Jika Kau Bukan Anak Raja, Juga Bukan Anak Ulama Besar, maka Menulislah

Minggu, 22 April 2012

Cerpen


Perempuan di Ambang Senja
Cerpen karya Ahmad Zaini*

Pagi masih  berkabut. Mata masih remang menatap titik di depan. Jalan yang membentang masih tak jelas tepinya. Kaki Zainab merayap dengan penuh konsentrasi agar tidak tergelincir dan terjerembab ke lumpur persawahan.

Sorak sorai para buruh sabut, penjual jasa memanen padi, bersahut-sahutan setelah mereka selesai mempersiapkan segala peralatan yang dibutuhkan. Ya mereka bersorak karena menu sarapan pagi baru telah tiba.
“Mbak, sarapan!” salah satu dari lelaki di sawah seberang menawari sarapan pagi Zainab.
Sejenak Zainab menoleh ke arah suara. Kemudian ia hanya tersenyum manis melihat lelaki itu yang berdiri sambil menyodorkan sepiring menu sarapan pagi dari kejauhan.
“Matur suwun!” jawab perempuan setengah baya itu.
Pematang sawah panjang masih menyeret langkah kaki Zainab. Ia ingin berkumpul dengan teman-temannya yang sudah menunggu di petak sawah seberang. Setelah kaki perempuan itu menggilas pematang yang ditumbuhi rerumputan basah, ia pun sampai pada kerumunan perempuan-perempuan pencari bulir padi yang berserak dan ditinggal pemiliknya.
Para kaum hawa pada musim panen seperti ini mendapatkan pekerjaan dengan penghasilan yang lumayan. Mereka bekerja tanpa modal. Mereka hanya membutuhkan tenaga dan mental baja. Pekerjaan musiman dengan mengais sisa-sisa para petani dinilai sangat menguntungkan. Sehari terkadang mendapatkan satu karung gabah. Hasil yang lumayan untuk membantu suami mereka yang terkadang tersendat rezekinya.
“Mari kita ke sana!” ajak Zainab kepada teman-temannya sambil menunjuk ke arah orang-orang yang sibuk menyabut padi.
Mereka pun bergerak seperti kawanan burung yang mencarikan nafkah untuk anak-anaknya di sarang. Perempuan-perempuan itu mendekat pada segerombolan lelaki yang memanen padi dengan peralatan sabut. Karung yang tadinya dilipat, sekarang mulai digelar. Mereka tak mempedulikan tanah berlumpur yang menanam kakinya hingga mencapai mata kaki. Mereka pun duduk bersimpuh walau pakaian yang mereka kenakan basah terkena air yang menggenang. Sebatang kayu mereka raih dari dalam lipatan karung. Mereka siap mengayunkan kayu tersebut agar bulir-bulir padi yang melekat pada jerami limbah dari lelaki itu rontok. Sebelum mereka beraksi, perempuan-perempuan itu melindungi telapak tangannya dengan sarung tangan.
Serumpun jerami dilempar seorang lelaki. Perempuan-perempuan tersebut berlomba mendapatkan jerami seperti kawanan burung merpati yang dilempari butir-butir jagung oleh juragannya.
“Ha,ha,ha,ha!” tawa Zainab yang kemudian dasahuti tawa perempuan-perempuan yang lain. Mereka sangat menikmati pekerjaan mencari sisa-sisa padi petani di sawah yang berlumpur.
Ayunan tangan perempuan-perempuan bergantian menghantam jerami hingga remuk. Mereka silih berganti memunguti butir-butir gabah yang menyembul dari balik jerami itu. Dengan senyum manis perempuan setengah baya menghimpunnya ke dalam karung yang  masih menganga kurang isi.
Mereka tidak terbebani dengan karung yang masih belum terisi penuh. Mereka bekerja tidak ada target sekian kuintal atau sekian ton dalam sehari atau sebulan. Walaupun terkadang mereka hanya mendapatkan setengah karung, mereka sangat besyukur dengan hasil tersebut.
“Mbak, ini!” kata lelaki yang wajahnya terbungkus kaos seperti ninja. Ia melempar sebongkok jerami pada Zainab.
Perempuan tersebut kaget karena dirinya yang diberi lelaki itu bukan perempuan-perempuan lainnya. Zainab merasa tidak enak dengan yang lain. Ia pun membagikan sebongkok jerami pada perempuan-perempuan yang sejak tadi meliriknya dengan perasaan curiga.
Mereka tak berterima kasih. Mereka menyahut onggokan jerami yang diberikan oleh perempuan setengah baya itu dengan kasar.
“Mbak, Nun jangan sok dermawan!” ucap salah satu dari mereka.
Perempuan setengah umur itu kaget. Ia berniat adil dengan membagikan sisa-sisa sabutan yang diberi oleh lelaki bertopeng kaos, eh,  malah dibalas dengan kata-kata yang menusuk hati.
Perempuan setengah baya tadi hanya tersenyum. Ia menanggapi dingin ucapan temannya. Ia tak menghiraukan dan tak menganggap ucapan itu bermaksud menyakitinya. Ia tetap mengayunkan tongkat ke punggung jerami agar butiran padi segera rontok dan dapat dihimpun ke dalam karung yang masih menganga.
Matahari mulai lingsir merambat pelan ke arah barat. Mendung menggumpal memayungi perempuan-perempuan pencari padi. Sedangkan lelaki yang menyabut padi saling membahu mengangkat karung-karung padi ke rumah pemilik sawah. Sekawanan burung kuntul hinggap sebentar di kubangan air di tengah sawah. Sesaat kemudian mereka pun terbang menantang angin yang berhembus kencang. Gelegar guntur bersahutan menandakan akan segera turun hujan.
