Jika Kau Bukan Anak Raja, Juga Bukan Anak Ulama Besar, maka Menulislah

Sabtu, 18 April 2020

Gadis Korona, cerpen Jawa Pos Radar Bojonegoro, Minggu, 19 April 2020



Gadis Korona
Cerpen karya Ahmad Zaini

Pintu kamar Karina tertutup rapat. Tak ada celah sama sekali. Binatang kecil seperti semut kesulitan masuk. Apalagi tikus yang biasanya mencabik-cabik pernik di dalamnya. Binatang yang menjadi simbol koruptor itu hanya bisa mondar-mandir sambil menahan liur di depan pintu kamar. Meskipun kamar Karina yang kini dijadikan ruang karantina mandiri itu tertutup rapat, fasilitas di dalamnya sangat lengkap. Mulai kebutuhan hidup seperti makan, minum, hingga MCK. Demikian juga dengan kebutuhan sekundernya. Ruang pendingin, dispenser, dan alat elektronik lainnya juga terpenuhi. Sehingga, Karina sangat betah mengisolasi diri dalam kamar yang berukuran empat meter persegi itu.
Empat belas hari lamanya Karina harus menjalani karantina mandiri di kamar. Dia tidak ingin kepulangannya meninbulkan bencana baru di rumah. Dia tidak ingin keluarga dan tetangganya terdampak virus akibat kelalaiannya. Karina baru diperbolehkan pulang oleh pihak rumah sakit setelah dinyatakan sembuh dari virus korona. Atas kesadaran peribadi dia harus tetap mengisolasi diri demi menyelamatkan seluruh anggota keluarga, tetangga, dan masyarakat yang tinggal di lingkungannya.
Gadis berhidung mancung, berparas cantik ini duduk di depan cermin. Dia menyisir rambutnya yang sebahu sambil menirukan lagu yang diputar lewat VCD. Gadis yang berprofesi sebagai perawat ini berusaha mengusir kejenuhan dalam kamar dengan membuat masker. Dia memotong kain bahan kaos. Kemudian, lentik jari-jemari Karina merangkai beberapa potongan kain itu menjadi masker.
Karina teringat beberapa pasien yang pernah dirawatnya. Mereka yang terpapar virus korona karena mengabaikan anjuran mengenakan masker saat keluar rumah. Beberapa pasien yang dia rawat itu ada yang sembuh, bahkan ada yang sampai meninggal.
Gadis lulusan Akademi Perawat ini sering terlibat menangani beberapa pasien yang terindikasi terpapar korona. Rata-rata mereka mengalami batuk-batuk, suhu badan tinggi, dan sesak napas. Jika kondisinya sudah parah, mata mereka mendelik. Napasnya tersengal-sengal. Tak lama kemudian meninggal. Jika ada pasien meninggal, Karina dan para perawat lainnya langsung mengurus jenazah dengan mematuhi protokoler kesehatan. Para perawat harus memakai alat pelindung diri secara lengkap. Setelah itu, mereka baru mengurus janazah mulai dari memandikan, mengafani, hingga melapisi janazah dengan plastik.
Karina kecapekan. Dia dihantui rasa takut tertular pasien. Dia gelisah. Karina beberapa kali terlihat duduk menyendiri di depan ruang pasien. Dia terkadang menyempatkan diri membuka ponsel. Dia menghubungi keluarganya dan berpesan agar tetap berada di rumah. Melarang ayah, ibu, dan adik-adiknya keluar rumah, rajin cuci tangan dengan sabun. Jika terpaksa keluar rumah, mereka dianjurkan memakai masker.
Dia terkadang membayangkan penyakit yang dialami pasien itu terjadi pada diri dan keluarganya. Pasti dia dan keluarganya akan merasakan hal yang sama dengan para pasien itu. Dia dan keluarganya akan dikarantina untuk mendapatkan pengawasan dan perawatan yang sama seperti yang ia lakukan pada beberapa pasien saat ini.
”Karina, bangun! Bangun! Jadwalmu sudah selesai. Waktu istirahat,” seorang perawat datang membangunkan Karina yang tergolek lemas di depan ruang perawatan.
Gadis berparas cantik itu bergeming. Matanya terpejam dengan tubuh yang terkulai di depan ruang isolasi. Perawat tersebut menggoyang-goyang tubuh Karina. Namun, rekannya itu masih diam saja. Perawat yang selama ini menjadi mitra kerja Karina lantas menghubungi teman-temannya dan pada dokter piket. Dokter mengecek kondisi Karina yang lemas.
”Dia pingsan. Segera dibawa ke ruang pemeriksaan!” pinta dokter yang bertugas saat itu.
Mereka yang mengenakan alat pelindung diri dengan lengkap itu segera membopong Karina ke ruang pemeriksaan. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa Karina mengalami gejala seperti para pasien yang terpapar virus korona. Suhu badannya sangat tinggi dan sesak napas. Ternyata betul. Seminggu berikutnya hasil laboratorium menunjukkan bahwa Karina positif korona.
Karina menyadari kondisi dirinya yang terpapar virus korona. Dia mematuhi dan menjalani proses penyembuhan seperti yang ia perintahkan pada para pasien yang pernah dirawatnya. Setelah kondisinya membaik, dia diperbolehkan pulang. Dia mengisolasi diri dalam kamar atas kesadaran dirinya.
