Jika Kau Bukan Anak Raja, Juga Bukan Anak Ulama Besar, maka Menulislah

Selasa, 08 Februari 2022

Cerpen Jawa Pos grup Radar Bojonegoro, Minggu, 6 Februari 2022

 


Cahaya dari Pesantren

Cerpen karya Ahmad Zaini

 

Sulur jingga sinar matahari jelang senja mengguyur sebuah pondok pesantren. Pancaran cahaya keemasan disemprotkan oleh si raja siang yang sejam lagi akan membenamkan diri ke peraduannya. Bangunan asrama yang dihuni beberapa santri tempak begitu anggun. Bangunan tersebut sebagai tempat para santri belajar, berdiskusi, dan bersama-sama menampa diri menjadi insan kamil. Manusia yang sempurna lahir dan batin.

Para santri serentak keluar dari kamar masing-masing. Mereka memenuhi pengumuman yang dikumandangkan dari kantor pengurus pesantren. Para santri putra dan putri berduyun-duyun menuju ke masjid pesantren. Mereka berkumpul untuk mengadakan kegiatan rutin, yaitu berdoa bersama yang dilaksanakan setiap Kamis sore.

Ratusan santri berpakaian putih. Mereka duduk rapi membentuk shof atau barisan sebagaimana orang sedang salat berjamaah. Lautan putih pakaian mereka seakan-akan memancar cahaya kesucian. Kesucian niat mereka belajar ilmu-ilmu agama di pondok pesantren.

Kiai Maghfur sebagai pengasuh pondok pesantren hadir dalam majlis tersebut. Beliau terkenal sebagai sosok yang sangat istiqomah dalam menjalankan amanat wali santri meskipun usianya sudah sepuh. Beliau juga sosok sabar dan telaten membimbing para santri yang rata-rata berusia remaja. Usia yang masih labil dan mudah terpapar pengaruh negatif lingkungan.

Dengan didampingi Rosyad, Kiai Maghfur duduk bersila di barisan depan. Beliau memimpin atau memandu ratusan santri membaca istighotsah, tahlil, dan doa selamat bagi orang-orang sholih, para guru dan orang tua. Mereka melafalkan doa-doa serupa gema yang menggetarkan langit. Mereka khusuk bermunajad kepada Allah agar dikabulkan segala keinginan yang disampaikannya lewat doa.

Lampu-lampu di masjid pondok pesantren mulai dinyalakan. Sinar lampu menerpa wajah-wajah khusuk yang masih tenggelam dalam doa. Kegiatan doa selesai ketika bedug yang tergantung di serambi masjid dipukul salah satu santri dengan irama khas sebagai penanda waktu salat maghrib telah tiba.

Azan maghrib berkumandang. Seruan melaksanakan kewajiban makhluk kepada Sang Khaliq lantang mengarungi seluruh area pondok pesantren dan sekitarnya. Para penghuni pondok pesantren yang ketika itu baru selesai melaksanakan kegiatan doa bersama tetap berada di posisi masing-masing sambil mendengarkan azan serta menjawabnya. Setelah azan selesai mereka membaca doa kemudian dilanjutkan dengan pujian-pujian yang wajib dibaca ketika hari Kamis malam Jumat oleh para santri.

”Ilahi lastu lil fidausi ahla, wala aqwa ala naril jahimi. Fahabli taubatan waghfir dzunubi, fainnaka ghofirun dzanbil adzimi,” suara para santri menggema melantunkan pujian yang apabila dibaca dan dihayati isinya dapat merontokkan sifat keangkuhan serta kesombongan manusia.

Setelah para santri salat maghrib dengan berjamaah, selesai pula rangkaian kegiatan itu. Para santri berbondong-bondong kembali ke asrama masing-masing. Di Asrama, mereka tidak bersantai-santai. Mereka nderes pelajaran yang disampaikan oleh para pengasuh sebelumnya. Dalam kesempatan seperti itu, terkadang mereka juga terlibat dalam sebuah diskusi tentang materi yang belum dipahaminya. Mereka belajar dengan didampingi santri senior yang ditugaskan sebagai mentor di setiap asrama.

