Jika Kau Bukan Anak Raja, Juga Bukan Anak Ulama Besar, maka Menulislah

Jumat, 25 Mei 2018

Cerpen Kaum Pendatang


Kaum Pendatang
Cerpen karya Ahmad Zaini*

Kesibukan warga di daerah ini meningkat tajam. Mereka menghias wajah daerahnya dengan berbagai umbul-umbul dan hasil kreasi lainnya. Mulai pagi sampai menjelang senja, para warga bekerja bakti tanpa mengenal lelah. Mereka ingin segera merampungkan semua keperluan untuk menyambut kedatangan orang-orang modern. Orang-orang berpengalaman dari kota. Konon mereka datang ke daerah ini untuk membantu warga dalam rangka meningkatkan hasil pertaniannya.
Sudah dua minggu para warga menyiapkan tempat tinggal buat orang-orang yang diyakini akan membawa kemajuan daerah. Ada yang rela membantu bahan baku rumah seperti kayu, genting, gedhek atau dinding rumah dari anyaman bambu, serta keperluan hidup lainnya secara cuma-cuma. Mereka sangat antusias menyambut kedatangan orang-orang milenia. Warga sangat yakin pada kiprah kaum pendatang nanti. Orang-orang modern ini dianggap sebagai malaikat yang bisa mengubah kehidupan warga menjadi lebih baik. Seperti yang sudah disampaikan oleh kepala daerah sebagai pihak yang mengundang mereka datang ke sini.
Subroto sebagai kepala daerah datang untuk melakukan sidak. Didampingi para pejabat lainnya, ia mengecek semua persiapan penyambutan orang-orang itu mulai dari tempat sampai fasilitas-fasilitas lainnya. Kepala daerah tidak mau kedatangan mereka nanti meninggalkan kesan yang kurang memuaskan. Ia tidak ingin mengecewakan orang-orang itu.
”Saya sangat puas dengan persiapan penyambutan ini. Terima kasih Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu serta Saudara sekalian yang telah mempersiapkan semua fasilitas demi menyambut mereka nanti. Orang-orang itu nanti pasti akan membawa perubahan demi kemajuan pertanian daerah kita nanti,” ucap Subroto di depan para warga yang mengerubutinya.
Jarwo, pemuda yang tidak setuju pada program ini. Dia meninggalkan kerumunan warga yang sedang dimabuk sanjungan. Jarwo tidak habis pikir kenapa warga di daerah ini begitu yakin dan bersemangat pada rencana kedatangan orang-orang ini. Mereka hanyalah orang-orang yang tahu teori saja. Ia khawatir malah sebaliknya. Mereka akan menguasai warga daerah ini dan menjadikannya sebagai pelayan mereka.
”Akan ke mana, Wo?” tanya Muis, tetangga sekaligus teman akrab Jarwo.
”Akan pulang.”
”Pulang? Acara belum selesai, kan?”
Ah, sudah banyak orang di sana. Aku kurang setuju dengan rencana ini.”
”Kenapa tidak setuju? Bukankah kedatangan mereka nanti akan membawa kemajuan daerah kita?”
”Itu hanyalah propaganda mereka untuk mengelabui warga. Saya curiga ada maksud-maksud terselubung di balik rencana ini,” kataku yang disambut dengan tatapan hampa oleh Muis.
”Kamu ini terlalu mengada-ada. Jangan berprasangka yang tidak-tidak. Jelas-jelas mereka akan datang untuk membantu pertanian kita,” sergahnya dengan perasaan yakin.
”Itu hakmu. Terserah kamu menilai program ini. Yang penting saya tidak setuju,” kata Jarwo mengakhiri perdebatan kecil dengan Muis.
***
Para warga berjajar rapi di sepanjang jalan. Mereka berdiri saling berhimpitan. Para warga dari berbagai usia rela berpanas-panasan untuk menyambut kedatangan rombongan tamu agung. Mereka bernyanyi, bersorak, dan beryel-yel untuk menunjukkan kekompakan kepada kepala daerah dan rombongan orang-orang kota. Kepala daerah yang didampingi para pejabat lainnya tak mau ketinggalan. Mereka berdiri di gerbang pendopo. Subroto dan para pengawal berbaur dengan warga lainnya menyambut kehadiran orang-orang andalan program ini.
Sirine patwal yang mengawal tamu agung terdengar dari kejauhan. Para warga berdesak-desakan. Mereka yang berdiri di lapis kedua barisan menyelinapkan kepalanya di sela-sela himpitan orang-orang di depannya. Mereka melihat langsung rombongan tamu agung yang sebentar lagi akan melintas di depannya. Tak lama kemudian iring-iringan mobil semakin mendekat. Rombongan orang-orang dalam mobil itu berhenti di depan pendopo.
