Jika Kau Bukan Anak Raja, Juga Bukan Anak Ulama Besar, maka Menulislah

Minggu, 09 Oktober 2022

Menziarahimu, cerpen di Jawa Pos Grup Radar Bojonegoro, Minggu, 9 Oktober 2022

 


Menziarahimu

Cerpen karya Ahmad Zaini

 

Hampir setiap malam Jumat aku ingin berziarah ke makammu. Namun, maaf hingga saat ini ada bisikan yang menahanku. Hingga kini aku benar-benar belum sempat melihat pusara dengan tanda dua batu nisan yang bertuliskan nama dan hari kematianmu.

Kamu orang baik. Semasa hidupmu kuanggap sebagai kakakku. Kamu penuh perhatian kepadaku dan keluargaku. Setiap kali kamu ingin keluar kota selalu meneleponku. Kamu mengajakku beserta istri dan anak-anakku. Kamu selalu membuat diriku sekeluarga turut senang dan bahagia sebagaimana kamu membahagiakan istri dan anak-anakmu.

Aku masih ingat kebaikanmu yang lain. Yakni, tatkala ayah kandungku sakit. Kamu memberi perhatian pada ayahku dengan mencarikan tempat pengobatan yang terbaik bagi ayahku. Kamu mengajakku ke daerah Panceng untuk menemui guru spiritualmu. Di tempat itu kamu menyuruhku menceritakan ihwal sakit yang diderita ayahku kepada gurumu. Aku pun menceritakan kondisi yang sebenarnya. Ayahku seperti terkena guna-guna ceritaku pada gurumu. Gurumu waktu itu membantah ceritaku bahwa itu bukan guna-guna. Aku sempat berdebat dengan gurumu. Kamu menengah-nengahi perselisihan ini. perdebetanku selesai.

”Sudah larut malam. Ayo, kita pulang,” ajakmu.

Aku menurutimu. Kamu membimbingku berjalan keluar dari rumah gurumu yang beraksesori nuansa mistis. Sesampai di sebuah surau kau mengajakku berhenti. Kamu menasihatiku seperti menasihati adikmu sendiri. Aku salut pada usahamu. Aku mengerti dan memahami maksudmu. Kamu ingin membantu penyembuhan ayahku dengan caramu sendiri.

”Besok malam aku ke rumah ayahmu,” janjimu padaku.

”Silakan. Apa yang dapat kamu perbuat untuk ayahku?” tanyaku sangsi.

”Ikhtiar zahir. Aku akan mengobati ayahmu dengan bantuan guruku dari jarak jauh.”

”Bisakah?”

”Lihat saja besok malam,” katamu menjanjikanku.

”Baiklah.”

Selepas isyak aku menunggumu di rumah ayahku. Hampir satu jam menunggu, kamu tidak muncul. Aku jadi ragu. Kamu serius atau tidak. Bisa mengobati penyakit ayahku atau hanya janji-janji palsu untuk menghiburku. Ternyata tidak. Prasangkaku keliru. Kamu benar-benar memenuhi janji. Kamu datang bersama teman seperguruanmu untuk melakukan pengobatan alternatif kepada ayahku.

Berkopiah hitam dengan ujung lancip mencari ciri khas dirimu. Kamu duduk berhadapan dengan ayahku. Sedangkan temanmu meletakkan kedua telapak tangannya ke punggungmu. Matamu terpejam. Mulutmu komat-kamit. Kamu meraih tangan kanan ayahku yang tak bisa bergerak sejak hampir tiga bulan. Kedua tanganmu menggosok-gosok lengan kanan ayah. Bibirmu terampil melafalkan doa-doa sambil sesekali kau berkomunikasi jarak jauh dengan gurumu. Sejenak aku terhenyak. Aku kaget ternyata kamu termasuk orang sakti karena bisa berkomunikasi jarak jauh dengan gurumu.

”Selesai,” katamu setelah hampir setengah jam memijit dan menggosok-gosok lengan ayahku.

”Mana hasilnya?” tanyaku.

”Lihat sendiri lengan ayahmu. Pakde, coba Panjenengan angkat lengan kanan perlahan,” perintahnya.

Aku mengamati dengan hati-hati perubahan lengan ayah. Kelima jarinya dapat digerak-gerakkan  pelan. Tak lama kemudian ayahku mampu mengangkat lengan kanannya. Wih, luar biasa. Ternyata kamu benar-benar bisa memulihkan kondisi tangan kanan ayahku.

”Kamu benar-benar sakti. Kamu mampu menyembuhkan penyakit ayah. Aku percaya padamu,” kataku.

”Bukan saya yang menyembuhkan ayahmu. Saya hanya sebagai perantara dalam pengobatan. Yang memberi sakit dan yang menyembuhkannya adalah Tuhan,” jawabmu merendahkan diri.

Setelah itu kamu pamit pulang bersama temanmu. Kujabatkan selembar amplop sebagai ungkapan terima kasih atau paling tidak sebagai ganti bensin sepeda motor. Namun, kamu menolak. Kamu tidak menerima pemberianku.

”Saya ini ikhlas menolong ayahmu. Anggap saja ini adalah kewajiban yang harus saya lakukan sesama manusia. Apalagi itu yang saya pijit tadi adalah ayahmu,” balasmu.

