Jika Kau Bukan Anak Raja, Juga Bukan Anak Ulama Besar, maka Menulislah

Sabtu, 04 Februari 2023

Cerpen Gerakan Bawah Tanah di Radar Bojonegoro, Minggu, 5 Februari 2023


 

Gerakan Bawah Tanah

Cerpen Ahmad Zaini*


Suasana di  kantor siang itu berbeda dengan hari-hari biasanya. Ada semacam kabar yang tidak mengenakkan bagi karyawan seperti diriku. Menurut kabar dari seorang kepercayaan pemimpin, di perusahaan akan diberlakukan aturan baru. Aturan baru itu juga tidak jelas seperti apa. Kami para karyawan sementara ini hanya sebatas menduga-duga. Apakah wacana yang pernah disampaikan oleh pemimpin dalam salah satu rapat dulu itu yang dimaksud dengan kebijakan baru atau ada yang lainnya. Akan tetapi, kami sudah menebak bahwa wacana itulah yang akan ditelurkan sebagai aturan baru di perusahaan ini.

Kami menyayangkan jika aturan yang dulu pernah diwacanakan akan diberlakukan. Menurut wacana itu bahwa setiap hari akan ada survei dari para pemimpin perusahaan terhadap kinerja dan loyalitas para karyawan. Jika menurut penilaian para pemimpin loyalitas atau kinerja dari karyawan itu tidak sesuai dengan harapan dari mereka, maka gaji karyawan akan dipotong atau mengambalikan kepada perusahaan. Padahal penilaian pemimpin terhadap loyalitas karyawan sarat dengan unsur suka dan tidak suka. Alias subjektivitasnya tinggi.

Aku ingat pada istilah upeti. Yakni, uang yang dibayarkan oleh rakyat kepada penguas.. Ini tak ubahnya seperti yang akan diberlakukan di perusahaan ini. Karyawan harus menyetorkan sebagian gajinya kepada pemimpin kalau menurut penilaian pemimpin loyalitas dan kinerja karyawan tersebut tidak sesuai dengan harapannya.

Setiap hari kami berkumpul di ruang karyawan. Kami membicarakan mengenai isu pemberlakuan upeti di perusahaan ini. Sebagian besar para karyawan tidak menginginkan jika hal itu benar-benar diberlakukan. Sama saja karyawan akan menjadi korban pemerasan atasannya.

“Kita bekerja di sini sudah puluhan tahun. Sejak kita masuk dan mengabdi di perusahaan ini belum pernah diberlakukan hal seperti ini. Kalau sampai wacana upeti ini benar-benar diberlakukan oleh pemimpin perusahaan, kita harus melawan,” kata Prayit karyawan senior.

Mendengar kata-kata Prayit, kami sangat setuju karena kami tidak mau dijadikan sebagai sapi perahan di perusahaan ini. Kami setiap hari datang dan bekerja sudah sesuai dengan prosedur yang diberlakukan oleh perusahaan. Sudah sesuai aturan. Kami khawatir ada tujuan lain dengan diberlakukannya upeti. 

“Aku mendengar perusahaan ini sedang mengalami masalah. Perusahaan ini terancam bangkrut. Aku menduga uang setoran kita nanti, akan mereka gunakan sebagai penyokong dana perusahaan agar tidak mengalami kebangkrutan,” ungkap Sutejo.

Opini Sutejo memang masuk akal. Perusahaan bangkrut itu penyebabnya bukan karyawan. Itu murni karena kesalahan manajemen. Kalau karyawan disuruh membantu perusahaan mengatasi masalah itu dengan cara gajinya dipotong atau setor upeti kepada pemimpin, maka itu kebijakan yang sangat konyol dan bisa menjadi bumerang bagi perusahaan itu sendiri.

“Kami tidak setuju dengan upeti. Kita harus melawan!” teriak Purnomo dari sudut ruang istirahat karyawan.

Perbincangan kami di ruang karyawan terhenti. Jam sudah menunjukkan pukul 13.00. waktu kerja akan dimulai. Bel masuk kerja meraung-meraung memecah suasana panas siang itu. Aku dan karyawan lainnya berjalan menuju ke tempat kerja masing-masing. Di tengah perjalanan, para karyawan masih memperbincangkan isu upeti tersebut. Sebagian besar karyawan di perusahaan ini tidak setuju kalau isu itu benar-benar diberlakukan.

Para pemimpin perusahaan harus tahu bahwa kami ini adalah karyawan senior yang sudah tidak diragukan lagi kinerjanya. Sejak dulu, ketika perusahaan ini masih dikendalikan oleh almarhum Haji Sapari, perusahaan ini sangat kondusif sekali. Sepeninggal beliau, ketika tongkat estafet kepemimpinan dipegang oleh anak-anaknya, perusahaan ini mulai goyah. Berbagai masalah mendera perusahaan ini karena para pemimpin menjalankan perusahaan tidak sesuai dengan prosedur operasional. Ada kesalahan manajemen yang menyebabkan perusahaan ini tidak stabil lagi. Mereka juga tidak menghargai jerih payah para karyawan. Kalau dulu semasa hidup Haji Sapari, para karyawan sering mendapatkan penghargaan berupa souvenir atau paling tidak berupa ucapan terima kasih atas kinerja karyawan. Hal seperti ini tidak pernah terjadi lagi ketika perusahaan dikendalikan oleh anak-anaknya. 

Di kantin perusahaan, aku dan Prayit sedang terlibat perbincangan serius. Ditemani dua cangkir kopi, kami membahas isu yang sedang berkembang di perusahaan ini. Suasana di kantin sangat mendukung karena penjaga kantin juga sependapat dengan pemikiran kami. Kami menolak jika isu upeti diberlakukan. Kami mempunyai keluarga yang membutuhkan makan dan kebutuhan hidup  yang lainnya. Kami tidak ingin keluarga kami hidup sengsara hanya karena kebijakan sepihak dari perusahaan. 

“Jadi, kita akan menghadap pemimpin untuk menglarifikasi isu itu?” tanyaku kepada Prayit.

“Benar sekali. Besok pagi kita akan ke ruang pemimpin,” jawabnya.