Di pintu gerbang pendopo, Subroto didampingi para pejabat daerah lainnya berdiri. Para pejabat itu memberi sambutan hangat pada kedatangan mereka. Subroto dan para pegawainya membawa beberapa rangkaian kalung bunga. Mereka siap mengalungkan bunga kepada para tamu.
Dari mini bus bewarna hitam, turunlah lima lelaki berpakaian resmi. Mereka bergerak menuju pendopo. Subroto yang didampingi wanita yang membawa baki berisi kalung bunga. Dia mengalungkan bunga satu per satu kepada para lelaki itu sebagai ucapan selamat datang di daerahnya.
Para warga yang memadati pendopo duduk di kursi plastik. Mereka menunggu sambutan dari para pejabatnya. Mereka ingin mengetahui dan mengenal lebih dalam tentang program-program yang dibawa oleh kaum pendatang.
Jarwo duduk di kursi paling belakang. Ia menyimak paparan program yang disampaikan oleh pihak pejabat dan orang-orang itu. Jarwo yakin dalam program-programnya terselip upaya untuk menguasai kehidupan warga daerah ini. Mereka tidak mungkin datang dan tinggal berlama-lama di daerah ini tanpa ada tujuan tersembunyi.
Muis yang duduk di kursi terdepan menoleh ke arah Jarwo. Dia memanggil Jarwo sambil menujuk ke kursi kosong di sebelahnya. Jarwo menggelengkan kepala. Saat ini ia hanya berpartisipasi saja agar tidak kelihatan ketidaksetujuannya pada program mereka.
Subroto sebagai kepala daerah memberi sambutan selamat datang kepada kaum pendatang. Sambutannya berapi-api. Subroto yakin para kaum pendatang akan membawa perubahan di daerahnya. Dalam sambutannya,  ia membayangkan kehidupan warganya makmur, sejahtera, dan bergaya hidup modern. Pertanian mereka akan lebih maju karena sentuhan tangan dingin orang-orang yang didatangkannya. Para warga yang mendengarkan pidato kepala daerah yang berapi-api ini menyambutnya dengan riuh tepuk tangan. Para warga mengelu-elukan kaum pendatang. Mereka memberi sanjungan yang luar biasa kepada orang-orang itu.
”Aku tidak yakin hal itu akan terwujud. Kesengsaraanlah yang akan dirasakan oleh warga daerah ini nantinya,” gerutu Jarwo.
Para warga yang semula duduk tenang mendadak berdiri semua. Mereka ingin melihat sosok pemimpin rombongan yang akan berpidato setelah pemandu acara mempersilakannya.
”Hadirin diharap tenang dan duduk kembali,” pinta pemandu acara lewat pengeras suara.
Warga pun menurut. Mereka kembali duduk dengan tenang. Mereka diam sambil mendengarkan paparan program yang akan mereka lakukan selama tinggal di daerah ini.
Pidato ketua kaum pendatang ini lebih bersemangat. Isinya lebih menyentuh hati warga. Rupa-rupanya dia orator ulung yang mampu memengaruhi dan mengusai pendengarnya. Alhhasil, setiap laki-laki pendatang itu memberi jeda pada sambutannya, gemuruh tepuk tangan dan yel-yel ’hidup kaum pendatang’ menggema dan memenuhi pendopo daerah ini. Para warga seperti terhipnotis oleh isi sambutannya. Setelah memberi sambutan, mereka pun berebut berjabatan tangan dengan sang ketua rombongan ini. Para warga yakin program-program yang telah dipaparkan kaum pendatang akan membawa kesejahteraan warga sehingga mereka bisa hidup lebih makmur dan lebih modern.
***
Setahun sudah program ini berjalan. Akan tetapi, program-program ini belum memberikan dampak perubahan pada kehidupan warga petani. Yang terjadi saat ini malah keluh-kesah dari warga yang dulu mengelu-elukan orang-orang itu. Mereka merasa tidak bisa bebas bekerja karena serba diatur dengan dalih teori pertanian modern. Mereka tidak bisa bertani dengan menerapkan cara lama yang sudah mereka jalani semenjak hidup di daerah ini. Orang-orng itu telah menggantinya dengan cara dan alat pertanian baru serta modern. Hal inilah yang membuat warga merasa mati kutu dan tidak bisa bebas berkreasi sebagaimana sebelum-sebelumnya.