Kamu punya kelebihan dapat mengobati orang lain yang sakit, termasuk ayahku. Kamu bisa membuat resep dan memberi anjuran kepada orang lain agar terhindar dari penyakit yang membahayakan seperti kelumpuhan dan lain-lain. Tapi, kenapa kamu tidak berdaya ketika penyakit demi penyakit datang menggerogoti kesehatanmu. Tapi, kenapa kamu tidak bisa menasihati dirimu sendiri agar menghindari makanan dan minuman yang menjadi penyebab penyakit-penyakitmu itu? Bahkan, kamu mengabaikan anjuran dari beberapa dokter yang pernah kamu datangi untuk pengobatan penyakitmu itu. Saran istri dan keluargamu juga saranku tak pernah kamu dengarkan. Kamu selalu menerjang beberapa pantangan yang seharusnya kamu tinggalkan. Kamu selalu beralibi bahwa semua orang akan mati. Makan atau tidak makan pantangan itu pada saatnya nanti akan mengalami kematian. Selalu itu yang kaujadikan alasan melanggar pantangan.

Benar sekali omonganmu. Semua manusia yang hidup pasti akan mati. Namun, perlu diingat manusia harus berikhtiar untuk mempertahankan hidupnya. Termasuk menghindari makanan dan minuman atau lainnya yang bisa menjadi penyebab kematian.

Keras kepala dan egois. Dua sifat yang patut disematkan padamu. Kamu sosok yang sulit mendengarkan omongan orang lain. Lebih-lebih pesan kesehatan. Banyak orang yang memperhatikan kondisi kesehatanmu. Termasuk aku. Tubuhmu yang dulu gemuk, kini kurus. Seperti tinggal tulang dan kulit saja. Kornea matamu juga kekuning-kuningan. Apalagi perutmu sering sakit dan muntah-muntah. Siapa yang tega membiarkan dirimu dalam kondisi seperti ini. Tidak ada yang tega. Semua orang berempati kepadamu. Termasuk juga rival-rivalmu dalam dunia perpolitikan. Setiap kali ada masukan agar kamu harus beristirahat, kamu selalu menolaknya. Kamu menyanggah dengan argumen-argumen sebagai pembenar dirimu. Kamu malah sengaja sering ke restauran dan memesan makanan-makanan yang mengandung lemak. Bahkan, kamu juga pesan makanan yang pedas. Kamu sendiri tahu bahwa makanan pedas dan berlemak tinggi akan semakin memperparah kondisi kesehatanmu.

Sore itu kamu benar-benar tak berdaya. Kesehatanmu down. Kamu pingsan. Keluargamu panik lalu meneleponku. Aku datang lalu membantu istrimu melarikanmu ke rumah sakit. Beberapat perawat membawamu ke UGD. Kamu menjalani perawatan intensif. Lalu kamu dibiarkan bebarapa saat sebagai masa observasi atas perkembangan kondisimu. Kamu belum sadarkan diri hingga satu hari. Kamu tidak mengalami perubahan. Kemudian dokter merujukmu ke rumah sakit yang memiliki fasilitas lebih lengkap dengan dokter-dokter andal.

”Keluarga Zakaria?” tanya dokter.

”Betul, Dok. Saya adiknya dan ini istrinya,” jawabku.

Dokter mengajak kami berdua masuk ke ruangannya. Dia mengabarkan kepada kami kamu terkena liver stadium akhir. Dokter juga bilang bahwa kamu dalam keadaan kritis.

”Doakan saja semoga Tuhan menurunkan mukjizat untuk kesembuhannya,” kata dokter.

Sesuatu yang tidak mungkin. Mukjizat itu keistimewaan yang diberikan Tuhan kepada nabinya. Sedangkan aku sendiri tahu kalau kamu ini bukan nabi. Kamu hanya orang biasa yang diberi kelebihan ilmu berdakwah dan punya banyak penggemar. Kamu hampir tiap malam kamu tidak di rumah karena memenuhi undangan ceramah sampai-sampai kamu kelelahan. Menurut dokter kelelahan inilah yang menjadi salah satu sebab liver yang kamu derita saat ini.

”Harapan tipis, Mbak,” bisikku pada istrimu.

Istrimu tak merespon bisikanku. Istrimu hanya bisa menyembunyikan wajahnya di jilbab yang basah oleh air mata. Tak lama  kemudian dokter datang untuk mengabarkan bahwa kamu telah tiada. Tuhan menjemputmu dengan perantaraan sakit liver tepat azan subuh berkumandang.

Aku tidak bisa menyembunyikan kesedihan saat itu. Aku tak doyan makan selama tiga hari. Hari-hariku diliputi ketidakpercayaan pada kematianmu. Kamu seolah-olah masih hidup dan mengajakku jalan-jalan ke luar kota. Tapi, fakta tak bisa dipungkiri. Takdir benar-benar telah merenggutmu. Kamu dan aku kini telah berbeda alam.

***

 Tiga tahun sudah kamu berada di peristirahatan akhir. Rasa rindu dan rasa hutang budi pada kebaikanmu menyentuh hatiku. Aku ingin menziarahimu pada tulat, Kamis malam Jumat. Senin ini aku berjanji akan datang menjenguk gundukan tanah bertanda dua batu nisan bertuliskan namamu dan hari tanggal kematianmu. Aku tak akan mengingkari janji seperti beberapa Kamis yang lalu.

Pemakaman desamu begitu rapi dan bersih. Warga kampung memiliki rasa tanggung jawab tinggi untuk merawat pemakaman. Di bagian timur pemakaman aku duduk sambil menghadap makammu. Aku berbincang-bincang dengan istrimu yang mengantarku ke makam sebelum berdoa bersama. Aku yakin bahwa kamu mengetahui kedatanganku. Aku yakin kamu mendengar pembicaraanku bersama istrimu yang masih setia menjanda. Aku yakin kamu juga mendengar dan mengamini doa-doa yang kulantunkan. Aku yakin kamu juga mendoakanku dari dalam kubur. Aku melihat tanda-tanda itu melalui semut dan serangga yang menghentikan jalannya tepat di ujung batu nisanmu.

”Maafkan aku karena baru bisa menziarahimu. Damailah di alammu, semoga Allah merahmatimu!” pintaku.