***

Pagi ini udara dingin sekali. Tubuh yang sudah kubalut dengan jaket kulit masih belum mampu menghalau udara yang menerpa tubuhku. Aku duduk di depan pintu gerbang perusahaan sambil menikmati sebatang rokok yang baru saja kusulut. Aku menunggu Prayit yang belum datang sampai saat ini. Padahal, kemarin dia sudah berjanji akan tiba di perusahaan sebelum pukul tujuh. 

“Mas, tumben pagi-pagi sudah datang?” tanya satpam perusahaan.

“Iya, Pak. Aku akan menemui pemimpin,” jawabku sambil mengepulkan asap rokok.

“O, tunggu sebentar lagi! Bapak akan segera datang,” jawab satpam yang bertubuh tambun itu.

Belum lama satpam itu meninggalkanku di depan pintu gerbang, dari kejauhan terlihat Prayit datang dengan motor bututnya. 

“Sudah lama, Ji?” tanya Prayit.

“Sudah,” jawabku.

“Bapak pemimpin perusahaan sudah datang?”

“Belum. Kata satpam sebentar lagi dia akang datang.”

Percakapan kami belum selesai, dari arah depan terdengar suara klakson mobil sedan Mercy berwarna hitam. Ternyata pemimpin perusahaan yang datang. Portal yang melintang di pintu masuk perusahaan segera dibuka oleh satpam. Kami melihat wajah pemimpin perusahaan yang tersembunyi di balik kaca mobil sedan. Dahinya berkerut dan kelihatan tegang sekali. Dia melintas di depan kami tanpa menyapa atau sekadar mengklakson mobil memberi isyarat permisi kepada kami. Kami hanya diam menatap wajah pemimpin dengan rasa penasaran terhadap kebijakan upeti yang isunya akan diberlakukan tahun ini. 

“Bagaimana, Yit, Kita jadi menghadap pemimpin atau tidak?” tanyaku.

“Kita tetap akan menghadap pemimpin. Ini adalah amanat karyawan, Ji,” jawabnya.

“Aku ragu penyampaian aspirasi kami kepada pemimpin akan berhasil. Aku melihat dalam situasi seperti ini kurang tepat. Tadi sewaktu pemimpin melintas di depanku, wajahnya tampak tegang sekali. Aku khawatir bukannya dia menerima aspirasi yang akan kami sampaikan, melainkan kami akan kena damprat dari pemimpin.”

“Optimis, Ji! Jangan takut! Kita akan tetap menghadap dia,” ucap Prayit dengan nada yakin.

“Baiklah kalau begitu. Mari kita menghadap pemimpin!” ajakku.

Kami berdua berjalan menuju ruang pemimpin dengan  membawa selembar stopmap yang berisi tanda tangan penolakan pemberlakukan upeti di perusahaan ini. 

“Permisi!” kata kami sambil mengetuk pintu ruang pemimpin.

Belum ada suara balasan dari ruang pemimpin. Kami mengetuk sekali lagi. Nah, kali ini tampak bayangan pemimpin berjalan mendekat pintu. Gagang pintu bergerak-gerak. Suara gemerincing kunci pintu terdengar jelas. Daun pintu dibuka. Wajah pemimpin muncul dari balik pintu dengan tegang. Kami berdua lantas menundukkan wajah tak kuasa menatap wajah pemimpin yang seperti macan kelaparan. 

“Ada apa?” tanya pemimpin dengan nada garang. 

Prayit menjelaskan maksud kedatangan kami. Pemimpin perusahaan mendengarkan sesaat. Kemudian pemimpin mempersilakan kami masuk ke dalam ruangan.

“Maaf, Bapak! Kami hanya mengklarifikasi tentang kabar yang tersebar akhir-akhir ini. Apakah benar di perusahaan ini akan diberlakukan sistem upeti bagi karyawan yang dinilai lamban kinerjanya atau kurang loyal kepada perusahaan?” tanya Prayit.

“Kalau benar kalian mau apa?” tanya balik dari pemimpin.

“Kami, para karyawan sangat keberatan jika itu diberlakukan. Ini bukti penolakan mereka kepada sistem upeti ini,” jawabku sambil menyodorkan stopmap merah yang berisi tanda tangan penolakan.

Selembar kertas yang ada dalam stopmap disambar oleh pemimpin. Ia melihat isi dari stopmap kemudian kertas tersebut disobek-sobek dengan tangan kekarnya.

“Jika kalian menolak sistem upeti ini, silakan kalian keluar dari perusahaan ini. Masih banyak pelamar yang antre ingin bekerja di sini. Keluar dari ruangan ini! Cepat!” pinta pemimpin dengan muka yang merah padam.

Kami berdua keluar ruangan pemimpin dengan geram. Kami merasa kecewa karena tidak menemukan solusi terbaik untuk menyelesaikan masalah ini. 

Kami menemui para karyawan lalu menyampaikan kepastian bahwa sistem upeti benar-benar akan diberlakukan di perusahaan ini. Mereka sangat kecewa dengan keputusan tersebut.

Kami dan para karyawan senior merasa dilecehkan oleh perusahaan. Mereka tidak menghargai pengabdian kami di perusahaan ini sejak puluhan tahun yang lalu. Karena tidak ada solusi untuk program sistem upeti yang sepihak ini, maka kami para karyawan senior sepakat mengundurkan diri dari perusahaan. 

Para petinggi perusahaan kelabakan. Mereka kesulitan mencari karyawan yang bisa diandalkan seperti kami. Kualitas produksi perusahaan menurun. Konsumen dan mitra kerja juga tidak percaya lagi pada perusahaan. Omset perusahaan dari bulan ke bulan terus mengalami penurunan. Perusahaan semakin kolap. Kini perusahaan benar-benar bangkrut. 