Orang-orang pintar itu mendatangkan alat pertanian modern. Semua alat tradisional pengolahan sawah yang mereka miliki seperti bajak, sabut atau alat memanen padi secara manual sekarang tidak berfungsi lagi. Para warga yang berprofesi sebagai petani hanya duduk dan melihat orang-orang itu sedang mengoperasikan alat-alat modern karena warga tidak mampu mengoperasikannya. Mereka tinggal duduk-duduk menunggu dan mengawasi alat-alat modern pemanen padi di pematang sawah sambil menikmati rokok dan kopi. Mereka takjub. Mereka heran karena pekerjaan memanen padi yang biasanya mereka lakukan membutuhkan waktu sehari atau setengah hari. Dengan alat panen modern itu hanya dalam hitungan jam, bahkan kurang satu jam padi mereka sudah ludes dan masuk dalam kemasan karung.
Muis, pemuda asli daerah ini, dipercaya oleh mereka untuk mengordinir biaya operasional panen warga. Teman Jarwo itu mendata nama-nama para pemilik sawah yang telah dipanen menggunakan jasa mereka. Para petani dikenakan biaya panen per bidang sawahnya satu juta rupiah. Para warga terkejut. Mereka keberatan dengan biaya segitu. Mereka menganggap ini adalah penindasan.  
”Ini terlalu mahal, Muis. Ini penindasan, pemaksaan,” keluh salah satu petani.
”Kalau dihitung-hitung, ya, tidak mahal. Pekerjaan kalian sudah diringankan oleh mereka. Kalian tidak perlu turun ke sawah berlepotan lumpur. Kalian tinggal melihat dan membawa hasil panen ke rumah atau ke para tengkulak,” kata muis menjawab keluhan para petani yang merasa dibodohi.
”Tidak. Kami sepakat tidak mau membayarnya bila tetap dengan biaya sebesar itu. Apabila kami membayar biaya sebesar itu, kami tidak mendapatkan untung. Bahkan, kami rugi karena biaya pengolahan dan perawatan padi kami sudah tinggi,” protes salah satu perwakilan petani yang didukung oleh petani lainnya.
Muis tidak berkutik. Ia tidak mampu menampung protes yang dilakukan oleh warga. Muis pun pergi menjauh dari petani yang tetap menolak membayar biaya panen. Dia akan melaporkan hal ini kepada pemimpinnya.
***
Orang-orang itu mendatangi para warga. Mereka masuk dari rumah satu ke rumah lainnya untuk menagih hutang para warga yang belum mau dibayar.
”Kamu saya beri waktu dua hari lagi untuk membayar biaya panen. Apabila sampai hari itu kamu masih tidak mau membayar, kamu akan saya polisikan,” ancam salah satu dari mereka kepada Mukidin yang bersikukuh tidak mau membayarnya.
”Dasar penjajah, penindas. Kalian penghisap rakyat. Dan Kau, Muis, jangan hidup di daerah kami. Pergilah bersama mereka meninggalkan daerah ini dan jangan kembali lagi,” sambung Mukidin.
Kehidupan rakyat semakin menderita. Mereka semakin sengsara. Para warga tidak bisa bekerja seperti biasanya. Mereka terikat kontrak perjanjian kerja sama dengan orang-orang yang didatangkan oleh Subroto, kepala daerahnya. Mereka dibina, diberi penyuluhan pertanian, serta dipinjami dana. Namun, setelah panen para warga harus membayar orang-orang itu dengan biaya yang sangat tinggi.
Jarwo, pemuda desa yang sejak awal tidak setuju dan mencurigai program ini, diam-diam mulai bergerak. Ia ditemani para ketua kelompok tani mendatangi polres setempat. Mereka melaporkan ada kejanggalan dan ketidakberesan pada program ini sambil membawa data pendukung yang lengkap sebagai bukti.
Keesokan harinya para warga dihebohkan oleh pemberitaan di media massa. Subroto, kepala daerah mereka, terkena operasi tangkap tangan atau OTT KPK. Subroto ditangkap di sebuah rumah makan saat menerima uang setoran dari para penindas rakyat itu. Penjajah kaum petani daerah ini.
Setelah para penghisap keringat warga itu ditahan KPK dan meringkuk di tahanan, warga tenang kembali. Mereka berkerja di sawah tanpa ada tekanan dari pihak mana pun. Mereka bebas mengolah sawah sendiri dan menikmati hasil panen sendiri tanpa bergantung kepada kaum pendatang. (*)
Lamongan, Maret 2018

*Cerpenis tinggal di Pucuk, Lamongan, Jawa Timur

















Senin, 23 April 2018

Mat Tompel, Pemimpin Tanpa Kursi (Jawa Pos grup, Radar Bojonegoro, Minggu, 22 April 2018)


Mat Tompel, Pemimpin Tanpa Kursi
Cerpen Ahmad Zaini

Mat Tompel. Nama aneh bagi sebagian warga. Entah siapa yang pertama menyebut lelaki yang punya kepedulian tinggi pada kehidupan warga ini dengan sebutan tersebut. Padahal, nama aslinya Ahmad Khoiruz Zaman. Mungkin saja warga menyebutnya dengan panggilan itu karena di kampung ini banyak warga yang dipanggil dengan sebutan Mat. Akhirnya, warga sepakat dengan panggilan Mat Tompel sesuai dengan ciri fisiknya. Kebetulan di pipi sebelah kanan Ahmad Khoiruz Zaman ini ada tompel bundar seperti uang logam.
Mat Tompel tak pernah memersalahkan sebutan yang tersemat pada dirinya. Meskipun, setiap hari ribuan bahkan puluhan ribu orang menyebutnya dengan nama Mat Tompel. Lelaki ini tidak pernah menuntut mereka ke pengadilan.
Mat Tompel orang yang kaya raya di kampung ini. Sawah dan pekarangannya tersebar di berbagai daerah. Dia juga memiliki beberapa rumah di kota yang dikontrakkan kepada para pegawai kantor dan pekerja pabrik. Mat Tompel tidak pernah turun ke sawah. Dia juga tidak pernah bekerja di pekarangannya. Dia tidak pernah sibuk mengurus rumah kontrakannya. Setiap hari ia hanya ongkang-ongkang kaki di rumah. Mat Tompel saban pagi sampai sore hanya cangkruan bersama warga di gazebo di halaman rumahnya yang luas.
Nama Mat Tompel terkenal di seantero daerah. Semua orang, mulai anak-anak, remaja, dewasa, sampai mereka yang berusia renta mengenal sosok yang satu ini. Hal ini tidak terlepas dari kekayaan yang dimilikinya serta sifat kedermawanannya kepada warga. Mat Tompel sosok yang tidak pelit dan senang  membantu warga yang membutuhkan uluran tangannya.
Rumah Mat Tompel berada di tengah perkampungan. Rumahnya sederhana. Berdinding kayu dan berlantai tanah. Tanpa keramik dan marmer. Di ruang tamu tidak terlihat kursi atau sofa mewah. Di ruang yang biasanya digunakan menyambut tamu dari berbagai daerah ini hanya tergelar karpet warna merah polos. Sedangkan di ruang tangah rumahnya hanya terlihat kursi kayu panjang yang bisa digunakan duduk lima sampai sepuluh orang serta meja kayu tanpa taplak meja.
Setiap hari puluhan warga keluar-masuk rumah Mat Tompel. Warga yang terdesak kebutuhan datang ke rumahnya untuk sekadar meminta bantuan baik bahan makanan atau uang. Mereka yang datang ke rumah Mat Tompel tidak ada yang kembali dengan tangan hampa. Warga yang datang pasti pulang dengan membawa buah tangan dari Mat Tompel.
”Mat, saya butuh beras buat buwoh ke rumah Kamson,” kata Rojali yang datang menghadapnya dengan tiba-tiba.
”Butuh berapa karung?” tanya Mat Tompel.
”Tidak banyak. Mungkin hanya sekarung beras sembako,” timpal Rojali dengan nada ringan.
”Masuk dan mintalah pada Parmin. Sampaikan kepadanya saya yang menyuruh,” kata Mat Tompel yang diikuti anggukan Rojali.
Tak lama berselang, Rojali keluar dengan memanggul beras sekarung sembako.
”Terima kasih, Mat!”
Suatu hari juga pernah ada wanita setengah tua datang ke rumah Mat Tompel. Dia menghadap kepada Mat Tompel dengan derai air mata. Wanita setengah tua itu menangis sesenggukan di depannya.
”Kenapa, Yuk? Apa yang membuatmu menangis seperti ini? Bukankah kemarin semua hutangmu sudah kulunasi?” tanya Mat Tompel kepada wanita setangah tua yang bersimpuh di depannya itu.
”Karena itulah saya datang lagi sambil menangis. Saya sebenarnya malu akan minta uang lagi padamu karena kemarin sudah kauberi,” terang wanita setengah tua itu.
”Jangan berkata seperti itu. Setiap kau butuh uang, datang saja ke sini! Memang butuh berapa dan buat apa?” tanya Mat Tompel sambil menepuk pundak wanita setengah tua tersebut.
”Anak saya disuruh pulang oleh kepala sekolahnya. Saya belum bisa melunasi keuangan sekolahnya karena uang yang kauberi kemarin kugunakan membayar hutang pada Yuk Tarmi dan Mat Sodron. Anakku akan ujian nasional besok pagi. Dia belum mendapat nomor ujian. Dia akan diberi nomor peserta ujian oleh sekolah apabila semua tunggakan keuangannya dilunasi,” kata wanita setengah tua itu menjelaskan permasalahannya kepada Mat Tompel.