”Karin, ini sarapan pagimu,” suara ibu Karina dari depan pintu kamarnya.
Karina yang saat itu menyisir rambutnya yang indah, segera meletakkan sisirnya di atas meja riasnya. Dia membuka sedikit daun pintu kamarnya. Gemulai tangannya menerima sepiring nasi dan segelas air hangat dari ibunya. Dia sangat berhati-hati agar tangannya tidak menyentuh tangan ibunya yang sudah mengeriput termakan usia.
”Terima kasih, Bu! Adik-adik sudah berangkat sekolah?” tanya Karina pada ibunya.
”Adik-adikmu tidak ke sekolah. Mereka santai di ruang depan sambil menunggu tugas dari gurunya,” jawabnya.
Karina tercenung sebelum menutup pintu kamarnya. Dia baru ingat sekolah adik-adiknya diliburkan gara-gara pandemi virus korona yang merajalela. Meskipun belajar di rumah, tugas yang mereka terima dari gurunya lebih banyak daripada ketika belajar di sekolah. Setiap hari hampir tiga sampai lima tugas yang harus diselesaikan dalam sehari.
Gadis manis itu meletakkan menu sarapan paginya di meja rias. Dia sementara menggunakan meja riasnya sebagai penopang menu sarapannya. Sebelum makan dia mencuci tangannya dengan air yang dipancurkan dari dispenser. Dia menekan tombol merah. Karina cuci tangan dengan air hangat. Dia tidak  lupa menggunakan sabun agar tangannya benar-benar steril. Bebas dari kuman dan virus.
Sisir dan bedak yang berada di meja itu disingkirkan sementara agar menu sarapan paginya mendapat ruang yang nyaman dan aman. Bibir yang terlihat agak sensual Karina berkomat-kamit. Dia berdoa sebelum menyantap menu sarapan paginya.
”Mbak Karin, ada Mas Teguh di depan,” seru adiknya dari luar kamar.
”Ya. Masih sarapan,” sahutnya.
Dalam hati Karina bertanya-tanya. Ada keperluan apa Teguh pagi-pagi bertandang kerumahnya? Ditemui atau tidak? Karina bingung karena saat ini dia masih menjalani karantina mandiri di kamarnya.
Karina meninggalkan piring dan gelas yang sudah kosong di atas meja. Dia melesat ke pintu kamar dengan harapan adiknya masih berada di situ. Ternyata adiknya sudah kembali ke ruang depan. Karina menutup pintu kamarnya dengan rapat. Karina kembali ke tempat makan. Dia mencuci piring dan gelas bekas tempat makanan dan minumannya.
”Karin, ini Mas Teguh mau menyampaikan sesuatu,” suara ibunya dari depan pintu kamarnya.
Karina segera membuka sedikit pintu kamarnya. Dia mengintip Teguh yang mengenakan masker berdiri di samping ibunya.
”Maaf, Karin! Mengganggu sebentar. Ini ada bingkisan sebagai ucapan selamat karena kamu lolos dalam seleksi tenaga kontrak dinas kesehatan,” kata Teguh sembari menyodorkan bingkisan yang dikemas rapi dengan kertas bermotif bunga melati.
”Benarkah? Alhamdulillah! Kamu bagaimana?” ujar Karina sambil menerima bingkisan dari celah pintu kamar.
”Saya belum seberuntung kamu.”
”Yang sabar, ya! Saya yakin kamu akan diterima pada gelombang berikutnya.”
”Amin!” sahut Teguh.
”Terima kasih atas hadiah Mas Teguh. Semoga bermanfaat!” ucap Karina.
Teguh undur diri. Lelaki yang berteman dengan Karina sejak kecil  ini meninggalkan Karina yang kembali masuk ke kamar karantina. Mereka sama-sama paham kalau berlama-lama dalam kerumunan itu tidak diperkenankan dalam suasana seperti ini.
Bibir indah Karina mengembang seperti bunga di taman rumahnya. Dia sangat senang menerima hadiah dari Teguh. Lentik jemari kedua tangan Karina gemulai mengurai kemasan bingkisan. Dia membuka bingkisan yang ternyata berisi masker dan alat pelindung diri.
Karina bersyukur punya teman seperti Teguh. Dia sangat senang pada hadiah yang diberikan kepadanya. Teguh sangat memahami dirinya. Meski bingkisan yang diberikan kepadanya hanya masker dan alat pelindung diri, namun ini sangat bermanfaat bagi dirinya. Lebih-lebih profesinya saat ini sebagai perawat yang telah lolos seleksi tenaga kontrak di dinas kesehatan kabupaten.
Gadis yang hampir tuntas menjalani karantina mandiri di kamarnya ini meletakkan hadiah Teguh dari pelukannya. Dia melanjutkan aktivitasnya setelah sarapan pagi. Dia berjemur di depan jendela kamar sambil menggerak-gerakkan kedua tangannya. Dia juga melompat-lompat ringan agar segera berkeringat. Butir-butir keringat menyembul dari kening. Karina menyekanya dengan tisu di atas mejanya.
Setelah sarapan pagi, berjemur sambil berolahraga ringan, Karina mengemasi beberapa masker yang dibuat selama karantina mandiri di kamar. Ada lima kardus masker hasil karyanya. Beberapa masker ini rencananya akan dibagikan kepada warga sekitar. Dia tidak ingin ada tetangga dan masyarakat yang lain terpapar virus korona seperti yang pernah ia alami. (*)