Ketika para santri sedang nderes atau belajar, terdengar pengumuman dari kantor pengurus pondok. Para santri diam sejenak untuk mendengarkan pengumuman. Para santri yang menghuni asrama Arrahman tertegun ketika nama asramanya disebut.

Tanpa komando susulan, para santri memenuhi panggilan itu. Penghuni asrama Arrahman yang berjumlah sembilan santri langsung berdiri di depan pos keamanan pondok pesantren.

”Amri dan Syamsul, kemari! Yang lain silakan kembali ke asrama,” kata Khobir sebagai ketua keamanan. Kedua santri tersebut menghampiri Khobir.

”Ada apa, Kang?” tanya Syamsul.

”Mari ikut saya ke majlis tahkim!” ajaknya.

Amri dan Syamsul saling pandang. Dalam hati mereka bertanya-tanya tentang kesalahan yang diperbuat hingga dibawa ke majlis tahkim atau pengadilan pondok pesantren. Hati mereka semakin remuk ketika mereka masuk di ruang khusus. Mereka melihat pengasuh dan pengurus pondok pesantren yang sudah menunggunya. Di sebelahnya lagi ada dua santri putri yang sudah tidak asing lagi bagi Amri dan Syamsul.

”Amri dan Syamsul, apakah kalian mengenal dua santri putri ini?” tanya Rosyad, salah satu anggota majlis tahkim. Kedua santri tersebut mengangguk.

”Siapa mereka?” pertanyaan lanjutan Rosyad.

”Mereka Anita dan Lusi,” jawab Amri yang dibenarkan oleh Syamsul.

”Sepertinya kalian sangat akrab. Apakah kalian pernah saling bertemu?”

”Pernah. Tanpa sengaja kami pernah bertemu di kantin,” jawab Syamsul.

”Benar begitu Amri?”

”Benar.”

”Setelah itu apakah kalian pernah bertemu lagi di tempat lain?” Rosyad menelusuri lebih lanjut.

Mereka tidak langsung menjawab. Amri dan Syamsul diam. Mereka tertunduk malu. Demikian juga dengan Anita dan Lusi. Kedua santri putri ini membenamkan wajahnya dalam jilbab yang dikenakannya. Mereka malu kepada Kiai.

”Kenapa diam? Ayo, dijawab!” bentak Rosyad.

”Sabar Rosyad. Beri kesempatan pada mereka untuk mengingat-ingat kejadiannya,” tegur Kiai Maghfur pada Rosyad yang mukanya memerah.

”Mohon maaf, Kiai. Saya khilaf karena terbawa emosi,” kata Rosyad pada Kiai.

”Amri dan Syamsul harap menjawab pertanyaan Kang Rosyad dengan jujur dan ikhlas,” dawuh Kiai Maghfur.

”Kami bertemu lagi di kafe dekat pasar.”

”Kapan dan apa yang kalian lakukan di sana?” selidik Rosyad.

”Kamis sore minggu lalu kami janjian keluar dan bertemu di kafe tersebut. Kami pesan kopi dan sekadar bercakap-cakap biasa. Setelah itu, kami kembali lagi ke pondok ketika azan maghrib,” pengakuan Amri.

Pengasuh dan para pengurus memutuskan bahwa mereka sudah terbukti bersalah. Mereka keluar pondok tanpa izin keamanan. Apalagi mereka keluar lokasi dengan berpasang-pasangan. Hal ini berdasarkan informasi yang disampaikan oleh Anita dan Lusi yang didukung oleh pengakuan Amri dan Syamsul.