Aku meninggalkan tanah pemakaman setelah matahari sore terlihat semakin menguning. Kawanan kelelawar yang terbang di atas pemakaman mengisyaratkan bahwa sebentar lagi akan terjadi pergantian waktu dari siang menjadi malam. Cericit kelelawar berkabar janganlah lupa pada kebaikan orang yang telah mati. (*)

 

Wanar, 24 September 2022

Ahmad Zaini, guru di SMKN 1 Lamongan dan ketua Lesbumi PCNU Babat. Selain itu juga sebagai anggota Kostela. Buku kumpulan cerpen terbarunya berjudul Lelaki yang Menikahi Bayangan Sendiri. Beralamat di Wanar, Pucuk, Lamongan.

Sabtu, 27 Agustus 2022

Jiwa Berontak Veteran Perang, Cerpen Jawa Pos grup Radar Bojonegoro, Minggu, 28 Agustus 2022

 



Jiwa Berontak Veteran Perang

Cerpen Ahmad Zaini

 

Mbah Sadimen gelisah. Seperti ada masalah pelik yang bersarang di batok kepalanya. Duduk tak nyaman. Berdiri pun tak enak. Terkadang jari-jari tangannya menggaruk-garuk kepala. Desis mulutnya terdengar seperti ular berbisa. Semacam ada sesuatu yang ingin dikeluarkan dari tenggorokannya.

”Merdeka!” pekik Mbah Sadimen sambil berdiri tiba-tiba. Setelah itu dia duduk kembali dengan lunglai.

Apa gerangan yang membuat Mbah Sadimen seperti itu setiap menjelang peringatan hari kemerdekaan? Pertanyaan inilah yang menjadi teka-teki cucu dan para tetangga yang mengetahui kebiasaannya.

Sorot mata Mbah Sadimen menggambarkan kegelisahan, kecemasan, dan kekecewaan. Perasaan-perasaan itulah yang mengaduk-aduk jiwa Mbah Sadimen. Namun, apa yang digelisahkan, dicemaskan, dan dikecewakan? Lagi-lagi muncul teka-teki baru dari Mbah Sadimen buat orang-orang terdekatnya.

Mbah Sadimen merupakan veteran perang. Dia mantan pejuang kemerdekaan. Usianya sekarang sudah 95 tahun. Masa mudanya dia turut mengangkat senjata bergabung dengan tentara-tentara lainnya. Mereka mengusir para penjajah yang mencoba memasuki daerahnya.

Kaki kanan Mbah Sadimen ada bekas luka. Bekas luka itulah yang sering diceritakan Mbah Sadimen kepada anak dan cucu-cucunya saat ini. Sebuah peluru bundar pernah bersarang di kakinya ketika terlibat pertempuran sengit untuk mempertahankan wilayahnya. Dalam pertempuran tersebut teman-teman Mbah Sadimen banyak yang gugur. Termasuk kakaknya sendiri, Dirno. Menurut Mbah Sadimen kakaknya itu tidak sempat berlari ke perlindungan sehingga dua butir puluru bersarang di dadanya.

Mata Mbah Sadimen berkaca-kaca setiap bercerita masa peperangan kepadacucu dan tetangganya. Peperangan melawan penjajah menelan banyak korban. Korban harta benda, darah, dan nyawa. Hidup sengsara. Paceklik pangan dan sandang. Rumah jarang ditempati karena takut disergap musuh. Mbah Sadimen sering tidur di atas pepohonan, di bawah jembatan sambil berjaga-jaga bila musuh datang tiba-tiba untuk merebut wilayahnya. Sengsara sekali para pejuang saat itu.

”Mbah, tenang. Duduk yang manis, ini susunya,” kata Maryamah, sang cucu yang sekarang merawatnya.

”Tidak. Saya tidak bisa tenang,” kata Mbah Sadimen.

”Apa yang membuat Mbah tidak bisa tenang?”

”Mereka,” jawabnya singkat sambil menunjuk ke luar.

Maryamah bingung. Siapa yang dimaksud mereka sebagai biang keladi kegelisahannya. Padahal, di luar rumah tidak ada siapa-siapa. Hanya tadi ada beberapa orang yang melintasi jalan di depan rumah yang akan menuju lapangan untuk mengadakan karnaval agustusan.

”Mbah, mereka siapa?” selidik Maryamah.

”Itu tadi yang lewat di depan rumah,” sambung Mbah Sadimen menjelaskan Maryamah.

Benar sekali. Ternyata yang dimaksud Mbah Sadimen adalah orang-orang yang akan mengikuti kegiatan karnaval.

Maryamah berpikir lagi kenapa Mbah Sadimen geram setiap melihat orang-orang yang akan karnaval. Padahal, mereka itu ingin memeriahkan hari ulang tahun kemerdekaan. Mestinya Mbah Sadimen senang karena perjuangan para pejuang itu dikenang oleh para generasi sekarang. Perjuangan mereka tidak dilupakan oleh anak cucunya. Karnaval tersebut juga bisa menjadi pengingat bahwa kemerdekaan yang kita rasakan saat ini bukanlah pemberian hadiah dari penjajah. Akan tetapi kemerdekaan ini direbut dengan tenaga, pikiran, darah, dan air mata. Bahkan, dipertaruhkan dengan nyawa. Nah, dengan karnaval agustusan inilah biar generasi muda saat ini tahu jerih payang para pejuang demi mencapai kemerdekaan. Biar pemuda-pemuda saat ini tidak hidup berfoya-foya saja. Biar mereka tahu rasa berterima kasih, mengisi kemerdekaan ini dengan kegiatan-kegiatan positif demi kemajuan bangsa dan negara.