Wanar, 17 April 2020

Ahmad Zaini merupakan guru SMKN 1 Lamongan dan ketua PC Lesbumi NU Babat.
Beberapa karyanya pernah dimuat dibeberapa media cetak dan telah menerbitkan beberapa buku. Buku kumpulan puisi terbarunya berjudul Hanya Waktu Jelang Kematian (Maret, 2020). Dia tinggal di Wanar, Pucuk, Lamongan.






















Sabtu, 21 Maret 2020

Seperti Kota Mati cerpen di Jawa Pos grup Radar Bojonegoro, Minggu, 22 Maret 2020



Seperti Kota Mati
Cerpen karya Ahmad Zaini

Suasana di kotaku sepi. Tak ada lalu lalang warga melintas di jalan. Pasar lengang. Para penjaga toko tak berani keluar rumah. Tempat-tempat umum senyap. Kotaku seperti kota mati. Hanya lirih hembus angin membelai daun-daun perdu dan menerbangkan plastik sisa bungkus minuman anak-anak.
Setelah ada larangan keluar rumah yang disampaikan oleh wali kota terkait virus korona, tak ada warga yang berani keluar rumah. Mereka takut terpapar virus yang katanya mematikan. Warga tak berani berkumpul. Tidak berani berinteraksi. Tak berani berkomunikasi secara langsung. Mereka takut tertular virus tersebut karena bersentuhan dengan warga lainnya. Para warga kota seperti boneka. Mereka lebih memilih berdiam diri di rumah daripada mati karena tertular virus korona.
”Ini akibat kita terlalu jauh dari ulama,” kataku.
”Tak ada hubungannya antara ulama dan virus korona,” bantah Mukri.
”Ada. Ulama itu pewaris nabi sebagai penyebar ajaran Tuhan. Jika kita tidak menggubris nasihat ulama dan menentangnya, berarti kita telah menentang Tuhan,” sambungku.
”Kamu ini Zun. Suka mengarang cerita. Beribadah atau tidak itu urusan pribadi. Tuhan juga tidak memaksa manusia untuk beribadah.”
”Memang itu hak masing-masing. Tapi kita harus sadar bahwa kita diciptakan Tuhan untuk beribadah kepadaNya. Tuhan tidak butuh kita sembah, tetapi kita yang butuh menyembahNya. Tersebab kita tidak mau menuruti ajaran Tuhan sebagaimana yang disampaikan oleh para ulama, maka Tuhan mengganjar kita dengan munculnya virus ini.”
”Hmmm. Tidak masuk akal,” sergah Mukri dengan kening berkerut. Lelaki yang sehari-hari tidak pernah salat ini pun meninggalkanku sendirian.
Aku menggeleng-gelengkan kepala. Aku tidak bisa mengerti sosok seperti Mukri. Jika semua orang bersikap sepertinya, sudah selayaknya Tuhan menguji hidup kita dengan ketakutan dan kecemasan yang berlebihan.
Beberapa orang berpakaian seperti robot melintas di depanku. Mereka memanggul tabung berisi cairan disinfektan. Mereka menyemrpotkan cairan tersebut pada setiap orang yang ditemuinya. Satu di antaranya menghampiriku lalu menyemprotkan caira tersebut ke tubuhku. Aku berusaha mengelak, namun cairan itu telanjur menyasar diriku. Baju yang semula kering, kini lembab. Rambut yang asalnya kering dan bisa bergerak-gerak karena diterpa angin, kini basah seperti rambut orang yang baru saja janabat.
Sebenarnya tak perlu kita bersikap belebihan seperti ini. Bisa-bisa salah satu dari kita ada yang alergi pada semprotan disinfektan. Lalu orang yang alergi ini mati bukan karena virus korona, melainkan mati karena semprotan petugas itu. Kita semestinya cukup instropeksi diri. Bagaimana keseharian kita. Banyak mana amal kebajikan dan kemaksiatan yang kita lakukan. Lebih sering mana kita berbadah kepada Tuhan daripada kita berbuat dosa. Jika kita mau tafakkur seperti itu dan ada tindak lanjut dari hasil instropeksi, niscaya kita akan diselamatkan Tuhan dari ancaman virus ini.
”Pak Fauzun, Pak Fuzun!” seru seseorang yang berlari mendekatiku.
”Ada apa, Pak?” tanyaku padanya.
”Mukri, Pak. Mukri,” katanya dengan gugup.
”Tenang. Tenangkan dulu dirimu. Ayo, sampaikan apa yang terjadi pada Mukri?”
”Dia sesak napas. Tersengal-sengal,” jawabnya.
”Ceritanya bagaimana dia bisa seperti itu?”
”Semula dia batuk, pilek disertai dahak. Setelah itu suaranya serak. Entah mengapa sekarang napasnya tersengal-sengal seperti itu.”
”Ayo, kita ke rumah Mukri,” ajakku.
Aku berjalan cepat. Aku penasaran pada cerita tetangga Mukri yang berjalan lebih cepat di depanku. Dalam perjalanan mataku memandang ke kanan kiri. Tak ada satu pun warga yang keluar rumah meskipun Mukri mengalami hal seperti itu. Para warga hanya mengintip dari kaca jendela rumahnya.
Sesampai di rumah Mukri, aku melihat lelaki yang wajahnya tak pernah terjamah air wudlu itu terkapar. Matanya mendelik. Napasnya tersengal-sengal. Dia seperti sedang nazak. Napasnya grok-grok. Tangannya kejang. Sewaktu aku menatap matanya yang terbelalak itu, dia semakin tidak terkendali. Tubuhnya menggelepar-gelepar. Seperti cacing kepanasan. Menggeliat-geliat menahan rasa sakit yang dideritanya.
”Kena virus korona, ya, Pak?” tanya lelaki yang menjemputku.
”Wallahu a’lam. Allah yang Mahatahu. Tolong ambilkan Alquran. Kita bacakan ayat suci di telinganya. Mudah-mudahan dia bisa tenang setelah mendengar lantunan ayat suci.”
”Di rumahnya tidak ada Alquran.”
”Coba pinjam Alquranmu.”
”Untuk apa?” tanya lelaki yang belum paham maksudku.
”Ambilkan saja kalau kamu punya.”
”Tapi, nanti aku gak ketularan virus korona karena Quranku kau gunakan mengaji di dekat pengidap korona?”
”Tidak akan tertular. Alquran itu bisa sebagai obat dari segala macam penyakit. Termasuk bisa menyembuhkan penyakit hati.”
”Baiklah, saya ambilkan di rumahku,” sambung lelaki yang kurang begitu mengerti tentang fungsi Alquran, namun rajin salat limat waktu.
Aku menatap kondisi Mukri yang sekarat. Giginya menyeringai menahan sakit. Matanya terbuka lebar seperti melihat sesuatu yang sangat menakutkan. Napasnya masih tersengal-sengal. Tubuhnya terguncang-guncang. Apakah ini akibat dari orang yang membenci ulama? Mungkin juga. Karena Tuhan akan menyiksa manusia yang membenci ulama dengan ketakutan serta mati tidak membawa iman.
Mukri memang sosok lelaki yang sombong. Dia merasa paling pandai dengan mengandalkan keahlian debatnya. Setiap ada ulama yang berceramah selalu dibantah. Setiap ada kiai yang menasihatinya selalu dicaci. Dia benci pada ulama yang menurutnya hanya suka membual. Cerita tentang pahala dan dosa. Cerita tentang surga dan neraka. Padahal, mereka belum pernah melihat dan merasakannya. Seperti itulah ulah Mukri yang selalu menantang ulama yang berdakwah mengajak pada kebaikan. Ulama yang berseru untuk kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.
”Ini Pak Fauzun,” kata lelaki itu sambil menyodorkan Alquran yang sudah lepas sampulnya kepadaku.
Aku membacakan ayat Alquran di dekat telinganya. Ronta Mukri agak mereda. Napasnya perlahan normal. Tak lama kemudian matanya mulai berkedip-kedip. Bola  matanya berputar melihat sekelilingnya.
”Apa yang terjadi padaku?”
”Kamu terkena virus korona,” jawab lelaki yang sejak tadi duduk di belakangku dengan suara keras.
”Husstt! Pelan-pelan bicaranya.”
”Maaf, Pak Fauzun!”
”Tadi kamu hilang kendali. Alhamdulillah, sekarang kau sudah normal lagi.”
”Penyakit lamaku kambuh lagi. Memang kalau terlalu capek dan stres, epilepsiku sering kumat.
”O, jadi kamu kena penyakit ayan bukan korona?” sergah lelaki itu.
”Korona gundulmu,” bentak Mukri. Lelaki itu pun diam.
”Sudah-sudah. Jangan ribut. Penyakit itu datangnya dari Tuhan. Yang menyembuhkan juga Tuhan. Maka dari itu, mulai dari sekarang dan seterusnya, marilah kita selalu mendekatkan diri pada Tuhan. Laksanakan perintah-perintahNya, tinggalkan larangan-laranganNya.”
”Terima kasih Pak Fauzun. Maaf, aku selama ini selalu membantah nasihat-nasihatmu. Sekarang ajari saya berwudlu dan salat lima waktu.”
”Aku ikut,” sahut lelaki itu.
”Marilah kita bersama-sama belajar membersihkan jiwa dan lingkungan kita agar terhindar dari berbagai penyakit,” ajakku pada mereka.
Rumah-rumah warga masih tampak sepi. Para penghuninya tidak ada yang berani keluar rumah. Mereka takut tertular virus korona. Beberapa pasang mata hanya melihat kami bertiga yang berjalan menuju musalla yang sejak seminggu ini sepi tanpa penghuni.
Waktu salat asar tiba. Terdengar suara azan yang sangat merdu dari musalla. Para warga penasaran pada suara yang sebelumnya tidak pernah mereka dengar. Mereka keluar rumah. Mereka berbondong-bondong ke musalla untuk melenyapkan rasa penasaran sambil bersiap-siap melaksanakan salat asar berjamaah di musalla. Mereka terkejut karena yang melantunkan azan dengan merdu itu adalah Mukri. (*)