”Anita, Lusi, Amri, dan Syamsul, kalian telah terbukti melakukan pelanggaran besar. Kalian telah sengaja keluar dari lokasi pondok pesantren secara bersama-sama. Kalian sudah paham bahwa di pondok pesantren ini ada peraturan yang melarang keras santri putra dan santri putri melakukan interaksi. Apalagi ini dilakukan di luar pondok pesantren tanpa sepengetahuan pengurus dan pengasuh. Konsekuesinya, kalian harus menerima takzir atau sanksi yang akan diberikan oleh pengurus dan keamanan pondok sesuai dengan kesalahan kalian. Sebelum kalian melaksanakan takzir, kami akan mengundang kedua orang tua kalian,” kata Kiai Maghfur.

Keempat santri hanya berdiam diri di depan para pengurus dan pengasuh. Mereka tidak berani berkilah karena terbukti melanggar peraturan pesantren. Meskipun mereka hanya bercakap-cakap sambil menikmati menu di kafe, mereka sangat menghargai keputusan itu. Pengurus dan pengasuh pesantren membuat aturan dan menegakkan aturan tersebut sebagai langkah prefentif atau pencegahan agar para santri tidak terjerumus pada perbuatan tercela, yakni perzinaan. Berpacaran atau berduaan antara laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim di tempat tertentu merupakan perbuatan yang mendekati zina. Hal ini disebabkan berawal dari situlah syetan akan memengaruhi hati dan menjerumuskan manusia ke dalam perbuatan mesum.

Keesokan harinya wali santri keempatnya hadir di pesantren. Para orang tua yang berharap anaknya mendapat gemblengan pendidikan agama menyerahkan sepenuhnya semua keputusan pesantren terhadap putra-putrinya. Mereka ikhlas dan rela atas takzir atau sanksi yang telah diberikan oleh pengurus dan pengasuh pondok pesantren kepada Amri, Syamsul, Anita, dan Lusi.

Kiai Maghfur yang didampingi para pengurus pesantren mengantar para orang tua seusai bermusyawarah tentang pendidikan anaknya. Para pemangku pesantren sangat berterima kasih dan mengapresiasi para wali santri yang sangat peduli dengan pendidikan pesantren anak-anaknya. Hal itu sangat membantu para pengasuh dan pengurus pondok dalam menata dan membina akhlaq para santri.

Setelah kejadian tersebut keempat santri itu santri jera dan berjanji tidak mengulanginya lagi. Para santri yang lain juga tidak berani melakukan perbuatan seperti yang dilakukan keempat santri itu. Mereka bertekad akan fokus mempelajari ilmu agama sebagaimana niat mereka belajar di pondok pesantren.

Minggu berikutnya, tepat hari Kamis sore ratusan santri serempak datang ke masjid pondok pesantren.  Mereka melaksanakan kegiatan rutin. Amri, Syamsul berada di barisan depan. Mereka ditakzir oleh pengurus dan pengasuh pondok pesantren sebagai pemimpin dalam kegiatan tersebut. Demikian pula dengan Anita dan Lusi. Keempat santri tersebut menjalankan sanksi yang menurutnya positif itu dengan ikhlas dan penuh tanggung jawab.

Kalimah-kalimah toyyibah berkumandang dari pengeras suara di masjid pondok pesantren. Suara para santri bergema hingga menggetarkan hati orang-orang yang mendengarnya. Mereka khusuk berdzikir dan berdoa untuk melunakkan hati agar mudah menerima nasihat dan bimbingan ilmu agama dari para kiai dan ustadz di pondok pesantren. (*) 

Lamongan, 8 Januari 2022

Ahmad Zaini adalah guru di SMKN 1 Lamongan dan ketua PC Lesbumi NU Babat. Penerima penghargaan dari Gubernur Jawa Timur karena buku kumpulan cerpennya berjudul Lorong Kenangan memenangi lomba GTK Creative Camp (GCC) 2021.