Keesokan hari tersiar kabar bahwa pemimpin perusahaan tempat kami bekerja selama puluhan tahun silam terkapar bersimbah darah di halaman gedung perusahaan. Ia mengakhiri hidupnya dengan melompat dari lantai tiga kantor perusahaan. (*)


*cerpenis merupakan guru SMKN 1 Lamongan

Puisi-Puisi di Radar Banyuwangi, Sabtu, 4 Februari 2023

 Puisi-Puisi karya Ahmad Zaini





Bayang Kematian di Lubang Jalan


Saban mendung datang 

Hati terasa teriris

Saat gerimis 

hati menangis

Hujan datang 

jiwaku semakin terguncang

Menatap bayang-bayang darah

Di setiap lubang jalan


Ada ketakutan 

Kematian setiap melintas

Jalan berlubang

Di kubang air ada wajah 

Anak-anak menangis

Karena orang tuanya

Meregang nyawa

Ada jerit histeris orang tua

Kerna anaknya

Tertelan jalan berlubang 

Di setiap jengkal langkah


Tak adakah mereka peduli

Menghapus bayang kematian 

Di sepanjang jalan

Sebelum habis air mata

Anak dan orang tua


Wanar, Januari 2023 


Hari Berkabut


Iringan pekat mendung 

membayang gumpalan duka 

menyesak dada 

seakan hari berujung di sini


adakah matahari di esok hari

hangatkan gigil tubuh 

semalam suntuk


pagi pun berkabut 

tak terlihat seraut rupa

merayu bahagia

lara


Wanar, Januari 2023


Rindu Meluka Jiwa


Wajahmu tersimpan di dedaun asam setapak jalan

Merindu sapa sepekan sepi tanpa senyum merekah

Duh, gerangan hati hanyut dalam lamunan mata 

Tak bersua sehari saja luka jiwa


Samakah gundah dikau saat sendiri seperti aku

Membayang masa-masa tatkala hati merindu pujaan hati

Dalam hening kurajut cinta serupa surga

Berkenang bunga-bunga asmara

Bahagia 


Wanar, Januari 2023


Melukis Cinta 


Ada keraguan pada sketsa hati

Remang terpatahkan  kata bias

Tak bertaut makna


Segenap jiwa raga

Kuberanikan diri

Melukis wajah berkacamata

Bersanggul cinta

Menggenggam kasih

Rupa yang menggoda


Wanar, Januari 2023

Ahmad Zaini, tinggal di Wanar, Pucuk, Lamongan, Jawa Timur. Beberapa puisi dan cerpennya beredar di berbagai media cetak dan online, serta di beberapa buku antologi puisi dan cerpen baik tunggal maupun komunal.  





   

Minggu, 18 Desember 2022

Bukan Kisah Laila Majnun, Jawa Pos grup Radar Bojonegoro, 18 Desember 2022

 


Bukan Kisah Laila Majnun

Cerpen karya Ahmad Zaini

 

”Selamat pagi, Bapak dan Ibu. Perkenalkan namaku Laila. Mulai saat ini aku menjadi bagian dari sekolah ini. Aku senang sekali berada di sekolah bersama Bapak Ibu. Semoga Bapak Ibu berkenan menganggapku sebagai teman atau adik. Eh, adik! Bukankah di kantor ini juga masih banyak yang muda? Maafkanlah! Kalau begitu, anggap saja sebagai saudara atau teman baru,” kata perkenalan Laila di kantor tempat kami bekerja.

Pagi itu memang hari pertama Laila masuk kerja. Dia mutasi dari luar Jawa. Orangnya supel. Mudah bergaul. Baru pertama ke sekolah, dia sudah seperti orang lama di kantor ini. Laila juga pandai berkomunikasi. Dia sangat lancar memperkenalkan diri kepada warga sekolah. Orang-orang meyakinii Laila mumpuni dalam segala bidang. Dari penampilan dan gaya bicaranya, Laila punya kompetensi yang bisa mengangkat prestasi sekolah ini dengan gemilang. Apalagi dari biodata yang sempat dibagikan di grup WA kantor ini. Dia memang memunyai seabrek prestasi dan pengalaman.

Tak ayal setiap pagi suasana di ruang istirahat, tepatnya ruang ngrumpi Laila menjadi trending topic. Setiap kerumunan yang dibicarakan selalu Laila. Bukan hanya ibu-ibu, melainkan bapak-bapak juga turut membahas sosok Laila.

”Dik Laila, perkenalkan nama saya Arif. Saya guru di sini sudah lama. Tapi, lima tahun lagi saya pensiun,” tiba-tiba Arif yang bertubuh tambun dan berambut dua warna ini memperkenalkan diri pada Laila yang waktu itu duduk sendiri.

”Terima kasih Pak Arif. Aku senang sekali bisa sekantor dengan Pak Arif,” sambut Laila dengan bahasa yang luwes.

Pak Arif salah tingkah mendapat balasan yang hangat dari Laila. Hatinya berbunga-bunga. Wajahnya ceria.

Pada kesempatan lain, kaum Adam di sekolah ini bergiliran memperkenalkan diri pada Laila. Di samping untuk menghargai tamu, mereka juga berharap agar Laila betah mengabdi di sekolah ini. Membesarkan hati guru baru agar merasa tidak terasingkan. Memang sudah mashur apabila ada guru baru di sekolah ini, pasti guru baru tersebut langsung kerasan. Seperti Karsan ketika awal masuk di sekolah ini. Karsan disambut dengan hangat sehingga ia merasa dihargai seperti para guru senior. Namun, penyambutan kepada Karsan waktu itu, tidak seheboh penyambutan yang dilakukan pada Laila. Sampai-sampai Pak Arif yang kebetulan mantan pejabat di sekolah dan kurang lima tahun pensiun, menyapa Laila dengan sapaan dik. Sapaan yang lazim buat istri atau para orang yang usianya lebih muda.

Karsan mendapat kesempatan memperkenalkan diri pada Laila pada jam istirahat. Kebetulan Laila duduk anggun di kursi belakang sambil menghadap ke laptop. Karsan menghampirinya.

”Dik, eh, Bu Laila. Saya Karsan. Nama lengkap Mat Karsan. Maaf, nama ndeso. Tapi ingat meskipun nama kampungan, gaya hidup saya tidak kalah dengan orang-orang kota,” kata Karsan pada Laila.