Wanar, 14 Maret 2020

Ahmad Zaini, guru SMKN 1 Lamongan dan ketua PC Lesbumi NU Babat. Saat ini aktif di Forum Penulis dan Pegiat Literasi Lamongan (FP2L) dan Komunitas Sastra dan Teater Lamongan (kostela). Buku kumpulan cerpen terbarunya berjudul Tadarrus Hujan. Buku kumpulan puisi yang berjudul Hanya Waktu Jelang Kematian akan segera terbit. Beralamat di Wanar, Pucuk, Lamongan.





Minggu, 19 Januari 2020

Puisi-puisi Jawa Pos grup Radar Bojonegoro, 19 Januari 2020

AHMAD ZAINI
SEBELUM PEMBERANGKATAN

Bayang-bayang wajahmu
berbisik lewat kecup ombak
“doakan aku dalam zikirmu!”

 kulit mengeriput
menggores wajah tuamu
goresan itu membentuk relief pantai
sepeninggal ombak yang undur
saat pagi

lirih suara samar mengharap angin pantai
tak menghempas daun-daun kering bakau
yang sedang bersujud menyelami kemulyaan-Mu
biota pantai menggigit geli
lalu mengangkat derajatmu di geladak
tempat kumelepas kepergianmu
dalam benam kecemasan

desir angin berkabar yang kesekian
kau telah bertamu pada Dzat
yang telah mengundangmu
kau bersimpuh di perjamuan
seperti yang pernah kau katakan
sebelum pemberangkatan

Lamongan, 28 November 2018


AHMAD ZAINI
BATAS WAKTU

Seirama bising baling
Desah keluh merobek hari-harimu
Tanpa kau sadar takdir itu
Telah tertulis jelas di bakal hidupmu

Jika kau tak rela
Pada catatan garis hidup
Carilah Tuhan lain
Selain Dia

Kau tak bisa berpaling
Dari hembus baling di wajahmu
Kau tak bisa menghindar
Dari detak waktu yang berputar
Di lingkar angka usia
Kau tak bisa sembunyi
Di kedalaman telaga
Dari ujung jemari hujan
Yang meremas senja
Kau tak bisa lari tinggalkan takdir
Yang tergores di ubun-ubunmu

Pada takdir
Terdapat serpih upaya
Melurus jalan berliku
Sampai batas waktu
Memotong kisah pilumu

Lamongan, 29 November 2018

AHMAD ZAINI
RENTA HANYALAH USIA

rambut putih bukan berarti letih
kulit keriput bukan berarti sengkarut
garang menerjang segala yang menghadang
akas memberantas segala yang tidak pantas
bahumu yang tak lagi seperti dulu
tandang gawe yang tak biasa

rambut putih hanyalah masa
kulit keriput hanyalah usia
tekadmu tak melukiskan itu
kau memikul beban
mereka yang muda dan perkasa
hingga ia dewasa

kau ikhlas
meski bukan waktunya

Lamongan, 1 Desember 2018

AHMAD ZAINI
PESAN TUHAN

Tuhan menyampaikan pesan
lewat pikun serta uban
serta mengingatkanmu lewat azan
dari surau dan putaran waktu
yang semakin tak menentu

bersegeralah menghias diri
dengan amal yang kau lantunkan
lewat pengajian
kau santunkan lewat anak yatim dan fakir miskin
serta mereka yang masih berkubang
dalam lumpur kesialan

di perempatan jalan dan trotoar
banyak jalan mengukir sisa usia
yang sebentar akan surup 
dalam petang

sebelum matahari berkebalikan
terbit dan terbenam
masuklah pada kesempurnaan keyakinan
yang sebelumnya masih berlubang

