Perempuan di Ambang Senja
Cerpen karya
Ahmad Zaini*
Pagi
masih berkabut. Mata masih remang
menatap titik di depan. Jalan yang membentang masih tak jelas tepinya. Kaki Zainab
merayap dengan penuh konsentrasi agar tidak tergelincir dan terjerembab ke
lumpur persawahan.
Sorak
sorai para buruh sabut, penjual jasa memanen padi, bersahut-sahutan
setelah mereka selesai mempersiapkan segala peralatan yang dibutuhkan. Ya
mereka bersorak karena menu sarapan pagi baru telah tiba.
“Mbak,
sarapan!” salah satu dari lelaki di sawah seberang menawari sarapan pagi Zainab.
Sejenak
Zainab menoleh ke arah suara. Kemudian ia hanya tersenyum manis melihat lelaki
itu yang berdiri sambil menyodorkan sepiring menu sarapan pagi dari kejauhan.
“Matur
suwun!” jawab perempuan setengah baya itu.
Pematang
sawah panjang masih menyeret langkah kaki Zainab. Ia ingin berkumpul dengan
teman-temannya yang sudah menunggu di petak sawah seberang. Setelah kaki
perempuan itu menggilas pematang yang ditumbuhi rerumputan basah, ia pun sampai
pada kerumunan perempuan-perempuan pencari bulir padi yang berserak dan
ditinggal pemiliknya.
Para
kaum hawa pada musim panen seperti ini mendapatkan pekerjaan dengan penghasilan
yang lumayan. Mereka bekerja tanpa modal. Mereka hanya membutuhkan tenaga dan
mental baja. Pekerjaan musiman dengan mengais sisa-sisa para petani dinilai
sangat menguntungkan. Sehari terkadang mendapatkan satu karung gabah. Hasil
yang lumayan untuk membantu suami mereka yang terkadang tersendat rezekinya.
“Mari
kita ke sana!” ajak Zainab kepada teman-temannya sambil menunjuk ke arah
orang-orang yang sibuk menyabut padi.
Mereka
pun bergerak seperti kawanan burung yang mencarikan nafkah untuk anak-anaknya
di sarang. Perempuan-perempuan itu mendekat pada segerombolan lelaki yang
memanen padi dengan peralatan sabut. Karung yang tadinya dilipat,
sekarang mulai digelar. Mereka tak mempedulikan tanah berlumpur yang menanam
kakinya hingga mencapai mata kaki. Mereka pun duduk bersimpuh walau pakaian
yang mereka kenakan basah terkena air yang menggenang. Sebatang kayu mereka
raih dari dalam lipatan karung. Mereka siap mengayunkan kayu tersebut agar
bulir-bulir padi yang melekat pada jerami limbah dari lelaki itu rontok. Sebelum
mereka beraksi, perempuan-perempuan itu melindungi telapak tangannya dengan
sarung tangan.
Serumpun
jerami dilempar seorang lelaki. Perempuan-perempuan tersebut berlomba
mendapatkan jerami seperti kawanan burung merpati yang dilempari butir-butir
jagung oleh juragannya.
“Ha,ha,ha,ha!”
tawa Zainab yang kemudian dasahuti tawa perempuan-perempuan yang lain. Mereka
sangat menikmati pekerjaan mencari sisa-sisa padi petani di sawah yang
berlumpur.
Ayunan
tangan perempuan-perempuan bergantian menghantam jerami hingga remuk. Mereka
silih berganti memunguti butir-butir gabah yang menyembul dari balik jerami
itu. Dengan senyum manis perempuan setengah baya menghimpunnya ke dalam karung
yang masih menganga kurang isi.
Mereka
tidak terbebani dengan karung yang masih belum terisi penuh. Mereka bekerja
tidak ada target sekian kuintal atau sekian ton dalam sehari atau sebulan. Walaupun
terkadang mereka hanya mendapatkan setengah karung, mereka sangat besyukur
dengan hasil tersebut.
“Mbak,
ini!” kata lelaki yang wajahnya terbungkus kaos seperti ninja. Ia melempar
sebongkok jerami pada Zainab.
Perempuan
tersebut kaget karena dirinya yang diberi lelaki itu bukan perempuan-perempuan
lainnya. Zainab merasa tidak enak dengan yang lain. Ia pun membagikan sebongkok
jerami pada perempuan-perempuan yang sejak tadi meliriknya dengan perasaan
curiga.
Mereka
tak berterima kasih. Mereka menyahut onggokan jerami yang diberikan oleh
perempuan setengah baya itu dengan kasar.
“Mbak,
Nun jangan sok dermawan!” ucap salah satu dari mereka.
Perempuan
setengah umur itu kaget. Ia berniat adil dengan membagikan sisa-sisa sabutan
yang diberi oleh lelaki bertopeng kaos, eh, malah dibalas dengan kata-kata yang menusuk
hati.
Perempuan
setengah baya tadi hanya tersenyum. Ia menanggapi dingin ucapan temannya. Ia
tak menghiraukan dan tak menganggap ucapan itu bermaksud menyakitinya. Ia tetap
mengayunkan tongkat ke punggung jerami agar butiran padi segera rontok dan
dapat dihimpun ke dalam karung yang masih menganga.
Matahari
mulai lingsir merambat pelan ke arah barat. Mendung menggumpal memayungi
perempuan-perempuan pencari padi. Sedangkan lelaki yang menyabut padi saling
membahu mengangkat karung-karung padi ke rumah pemilik sawah. Sekawanan burung kuntul
hinggap sebentar di kubangan air di tengah sawah. Sesaat kemudian mereka pun
terbang menantang angin yang berhembus kencang. Gelegar guntur bersahutan
menandakan akan segera turun hujan.