”Silakan masuk! Menghadaplah ke Tuminah dan sampaikan keperluanmu. Katakan kepadanya saya yang menyuruh,” pinta Mat Tompel.
Setelah mengikuti perintah Mat Tompel, sedetik kemudian wanita setengah tua itu keluar rumah dengan wajah yang ceria. Dia menimang-nimang bungkusan uang yang diberi Tuminah, adik Mat Tompel.
”Terima kasih, Mat! Terima Kasih! Semoga Pengeran membalas kebaikanmu!” ujar wanita setengah tua itu sambil berpamitan meninggalkan Mat Tompel yang masih bersantai-santai di gazebo rumahnya.
***
Ribuan orang datang ke rumah Mat Tompel pada suatu siang. Mereka membawa aneka poster menuntut Mat Tompel agar bersedia maju sebagai kepala daerah. Mereka mengelu-elukan Mat Tompel sebagai sosok yang pantas memimpin daerahnya. Mereka menganggap Mat Tompel sebagai sosok yang bersahaja, memunyai jiwa sosial tinggi, peduli pada rakyat kecil meski dia tergolong orang yang kaya raya.
”Hidup Mat Tompel!” teriak salah satu dari mereka.
”Hiduuuppp!” sahut yang lain.
Mat Tompel meletakkan secangkir kopi yang ketika itu masih menempel di bibirnya. Ia berdiri sambil membenahi sarungnya yang agak kedodoran. Dengan didampingi Parmin dan Tuminah, Mat Tompel menemui ribuan warga yang membentangkan aneka poster di halaman rumahnya.
”Ada apa ini?” tanya Mat Tompel sambil membaca dalam hati tulisan di poster yang dibentangkan oleh warga.
”Yang terhormat Bapak Mat Tompel. Dengar dan kabulkan suara kami. Ini suara rakyat yang menghendaki agar Bapak Mat Tompel bersedia mencalonkan diri sebagai kepala daerah di sini,” kata salah satu warga sambil menyodorkan kertas yang berisi tuntutan kepada Mat Tompel.
Lelaki hartawan dan dermawan ini hanya tersenyum. Dia geli dan ingin tertawa lepas mendengar tuntutan warga.
”Kalian ini aneh. Orang seperti saya apakah pantas sebagai pemimpian kalian?” tanya Mat Tompel.
”Pantas. Bapak Mat Tompel sangat pantas dan layak menjadi pemimpin kami,” jawab mereka dengan serentak.
Emoh. Untuk kali ini saya tidak mengabulkan permintaan kalian. Saya tidak mau jadi pemimpin. Sampai kiamat pun saya tidak mau mencalonkan diri dalam pilkada ini. Enak jadi rakyat. Bisa ngopi, cangkruk, dan bisa membantu sesama tanpa dikejar-kejar KPK dan wartawan,” kata Mat Tompel.
”Pokoknya Bapak Mat Tompel adalah pemimpin kami,” tegas salah satu warga yang menerobos pagar hidup untuk sekadar menyampaikan aspirasinya.
”Itu terserah. Saya tidak bisa melarang kalian mengangkatku jadi pemimpin. Tapi –.”
”Tapi apa Pak Mat?”
”Saya tidak punya kursi,” jawab Mat Tompel dengan lugas.
”Kami punya kursi banyak di rumah. Pak Mat boleh mengambilnya,” sahut tiga lelaki sambil menunjukkan jarinya lalu disambut tawa oleh warga.
”Meski Pak Mat tidak punya kursi, kami tetap mengakui Pak Mat Tompel sebagai pemimpin kami,” desak salah satu dari mereka untuk menegaskan tuntutannya.
”Terserah. Yang penting sekarang kalian pulang dulu. Saya akan menghabiskan kopiku yang masih separuh. Eman!” sambung Mat Tompel yang kembali ke tempat duduk semula untuk mengambil kopinya.
Mat Tompel menyeruput kopi pahit kesukaannya sambil melihat para warga yang perlahan membubarkan diri.
Tiga minggu sebelum aksi ribuan warga di rumah sederhana itu, Mat Tompel juga pernah didatangi beberapa petinggi partai. Mat Tompel ditawari agar mau menjadi calon kepala daerah dari partai mereka. Lagi-lagi Mat Tompel menolak meski partai yang menawarinya itu partai besar yang memiliki massa yang banyak. Andai Mat Tompel mau menerimanya, bisa dipastikan dia akan terpilih menjadi pemimpin selama lima tahun ke depan.
Mat Tompel bersama sebagian warga duduk di gazebo depan rumahnya. Mereka mengobrol ke sana kemari sambil menikmati kopi. Mereka tidak memedulikan pembicaraan warga yang menilai dirinya konyol karena menolak tawaran dicalonkan sebagai pemimpin daerah. Hal terpenting dalam hidup Mat Tompel adalah dia berusaha agar bisa memberikan manfaat kepada orang lain. Itu saja tanpa yang lain. (*)