bukankah hanya mereka
yang sempurna
dapat masuk di jamuan kenikmatan surga

Lamongan, 3 Desember 2018

Sabtu, 11 Januari 2020

Cerpen Jawa Pos grup Radar BJN, Minggu, 12 Januari 2020

Kemboja Luruh saat Banjir Merenggut Senyumnya

Cerpen karya Ahmad Zaini

Rumah Mbok Sri seminggu ini sepi. Setelah manghrib tak terdengar lagi suara putrinya yang sedang melantunkan ayat suci Alquran. Suara merdu dengan nada bayati, jawabul jawab, dan nada baca lainnya sudah lenyap. Setiap malam rumah Mbok Sri tak ubahnya seperti rumah tak bertuan. Senyap bagai suasana di pekuburan.
Setelah maghrib Fatimah selalu mengaji dengan suara merdu dan melengking sejak ia datang dari pesantren karena sekolah dan pesantren libur. Dia berencana menikmati liburan dengan bersilaturrahim ke rumah kakaknya di Jakarta. Semula Mbok Sri tak mengizinkan Fatimah pergi ke ibu kota. Dia masih ingin berlama-lama dengan Fatimah untuk melepas rindu pada anaknya itu. Maklumlah karena Fatimah baru sehari pulang setelah empat bulan berangkat ke pesantren di Kediri. Di kota tahu tersebut Fatimah belajar di sebuah Madrasah Aliyah sambil menetap di pesantren untuk belajar serta memperdalam ilmu agama Islam.
”Tak perlu ke Jakarta. Lebaran tahun ini kakakmu juga pulang,” kata Mbok Sri membujuk Fatimah agar membatalkan niatnya.
”Saya kangen kakak, Mbok. Lebaran kemarin kakak tidak pulang. Boleh, ya, Mbok?” rengek Fatimah pada Mboknya yang sudah berusia tujuh puluh tahun.
Mbok Sri diam. Dia menyembunyikan rasa gusarnya dengan meraih secikal kelapa yang berada di sampingya. Dia memarut kelapa tersebut sebagai persiapan membuat sayur lodeh kesukaan Fatimah.
Seharian Fatimah memohon izin pada ibunya. Berbagai alasan Fatimah sampaikan kepada wanita yang selalu menjadi sumber doa restu bagi keselamatan dan kusuksesan dirinya. Karena Fatimah terus merengek meminta Mboknya legowo melepas ke rumah kakaknya, wanita itu akhirnya memberikan izin pada anaknya.
”Dengan syarat jangan lama-lama. Cukup lima hari saja di sana,” pintanya.
”Kurang, Mbok. Fatimah pengen melihat suasana pergantian tahun baru di Jakarta yang penuh dengan pesta kembang api dan petasan. Aku akan mengajak kakak ke monas pada malam yang dinanti-nanti semua orang itu, Mbok.”
”Walah, kamu pengen juga ya seperti mereka. Tak usah meniru-niru mereka. Malam pergantian tahun baru itu digunakan untuk muhasabah. Merenungi diri sambil mengingat kebaikan dan kejelekan yang telah diperbuat selama setahun. Bukan untuk berfoya-foya seperti itu.”
”Sekali ini saja. Mbok,” desaknya.
”Baiklah. Setelah itu segera pulang. Mbokmu ini masih kangen denganmu. Rasa hati ini sangat tenteram jika setelah maghrib kamu mengaji dengan suara merdumu itu.”
”Inggih, Mbok,” pungkas Fatimah dengan wajah yang berbinar-binar.
Fatimah mengemasi pakaian sebagai ganti setelah sampai di Jakarta nanti. Dia memasukkan pakaian yang telah diseterika dan dilipat dengan rapi. Fatimah memesan tiket kereta api secara online. Dia mendapat tiket dengan harga 300 ribu. Dia berangkat dari stasiun Babat besok malam setelah isyak.
Fatimah tak sabar menanti kapan tiba waktu pemberangkatan. Dia membayangkan betapa ramainya ibu kota pada saat malam pergantian tahun baru.
”Nduk, ada apa senyum-senyum sendiri?” tanya Mbok Sri yang membuyarkan lamunan Fatimah.
”Eh, Mbok mengangetkan saja,” sahut Fatimah terkejut.
”Sudah kau kemasi semua pakaian dan barang bawaanmu?”
”Sudah semua, Mbok. Tinggal berangkat.”
Mbok Sri tertegun sekaligus terharu dengan kebahagiaan yang terpancar dari wajah anaknya. Wanita yang sebenarnya sudah berumur senja ini sampai tak sadar butir air mata keluar dari kelopak matanya yang keriput. Dia berdiri mematung sambil menatap anak yang wajahnya berbinar-binar memandangi bukti cetak pemesanan tiket online hingga azan isyak berkumandang.
Malam itu paman Fatimah menunggu di depan rumah. Dia akan mengantarkan keponakannya ini ke stasiun Babat dengan sepeda motor. Fatimah berpamitan pada Mbok Sri. Dia mencium tangan wanita yang menyimpan surga baginya itu dengan penuh hormat. Mbok Sri membalas dengan peluk erat kasih sayang. Dia berharap Fatimah selamat sampai tujuan dan bahagia bersama kakaknya yang lebih dari setahun tidak bertemu.
Fatimah berangkat. Dia mengucap salam dan dijawab dengan salam pula oleh ibunya. Air sisa hujan semalam masih menggenang di pelataran rumah. Roda sepeda motor paman Fatimah menggilas genangan air hujan itu hingga memercik bunga kemboja di pelataran rumah yang ditanam Fatimah beberapa bulan yang lalu.
***
Menjelang shubuh Fatimah sudah sampai di stasiun Senin Jakarta. Dia sudah ditunggu oleh kakaknya. Saat bertemu dua saudara kandung ini meluapkan rasa rindunya dengan saling berangkulan. Senyum bahagia mengembang dari kakak dan adik ini. Setelah itu, mereka meninggalkan keramaian para tukang ojek online yang mencari calon penumpangnya.
Sesampai di rumah kakaknya, matahari belum muncul dari tempatnya bersemayam. Jarum jam juga masih berlabuh di angka lima. Kedua orang bersaudara yang taat beribadah ini lantas melaksanakan salat subuh berjamaah. Baru saja Fatimah melepas mukenanya, atap rumah kontrakan kakaknya ini sudah diketuk-ketuk oleh jemari hujan. Pagi pertama yang semestinya dipenuhi oleh sinar hangat matahari, kini dikurung oleh hujan. Fatimah tidak bisa keluar rumah untuk sekadar menghirup udara segar di Jakarta meskipun tidak sesegar udara di kampung halamannya.
Sampai hari kelima setiap pagi sampai siang ibu kota selalu diguyur hujan. Jalan-jalan sudah mulai tergenang air karena got-got tak mampu lagi menampung curah air hujan yang tinggi. Genangan air itu semakin tinggi. Ombak-ombak kecil di jalan saat ada motor melintas mulai menjilat teras rumah kontrakan kakak Fatimah. Semakin siang air itu semakin tinggi. Saat sore hari air benar-benar masuk ke rumah yang sudah hampir lima tahun ini dikontrak oleh kakak Fatimah.
”Kak, nanti malam kita ke monas untuk menyaksikan pesta kembang api malam pergantian tahun baru,” kata Fatimah.
”Mana mungkin ada pesta kembang api jika hujan tak kunjung reda seperti ini,” jawabnya dengan wajah murung.
”Siapa tahu sore nanti reda,” sambung Fatimah dengan penuh harap. Kakak Fatimah mengangguk untuk mengamini harapan adiknya. Dia ingin agar adiknya itu senang dan bahagia di Jakarta ini.
Hujan turun semakin lebat. Hampir sembilan jam air itu tertumpah dari langit ke bumi ibu kota. Air yang masuk ke rumah kontrakan kakak Fatimah semakin tinggi. Mereka sibuk  menyelamatkan barang-barang elektronik yang dimiliki ke atas meja dan kursi.
Saat mereka bekerja keras mengamankan barang miliknya, dari kejauhan terdengar suara jerit histeris warga dan gemuruh air. Fatimah dan kakaknya hendak keluar rumah ingin tahu penyebabnya. Baru saja mereka bergerak satu langkah, tiba-tiba air bah menerjang mereka. Tubuh Fatimah terjungkal dan terseret air bah, sedangkan kakaknya berhasil selamat dengan meraih tiang rumah yang hampir ambruk karena terjangan air yang tiba-tiba datang itu.
”Adikkkk!” teriak histeris kakak Fatimah berulang-ulang memanggil adiknya yang lenyap terbawa arus air. Kakak Fatimah mencebur ke air yang keruh untuk mencari adiknya.
Beberapa saat kemudian, di sudut gang dia berhenti. Dia mengamati semua barang yang terapung di permukaan arus air yang sangat deras. Matanya tak berkedip melihat benda di sekitarnya meski bola matanya tenggelam air mata. Dari jarak sekitar sepuluh meter, ia melihat ujung pakaian yang dikenakan Fatimah tersangkut akar pohon yang terbawa air bah. Ia lantas mengikuti arus air bah ke arah itu. Kakak Fatimah berteriak-teriak meminta pertolongan pada orang terdekat. Dia menemukan tubuh adiknya tertindih sebatang pohon dalam kondisi  tidak bernyawa lagi.
Orang-orang yang kebetulan berada di situ segera membantunya dengan mengangkat pohon tersebut. Setelah itu, kakak yang baru lima hari melihat senyum adiknya ini berhasil mengangkat jasad adiknya yang matanya telah terpejam untuk selamanya. Tangis pilu kakak Fatimah terdengar menyayat hati orang-orang yang mendengarnya. Tak sedikit para tetangga rumah kontrakannya yang selamat dari amukan banjir bandang itu turut meneteskan air mata.
Sementara itu, di kampung halaman, bunga kamboja yang ditanam Fatimah tiba-tiba layu. Mekar bunganya turut larut dalam duka ibu dan paman Fatimah. Bunga-bunga itu luruh dan rebah di pelataran rumah Mbok Sri. Bunga putih yang masih menyisakan aroma wangi itu turut menyambut kedatangan janazah Fatimah. Jenazah gadis pelantun ayat suci Alquran itu dikemas dalam peti berkalung aneka bunga surga. Sanak kerabat dan para tetangga yang bertakziyah di rumah duka tenggelam dalam kesedihan yang dialami oleh kerluarga Mbok Sri. (*)