”Mestinya Sampean itu senang setiap kali ada karnaval. Bukannya malah sewot seperti ini,” celetuk Maryamah.

”Heleh, cucu macam apa kamu ini,” sela Mbah Sadimen dengan menangis. Dia pun tidak mau menyeruput susu yang diminumkan oleh Maryamah.

Maryamah jadi heran. Kenapa Mbah Sadimen sangat benci dengan perayaan agustusan ini. adakah yang salah? Teka-teki ini muncul dari sikap veteran yang berusia 95 tahun ini.

”Sekarang begini saja, Mbah. Tolong katakan penyebab sikap Mbah yang tidak senang dengan perayaan memperingati hari kemerdekaan bangsa ini. Biar saya dan para tetangga ini tidak bingung dengan ulah Mbah yang aneh ini,” pinta Maryamah.

”Jauh, jauh dengan tujuan,” katanya.

”Lho, ya membingungkan orang lagi. Apanya yang jauh? Saya sejak tadi kan dekat dengan Mbah,” goda Maryamah.

”Kamu itu cucu macam apa tidak tahu tujuan,” celetuk Mbah Sadimen.

”Wes, nang crita biar saya dengarkan,” pungkas Maryamah.

Mbah Sadimen memperbaiki posisi duduknya. Dia menyandarkan punggung yang tinggal kulit dan tulang karena digerogoti usia. Matanya berkaca-kaca menatap ke halaman rumah. Dia sesekali berdiri sambil mengarahkan jari telunjuknya ke luar ketika ada orang yang melintas di depan rumahnya.

”Mana susunya?”

Maryamah pun cekatan. Dia meminumkan susu yang tinggal setengah gelas sambil mengamati mulut yang seakan masih membekas suara pekikan merdeka.

Setelah menghabiskan segelas susu, Mbah Sadimen menyuruh Maryamah diam untuk mendengarkan jawaban dari teka-teki sikapnya.

Mbah Sadimen menceritakan semua yang menjadi alasan kenapa dia benci dan marah ketika ada karnaval peringatan hari kemerdekaan. Dia mengemukakan beberapa alasannya. Kemerdekaan itu anugerah dari Allah, Tuhan yang Mahakuasa yang harus disyukuri. Cara mensyukurinya adalah mengisi kemerdekaan dengan hal-hal baik yang dapat  memajukan bangsa dan menyejahterakan rakyat. Termasuk juga dengan mencerdasakan kehidupan anak bangsa agar bisa mewujudkan cita-cita luhur para pejuang kermerdekaan.

”Upacara dan karnaval apa tidak cukup sebagai upaya bersyukur?” sela Maryamah.

”Jauh. Jauh sekali dari rasa bersyukur,” jawab Mbah Sadimen singkat.

Mbah Sadimen melanjutkan ucapannya. Dia mengatakan bahwa karnaval saat ini tidak ada nilai rasa syukurnya pada Allah. Hanya hura-hura dan senang-senang belaka. Hanya joget-joget, mengumbar nafsu, dan perbuatan-perbuatan fasiq lainnya. Bahkan, Mbah Sadimen bilang karnaval agurtusan ini hanyalah mengkufuri nikmat kemerdekaan.

”Mosok karnaval membawa dan minum tuak. Mereka berjalan-jalan sambil mabuk-mabukan. Tak jarang mereka tawuran karena pengaruh minuman keras,” imbuhnya.

”Oalah, ini to yang menyebabkan Sampean benci karnaval,” sergah Maryamah.

”Iyalah. Keringat, darah, dan air mata para pejuang diganti dengan tuak. Minuman haram yang memabukkan. Ini namanya pelecehan. Bisa menodai nilai-nilai suci kepahlawanan. Selain itu, ada joget-jogetan laki-laki dan perempuan. Roknya cingkrang. Tidak seperti itu bersyukur pada Allah,” ucap Mbah Sadimen.

”Tapi, yang baik-baik juga ada,” sanggah Maryamah.

”Yang baik-baik biarlah. Tapi, yang mabuk-mabukan dan joget-jogetan itu yang saya benci. Mencemari nilai perjuangan saja. Kasihan mereka,” katanya.

”Mereka siapa lagi, Mbah?”

”Para pejuang kemerdekaan yang sudah gugur. Bukannya didoakan malah dinodai nilai perjuanganya dengan perbuatan dosa,” pungkasnya.

Maryamah lega. Dia sudah tahu alasan kakeknya yang membenci karnaval perayaan hari kemerdekaan. Dia punya bahan yang banyak untuk bisa disampaikan kepada para tetangga yang selama ini dirundung rasa penasaran atas sikak mbahnya.

Baru saja Maryamah ke belakang membawa gelas susu Mbah Sadimen yang sudah kosong, terdengar riuh suara drumband dan aneka musik dari kejauhan. Maryamah berlari-lari kecil keluar. Dia akan  melihat kemeriahan karnaval peringatan hari kemerdekaan.

”Nduk, nduk, nduk. Mau ke mana?” tanya Mbah Sadimen dengan tangan hendak menahannya.

”Lihat karnaval, Mbah. Di situ saja, ya,” jawab cucu Mbah Sadimen yang sudah beranak tiga ini.