Wanar, April 2018

Minggu, 18 Februari 2018

Orang-Orang Pesisir


Orang-Orang Pesisir
Cerpen karya Ahmad Zaini

Sepanjang hari hujan tiada henti mengguyur bumi. Hingga sore, hujan belum reda secara sempurna. Masih ada jemari gerimis yang menjamah debur ombak di pantai yang tak pernah sepi. Terlihat hamparan pasir yang indah dan bersih karena baru saja ombak tipis perlahan meninggalkannya. Di bawah pohon kelapa yang menjulang angkasa, terlihat perempuan sedang mendekap anak kecil. Perempuan itu melindungi anaknya agar tidak terus-menerus menjadi sasaran gerimis. Dia membawa buntalan sebagai bekal. Buntalan itu dibungkus plastik agar tidak basah oleh gerimis yang tidak mau berhenti.
Aku mendekati perempuan yang mendekap anak kecilnya itu. Dia memeluk anaknya semakin erat. Dia ketakutan saat melihatku datang lalu duduk di sampingnya.  Saat kusentuh pundaknya, perempuan itu semakin ketakutan.
”Ibu berasal dari mana dan hendak ke mana hujan-hujan begini?” tanyaku pada perempuan itu.
”Jangan! Jangan!” kata perempuan itu sambil berusaha mempertahankan anaknya. Padahal, aku tak bermaksud menculik anaknya.
”Namaku Sentanu. Aku penduduk asli di sini. Itu rumahku,” tuturku dengan menunjuk rumahku yang berada di samping kebun kelapa.
Perempuan itu diam. Ia enggan menceritakan asal-usulnya. Bahkan, dia berdiri dan hendak meninggalkanku.
”Tunggu, Ibu! Ibu ini sebenarnya akan ke mana?” tanyaku sekali lagi.
Perempuan itu melihatku dengan wajah ketakutan. Dia seperti orang yang sedang depresi. Dia mengalami tekanan batin. Si kecil yang berada dalam dekapnya mencoba meronta. Anaknya seperti tidak mau diajak pergi dari sini. Si kecil itu rupanya merasakan kelelahan yang luar biasa. Dia butuh tempat istirahat dan berlindung dari gerimis.
”Ibu, mari ke rumah saya. Kasihan anak ibu. Dia kelelahan dan kedinginan. Kalau ibu tidak mau bermalam, paling tidak Ibu mau berteduh untuk sementara waktu agar anak Ibu tidak sakit. Hari sudah sore,” bujukku. Perempuan itu mengurungkan niatnya. Dia berhenti sambil melihat ke arah rumahku. Dia bersedia ke rumahku.
Aku mengawal perempuan itu yang berjalan lambat. Dia kelelahan. Langkah kakinya terasa berat. Buntalan berisi bekal yang dilapisi plastik dibiarkan bergelayut di pundak kanannya. Sedangkan pundak kiri, menggendong anaknya yang lugu dan tak terawat ini.
”Yati, Yati! Coba ke sini,” panggilku kepada anakku.
Anak semata wayangku muncul dari pintu. Dia kaget saat melihat aku datang bersama dengan perempuan beserta anak kecilnya.
”Siapa ibu ini, ayah?” tanya anakku dengan penuh penasaran.
”Nanti saja kujelaskan. Sekarang ambilkan handuk dan bajumu sebagai ganti baju adik ini.” Yati berlari ke kamar. Tak lama kemudian ia kembali sambil membawa bajunya yang sudah tidak muat dipakai lagi.
”Berikan ke ibu!”
”Ini, Bu,” kata anakku sambil menyodorkan baju kepada perempuan yang diam membisu.
Perempuan itu membawa anaknya ke pekiwan yang berada di sudut pekarangan rumahku. Dia membilas tubuh anaknya dari sisa-sisa air hujan. Setelah tubuh anaknya bersih, ibu yang sampai saat ini masih belum mau berbicara itu membawa anaknya ke teras rumah. Ia menyeka sisa air yang menempel di tubuh anaknya dengan handuk. Kemudian dia mengenakan baju anaknya. Jemari kedua tangan perempuan itu gemetar. Mungkin karena faktor kelelahan atau bisa juga karena kelaparan. Bisa juga karena kedinginan.
Anak semata wayangku menghampiri perempuan yang sedang memakaikan baju anaknya. Anakku ikut membantu memegangi si kecil yang lemah itu. Setelah rampung semua, perempuan itu hendak pergi meninggalkan rumahku.
”Ibu mau ke mana? Duduk dulu di sini!” cegah anakku dengan polos.
Anakku menyeret tangan perempuan itu lalu mempersilakan duduk di kursi yang biasa kugunakan untuk bersantai. Perempuan itu menurut saja. Dia masih belum bisa berinteraksi dengan kami. Kedua kelopak matanya terkadang terlihat berkaca-kaca ketika melihat wajah anaknya yang hidup menderita bersamanya. Dia seakan tidak tega melihat anaknya yang ikut menerima nasib seperti yang dialaminya saat ini.
”Ibu silakan bersihkan badan dulu. Ini baju buat ganti ibu. Biarlah adik ini saya yang menemani,” pinta anakku yang berlagak seperti orang dewasa sambil memberikan baju ibunya pada perempuan itu.  Dia sangat senang dengan kedatangan perempuan itu. Terutama pada anak balitanya.