Wanar, 4 Januari 2020

Ahmad Zaini, guru di SMK N 1 Lamongan. Saat ini menjabat ketua PC Lesbumi NU Babat. Dia aktif dalam Forum Penulis dan Pegiat Literasi (FP2L) Lamongan serta Komunitas Sastra dan Teater Lamongan (Kostela). Tinggal di Wanar, Pucuk, Lamongan.
























Sabtu, 30 November 2019

Cerpen Jawa Pos grup RADAR BANYUWANGI, 1 Desember 2019

Guru Sobri
Cerpen karya Ahmad Zaini

Tubuhnya kerempeng. Dia berkulit putih. Rambutnya klimis. Dia tidak berkumis Kakinya ringan seringan kapas bila berjalan. Ia melesat bagai kilat. Pada jam ini di sini, lima menit kemudian sudah di sana. Orang-orang bingung mencarinya. Setiap ditanya, ia bisa saja menjawabnya. Dia memunyai sejuta alasan untuk menutupi kekurangannya yang selalu meninggalkan kantor tempat kerjanya sebagai kepala sekolah.
Namanya Muluk. Setiap berbicara selalu muluk-muluk. Keinginannya selangit. Muluk selalu membuat rencana besar, namun tidak pernah terlaksana. Rencana itu mangkrak. Bukan Muluk kalau tidak bisa berkilah. Dia selalu bisa berkelit dari tanggung jawab apabila ada pihak lain yang menuntut ketidakberesan kerjanya.
Kakinya yang hanya sebesar kaki kursi diangkat di atas meja. Ia buru-buru menurunkannya saat Sobri masuk ke ruangannya.
”Pak Sobri, ketuk pintu dulu sebelum masuk,” tegurnya pada Sobri yang datang tanpa mengetuk pintu ruang kerjanya.
”Maaf, Pak khilaf!” pintanya sambil menyodorkan berkas ke meja kepala sekolah itu.
”Ada perlu apa?” suara sumbang Muluk menanyakan keperluan Sobri menghadap kepadanya.
”Minta tanga tangan untuk pemberkasan besok pagi,” timpalnya.
”Mendadak sekali! Tidak bisa. Saya tidak bisa menandatangani berkas sembarangan sebelum tahu isinya. Paling tidak tiga hari sebelumnya berkas ini sudah kausodorkan sehingga saya bisa menelitinya,” alasan Muluk.
”Tapi ini mendesak. Pemberitahuannya baru kemarin sore. Semalam saya kerjakan, hari ini tanda tangan, besok pagi dikumpulkan,” kilah Sobri.
”Tidak bisa. Kamu taruh di meja situ. Besok lusa baru bisa kauambil,” kata jumawa Muluk membuat Sobri semakin gusar.
”Maaf, Bapak! Besok pagi sudah batas terakhir pengumpulan berkas ini,” desak Sobri.
”Pokoknya tidak bisa. Jangan memaksa saya. Bila kamu tidak mau mendengarkan omonganku, bawa kembali berkasmu keluar,” pungkas Muluk bernada tinggi.
Sobri hanya bisa diam. Dia tidak mampu membantah putusan Muluk. Sobri keluar dari ruang kerja Muluk dengan hati yang sangat mendongkol.
Begitulah Muluk. Dia raja tega. Kepala sekolah yang tidak tahu kebutuhan gurunya. Dia terlalu idealis, prosedural, namun tidak bisa kondisional. Dia lurus pada sesuatu yang diurus. Namun, sekali lagi dia tidak bisa membuat kebijakan yang berskala prioritas. Ia tidak pernah memedulikan urusan sangat penting, penting, agak penting, dan tidak penting dari gurunya. Meskipun berkas Sobri besok sudah batas terakhir penyerahan ke dinas atasannya, Muluk tetap tidak mau menandatanganinya saat itu juga.
Kejelian kepala sekolah memang diperlukan agar bisa memahami keperluan yang dibutuhkan guru. Dia juga harus meneliti secara rinci isi yang tertuang dalam berkas sebelum menandatanganinya. Namun, kepala sekolah semestinya juga harus bisa membuat keputusan ekstrem dengan mempertimbangkan situasi dan kondisi. Yang penting berkas yang disodorkan itu sudah dijamin kebenarannya oleh sang guru. Kebutuhan bawahan juga harus diperhatikan lebih-lebih menyangkut nasib karier bawahannya. Apalagi bawahannya itu sudah menjamin kevalidan berkas tersebut. Kepala sekolah sudah semestinya harus segera menandatanginya.
Era teknologi komunikasi modern seperti sekarang ini sering ada isntruksi atau pemberitahuan secara mendadak dari dinas pendidikan. Hal semacam ini sangat menyengsarakan guru seperti Sobri. Perintah kedinasan tidak lagi menggunakan kertas yang dikirimkan kurir ke guru. Tak pernah terlihat lagi ada kurir menyodorkan buku ekspedisi untuk ditandatangani guru sebagai bukti telah menerima surat. Perintah hanya disampaikan lewat media sosial. Hal seperti inilah yang membuat Sobri kalang kabut. Dia baru menerima pesan menjelang maghrib. Malam langsung ia kerjakan. Pagi harinya dimintakan tanda tangan ke kepala sekolahnya. Keesokan harinya harus dikirim ke kantor dinas.
”Bagaimana, Pak?” tanya Sobri kepada Muluk pada keesokan harinya.
”Ke ruangan sebentar!” pinta Muluk. Sobri bergegas mengikuti Muluk masuk ke ruang kerjanya. Dia berharap berkas sudah ditandatangani tinggal mengirimkan ke kantor dinas pendidikan.
Muluk menyodorkan stop map bewarna merah pada Sobri. Sobri menerimanya dengan lega. Namun, senyum harapan itu hanya beberapa detik saja. Setelah membuka stop map dan melihat isinya, Sobri terperangah. Dia melihat kolom tanda tangan masih bersih. Tak ada goresan tanda tangan di atas nama Muluk yang tak ber-NIP itu.
”Belum Bapak tanda tangani?” tanya Sobri dengan suara penuh penasaran