”Terima kasih Mas, eh, Pak Mat Karsan sudah sudi menerima aku menjadi bagian dari sekolah ini. Mas, eh, salah lagi. Pak Mat Karsan tinggal di mana?” tanya balik Laila kepada Karsan.

”Saya tinggal di pelosok desa. Rumah saya di balik  perbukitan. Alamnya indah dan sejuk sekali seperti di Batu Malang. Bila Dik, eh, Bu Laila ingin bermain ke rumah, dengan senang hati saya menerima,” jawab Karsan.

Cie, cie...! Pedekate juga, ya?” celetuk Pak Arif yang tiba-tiba muncul di belakang mereka.

Wih, kamu ini merusak suasana saja. Tidak ada salahnya, kan, saya berkenalan dengan Dik, eh, Bu Laila. Dia sekarang sudah menjadi bagian dari kita, lho,” kata Karsan hati mendongkol.

”Modus ini. Hati-hati, Bu. Pak Karsan ini orangnya berbahaya,” gurau Pak Arif sambil berlari karena takut diserang balik Karsan.

Entah kenapa perkenalan Karsan dengan Laila seperti ada kekuatan yang saling menarik. Seperti dua magnet yang berbeda kutub. Seperti ada hasrat ingin selalu bersama. Namun, Karsan rasa ini tidak mungkin. Di rumah Karsan sudah punya istri dan empat orang anak. Karsan juga belum tahu status Laila. Dia sudah menikah atau belum. Karsan sering melamun. Dia membayangkan pergi berduaan bersamanya di tanah perbukitan dekat rumah. Karsan melihat matahari senja bewarna keemasan, menerpa wajah mereka berdua. Rambut lurus Laila yang menjuntai hingga pinggang berkelebat dibelai angin senja. Karsan membayangkan tangannya membelai rambut panjang Laila dengan penuh kasih sayang. Laila diam dan manja. Akhirnya, ketika matahari senja benar-benar terbenam seakan ditelan pepohonan jati, Karsan mengajak Laila pulang.  Karsan membantu Laila berdiri lalu menggandeng tangannya menuruni jalan setapak di tanah perbukitan. Ah, ilusi belaka, gumam Karsan dalam hati.

Karsan yakin Laila tidak akan pernah berfantasi seperti itu. Hal ini sangat beralasan karena Laila tahu bahwa dirinya sudah berkeluarga. Tapi bisa juga Laila pernah berkhayal pergi berduaan bersama Karsan menikmati pantai di dekat rumahnya. Mungkin juga dia membayangkan duduk berdua dengan Karsan di atas batu karang sambil menikmati riuh debur ombak di laut utara. Mungkin juga tangan lembutnya memegang tangan Karsan lalu mengarahkan pada dua ekor burung camar yang sedang bercumbu rayu di depan mereka. Cih, fantasi kotor yang sangat tidak mungkin terjadi. Lagi-lagi hati kecil Karsan berkata demikian.

Karsan bukanlah Qais, lelaki beruntung yang mendapat cinta Laila dalam kisah Laila Majnun. Karsan hanyalah seorang guru yang berusia hampir setengah abad dan sebagai pendidik siswa di sekolah ini. Sudah ratusan bahkan ribuan siswa telah dia didik menjadi manusia berakhlaq mulia. Masak pak guru Karsan berpacaran dengan Laila.  Eh, tiba-tiba Karsan waras. Dia sadar dan tak mungkin berbuat seperti itu. Berduaan dengan wanita yang bukan muhrim di tempat yang sepi sangat tidak pantas bagi seorang guru. Tapi ingat, setan paling benci terhadap orang baik. Orang yang selalu berjalan di jalan Tuhan. Seetan selalu berupaya menjerumuskan manusia dalam perbuatan hina agar setan punya banyak teman di neraka. Nauzubillah. Semoga Allah melindungi mereka dari hal-hal yang hina-nista.

”Ya, Tuhan. Kenapa akhir-akhir ini saya suka melamun seperti ini. Apa yang harus saya lakukan? Menjauh seketika dan melupakan Laila? Tidak mungkin. Itu akan membuat Laila tersinggung. Ah, bersikap biasa sajalah sebagaimana dengan teman-teman yang lain. Mungkin ini jalan yang tepat yang harus saya lakukan,” tegas Karsan.

”Pak Karsan, ke sini. Aku punya sesuatu,” tiba-tiba Laila menyuruh Karsan menghampirinya.

”Punya apa, Dik?  Eh, Bu Laila,” tanya Karsan penasaran.

Nah, ini minuman kesukaan Pak Karsan. Minuman khas daerahku, legen,” katanya.

Karsan ge-er karena Laila mengetahui minuman kesukaannya. Padahal, Dia belum pernah cerita kepada Laila. Berarti Laila ketika di rumah juga sering berkhayal tentang Karsan. Mungkin dia melihat dari perangai Karsan seperti orang pantai atau karena wajahnya manis sehingga dia memberi legen yang manis juga.

”Ini legen manis Pak Karsan. Silakan diminum,” Laila menyodorkan segelas legen pada Karsan.

”Terima kasih, Dik, eh, Bu,” kata Karsan yang latah menyapa Laila dengan dik.

”Bagaimana Pak Karsan?”

Alhamdulillah, manis sekali. Semanis wajah yang memberi,” jawab Karsan spontan.

”Pak Karsan bisa saja,” sahut Laila dengan tersipu malu.

Karsan meminum segelas legen sampai tetes terakhir. Dia mengakui legen itu sangat manis. Sungguh manis. Bukan karena yang menuangkan legen ke dalam gelas berwajah manis, melainkan manis beneran.

”Mencari apa Dik, eh, Bu Laila?” tanya Karsan saat melihat guru baru itu seperti mencari-cari sesuatu dalam tasnya.

”Mencari undangan,” jawabnya singkat.

”Undangan apa dan untuk siapa?” tanya Karsan penuh selidik.

”Undangan pernikahan untuk semua bapak-ibu guru. Termasuk juga Pak Karsan.

”Penikahan siapa?” lanjut Karsan dengan nada melas.

”Pernikahanku, Pak Karsan.”