 

 

 

 

 

 

Minggu, 23 Januari 2022

Para Pemuja Jalasuci cerpen karya Ahmad Zaini

 


Para Pemuja Jalasuci

Cerpen karya Ahmad Zaini

Jelang maghrib Selagede berselimut kabut. Jarak pandang terhalang. Pepohonan besar dan menjulang tak terlihat daun-daunnya. Warung-warung di sepanjang jalan hanya terlihat kerlip lampunya. Tak terlihat jelas para lelaki yang ongkang-ongkang kaki menikmati kopi. Bara di ujung rokok juga tak tampak. Hanya tawa kekeh mereka yang terkadang timbul-tenggelam terdengar bergantian dengan bunyi tonggeret mengiris senja.

Suwiryo duduk di teras warung. Dia mengibas-ibaskan butir air gerimis di topi. Dia melapas kedua sepatu. Secara bergantian Suwiryo mengangkat pelindung kaki untuk mengusir air yang sempat bersarang. Setelah itu, kedua kaki diangkat dan dilipat di atas kursi panjang sebuah warung.

Lelaki berbadan kurus ini merogoh tas kecil yang diselempangkan di pinggang. Dia mengambil rokok yang tinggal sebatang. Suwiryo meminjam korek api pemilik warung. Tak lama kemudian asap mengepul setelah lelaki ini menyulut ujung rokok. Tak sempurna merokok tanpa kopi. Dia pun memesan segelas kopi ke penjaga warung. Secangkir kopi disuguhkan oleh pelayan sekaligus pemilik warung. Suwiryo secara bergantian menikmati menu yang menurutnya wajib karena kondisi gerimis dan berkabut ini.

Petirtaan Jalasuci yang berada di kawasan Selagede menjadi tujuan kedatangan Suwiryo. Dia bertekat untuk melakukan perjalanan jauh dengan sepeda motor ke tempat tersebut untuk mencari kedamaian jiwa. Suwiryo berencana menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Terutama permasalahan keluarga yang sedang memenuhi batok kepala. Istri Suwiryo mengajukan tuntutan cerai karena dia dianggap sebagai suami yang gagal. Dia tidak bisa memenuhi kebutuhan hidup keluarga karena tidak memiliki mata pencaharian lagi. Suwiryo menjadi korban pemecatan perusahaan karena dampak pandemi korona.

Ayah dari dua anak ini mendapat kabar Jalasuci dari seorang teman. Menurut temannya, petirtaan Jalasuci merupakan tempat yang bisa menjadi solusi dari permasalahan hidup yang sedang melilit. Hati Suwiryo semakin yakin saat temannya menyampaikan ada perubahan hidup setelah dari Jalasuci. Jiwa lebih tenang daripada sebelumnya. Semua kebutuhan hidup terpenuhi.

Suwiryo sempat bingung. Dia bimbang dengan cara yang dilakukan oleh temannya. Meski sekarang ini dia dalam posisi terjepit, Suwiryo tidak serta merta menuruti anjuran temannya.  Suwiryo pernah menimba ilmu di pesantren. Dia pernah mengaji pada Kiai Ahmad. Dia teringat bahwa perbuatan memohon dan memuja selain kepada Tuhan merupakan perbuatan syirik atau menyekutukan Tuhan. Dosanya tidak akan terampuni meskipun dia bertaubat sampai kaki bengkak dan mengeluarkan air mata darah.

”Tidak apa-apa, Wir. Ini satu-satunya jalan agar kamu tidak menjadi pesakitan dalam keluargamu. Dalam keadaan darurat, apa pun boleh dilakukan,” kata temannya.

Sejak itulah Suwiryo memutuskan berangkat ke petirtaan Jalasuci. Dia ingin melakukan ritual sebagaimana yang dituturkan oleh temannya itu.

”Jalasuci masih jauh, Bu?” tanya Suwiryo pada pemilik warung Selagede.