”Memang belum. Saya tidak mau menantanganinya. Semestinya berkas ini harus dilengkapi dengan bukti fisik. Kau lengkapi dulu. Besok bawa ke sini lagi,” kata Muluk dengan kening berkerut.
”Hari ini batas terakhir pengiriman berkas ke kantor dinas, Pak. Bukti fisik yang Bapak maksud itu disertakan pada saat pengajuan kenaikan pangkat. Untuk pengurusan berkas ini, tidak perlu.”
”Tidak. Saya tidak mau disalahkan kepala dinas. Saya bekerja sesuai prosedur,” jawabnya dengan kaku.
”Berkas milik guru-guru yang lain juga tanpa bukti fisik, Pak,” sanggah Sobri.
”Biarkan mereka tanpa bukti fisik. Tapi, saya tidak mau seperti itu. Segera dilengkapi,” pungkasnya.
Sobri menghela napas panjang. Dia mendesah sesak. Pori-porinya mengeluarkan kubikan keringat. Sobri tidak berdaya. Dia tidak kuasa melawan keputusan kepala sekolahnya. Dia terpaksa mengikuti permintaan Muluk yang selalu muluk-muluk.
Guru  yang lugu ini tak menyangka pada kenyataan yang ada. Dia tidak mengira akan dipersulit kepala sekolahnya seperti ini. Dia sangat tega. Raja tega pada bawahannya. Pada gurunya sendiri yang sudah mengabdi puluhan tahun di sekolah ini. Gigi-gigi Sobri terdengar berkerut-kerut. Kedua tangannya gemetar menerima stop map merah dari Muluk, kepala sekolahnya. Berkas itu terasa lebih berat daripada sebelumnya. Namun, apa boleh buat. Sobri harus bersabar. Dia menerima dengan pasrah berkas yang dikembalikan kepala sekolahnya itu.
Setengah hari Sobri berusaha melengkapi permintaan Muluk. Dia bekerja keras agar bisa memenuhi target waktu pengiriman berkas ke dinas pendidikan kabupaten. Telepon genggam yang tergeletak di samping monitor komputer berdering. Dia mengabaikan meski dia tahu bahwa yang menelepon itu adalah staf tata usaha kantor dinas pendidkan. Sobri cemas. Dia takut. Ia yakin bahwa staf kantor dinas itu akan menagih berkas yang semestinya harus dikirim sebelum pukul sebelas.
Karena telepon itu berdering terus, terpaksa Sobri meraih telepon genggamnya dengan tangan gemetar.
”Pak Sobri, bagaimana ini? Mana berkasmu? Tepat pukul 12 mestinya berkas sudah saya terima. Bila melebihi batas waktu tersebut, terpaksa berkas Pak Sobri saya tinggal,” suara staf kantor dinas melalui telepon genggamnya.
 Pikiran Sobri semakin kacau. Dia tidak fokus lagi menuntaskan berkas-berkas itu. Tubuhnya lemas. Dia putus asa sambil menyandarkan punggungnya di tembok ruang guru. Setumpuk berkas yang berada di depannya ditatap dengan pandangan hampa. Dia merasa bahwa peluang untuk menyelesaikan berkas sudah hilang. Sobri hanya bisa menggerutu menyesali sikap kepala sekolahnya yang tidak mau menandatangani berkas yang dia ajukan.
Sementara itu, guru-guru di sekolah lain telah menyetorkan berkas ke dinas pendidikan. Berkas-berkas mereka sama dengan milik Sobri tanpa disertai dengan bukti fisik. Kepala sekolah di lembaga lain sudah paham bahwa berkas guru tersebut tak perlu bukti fisik. Bukti fisik baru disertakan jika guru tersebut hendak mengajukan angka kredit untuk kenaikan pangkat.
Mendengar bahwa guru-guru di sekolah lain sudah menyetorkan berkas ke dinas pendidikan, Sobri semakin tersiksa. Dia tidak bisa merasakan kemudahan seperti yang mereka alami. Dia merasa disiksa dan dipermainkan oleh kepala sekolahnya yang bersikap seperti baja. Prinsipnya seperti batu karang yang tak mudah goyang oleh gelombang meskipun permasalahan ini sangat penting bagi karier gurunya.
”Berkas Pak Sobri ini belum mendapat tanda tangan dari kepala sekolah. Padahal ini sudah batas akhir pengumpulannya. Dengan sangat terpaksa berkas Pak Sobri tidak bisa saya terima dan Pak Sobri bisa mangajukan usulan ini lagi pada bulan atau tahun berikutnya,” ujar staf tata usaha dinas pendidikan ketika Sobri menghadap staf dinas pendidikan untuk meminta keringanan menyetorkan berkas tanpa tanda tangan kepala sekolah. Padahal, Sobri tahu kalau itu tidak mungkin.
Sobri mendengarkan penjelasan pegawai tersebut dengan penuh rasa sesal. Dia menyesalkan sikap kepala sekolahnya yang tidak mengerti kebutuhan gurunya. Sobri menerima pasrah nasib yang menimpanya. Dia tertinggal dengan guru-guru seangkatannya dalam menapaki karier kepegawaiannya.
Hari-hari setelah kejadian itu, Sobri tak bertegur sapa dengan kepala sekolahnya. Dia tidak pernah mengajukan berkas apapun lagi kepadanya. Setiap ada perintah pemberkasan dari dinas pendidikan, dia tidak pernah lagi mengurusnya. Yang dia lakukan hanyalah melaksanakan tugas sebagai guru yaitu mengajar. Dia trauma dipermainkan kepala sekolahnya untuk kesekian kalinya.
Suatu pagi Sobri membaca surat yang difoto melalui media sosial. Surat itu berisi teguran keras dari dinas pendidikan bidang kepegawaian lantaran Sobri tak pernah memenuhi permintaan administrasi. Dia bergeming serta pasrah pada teguran tersebut. Dia siap menerima sanksi atas ketidaksiplinannya sebagai abdi negara. Bahkan, dia lebih senang dimutasi ke sekolah lain daripada tetap bertugas di sekolah yang dipimpin oleh Muluk. (*)