Hah, pernikahanmu?”

”Iya. Pernikahanku pekan depan. Memangnya kenapa?”

”Tidak kenapa-kenapa,” kata Karsan dengan nada yang hampir tak bersuara dan tanpa ekspresi.

Begitu mulus perjalanan kisah cinta Laila. Berjalan lurus tanpa liku-liku. Tanpa ada tantangan dari pakdenya. Tanpa ada rintangan dari lelaki lain yang berusaha merebut cintanya. Tanpa drama yang mengharu biru pemirsanya. Laila yang baru dikenal Karsan dan sempat mengaduk-aduk perasaannya ternyata akan naik ke pelaminan. Karsan sadar bahwa ini bukan kisah Laila Majnun, melainkan kisah Laila Magdalena. Gadis pantura yang baru seumur jagung bergabung bersama kami mengabdi di sekolah ini.

Pada hari pernikahan Laila, Karsan dan teman-temannya datang dengan perasaan bahagia tanpa membawa rasa lainnya. Mereka datang memberi doa restu semoga bahtera keluarga yang dibinanya berjalan mulus tanpa diterjang ombak, tanpa dihantam badai, sehingga selamat sampai pelabuhan kebahagiaan nanti.

Wangi bunga yang menghiasi pelaminan menambah anggun wajah Laila Magdalena yang bersanding dengan imam hidupnya. Putih pakaian yang dikenakan dan putih melati di sanggul Laila, seputih dan sesuci harapan masa depan keluarga barunya. Semoga bahagia selamanya, doa mereka buat Laila dan suaminya. (*)

Wanar, 13 Desember 2022

 

Ahmad Zaini, cerpenis tinggal di Wanar, Pucuk, Lamongan. Aktivitasnya sebagai guru di SMKN 1 Lamongan.

 

 

 

 

 

  

 

 

 

 

Senin, 28 November 2022

Butiran Tasbih Cinta, cerpen Jawa Pos grup Radar Bojonegoro, 20 November 2022

 



Butiran Tasbih Cinta

Cerpen karya Ahmad Zaini

 

Kenang-kenangan tak ubahnya prasasti kejadian berharga dan berkesan dalam kehidupan. Tak ayal, kenangan-kenangan akan dijadikan sebagai tanda untuk mengukir peristiwa yang sangat bernilai dan memiliki citra kesakralan. Bahkan, kenang-kenangan tidak akan dibiarkan lenyap dari perjalanan hidup seseorang. Kenang-kenangan selalu dirawat dan diabadikan sepanjang hayat sampai kiamat.

Butiran tasbih kugenggam erat. Butiran-butiran kecil itu tidak akan kubiarkan lepas dari hidupku. Meskipun butiran tasbih hanya terbuat dari kayu, akan tetapi memiliki makna yang sangat berarti dalam hidupku. Ke mana pun aku berada, butiran tasbih selalu ikut bersamaku. Dari pagi hingga pagi lagi, benda kenang-kenangan pemberian dari Imelda dan Laila telah menjadi senyawa dengan diriku.

Baru satu bulan aku berkenalan dengan Imelda dan Laila. Di sebuah kantor lembaga bimbel dua gadis itu datang dalam hidupku. Mereka memperkenalkan diri padaku. Mereka mahasiswa yang sedang terlilit kesulitan materi salah satu mata kuliah. Dua gadis ini terang-terangan bahwa mereka tidak mampu menyelesaikan masalah tersebut. Mereka datang ke lembaga bimbel tempat aku bekerja. 

Kedua mahasiswa ini ternyata sangat supel. Mereka mudah akrab. Mereka secara gamblang menjelaskan inti dari permasalahan yang dihadapi. Kebetulan mata kuliah tersebut menjadi bidang keahlianku. Aku pun menjelaskan secara rinci materi sulit yang kini mereka hadapi.

Semula mereka benar-benar tidak mampu. Ini terlihat dari daya tangkap mereka yang menurut ilmu evaluasi pembelajaran di bawah rata-rata. Mereka serius memperhatikan penjelasanku. Mereka antusias mengikuti tahap demi tahap matari yang kusampaikan sampai berakhir.

Bermula dari sinilah sepertinya dua gadis itu terkesan padaku. Mereka mengangguk-anggukan kepala sebagai tanda telah paham. Aku bisa melihat dari gestur kedua gadis ini memahami materi yang kusampaikan. Dari raut mukanya terlihat tidak setegang sebelumnya. Mereka pun bisa tersenyum lepas tanpa ditahan oleh masalah yang sempat membelenggungnya.

Imelda dan Laila berpamitan lantaran waktu sudah menunjukkan pukul dua puluh. Waktu yang lama, namun terasa singkat bagiku dan bagi mereka. Hal ini tidak terlepas dari suasana bimbingan yang istimewa bagi kami.

”Hati-hati di perjalanan, ya!” pesanku pada dua gadis ini.

”Terima kasih, Master,” sahutnya dengan senyum lepas.

”Sama-sama,” pungkasku.

Pertemuan singkat antara aku dan kedua mahasiswa ini tenyata meninggalkan kesan mendalam. Ketika kami tidak lagi bersama-sama, seperti ada yang hilang dalam hidup. Kami saling merindukan suasana bimbel seperti ketika itu. Kami saling  berkirim kabar sambil melontarkan beberapa pertanyaan yang sebenarnya hanya sebagai lipstick belaka. Kami juga berlomba-lomba membuat jawaban sekenanya karena ini sifatnya hanya sebagai pengobat rindu.

”Master, adakah waktu luang buat kami?” tanya Imelda melalui telepon genggamnya.

”Memangnya ada apa kok menanyakan waktu luang? Untuk kalian tidak ada waktu sibuk. Semua waktu akan kuluangkan buat kalian,” jawabku bergurau.

”Master mulai menggombal, ya?” godanya.

”Serius ini. bahkan, duarius,” selorohku.

”Besok sore kita bertemu di kafe depan tempat bimbel,” ujarnya.

”Siap!” jawabku singkat.