Mbah Sadimen mengelus dada. Dia tidak bisa berbuat apa-apa. Lelaki berusia hampir seabad ini hanya bisa meratap dan menyesali perbuatan fasiq yang biasanya mewarnai karnaval hari ulang tahun kemerdekaan bangsa ini. Dia hanya bisa berdoa dan berharap semoga generasi saat ini sadar pada tanggung jawabnya melanjutkan cita-cita luhur para pejuang bangsa (*)

Wanar, 27 Agustus 2022

 

Ahmad Zaini, guru di SMKN 1 Lamongan dan ketua Lesbumi PCNU Babat. Beberapa cerpen dan puisinya bertebaran di berbagai media cetak dan online. Buku kumpulan cerpen terbarunya berjudul Lelaki yang Menikahi Bayangan Sendiri. Penulis beralamat di Wanar, Pucuk, Lamongan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Minggu, 07 Agustus 2022

Foto Keluarga, cerpen di Jawa Pos grup Radar Bojonegoro, MInggu, 31 Agustus 2022

 



Foto Keluarga

Cerpen karya Ahmad Zaini

 

Rumah kecil di tengah kota besar ini setiap hari sepi. Para penghuninya beraktivitas di luar rumah.  Dari pagi sampai sore dan terkadang hingga malam, yang terlihat hanya bunga-bunga hias serta dua sangkar burung tergantung di teras rumah. Bunga hias musim kembang terasa sia-sia lantaran penghuninya tak merasakan aroma wangi dan indah kelopaknya. Demikian juga dengan kicauan burung. Para tetangganyalah yang menikmati kemeruduan suaranya. Bisa dikatakan suami-istri penghuni rumah ini tidak pernah melihat matahari karena berangkat kerja sebelum matahari terbit dan pulang saat matahari sudah terbenam.

Minggu pagi Hidayati libur tugas. Dia duduk sendiri di sofa ruang tamu. Biasanya dia duduk bersama suami di tempat tersebut sambil menikmati camilan yang dibelinya saat bermalam Minggu. Pagi itu Hidayati terpaksa duduk sendiri lantaran laki-laki yang telah memberinya dua anak mendapat giliran piket jaga di kantor.

Punggung Hidayati disandarkan di sofa berwarna cokelat. Dia melakukan peregangan agar bisa duduk lebih rileks. Wanita yang kini berusia 55 tahun ini ingin menikmati hari libur dengan bersantai sambil ngemil kudapan sisa semalam. Mata sayu Hidayati terkadang berair tanpa sebab. Mungkin faktor kecapekan menjadi penyebabnya. Hal itu dikarenakan setiap hari Hidayati harus menyetir mobil sendiri ke tempat dinasnya di usia setengah abad lebih lima tahun ini. Sungguh capek, desisnya dalam hati.

Tempat dinas Hidayati jauh sekali. Untuk sampai ke tempat beraktivitas, Hidayati harus menempuh jarak 120 km pergi-pulang atau dalam waktu satu jam setengah sekali jalan. Bahkan, bisa sampai dua atau tiga jam waktu tempuh tergantung dari kondisi di jalanan. Namun, Hidayati setiap hari malakukannya dengan tanpa beban. Jalan yang menghubungkan antara Surabaya dengan Lamongan dilahap setiap hari.

”Permisi, paket!” seru tukang jasa pengiriman paket.

”Iya,” sahut Hidayati.

Hidayati bangkit dari sofa menghampiri pengirim paket yang berada di luar pagar rumahnya.

”Dari mana, Mas?”

”Jogja, Bu,” jawab tukang mengantar paket.

”Terima kasih, Mas!” ucap Hidayati setelah menandatangani bukti penerimaan barang.

Ibu dua anak ini menerka bahwa paket yang diterimanya ini adalah kiriman Sonia. Anak pertamanya yang kuliah di Jogja. Hidayati membolak-balik paketan kecil seukuran genggaman tangannya. Dia membaca tulisan-demi tulisan yang tertera di wajah paket. Benar sekali bahwa paketan itu dari anaknya.

Jemari Hidayati gemulai dan lincah membuka paketan. Dia mengupas kulit paket dengan sat-set, wat-wet karena sangat penasaran pada isinya. Tak sampai satu menit, Hidayati mampu mengelupas pembungkus paket.

”Wow, jam tangan!” seru Hidayati sembari senyum-senyum sendiri.

Dalam kemasan paketan, selain arloji Hidayati juga menemukan selembar kertas bertuliskan ucapan ulang tahun buat dirinya yang ke-55.

Semula Hidayati merasa haru dan bangga atas hadiah ulang tahun yang diterimanya. Namun, ada secuil rasa yang membuatnya terdiam seketika. Mulut Hidayati berdecak kecewa. Dia menduga-duga arloji yang berbandrol mahal ini dibeli sang anak dari uang kirimannya. Dalam hati kecilnya berbisik bahwa ini bisa mempercepat permintaan transferan uang lagi. Mau dapat uang dari mana bisa membeli barang mahal ini kalau tidak dari uang jatah makan dan biaya kuliah. Sonia itu masih kuliah dan belum bekerja, katanya dalam hati.

Hidayati buru-buru mengambil handphone. Dia menghubungi anaknya yang sudah menempuh semester akhir di kampus kota Jogja. Dia ingin menelisik uang yang dipakai anaknya untuk membeli hadiah ulang tahunnya.

”Selamat ulang tahun, Bu!” sahut suara Sonia dari telepon meskipun ibunya belum mengucapkan salam dan menanyakan kabar.

”Eh, terima kasih, Nak atas ucapan dan kado ultah buat ibu. Tapi, ibu pengen tahu saja. Kamu dapat uang dari mana bisa membeli arloji bermerk ini?”

”Lho, Ibu sendiri kan yang memberi saya uang. Karena uang kiriman ibu kemarin lusa saya gunakan untuk membeli hadiah ultah buat Ibu tercinta, sebagai gantinya segera transfer uang lagi, ya,” suara Sonia menjawab pertanyaan ibunya dengan enteng.

”Dasar anak anak usil. Suka mengusili Ibu saja. Bulan depan saja saya transfer,” sahut bernada gurau Hidayati sambi melempar ponselnya ke sofa.