“Mari, kita kemasi barang-barang kita! Sepertinya akan segera hujan,” ajak Zainab
“Nab, Zainab! Jangan sok baik! Situ sudah mendapat penuh. Kami baru mendapat separo.”
Lagi-lagi maksud baik Zainab ditanggapi dengan hati dongkol. Rupa-rupanya mereka sejak awal sudah cemburu pada perempuan setengah baya. Mereka iri karena lelaki penyabut padi sering memberikan jerami yang masih ada butir padinya kepada perempuan lembut itu. Namun, sekali lagi kelembutan hati wanita paruh umur itu mampu mengendalikan emosinya. Ia tetap tersenyum dengan ramah.
“Kalau begitu, saya berkemas dulu!”
“Cih, silakan!”
Wajah manis perempuan setengah baya berseri-seri. Tangan kekarnya bergemulai mejahit karung yang berisi padi. Lipatan gendong segera ia urai lalu disangkutkan pada pundak kekarnya. Sekali angkat sekarung gabah telah naik ke punggunya kemudian diikat dengan gendong. Perlahan ia pergi menjauh dari kerumunan perempuan pencari rontokan padi. Ia melindas lumpur-lumpur yang membalut langkah kakinya. Wajah perempuan setengah baya berkeringat walaupun hembusan angin kencang menerpanya. Untaian gendong digunakan untuk menyekanya.
“Aduh!”
Sebuah lubang bundar menalan kakinya. Ia beringsut ingin lepas dari mulut liang yuyu. Beban berat yang menindih punggungnya semakin keras menekannya hingga bertambah dalam liang itu menelan kakinya. Perempuan setengah baya tak mampu lepas dari lubang tersebut. Ia tak kuasa meronta lagi.
Di ambang kepasrahannya karena tak mampu lepas dari himpitan lubang, tiba-tiba dari kejauhan terlihat lelaki yang berlari mendekatinya. Lelaki tersebut berlari seperti kuda yang menerjang lumpur  di tengah medan peperangan. Sesekali ia tampak terhuyung karena kakinya terbalut sisa-sisa jerami.
Lelaki itu berhenti di depan perempuan setengah baya yang masih mematung.  Napasnya terengah-engah. Dengan mengatur pernapasan, ia mengendalikan kondisi fisiknya untuk membantu Zainab. Lelaki yang wajahnya masih tertutup kaos itu mengulurkan tangannya. Perempuan setengah baya pun menyambutnya. Kedua tangan mereka berpaut erat. Dengan sekuat tenaga lelaki itu manarik tangan Zainab yang masih memanggul gabah.
“Terima kasih, Kak!”
“Sama-sama, Mbak!”
Kedua orang yang belum saling kenal itu pun melanjutkan perjalanan. Si lelaki berjalan di belakang sambil melihat Zainab yang sedang berjalan dan bergelut dengan lumpur. Tiba-tiba lelaki itu berlari lantas menghentikan Zainab yang tampak kelelahan.
“Saya bantu, Mbak!”
Zainab kaget. Ia hampir tak percaya dengan tawaran yang diterimanya. Ia dengan malu-malu melepaskan gendongannya yang langsung disambut lelaki bertopeng kaos itu. Sekali angkut, sekarung padi itu terpanggul di punggungnya.
Di tengah perjalanan mereka bercakap-cakap. Zainab bercerita tentang kelurganya. Demikian juga dengan lelaki itu. Ia juga menceritakan keluarganya. Si perempuan itu nekat bekerja mencari rontokan padi dari para penyabut karena suaminya yang selama ini menjadi penopang keluarganya telah merantau ke luar Jawa. Selama bertahun-tahun suaminya tidak pernah pulang dan tidak pernah mengirim kabar. Untuk menghidupi kedua anaknya yang masih mentah, dia terpaksa bekerja seperti itu.
“Sabar, Mbak!” hibur lelaki kepada perempuan setengah baya.
Sebenarnya si lelaki itu punya maksud untuk menggoda perempuan setengah baya. eh, paling tidak bisa dibuat sebagai penyemangat kerja. Ketika dia mendengar kisah dari perempuan tadi maka dia mengurungkan niat menggodanya.
“Sekali lagi saya mengucapkan terima kasih, Kak!” kata perempuan itu saat sudah sampai di jalan raya.
“Hai, cepat kembali! Ini giliranmu mengangkut karung!” seru salah seorang dari beberapa lelaki yang menunggunya di depan tumpukan karung padi. Ia pun bergegas menuju ke teman-temannya.
Perempuan setengah baya dengan sekarung padi duduk di pinggir jalan. Ia menunggu teman-temannya yang masih bergelut dengan jerami untuk mendapatkan rontokan padi. Dia menerawang langit yang sudah mulai redup. Gumpalan-gumpalan mega  putih bergerak karena hempasan angin yang terus berhembus. Si perempuan menuju ke kali. Ia berendam membersihkan lumpur-lumpur yang melekat di bajunya. Si perempuan berganti baju. Ia mengenakan pakaian kering yang sederhana. Di ambang senja perempuan itu akhirnya berjalan sendiri tanpa ditemani yang lain dengan kepuasan hasil kerjanya hari ini. (*)
Maret 2012

*Penulis adalah guru di SMA/MA Raudlatul Muta’allimin Babat
Tinggal di  Wanar, Pucuk, Lamongan







Tidak ada komentar:

Posting Komentar