Aku menghela napas pannjang. Bayang-bayang wajah mereka seakan selalu hadir dalam kesibukanku. Senyum mereka mencair dalam situasi apa pun. Sampai-sampai ketika aku dirundung kepenatan, solusinya hanyalah menelepon salah satu dari mereka. Seketika kepenatan itu meleleh dan mencair dalam celotehan.

Sore ketika langit diliput mendung tipis, aku berangkat menepati janji dengan mereka. Tanpa beban aku menuju kafe tempat yang telah kami sepakati. Aku melihat kedua gadis itu sudah duduk di sudut kafe dan telah menikmati menu yang disajikan pelayan kafe. Kafe yang setiap hari tidak pernah sepi ini mempertemukan aku dengan mereka.

”Master, selamat datang,” sambut mereka dengan bibir merekah.

”Terima kasih,” balasku.

Kedua gadis yang bersetatus sebagai mahasiswa ini memanggil pelayan kafe. Pelayan tersebut menyodorkan daftar menu ke kami. Aku memesan menu sederhana. Kentang goreng dan es teh.

”Master, tak salah dengan menu pesanan ini?” tanya Imelda dengan sedikit kaget.

”Tidak. Menu ini kesukaanku,” jawabku.

”Jauh-jauh dari rumah sampai sini hanya pesan kentang goreng dan es teh. Ini kafe Master,” kelakarnya.

Ah, ini sudah pantas dan istimewa buatku,” pungkasku.

Sudut kafe menjadi tempat favorit bagi kedua gadis itu. mereka memilih ruang bagian sudut dengan alasan tidak terganggu oleh lalu-lalang pengunjung dan pelayan. Memang benar di area tersebut kami bisa bercanda sambil menikmati menu yang ada di atas meja.

”Master, besok kami pamit. Paket bimbel kami sudah habis. Kami akan kembali ke kampus. Kami berterima kasih kepada Tuhan karena telah mempertemukan dengan pembimbing hebat dan baik hati seperti Master. Kami mengucapkan terima kasih karena materi-materi yang telah Master sampaikan dapat menyelesaikan masalah yang sedang kami hadapi selama ini,”  ujar Laila yang kali ini menjadi juru bicaranya.

”Sama-sama. Saya juga senang dapat belajar bersama mahasiswa-mahasiswa pintar seperti kalian,” kataku.

”Nyindir, nih ye,” sahut Imelda.

”Sugguh. Aku tidak menyindir kalian. Kalian benar-benar mahasiswa yang luar biasa. Kalian punya semangat tinggi dalam belajar,” jelasku.

”Terima kasih Master yang baik hati,” kata mereka bersamaan.

Hampir satu jam kami berada di kafe. Matahari telah pamit dan meninggalkan cahaya merah jingga di langit. Aku pamit pada mereka lantaran punya jadwal bimbel malam hari.

”Master, tunggu!”serunya.

Aku menghentikan langkah. Kedua mahasiswa itu mendekat. Mereka memberikan bingkisan kepadaku.

”Apa ini? Tidak usah repot-repot,” kataku.

”Tidak ada yang merepotkan kami, Master. Hanya sekadar kenang-kenangan saja. Semoga Master berkenan menerimanya,” ungkapnya.

”Baiklah. Terima kasih, ya,”  pungkasku sambil meninggalkan mereka berdua yang masih mematung menatap kepergianku.

Ada kekuatan dari bingkisan yang kugenggam. Sepanjang jalan dari kafe sampai tempat bimbel tanganku terasa gemetar. Hatiku juga deg-degan. Rasa penasaran pada isi bingkisan memorakporandakan pikiranku. Sampai-sampai saat dalam perjalanan menuju tempat bimbel tadi, motor yang kukendarai hampir menyenggol tukang becak yang main potong jalan.

Sambil menuggu peserta bimbel, aku duduk di ruang sepi sambil membuka isi bingkisan itu. Kukupas kertas pembungkusnya dengan perlahan agar tidak menimbukan suara yang mengundang kecurigaan orang-orang di tempat bimbingan belajar ini. Kedua anak didik di bimbel ini mungkin sengaja menggodaku atau menguji kesabaranku lantaran kertas pembungkus bingkisan ini berlapis-lapis. Semoga ini adalah lapis terakhir atau yang kelima tersebab pembungkus ini ada tulisan semoga bermanfaat buat Master.

Aku membuka kardus mini yang dibungkus kertas berlapis lima. Ternyata bingkisan ini berupa untaian butiran tasbih dari bahan baku kayu jati yang dipermak dengan sangat indah. Ibu jari dan jari tengah membantu jari tulunjukku mengeluarkan tasbih tersebut. Kuangkat dan kupandang dengan tatapan mata lahir dan batin. Tasbih itu berkilau serta memunculkan makna tersirat sangat dalam. Makna ini dikuatkan oleh tulisan tasbih cinta di secarik kertas yang dijadikan alas benda istimewa itu dalam kardus mini.

Makna dibalik tasbih tersebut kuurai dengan kedalaman jiwa. Benda ini sebagai perantara pesan yang disampaikan oleh Imelda dan Laila kepadaku. Benda sakral yang biasa diputar orang-orang saleh saat berzikir dan bermunajat kepada Allah ini menyentuh lubuk kalbuku yang paling dalam. Aku digugah dan disadarkan oleh mereka agar mendekat kepada Tuhan Yang Maha Pencipta. Aku diingatkan mereka melalui tasbih ini agar lebih giat beribadah kepada-Nya dan banyak pesan yang terkandung dalam butiran tasbih cinta ini.

Tabih cinta kepada Allah, cinta kepada sesama manusia, cinta kepada makhluk lain kugenggam erat ke mana dan di mana pun aku berada. Tasbih ini kuanggap sebagai penggugah kesadaran diri sebagai hamba agar semakin ingat dan berusaha mendekatkan diri kepada-Nya. Dalam kesibukan sehari-hari sebagai mentor di tempat bimbel, ada nilai ibadah dalam setiap gerak dan desah napasku. Kekuatan niat dalam hati serta keikhlasan dalam beraktivitas telah memancarkan kemurnian cahaya. Cahaya penerang jalan kehidupanku menuju rida Tuhan. (*)

 

Wanar, 11 November 2022

Minggu, 09 Oktober 2022

Menziarahimu, cerpen di Jawa Pos Grup Radar Bojonegoro, Minggu, 9 Oktober 2022

 


Menziarahimu

Cerpen karya Ahmad Zaini

 

Hampir setiap malam Jumat aku ingin berziarah ke makammu. Namun, maaf hingga saat ini ada bisikan yang menahanku. Hingga kini aku benar-benar belum sempat melihat pusara dengan tanda dua batu nisan yang bertuliskan nama dan hari kematianmu.