”Sudah dekat, Mas. Tinggal dua kilometer lagi,” jawab perempuan berdaster itu sambil mengarahkan jari telunjuk ke Jalasuci.

Suwiryo bergegas bangkit. Dia merogoh saku celananya. Lembaran uang kertas lima ribu rupiah disodorkan ke penjual kopi. Setelah itu, dia melajukan sepeda motor menyusuri jalan menanjak ke arah Jalasuci.

***

Remang cahaya lampu terhalang kabut malam yang semakin tebal. Sorot mata Suwiryo tak mampu menembus ketebalan kabut. Tapak demi tapak jalan dilalui Suwiryo dengan berbekal perasaan dan kira-kira. Aroma mistis mulai terasa. Bau dupa menyengat hidung. Undakan jalan menuju petirtaan terus memaksa kaki Suwiryo memijakinya. Tak lama kemudian, gemericik air pancuran sayup terdengar di telinga lelaki yang ingin manata hidup ini.

Sesampai di pelataran Jalasuci, Suwiryo persiapan melakukan ritual. Mula-mula Suwiryo menggelar tikar kecil yang diambil dari dalam tas. Kemudian dia merogoh kembang tujuh rupa dari kantong plastik. Tangan kanannya menabur kembang itu ke permukaan air di petirtaan. Kecipak aneka ikan yang memangsa bunga-bunga itu menandakan ritual akan dimulai. Beberapa batang dupa ditancap Suwiryo di sela-sela bebatuan. Dia menyulut ujung dupa dengan korek warung kopi yang lipa dikembalikan kepada pemiliknya.Wangi dupa menyeruak lalu menembus bulu hidung. Suwiryo duduk bersila. Dia memejamkan mata. Pikirannya fokus maksud pada kekuatan gaib yang dipujanya.  Jiwa Suwiryo perlahan terbang terbawa asap dupa ke alam yang belum pernah iakenal.   

Jiwa Suwiryo tak lagi bersarang di raga yang bersila di tepi petirtaan. Jiwanya kini berada di alam bawah sadar. Tepatnya di sebuah pasebanan raja yang dikelilingi dayang-dayang dan prajurit.

”Prajurit, persilakan lelaki itu masuk,” perintah raja. Dua orang prajurit membukakan pintu pasebanan agung lalu mengawal Suwiryo menghadap raja.

”Siapa namamu dan apa keperluanmu datang kemari?” tanya raja denga suara menggema.

”Saya Suwiryo. Saya sedang dilanda kesulitan ekonomi. Saya menganggur karena di depak oleh perusahaan tempat saya bekerja. Istri saya menuntut cerai karena saya dianggap lelaki tak berguna. Lelaki yang tidak bisa membahagiakan istri dan anak-anak,” jawab Suwiryo.

”Kamu sudah tahu syarat yang harus kaupenuhi apabila permintaanmu kukabulkan?”

”Belum. Saya belum tahu sama sekali.”

”Kau sudah telanjur masuk istanaku. Kau akan kusumpah menjadi pengikut dan harus memenuhi semua permintaanku. Setiap malam purnama kau harus tinggal di sini bersama istrimu. Kau harus melakukan persembahan dengan beberapa sesajen. Sasejen purnama pertama adalah anak pertamamu,” pinta raja yang seram itu.

”Aku bersedia menjadi pengikutmu, namun sesajen purnama pertama mohon diganti dengan yang lain,” tolak Suwiryo.

”Tidak bisa ditawar. Kau harus memenuhi semua yang kuminta. Anak pertamamu tetap jadi sesajen purnama pertama.”

”Lebih baik aku mati daripada anak pertamaku kau jadikan sesajen.” tegas Suwiryo yang menolak anaknya dijadikan wadal.

Mendengar ucapan Suwiryo, raja yang bercambang lebat dan bermata lebar itu murka. Wajahnya membara. Kedua telinganya bak mengeluarkan api. Dia berdiri lalu menghampiri Suwiryo hendak membunuhnya.