***
Di depan rumah melintas beberapa orang laki-laki yang pulang dari laut. Mereka memikul keranjang yang berisi ikan hasil tangkapannya. Keranjang itu bergoyang-goyang akibat langkah kaki mereka. Sepertinya tangkapan ikannya sedikit tidak seperti sebelum-sebelumnya. Maklumlah, mereka sekarang menangkap ikan dengan kail dan jaring biasa. Mereka tidak menggunakan cangkrang lagi. Cangkrang yang biasanya mereka gunakan menangkap ikan dan bisa menghasilkan tangkapan ikan yang melimpah, sekarang dilarang oleh pemerintah karena dianggap bisa merusak biota bawah laut.
Perempuan yang duduk diteras berdampingan dengan anaknya itu  tiba-tiba berdiri. Dia berlari mengejar para lelaki yang baru pulang  dari laut itu.
”Tunggu! Mana suamiku?” tanya perempuan itu sambil menghalangi langkah mereka.
Para nelayan itu tertegun. Mereka kaget melihat kedatang perempuan yang secara tiba-tiba menghentikan langkah mereka.
”Di mana suamiku? Di mana?” cerca perempuan itu pada para lelaki yang masih kelelahan.
”Memang suami Ibu di mana? ” celetuk salah satu dari mereka.
Perempuan itu diam. Dia menatap hamparan laut dengan pandangan kosong. Dalam hati kecil perempuan itu, ia hendak menjawab bahwa suaminya berada di laut.
”Maaf, para Bapak! Ibu ini sedang bingung. Dia tersesat dan tak tahu arah dan tujuan perjalanannya,” jelasku pada mereka. Setelah mendengarkan penjelasanku itu, mereka melanjutkan perjalanan dengan membawa hasil laut yang tidak seusai dengan harapannya.
Aku mengawal perempuan itu kembali ke rumah. Dia lantas duduk. Air mata perlahan mengaliri pipinya yang sedikit keriput. Dia sesenggukan dan masih susah diajak berbicara. Apabila aku bertanya tentang asal-usul dan tujuannya, dia hanya menjawab dengan linangan air mata.
”Suamimu di mana?” aku mencoba menanyainya.
”Suamiku! Suamiku! Mana suamiku?” jawabnya sambil mengarahkan jari telunjuk tangan kanannya ke laut.
Aku diam. Aku tak meneruskan pertanyaanku. Aku khawatir kejiwaan perempuan ini semakin tidak terkendali. Lebih-lebih kalau aku menyebut kata suami.
***
Hampir satu bulan perempuan itu tinggal di rumahku. Anaknya sekarang sudah sangat akrab dengan anakku. Anakku sangat senang mendapatkan teman bermain setiap hari. Wajahnya ceria dengan senyum yang selalu mengembang. Ia tidak lagi membicarakan ibunya. Dia tidak pernah bertanya lagi kapan ibunya datang.
Setahun lalu istriku pergi ke Malaysia. Dia memaksakan diri ke negeri jiran meskipun aku sudah mencegahnya. Dia ingin hidup layak seperti para istri tetangga yang mayoritas suaminya kerja di Malaysia. Sedangkan aku hanya nelayan dengan penghasilan pas-pasan. Hasil tangkapan ikanku hanya bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan makan dan minum sehari saja.  Uang jajan atau jalan-jalan tidak ada. Sementara para tetangga setiap Minggu selalu pergi ke tempat hiburan. Mereka berbelanja, berwisata, dan berkaraoke dengan teman-temannya. Istriku tidak betah dengan kondisi kehidupanku. Dia malu dan gengsi karena tidak bisa hidup bersenang-senang seperti tetangga yang lain.
Setelah penggunaan cangkrang dilarang oleh pemerintah, aku beralih profesi. Aku menjadi tukang becak. Setiap pagi aku mangkal di pasar ikan menunggu penumpang. Di sana aku berkumpul dengan teman-teman nelayan yang juga beralih profesi. Mereka juga tidak melaut lagi seperti diriku. Dari hasil mengayuh becak, aku menghidupi anak semata wayangku. Aku ingin masa depan kehidupan anakku lebih baik daripada kehidupan yang kami rasakan saat ini.
”Yati, ibu adik ini ke mana?” tanyaku kepada anakku
”Tadi berjalan ke arah sana!” Yati menunjuk ke arah laut. Aku bergegas lari menuju ke arah yang ditunjuk Yati.
Sesampai di tempat, aku tak melihat siapa-siapa. Tak ada orang di sini. Hanya ada hamparan pasir dengan ukiran larik-larik bekas jamahan gelombang. Saat pandanganku kuarahkan ke tengah laut, aku melihat sesosok wanita yang timbul-tenggelam di balik gulungan ombak. Aku memandanginya dan berdiri seperti patung. Mulutku terkunci tak bisa berteriak meminta tolong. Kedua kakiku seperti tertanam pasir pantai hingga tak bisa berlari ke permukiman mencari bantuan. Ketika perempuan itu benar-benar lenyap, kakiku baru bisa digerakkan. Aku berlari dan berteriak meminta pertolongan kepada warga.
***
Keesokan harinya jasad perempuan itu baru ditemukan warga. Jasadnya terdampar di pesisir kampung sebelah. Kondisinya menggelembung dan terdapat beberapa luka bekas gigitan binatang laut. Berdasarkan keterangan sebagian warga yang mengenal jasad tersebut, ternyata perempuan itu merupakan istri dari nelayan yang tiga bulan lalu perahunya karam diterjang badai di tengah lautan. Dia sedih dan bingung. Akhirnya, dia mengalami gangguan jiwa karena tidak kuat menjalani hidup bersama anaknya tanpa suami yang menafkahinya.  (*)