Kamu orang baik. Semasa hidupmu kuanggap sebagai kakakku. Kamu penuh perhatian kepadaku dan keluargaku. Setiap kali kamu ingin keluar kota selalu meneleponku. Kamu mengajakku beserta istri dan anak-anakku. Kamu selalu membuat diriku sekeluarga turut senang dan bahagia sebagaimana kamu membahagiakan istri dan anak-anakmu.

Aku masih ingat kebaikanmu yang lain. Yakni, tatkala ayah kandungku sakit. Kamu memberi perhatian pada ayahku dengan mencarikan tempat pengobatan yang terbaik bagi ayahku. Kamu mengajakku ke daerah Panceng untuk menemui guru spiritualmu. Di tempat itu kamu menyuruhku menceritakan ihwal sakit yang diderita ayahku kepada gurumu. Aku pun menceritakan kondisi yang sebenarnya. Ayahku seperti terkena guna-guna ceritaku pada gurumu. Gurumu waktu itu membantah ceritaku bahwa itu bukan guna-guna. Aku sempat berdebat dengan gurumu. Kamu menengah-nengahi perselisihan ini. perdebetanku selesai.

”Sudah larut malam. Ayo, kita pulang,” ajakmu.

Aku menurutimu. Kamu membimbingku berjalan keluar dari rumah gurumu yang beraksesori nuansa mistis. Sesampai di sebuah surau kau mengajakku berhenti. Kamu menasihatiku seperti menasihati adikmu sendiri. Aku salut pada usahamu. Aku mengerti dan memahami maksudmu. Kamu ingin membantu penyembuhan ayahku dengan caramu sendiri.

”Besok malam aku ke rumah ayahmu,” janjimu padaku.

”Silakan. Apa yang dapat kamu perbuat untuk ayahku?” tanyaku sangsi.

”Ikhtiar zahir. Aku akan mengobati ayahmu dengan bantuan guruku dari jarak jauh.”

”Bisakah?”

”Lihat saja besok malam,” katamu menjanjikanku.

”Baiklah.”

Selepas isyak aku menunggumu di rumah ayahku. Hampir satu jam menunggu, kamu tidak muncul. Aku jadi ragu. Kamu serius atau tidak. Bisa mengobati penyakit ayahku atau hanya janji-janji palsu untuk menghiburku. Ternyata tidak. Prasangkaku keliru. Kamu benar-benar memenuhi janji. Kamu datang bersama teman seperguruanmu untuk melakukan pengobatan alternatif kepada ayahku.

Berkopiah hitam dengan ujung lancip mencari ciri khas dirimu. Kamu duduk berhadapan dengan ayahku. Sedangkan temanmu meletakkan kedua telapak tangannya ke punggungmu. Matamu terpejam. Mulutmu komat-kamit. Kamu meraih tangan kanan ayahku yang tak bisa bergerak sejak hampir tiga bulan. Kedua tanganmu menggosok-gosok lengan kanan ayah. Bibirmu terampil melafalkan doa-doa sambil sesekali kau berkomunikasi jarak jauh dengan gurumu. Sejenak aku terhenyak. Aku kaget ternyata kamu termasuk orang sakti karena bisa berkomunikasi jarak jauh dengan gurumu.

”Selesai,” katamu setelah hampir setengah jam memijit dan menggosok-gosok lengan ayahku.

”Mana hasilnya?” tanyaku.

”Lihat sendiri lengan ayahmu. Pakde, coba Panjenengan angkat lengan kanan perlahan,” perintahnya.

Aku mengamati dengan hati-hati perubahan lengan ayah. Kelima jarinya dapat digerak-gerakkan  pelan. Tak lama kemudian ayahku mampu mengangkat lengan kanannya. Wih, luar biasa. Ternyata kamu benar-benar bisa memulihkan kondisi tangan kanan ayahku.

”Kamu benar-benar sakti. Kamu mampu menyembuhkan penyakit ayah. Aku percaya padamu,” kataku.

”Bukan saya yang menyembuhkan ayahmu. Saya hanya sebagai perantara dalam pengobatan. Yang memberi sakit dan yang menyembuhkannya adalah Tuhan,” jawabmu merendahkan diri.

Setelah itu kamu pamit pulang bersama temanmu. Kujabatkan selembar amplop sebagai ungkapan terima kasih atau paling tidak sebagai ganti bensin sepeda motor. Namun, kamu menolak. Kamu tidak menerima pemberianku.

”Saya ini ikhlas menolong ayahmu. Anggap saja ini adalah kewajiban yang harus saya lakukan sesama manusia. Apalagi itu yang saya pijit tadi adalah ayahmu,” balasmu.

Kamu punya kelebihan dapat mengobati orang lain yang sakit, termasuk ayahku. Kamu bisa membuat resep dan memberi anjuran kepada orang lain agar terhindar dari penyakit yang membahayakan seperti kelumpuhan dan lain-lain. Tapi, kenapa kamu tidak berdaya ketika penyakit demi penyakit datang menggerogoti kesehatanmu. Tapi, kenapa kamu tidak bisa menasihati dirimu sendiri agar menghindari makanan dan minuman yang menjadi penyebab penyakit-penyakitmu itu? Bahkan, kamu mengabaikan anjuran dari beberapa dokter yang pernah kamu datangi untuk pengobatan penyakitmu itu. Saran istri dan keluargamu juga saranku tak pernah kamu dengarkan. Kamu selalu menerjang beberapa pantangan yang seharusnya kamu tinggalkan. Kamu selalu beralibi bahwa semua orang akan mati. Makan atau tidak makan pantangan itu pada saatnya nanti akan mengalami kematian. Selalu itu yang kaujadikan alasan melanggar pantangan.