Suwiryo tidak mau mati sia-sia di jalan sesat yang telah ditempuhnya. Dia berusaha melarikan diri dari terkaman raja berhati iblis itu. Usaha pelarian Suwiryo sempat dihalangi beberapa prajurit yang menjaga gerbang. Dengan segala upaya Suwiryo mampu menerobos barisan para prajurit.

Di tengah usaha menyelamatkan diri, Suwiryo bertemu dengan sosok yang tidak jelas rupanya. Sosok bercahaya putih itu berdiri di depannya.  

”Jangan takut. Tenanglah. Aku akan menolongmu,” katanya.

Lelaki yang sedang dirundung masalah ini duduk meringkuk di depan sosok bercahaya putih. Dia sangat berterima kasih kepadanya. Sosok bercahaya putih yang berdiri terpat di depan Suwiryo mengusap kepala Suwiryo. Dia merasakan betul usapan tangan sosok bercahaya putih. Jiwanya dingin dan ringan. Tak lama kemudian jiwanya terbang keluar dari tempat tersebut.

Jasad Suwiryo yang duduk bersila di pinggir petirtaan Jalasuci bergerak-gerak. Suwiryo tergeragap. Dia pun mengakhiri ritualnya yang tidak sesuai dengan harapannya. Dia membuka mata pelan-pelan. Dia tidak sadar ternyata perjalanan ritualnya berlangsung sehari, dari malam sampai malam lagi. Dia bersyukur karena diselamatkan sosok bercahaya putih dari angkara murka raja iblis petirtaan.

Warung-warung di sekitar petirtaan sepi. Tidak ada percakapan atau pemujaan orang-orang di sekitarnya. Dia hanya melihat beberapa bekas alas duduk dan abu sisa dupa. Suwiyo berdiri. Dia meninggalkan tempatnya bersila selama sehari. Ketika Suwiryo baru melangkahkan kaki kanannya, dari kejauhan terdengar suara angin ribut. Terdengar pula jeritan manusia yang muncul bergantian dengan suara angin. Suara angin itu semakin lama semakin mendekat. Suwiryo bergegas lari meninggalkan tempat itu. Dia berlindung di teras warung yang di dalamnya ada beberapa orang yang berlindung.

Hempasan angin semakin kencang. Suaranya bergemuruh. Ranting dan dahan pohon banyak yang patah. Beberapa atap warung mengelupas. Atap yang terbuat dari seng dan esbes itu beterbangan tebawa pusaran angin. Kekuatan angin yang bertenaga seperti raksasa itu juga mencabut pohon besar yang berusia ratusan tahun. Pohon itu tumbang kemudian menimpa warung tempat Suwiryo dan orang-orang berlindung.

Seketika itu suasana senyap. Tidak terdengar rintih atau jerit orang-orang di bawahnya. Mereka meregang nyawa tertimpa pohon tempat memuja dan menyajikan sesajen dalam setiap ritual.

Lima menit berlalu. Jalasuci porak-poranda oleh amukan angin. Para warga yang selamat datang ke lokasi untuk mencari para korban. Mereka menemukan lima orang korban tertimpa pohon yang dikeramatkan para pemuja. Salah satu korban adalah Suwiryo. Dia yang berusaha memperbaiki nasib hidupnya terhadang ajal. Keinginannya pupus direnggut amukan angin yang sekaligus melenyapkan hidupnya.