“Mari,
kita kemasi barang-barang kita! Sepertinya akan segera hujan,” ajak Zainab
“Nab,
Zainab! Jangan sok baik! Situ sudah mendapat penuh. Kami baru mendapat separo.”
Lagi-lagi
maksud baik Zainab ditanggapi dengan hati dongkol. Rupa-rupanya mereka sejak
awal sudah cemburu pada perempuan setengah baya. Mereka iri karena lelaki penyabut
padi sering memberikan jerami yang masih ada butir padinya kepada perempuan
lembut itu. Namun, sekali lagi kelembutan hati wanita paruh umur itu mampu mengendalikan
emosinya. Ia tetap tersenyum dengan ramah.
“Kalau
begitu, saya berkemas dulu!”
“Cih,
silakan!”
Wajah
manis perempuan setengah baya berseri-seri. Tangan kekarnya bergemulai mejahit
karung yang berisi padi. Lipatan gendong segera ia urai lalu disangkutkan pada
pundak kekarnya. Sekali angkat sekarung gabah telah naik ke punggunya kemudian
diikat dengan gendong. Perlahan ia pergi menjauh dari kerumunan perempuan
pencari rontokan padi. Ia melindas lumpur-lumpur yang membalut langkah kakinya.
Wajah perempuan setengah baya berkeringat walaupun hembusan angin kencang
menerpanya. Untaian gendong digunakan untuk menyekanya.
“Aduh!”
Sebuah
lubang bundar menalan kakinya. Ia beringsut ingin lepas dari mulut liang yuyu.
Beban berat yang menindih punggungnya semakin keras menekannya hingga bertambah
dalam liang itu menelan kakinya. Perempuan setengah baya tak mampu lepas dari
lubang tersebut. Ia tak kuasa meronta lagi.
Di
ambang kepasrahannya karena tak mampu lepas dari himpitan lubang, tiba-tiba
dari kejauhan terlihat lelaki yang berlari mendekatinya. Lelaki tersebut
berlari seperti kuda yang menerjang lumpur
di tengah medan peperangan. Sesekali ia tampak terhuyung karena kakinya
terbalut sisa-sisa jerami.
Lelaki
itu berhenti di depan perempuan setengah baya yang masih mematung. Napasnya terengah-engah. Dengan mengatur
pernapasan, ia mengendalikan kondisi fisiknya untuk membantu Zainab. Lelaki
yang wajahnya masih tertutup kaos itu mengulurkan tangannya. Perempuan setengah
baya pun menyambutnya. Kedua tangan mereka berpaut erat. Dengan sekuat tenaga
lelaki itu manarik tangan Zainab yang masih memanggul gabah.
“Terima
kasih, Kak!”
“Sama-sama,
Mbak!”
Kedua
orang yang belum saling kenal itu pun melanjutkan perjalanan. Si lelaki
berjalan di belakang sambil melihat Zainab yang sedang berjalan dan bergelut
dengan lumpur. Tiba-tiba lelaki itu berlari lantas menghentikan Zainab yang tampak
kelelahan.
“Saya
bantu, Mbak!”
Zainab
kaget. Ia hampir tak percaya dengan tawaran yang diterimanya. Ia dengan
malu-malu melepaskan gendongannya yang langsung disambut lelaki bertopeng kaos
itu. Sekali angkut, sekarung padi itu terpanggul di punggungnya.
Di
tengah perjalanan mereka bercakap-cakap. Zainab bercerita tentang kelurganya.
Demikian juga dengan lelaki itu. Ia juga menceritakan keluarganya. Si perempuan
itu nekat bekerja mencari rontokan padi dari para penyabut karena suaminya yang
selama ini menjadi penopang keluarganya telah merantau ke luar Jawa. Selama
bertahun-tahun suaminya tidak pernah pulang dan tidak pernah mengirim kabar.
Untuk menghidupi kedua anaknya yang masih mentah, dia terpaksa bekerja seperti
itu.
“Sabar,
Mbak!” hibur lelaki kepada perempuan setengah baya.
Sebenarnya
si lelaki itu punya maksud untuk menggoda perempuan setengah baya. eh, paling
tidak bisa dibuat sebagai penyemangat kerja. Ketika dia mendengar kisah dari
perempuan tadi maka dia mengurungkan niat menggodanya.
“Sekali
lagi saya mengucapkan terima kasih, Kak!” kata perempuan itu saat sudah sampai
di jalan raya.
“Hai,
cepat kembali! Ini giliranmu mengangkut karung!” seru salah seorang dari
beberapa lelaki yang menunggunya di depan tumpukan karung padi. Ia pun bergegas
menuju ke teman-temannya.
Perempuan
setengah baya dengan sekarung padi duduk di pinggir jalan. Ia menunggu teman-temannya
yang masih bergelut dengan jerami untuk mendapatkan rontokan padi. Dia
menerawang langit yang sudah mulai redup. Gumpalan-gumpalan mega putih bergerak karena hempasan angin yang
terus berhembus. Si perempuan menuju ke kali. Ia berendam membersihkan
lumpur-lumpur yang melekat di bajunya. Si perempuan berganti baju. Ia
mengenakan pakaian kering yang sederhana. Di ambang senja perempuan itu akhirnya
berjalan sendiri tanpa ditemani yang lain dengan kepuasan hasil kerjanya hari
ini. (*)
Maret
2012
*Penulis
adalah guru di SMA/MA Raudlatul Muta’allimin Babat
Tinggal di Wanar, Pucuk,
Lamongan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar