selalu ada pertumpahan darah. Pemimpin yang telah habis masa tugasnya tidak legowo menyerahkan tampuk kekuasaanya kepada pemimpin yang baru terpilih. Mereka berupaya memertahankan kekuasaannya agar bisa mencapai tujuan yang hingga kini belum tercapai. Bahkan ada yang berdalih karena dana yang mereka keluarkan sewaktu proses pemilihan sebagai pemimpin belum seimbang dengan gaji yang mereka dapatkan selama berkuasa. Hal itulah yang menyebabkan mereka tidak mau menyerahkan kekuasaan kepada generasi penerusnya.
Bulan purnama beranjak semakin tinggi. Bulan merah darah menapaki tangga langit yang ikut memerah bagai tumpahan darah. Warga kampung semakin merinding. Mereka takut jika peristiwa-peristiwa masa silam akan terjadi lagi.
Kepala kampung dan para perangkatnya berkeliling kampung menyerukan agar semua warga jangan sampai ada yang keluar rumah atau bepergian ke luar kampung. Mereka mengkhawatirkan warganya akan menjadi korban dalam kerusuhan jika peristiwa pergantian kepemimpinan akan rusuh seperti tahun-tahun sebelumnya.
“Seluruh warga harap masuk! Para warga dilarang bepergian ke luar kampung. Semua harap menahan diri dalam rumah!” serunya.
Usai ada larangan dari kepala kampung, kampung itu senyap. Tak ada seorang pun yang berani keluar rumah. Kampung itu bagai kampung mati karena tak ada seorang pun yang terlihat di luar rumah.
Bulan merah darah semakin menjadi-jadi. Cahaya merahnya menerobos rumah warga lewat celah atap atau dinding bambu. Cahayanya seperti darah yang diguyurkan purnama dari langit ke  bumi yang tak berdaya ini. Wajah para warga ikut memerah terkena pantulan cahaya bulan. Tanah dan seluruh isi kampung juga berwarna merah darah. Kampung itu laksana sedang dilanda banjir darah. Pertumpahan darah akibat pergantian tampuk kepemimpinan yang dikuasai amarah dan nafsu berkuasa yang semakin membuncah.
Para warga berdiam diri dalam rumah. Mereka belum ada yang berani keluar dari rumah sebelum ada instruksi dari kepala kampung. Mereka jenuh. Mereka bosan. Tangan dan kakinya terasa gatal dan kesemutan. Mereka ingin keluar rumah agar bisa menikmati malam yang dihiasi bulan yang berwarna merah darah.
Pertumpahan darah yang mereka takutkan benar-benar menjadi kenyataan. Akan tetapi, peristiwa mengerikan itu hanya terjadi di pemerintahan pusat dan tidak sampai merembet ke daerah-daerah. Bulan merah darah telah membakar emosi para penghuni gedung parlemen. Penghuni gedung parlemen saling membantai, saling menjegal demi melampiaskan kekecewaan kepada pihak yang berkuasa. Gedung parlemen membara. Gedung parlemen penuh dengan emosi, angkara murka, nafsu keserakahan. Gedung parlemen ditenggelamkan nafsu syetan yang tak terkendalikan. Gedung parlemen telah melenyapkan mata hati dan nurani kepemimpinan. Sungguh mengenaskan!
***
Cahaya merah mencengkeram gedung parlemen. Bulan merah darah telah meluapkan  kepedihan dan kekecewaan atas perilaku penghuninya yang saling menjegal di gedung tersebut. Bulan purnama menangis tiada henti menumpahkan amarah dengan air mata darah. Bulan itu kecewa karena musyawarah dan mufakat tidak lagi singgah di dalam gedung tersebut. Yang ada hanyalah ambisi pribadi dan golongan untuk menguasai negeri yang tercinta ini.
Lambat laun bulan merah darah berhenti tepat di puncak gedung parlemen. Ia mencair lalu meluluri gedung, tempat orang-orang yang berambisi pada kekuasaan. Bulan itu menyatu dengan gedung tersebut serta melebur dengan penghuninya yang selalu dikuasai nafsu serakah dan amarah. Gedung parlemen memerah karena karena cahaya bulan merah darah. (*)

Lamongan, 17-18 Oktober 2014