Wanar, Januari 2018

Minggu, 10 Desember 2017

Elegi buat Sang Kapten

Elegi Buat Sang Kapten
Cerpen karya Ahmad Zaini

Senja itu langit begitu kelam. Mendung bergelayut diterpa angin. Gumpalan mendung seperti bebatuan yang menggelinding dari letusan gunung berapi. Angin terasa semakin dingin. Tak berselang lama, lembut gerimis menyapa wajahku. Aku mengusir gerimis yang semakin kerap itu dengan syal. Syal yang bertuliskan nama tim sepak bola kebanggaanku ini kulilitkan di leher agar udara dingin tidak merasuk cepat ke sumsum tulangku.
Aku dan ratusan suppoter sengaja menahan diri tidak keluar dari stadion kebanggaanku. Kami duduk termenung sambil merasakan kesedihan yang mendalam. Air mata kami tumpah ruah membanjiri rumput hijau yang sudah basah karena gerimis. Kedua tangan kami mengusap lalu menutup wajah agar guratan linang air mata tidak terlihat oleh teman-teman di sekelilingku. Kami berusaha tegar, namun usaha kami tampak sia-sia. Hati kami merasa semakin sedih karena kehilangan salah satu pemain idolaku yang selalu menjadi benteng pertahanan terakhir di bawah mistar gawang tim kebanggaanku.
Panitia pelaksana pertandingan senja itu mengabarkan bahwa penjaga gawang Persela sekaligus kapten tim telah meninggal dunia. Rupanya insiden benturan di menit akhir babak pertama itu yang menjadi penyebabnya. Ketika insiden itu terjadi, hatiku sudah berdebar kencang. Sosok bersahaja dan pekerja keras di lapangan hijau itu menyeringai kesakitan lalu tak sadarkan diri. Mulut kami yang hadir di stadion yang biasanya meneriakkan yel,yel berganti untaian doa untuk sang pemain. Namun, takdir berkata lain. Sang Kapten telah meninggalkan kami untuk selama-lamanya.
”Kapten, Kapten! Hidup sang kapten!” teriak histeris salah satu supporter sambil berlari dan mengepal-ngepalkan tangan kanannya menuju pagar yang membatasi kami dengan rumput hijau.
Doa dalam kesedihan selalu terucap dari kami yang masih terpaku di stadion. Kelopak mata kami masih memancarkan bayang kenangan tentang ketangguhan sang kapten dalam menjaga gawangnya. Posturnya menjulang bak tower. Tangannya cekatan menangkap dan menghalau bola yang datang mengancam gawang. Teriakannya yang menggelegar saat mengomando pemain lain masih benar-benar terngiang di gendang telingaku. Kami seakan tak percaya kabar yang dikumandangkan oleh panpel pertandingan lewat pengeras suara di sudut stadion itu.
Waktu benar-benar menyeret malam datang menghampiri kami. Suasana stadion semakin remang. Kami yang masih terpaku berusaha bangkit meskipun terasa berat sekali.
”Kapten, jangan tinggalkan kami!” teriakku dalam sedu sedan tangis karena kehilangan pemain idola yang sangat bersahaja.
Temanku merangkul pundakku. Dia juga tidak kuasa menahan kesedihan. Kepalanya disandarkan pada pundakku sambil berjalan pelan. Tangisnya tersendat-sendat karena guncangan kecil akibat langkah kaki. Kami berjalan beriringan meninggalkan stadion dengan wajah yang terbenam air mata.
”Kapten, Kapten! Jangan tinggalkan kami!” ucapan yang sama meluncur bergantian dari kami yang beriringan meninggalkan stadion menuju ke rumah duka.
Aku berusaha menenangkan jiwa kami yang terguncang. Perlahan-lahan pikiranku kuarahkan untuk kembali belajar menerima takdir. Karena sesungguhnya kematian merupakan takdir Tuhan yang tak bisa terelakkan. Siapa pun yang hidup suatau saat akan merasakannya. Ibaratnya manusia hidup itu sudah menerima vonis hukuman mati dari Tuhan. Manusia tinggal menunggu waktu eksekusi yang dirahasiakan Tuhan. Tak peduli umur, tak peduli waktu, dan tak peduli tempat. Kematian pasti akan datang menjemput manusia bila tiba saatnya.
 ”Sudah takdir. Semua merupakan takdir Tuhan!” bisikku.
”Tidak. Ini bukan takdir kematian. Sang Kapten masih hidup. Masih hidup!”
Aku mengelus kepala temanku yang masih disandarkan di pundakku meskipun saat itu kami dalam perjalanan menuju rumah duka bersama ratusan supporter lainnya.
Sepanjang perjalanan gerimis tiada pernah berhenti. Genangan air di kubangan jalan memantulkan cahaya linang air mata yang tersorot oleh sinar lampu penerang jalan. Tangis kesedihan menggulana di setiap desah.
Lailahaillallah, Lailahaillallah, Lailahaillallah” suara menggema dari ribuan pelayat yang memadati rumah duka. Mereka melantunkan doa untuk mendiang sang kapten yang secara tiba-tiba meninggalkan mereka.
”Duduklah di sini!” perintahku pada temanku yang masih belum bisa menerima kenyataan ini.
”Tidak. Aku tidak mau duduk selama belum melihat sang kapten,” tolaknya.
”Sabar! Doakan semoga sang kapten mendapat tempat yang layak di sisiNya!”
”Bicara apa kamu? Sang kapten tidak mati. Sang kapten masih hidup. Kapten masih hidup,” teriaknya diluar kendali.
Para pelayat yang memiliki rasa duka yang sama melihat ke arah kami. Mereka manatap kami dengan tatapan hampa. Mereka hampir saja ikut larut dalam teriakan temanku ini hingga mereka terpaksa memalingkan wajahnya ke arah lain.
Sssst! Dilihat orang banyak. Jangan keras-keras!” pintaku.
Temanku malah mendorongku hingga aku terhuyung hampir jatuh. Untung orang-orang yang berada di sampingku manahan tubuhku yang basah karena terkena gerimis sepanjang jalan.
Rasa duka semakin menindih malam. Para pelayat semakin lama semakin banyak yang datang ke rumah duka. Kami berjalan dengan berdesak-desakan. Kami merangsek lebih dekat ke rumah duka sebagai penghormatan terakhir buat sang kapten.
Gerimis masih setia menemani duka kami. Duka mendalam yang tak pernah kami rasakan sebelum ini. Tergores kenang duka mendalam ini dalam sebuah elegi saat mengiring janazah ke pemakaman. Elegi pelepasan yang mendesah dalam kalbu kami: bara tungku dadamu/ terasa masih membakar undak-undak/ hangat pada saf-saf yang menyanyi ole-ole// lengket bola dalam pelukan/ lompatmu trengginas menggaris angkasa// tapi surat-surat senja menghempas tiba-tiba/ menghentikan aplaus cinta yang berjamaah seluas surajaya// mata kami menggigil, kapten/ hati kami berlinangan melepasmu pulang abadi// engkau tak sekadar turun minum bukan?/ rumputan hanya jalan benturan/ hanya jalan// kalau memang telah saatmu berpulang/ tangisan apalagi mampu menahan/ duka cinta siapa lagi pantas memaksamu fana depan gawang?// kapten/ mendung dan gerimis/ dan kami/ tak lebih peziarah usia yang dimakamkan/ engkau kekal kepada rumah sejati/ karena Aku memanggilmu pulang//**
 Pemakaman merupakan rumah sementara peristirahatan menuju kehidupan abadi. Kami melepas ikhlas dengan untai doa buat sang kapten. Gerimis dan air mata berkelindan menenangkan rasa kehilangan kami. Kehilangan sosok bersahaja dan pengabdi sejati di daerah kami. Selamat jalan kapten! Berbahagialah di alam sana!
Wanar, Oktober 2017

**Surajaya Selepas Maghrib karya Herry Lamongan

Elegi; syair atau nyanyian yg mengandung ratapan dan ungkapan dukacita (khususnya pd peristiwa kematian)