Orang-orang di sekitar Suwiryo miris. Mereka berempati pada kehidupan Suwiryo. Hidupnya tragis. Dia meregang nyawa ketika ingin memperbaiki nasib hidup keluarga dengan caranya.  (*)

Wanar, 3 Desember 2021

Selasa, 12 Oktober 2021

Puisi-Puisi Bertamu di Ujung Malam, Radar Bojonegoro, 10 Oktober 2021

 


Puisi-Puisi karya Ahmad Zaini

 

Bertamu di Ujung Malam

 

Di ujung malam aku bertamu pada-Mu

mohon maaf,

badanku berdekil

pakaian compang

tanpa sopan menghadapMu

 

Jiwaku hilang melayang

terombang-ambing di pusaran kehidupan

aku lalai padaMu

tak pernah menyebut dan mengingatMu

aku semakin terbenam dalam lumpur

tertatih lemah

terbenam kubangan

semakin dalam

buta mata,

tuli telinga

gelap jiwa

 

sungguh tak berdaya

lantaran aku jauh dari-Mu

lama tak bersimpuh

di bawah kebesaranMu

sampai butiran tasbih

rapuh di tiang lapuk

 

aku sadar

jiwaku rapuh karena lama berpaling lari dari-Mu

kini aku datang bertamu   

memohon ampunan dan rahmat-Mu

semoga sudi menerimaku

 

Wanar, 5 Oktober 2021

 

 

Sanjungan pada Nabi

 

Shollu alan nabi Muhammad

Manusia sempurna yang tak pernah berdosa

senyum wangi jiwamu kurindu selalu

lembut perilaku dan kesederhanaan hidumu

selalu terbayang di tengah persaingan hidupku

 

Engkau menuntunku dengan suritauladan sabdamu

bahwa hidup di dunia tempat menabung pahala

berhamba padaNya

tapi aku malu karena bijak nasihatmu

berlalu dari telinga dan hatiku

 

Shollu alan nabi Muhammad

Sanjungku

berharap dirmu sudi mengakuiku sebagai umatmu

bersalawat dan berkirim salam padamu

agar muncul setitik pengakuan sebagai umatmu

betapa rugi dan celakaa hidup ini

apabila engkau tak mengenal dan tak mengakui diriku

lantaran hati dan bibirku kering dari nama dan kemulyaanmu

 

Shollu alan nabi Muhammad

Sungguh aku rindu

Cahayamu yang menuntun hidupku

ke jalan ridlo-Nya

 

Wanar, Oktober 2021

 

 

Main Rasa

 

rasa tanpa rasa

tak peduli jerit derita sesama

rasa tanpa rasa

hidup sendiri abai lainnya

rasa tanpa rasa

padahal manusia

 

Wanar, 6 Oktober 2021

 

 

Tawa Nista

 

tawa bukanlah keperkasaan

melainkan virus keyakinan

 

tawa orang merasa paling utama

memicingkan mata

merendahkan lainnya

 

tawa congkak

merontokkan kemulyaan

menjerumuskan manusia

dalam nista

 

Wanar, Oktober 2021

 

Potret Negeri

 

Potret wajah negeri mengerikan

keanggunan yang dulu dipuja

perlahan sirna

senyum dan teduh mata tak lagi mendinginkan

 

apakah karena luka

di sekujur tubuhnya

yang menjadikan potret negeri tanpa aura 

 

apakah karena murka melihat warga

yang tak pernah berhenti berdosa

akan berhenti ketika belati

menusuk hati

 

sungguh tatanan sosial yang  brutal

membuat negeri semakin sial

 

rindu potret wajah negeri

anggun dan memesona

 

Wanar, 7 Oktober 2021

 

Lupa Bercinta

 

bimbang hati jalani hidup ini

kesibukan dunia melupakan yang utama

saban hari wajah serupa matahari

pergi pulang hanya sinarnya yang menerpa

hingga lupa yang semestinya

terkadang terjebak malam gelap semua

 

pergantian hari tak pernah berhenti

demikian pula tugas dan tagihan

datang silih berganti

ruang di kepala dipenuhi kata dan angka

sampai lupa cara bercinta

 

sungguh dunia  melenakan segala

hingga buta perjalanan masa

 

Wanar, 8 Oktober 2021