Benar sekali omonganmu. Semua manusia yang hidup pasti akan mati. Namun, perlu diingat manusia harus berikhtiar untuk mempertahankan hidupnya. Termasuk menghindari makanan dan minuman atau lainnya yang bisa menjadi penyebab kematian.

Keras kepala dan egois. Dua sifat yang patut disematkan padamu. Kamu sosok yang sulit mendengarkan omongan orang lain. Lebih-lebih pesan kesehatan. Banyak orang yang memperhatikan kondisi kesehatanmu. Termasuk aku. Tubuhmu yang dulu gemuk, kini kurus. Seperti tinggal tulang dan kulit saja. Kornea matamu juga kekuning-kuningan. Apalagi perutmu sering sakit dan muntah-muntah. Siapa yang tega membiarkan dirimu dalam kondisi seperti ini. Tidak ada yang tega. Semua orang berempati kepadamu. Termasuk juga rival-rivalmu dalam dunia perpolitikan. Setiap kali ada masukan agar kamu harus beristirahat, kamu selalu menolaknya. Kamu menyanggah dengan argumen-argumen sebagai pembenar dirimu. Kamu malah sengaja sering ke restauran dan memesan makanan-makanan yang mengandung lemak. Bahkan, kamu juga pesan makanan yang pedas. Kamu sendiri tahu bahwa makanan pedas dan berlemak tinggi akan semakin memperparah kondisi kesehatanmu.

Sore itu kamu benar-benar tak berdaya. Kesehatanmu down. Kamu pingsan. Keluargamu panik lalu meneleponku. Aku datang lalu membantu istrimu melarikanmu ke rumah sakit. Beberapat perawat membawamu ke UGD. Kamu menjalani perawatan intensif. Lalu kamu dibiarkan bebarapa saat sebagai masa observasi atas perkembangan kondisimu. Kamu belum sadarkan diri hingga satu hari. Kamu tidak mengalami perubahan. Kemudian dokter merujukmu ke rumah sakit yang memiliki fasilitas lebih lengkap dengan dokter-dokter andal.

”Keluarga Zakaria?” tanya dokter.

”Betul, Dok. Saya adiknya dan ini istrinya,” jawabku.

Dokter mengajak kami berdua masuk ke ruangannya. Dia mengabarkan kepada kami kamu terkena liver stadium akhir. Dokter juga bilang bahwa kamu dalam keadaan kritis.

”Doakan saja semoga Tuhan menurunkan mukjizat untuk kesembuhannya,” kata dokter.

Sesuatu yang tidak mungkin. Mukjizat itu keistimewaan yang diberikan Tuhan kepada nabinya. Sedangkan aku sendiri tahu kalau kamu ini bukan nabi. Kamu hanya orang biasa yang diberi kelebihan ilmu berdakwah dan punya banyak penggemar. Kamu hampir tiap malam kamu tidak di rumah karena memenuhi undangan ceramah sampai-sampai kamu kelelahan. Menurut dokter kelelahan inilah yang menjadi salah satu sebab liver yang kamu derita saat ini.

”Harapan tipis, Mbak,” bisikku pada istrimu.

Istrimu tak merespon bisikanku. Istrimu hanya bisa menyembunyikan wajahnya di jilbab yang basah oleh air mata. Tak lama  kemudian dokter datang untuk mengabarkan bahwa kamu telah tiada. Tuhan menjemputmu dengan perantaraan sakit liver tepat azan subuh berkumandang.

Aku tidak bisa menyembunyikan kesedihan saat itu. Aku tak doyan makan selama tiga hari. Hari-hariku diliputi ketidakpercayaan pada kematianmu. Kamu seolah-olah masih hidup dan mengajakku jalan-jalan ke luar kota. Tapi, fakta tak bisa dipungkiri. Takdir benar-benar telah merenggutmu. Kamu dan aku kini telah berbeda alam.

***

 Tiga tahun sudah kamu berada di peristirahatan akhir. Rasa rindu dan rasa hutang budi pada kebaikanmu menyentuh hatiku. Aku ingin menziarahimu pada tulat, Kamis malam Jumat. Senin ini aku berjanji akan datang menjenguk gundukan tanah bertanda dua batu nisan bertuliskan namamu dan hari tanggal kematianmu. Aku tak akan mengingkari janji seperti beberapa Kamis yang lalu.

Pemakaman desamu begitu rapi dan bersih. Warga kampung memiliki rasa tanggung jawab tinggi untuk merawat pemakaman. Di bagian timur pemakaman aku duduk sambil menghadap makammu. Aku berbincang-bincang dengan istrimu yang mengantarku ke makam sebelum berdoa bersama. Aku yakin bahwa kamu mengetahui kedatanganku. Aku yakin kamu mendengar pembicaraanku bersama istrimu yang masih setia menjanda. Aku yakin kamu juga mendengar dan mengamini doa-doa yang kulantunkan. Aku yakin kamu juga mendoakanku dari dalam kubur. Aku melihat tanda-tanda itu melalui semut dan serangga yang menghentikan jalannya tepat di ujung batu nisanmu.

”Maafkan aku karena baru bisa menziarahimu. Damailah di alammu, semoga Allah merahmatimu!” pintaku.

Aku meninggalkan tanah pemakaman setelah matahari sore terlihat semakin menguning. Kawanan kelelawar yang terbang di atas pemakaman mengisyaratkan bahwa sebentar lagi akan terjadi pergantian waktu dari siang menjadi malam. Cericit kelelawar berkabar janganlah lupa pada kebaikan orang yang telah mati. (*)

 

Wanar, 24 September 2022

Ahmad Zaini, guru di SMKN 1 Lamongan dan ketua Lesbumi PCNU Babat. Selain itu juga sebagai anggota Kostela. Buku kumpulan cerpen terbarunya berjudul Lelaki yang Menikahi Bayangan Sendiri. Beralamat di Wanar, Pucuk, Lamongan.