Abdi negera sebagai guru ini lantas menghempaskan tubuhnya ke sofa lagi. Dia menyeruput kopi yang diseduh sendiri. Mata Hidayati memandang foto keluarga yang tergantung di dinding ruang tamu. Kenangan masa-masa kecil kedua anaknya tiba-tiba mengusik Minggu paginya.

Dua puluh tahun silam Hidayati terpaksa sering meninggalkan kedua anaknya di rumah. Kala itu anak-anaknya masih duduk di bangku SD. Hidayati berangkat dinas selepas salat shubuh ketika anak-anaknya masih tidur. Mereka hanya ditinggali menu sarapan dan dua buah kunci rumah. Kedua anak Hidayati meskipun masih SD, namun sudah terbiasa hidup sendiri. Mereka bangun dari tidur, mandi, mengenakan pakaian seragam sekolah, lalu sarapan pagi dilakukan sendiri. Kakak beradik yang jarak usianya hanya berselang tiga tahun ini tidak seperti anak-anak pada umumnya. Dia sudah bisa melayani dirinya sendiri tanpa menggantungkan bantuan ibunya.

Pernah suatu hari si sulung menyeterika baju seragam di atas meja. Adiknya yang baru bangun tidur duduk di samping meja tersebut tanpa sepengetahuan Sonia kecil. Ketika dia melihat ke samping meja, Sonia kecil kaget hingga seterikanya lepas dari genggaman tangannya. Permukaan seterika yang panas itu mengenai wajah adiknya. Si bungsu menangis histeris sambil memegangi wajahnya yang terkena seterika. Sonia kecil membujuk adiknya agar tidak menangis sambil membuka perlahan kedua tangan adiknya yang menutupi wajah. Sonia menjerit setelah melihat wajah adiknya melepuh. Dia berteriak-teriak meminta tolong kepada tetangganya. Sontak para tetangga berdatangan ke rumah. Mereka menolong adik Sonia dengan membawanya ke puskesmas yang tidak jauh dari rumahnya.

Hidayati saat itu masih di tempat tugas. Dia gelisah. Ikatan batin ibu dengan anak sangat kuat. Muncul keinginan pulang lebih awal dari tugas. Namun, hal itu tidak mungkin dia lakukan karena rasa tanggung jawabnya terhadap tugas di kedinasan. Akhirnya, dia memutuskan tetap melanjutkan tugas dan pulang sesuai jadwal yang telah ditentukan.

Jelang maghrib Hidayati turun dari becak tepat di depan rumahnya. Dia agak terkejut karena di teras rumahnya terlihat beberapa tetangga yang duduk-duduk di situ. Perasaan seorang ibu muncul. Ingatan Hidayati melesat ke kedua anaknya yang sehari penuh ditinggal bertugas.

”Ada apa dengan anak saya, Pak?” tanya Hidayati serta merta.

”Bu Yati masuk dulu,” saran salah satu tetangga.

Tanpa pertanyaan lanjutan, Hidayati lansung masuk rumah sampai lupa melepas sepatu.

”Di mana anak-anakku?”

”Dalam kamar, Yat,” jawab Retno karibnya yang berdiri di depan pintu ruang tengah.

Kelambu pintu kamar anaknya disibak perlahan. Hidayati melihat kedua anaknya di atas ranjang. Si bungsu telentang dengan wajah diperban, sedangkan si kakak duduk di samping menjaga adiknya.

”Ya, Allah, kenapa adikmu?” tanya Hidayati sambil mendekap putri bungsunya.

”Maaf, Bu! Tadi pagi Sonia menyeterika baju seragam. Seterikanya jatuh mengenai wajah adik,” jawab Sonia kecil dengan polos.

Hidayati lantas mendekap keduanya. Dia tidak mereaksi kejadian ini dengan berlebih-lebihan. Dia juga tidak menyalahkan Sonia karena dia sudah merasa bersalah dan takut dimarahi ibunya.

”Anakku,” seru Hidayati sembari menghamburkan diri bersama kedua anaknya.

Kedua matanya berkaca-kaca. Jiwanya larut dalam kejadian yang menimpa buah hatinya. Dia terharu pada anaknya yang belajar mandiri tanpa tergantung pada dirinya. Meskipun begitu, nurani seorang ibu akan tetap menyalahkannya karena anak-anak yang belum berumur masih menjadi tanggung jawabnya. Ah, sudahlah, ucapnya dalam hati untuk membuang jauh-jauh kenangan pahit kala itu.

Hidayati menyeruput secangkir kopi. Dia memandang foto masa kecil anak-anaknya. Dia merasakan ada yang aneh. Foto keluarga yang digantung di dinding ruang tamu seperti bernyawa. Kedua anaknya yang sekarang sudah menjadi mahasiswa seakan tersenyum bahagia. Bahagia terhadap kegigihan kedua orang tuanya yang telah memberi perhatian dan perjuangan demi masa depannya.

Tak lama kemudian Hidayati beranjak dari tempat duduk. Dia mendekat ke dinding. Hidayati meraih foto keluarga berbingkai ukiran jepara. Perlahan pigura foto itu didekap erat dengan rasa haru bercampur rindu. Mata sayu Hidayati sesekali melihat dan mengajak orang-orang tersayang dalam foto itu bergurau. Dia senyum-senyum sendiri dan merasa bahagia. Apalagi pagi itu burung-burung dalam sangkar yang tergantung di teras rumahnya berkicau merdu  serta semerbak aroma wangi bunga-bunga di taman kecil rumahnya setia menemani Minggu paginya. (*)

 

Wanar, 3 Juli 2022

 

Ahmad Zaini, guru di SMKN 1 Lamongan dan ketua PC Lesbumi NU Babat. Beberapa karya sastranya tersebar di berbagai media cetak dan online serta telah menerbitkan beberapa buku kumpulan puisi dan cerpen. Saat ini menetap di Wanar, Pucuk, Lamongan.

 

 

 

  

  

 

 

 

 

 

 

 

Kamis, 02 Juni 2022

Hidayah di Ujung Sya'ban, 22 Mei 2022

 


Hidayah di Ujung Sya’ban

Cerpen karya Ahmad Zaini

 

Tubuh Minah tergolek lemas. Dia tak punya tenaga. Rupanya usia telah menggerogoti kekuatan yang sudah hampir 80 tahun digunakan. Dulunya Minah merupakan wanita perkasa. Dia mampu mengerjakan pekerjaan laki-laki. Minah bisa mengelola sawah, kebun, dan lain-lain yang biasanya dikerjakan suaminya. Pekerjaan berat ini dilakukan semenjak suaminya meninggal dunia akibat asma.

Kulitnya keriput. Rambutnya memutih. Giginya tersisa di bagian depan saja. Itu pun sudah tidak sekokoh sebelumnya. Apabila dia menginginkan makanan yang agak keras, anak perempuan Minah melembutkan makanan tersebut terlebih dulu. Makanan yang telah dilembutkan  itu kemudian disuapkan perlahan-lahan oleh anak perempuan satu-satunya. Minah merasakan dan menikmati makanan melalui suapan anak yang selama ini merawatnya.

Hampir tiga bulan lamanya Mbok Minah terkulai di ranjang. Dia merasakan sakit di punggung hingga tembus dada. Minah mengandalkan bantuan anak perempuan itu untuk sekadar bisa duduk. Itu pun tidak bertahan lama karena punggungnya tidak mampu menahan beban tubuhnya. Dia ingin berbaring. Sekali lagi dia juga tidak mampu berbaring sendiri. Minah menunggu anak yang dianggap gemati padanya itu membaringkannya.

”Kakakmu di mana?” tanya Minah lirih.

”Dia kerja ke luar kota,” jawab anak perempuannya.

”Lama sekali dia tidak pulang?” sambung Minah.

”Tidak usah dipikirkan. Kakak sudah dewasa dan bisa menjaga diri. Kalau sudah menyelesaikan pekerjaannya, kakak pasti pulang,” hibur Suci agar si ibu tidak selalu memikirkan anak laki-lakinya.

Sebetulnya Minah memiliki empat anak. Anak sulungnya laki-laki. Dia sudah menikah dan dikaruniai dua anak. Anak pertama tersebut meninggal dunia dan dimakamkan di perantuan. Anak kedua laki-laki dan sudah menikah pula. Dia dikaruniai satu orang anak. Namun, anak keduanya menetap di luar kota. Anak ketiga juga laki-laki. Saat ini dia tinggal di luar kota juga dan telah memiliki tiga anak. Anak keempat Minah atau si bungsu berjenis kelamin perempuan. Namanya Suci. Dia memunyai tiga anak. Dia tinggal satu rumah dengan Minah. Anak perempuan satu-satunya inilah yang setiap hari merawat dan memenuhi semua kebutuhan Minah.

Pagi buta ketika orang-orang masih tidur, Suci sudah bangun. Dengan masih menahan rasa kantuk, Suci mengerjakan pekerjaan dapur. Dia harus bangun lebih awal untuk menyiapkan sarapan buat ibu, anak-anak, dan suaminya yang berprofesi sebagai guru. Suami dan anak-anaknya biasanya berangkat ke sekolah pada pukul enam pagi. Maka dari itu, Suci harus bangun pagi-pagi untuk menyelesaikan semua pekerjaan dapur sebelum jam tersebut.

Di sela-sela kesibukan menyiapkan sarapan pagi, Suci mengerjakan tugas baru sebagai anak yang berbakti kepada orang tua. Dia membantu ibu bangun tidur dan membersihkan semua kotoran yang belepotan di selimut ibunya. Suci tidak merasa jijik. Kedua tangannya sigap membersihkan kotoran yang menempel di selimut dan di tubuh ibunya. Dia membopong tubuh kurus Mina ke kamar mandi. Suci memandikan dan menyucikan Mbok Mina dari najis kemudian membantu ibunya melaksanakan salat shubuh sembari berbaring di ranjang.

”Pak, sarapan pagi sudah siap. Silakan makan agar tidak telat sampai sekolah,” seru Suci pada sauminya yang masih duduk dan berkutat di depan kaptop.

”Siap, Bu,” sahutnya.

Begitulah keseharian yang dijalani oleh Suci. Dia sendirian mengurusi ibu dan kebutuhan keluarga.

”Kakakmu di mana?” tanya Minah mengulang pertanyaan-pertanyaan sebelumnya.

Suci tidak segera menjawab. Dia kesal mengamati sikap kakak yang dimaksud ibunya karena tidak punya rasa peduli sedikit pun pada Mina. Lambat laun Suci tidak tega melihat air muka ibunya yang gelisah. Raut muka Mina melukiskan kesedihan mendalam. Ada rasa cemas menggerogoti jiwanya setiap kali menanyakan anak ketiga ini.

”Bu, jangan memikirkan kakak. Dia bisa menjaga diri,” kata Suci mengulang kata yang pernah diucapkan sebelumnya.

Suci sebenarnya geregetan setiap kali ibunya menanyakan kakaknya itu. Dia menyesalkan sikap sang kakak tidak pernah memedulikan ibunya. Jangankan membantu ibu membangunkan dari tempat tidur, menanyakan kabar saja tidak pernah, gerutu Suci. Padahal, kakak yang satu ini setiap hari di rumah dan beberapa kali melintas di depan kamar ibu. Namun, dia menoleh untuk melihat ibu sekali saja tidak pernah. Sikap kakaknya seperti itulah yang paling dibenci oleh Suci.

”Itu tadi yang baru saja lewat siapa?” Minah sempat melihat sekelebat bayangan anak emasnya dari kaca almari.

”Tidak ada siapa-siapa,” jawab Suci membohongi ibunya. Hal ini terpaksa dilakukan agar ibu tidak semakin merana karena dicueki oleh kakaknya.

Mata Mina berkaca-kaca setelah mendengar jawaban Suci. Dia merasakan seperti ada yang ditutup-tupi mengenai kakaknya. Wajah Mina menggoreskan kegelisahan dan kesedihan. Dia menyedihkan kenapa anak-anaknya tidak ada yang memedulikannya ketika dalam kondisi sakit seperti yang dialami saat ini.

”Jangan khawatir, Bu! Saya siap merawat dan mengurus Ibu sehari semalam,” hibur Suci.

”Aku sedih saat pagi. Kamu dan suamimu ke sekolah. Aku sendiri di rumah,” keluh Mina pada Suci yang juga seorang guru TK.

”Semua kebutuhan Ibu sudah saya siapkan. Kalau ingin buang air, di sini saja. Ibu tidak usah ke kamar mandi. Nanti biar saya bersihkan ketika pulang,” saran Suci sambil menunjuk ke ember yang diletakkan di bawah ranjang.

Mina diam. Tatapan matanya kosong meskipun Suci telah berjanji merawat dan mengurusnya. Dia tetap memikirkan dan menyedihkan anak ketiganya. Anak gandolan ing ati atau anak emas itu sampai saat ini belum pernah menjenguk atau menanyakan kondisi ibunya. 

Di ujung bulan Sya’ban suasana agak berbeda. Guncangan dalam jiwa Mbok Mina mereda. Kata-kata yang keluar dari mulutnya melandai. Tak ada ungkapan kecewa atau sakit hati pada anak yang dianggapnya tak punya niat balas budi. Dia sadar bahwa harapan mendapat balas jasa dari anak itu tidak tepat. Hal ini dikarenakan merawat dan mengasuh anak sudah menjadi keewajiban orang tua. Lebih-lebih sosok ibu. Mbok Minah telah mengikhlaskan apa yang pernah dilakukan kepada anak-anaknya.

”Aku ikhlas. Aku tak mengharapkan imbalan apa-apa dari kalian. Semoga anak-anakku menjadi anak yang berbakti kepada kedua orang tua agar kelak anak-anaknya juga melakukan hal yang sama. Aku rela,” kata lirih Minah saat Suci menyuapinya.

Suci sangat lega mendengar kata-kata sang ibu. Dia meyakini kondisi ibunya akan memulih lantaran hati dan pikiran tidak terbebani dengan harapan balas budi anak ketiganya. Perkataan ibunya tidak sekeras sebelum-sebelumnya. Emosi juga terkontrol. Ini sangat membantu Suci saat memberikan asupan makanan dan nutrisi kepada ibunya.

”Makan dan minum secukupnya agar tenaga cepat pulih dan kuat sehingga besok bisa melaksanakan puasa,” pinta Suci sambil menyuapkan nasi kepada ibunya.

”Kapan mulai puasa?”

”Besok pagi,” jawab Suci.

Senja bulan Sya’ban Allah telah membuka hati anak ketiga Mbok Minah. Allah telah memberi hidayah dan menuntun lelaki beranak tiga itu datang ke rumah. Tubuh tinggi besar dan berotot kekar dengan rambut berkuncir datang bersama istri dan ketiga anaknya. Dia masuk rumah dengan gaya biasanya, sluman-slumun-slamet. Istri dan anak-anaknya mengiringi di belakang. Mereka serempak mengucap salam lalu disahut Suci serta Mbok Minah dari dalam kamar.

Suci  menyambut kakak perempuan ipar beserta para keponakannya. Dia mengarahkan para keponakan menjenguk nenek dalam kamar. Anak-anak yang lugu itu menghampiri dan meraih tangan kanan si nenek. Mereka bersalaman. Para cucunya mencium tangan kanan neneknya, sedangkan Mbok Minah membelai kepala cucu-cucunya yang lugu itu.

Tak berselang lama anak ketiganya bersama istri berdiri di pintu kamar. Sang anak yang selama ini menjadi beban pikiran Minah menghamburkan diri ke tubuh Minah yang terbaring di ranjang. Lelaki itu mendekap tubuh ringkih ibunya sambil menangis. Dia memohon maaf atas ketidakpedulian yang selama ini dialakukan pada sang pemilik surganya. Lelaki itu menyesal karena tidak mengacuhkan ibu. Dia sadar bahwa itu adalah kekeliruan terbesar dalam hidupnya. Dia berharap sang ibu memberi maaf dan ridlo atas kesalahan yang dilakukan.

Suci dan kakak perempuan iparnya berdiri mematung di sebelah ranjang. Mereka terharu melihat peristiwa itu. Mata Suci berkaca-kaca. Sedetik kemudian air matanya mengalir melintasi pipi yang dibiarkan polos tanpa bedak ini. Suci melepas napas panjang. Dia merasa lega dan bangga karena kakaknya telah menyadari kesalahannya.

Matahari senja semakin menjingga. Sinarnya berubah kuning keemasan. Hembus angin tak sekencang sebelumnya. Angin memberi kesempatan malam menyapa siang. Perlahan si raja siang perlahan undur diri di balik rerimbunan rumpun bambu. Saat itu juga, Mbok Minah bangkit dari pembaringan panjangnya. Dia duduk dan menyaksikan anak-anak, menantu, dan para cucu berwudlu untuk persiapan menunaikan salat maghrib secara berjamaah. (*)

 

  Wanar, Maret-April 2022