Lamongan, 23 November 2019

Ahmad Zaini, cerpenis tinggal di Wanar, Pucuk, Lamongan, Jawa Timur



Cerpen Jawa Pos grup Radar Bojonegoro, 1 Desember 2019

Santri ‘Kesayangan’ Kiai
Cerpen Ahmad Zaini

“Jangan banyak-banyak makanmu. Ini wilayahku,” cegah Faisal pada Romli. Dia kalah cepat melahap nasi liwet. Padahal, sebelum memakannya, keduanya telah sepakat menghabiskan nasi liwet sesuai dengan kaplingannya. Mereka sudah membuat garis tengah sehingga nasi liwet itu menjadi dua area.
Romli tidak memedulikan Faisal. Dia tetap menyantap nasi liwet dengan lauk ikan asin dan sambal terong. Dia mengalahkan Faisal yang jari dan mulutnya tidak kuat menahan panas.
Setelah mereka menghabiskan satu talam nasi liwet, mereka minum air intip. Air yang dimasukkan dalam panci bersama kerak nasi liwet. Airnya bewarna kecocklatan. Namun, segar sekali. Bila airnya telah habis, keduanya juga secara bergantian memakan intipnya yang sudah melunak.
”Faisal, Romli, waktu makan selesai. Sekarang waktunya salat berjamaah zuhur lalu mengaji Imrithi,” tegur Faruq, kepala keamanan di pesantren itu.
Faisal dan Romli mengangguk. Mereka menurut teguran Faruq. Remaja yang berasal dari desa yang berbeda ini meninggalkan tempat makan. Mereka menuju gotakan masing-masing.
Faisal dan Romli mandi satu tempat. Mereka tidak sabar menunggu antrean. Mereka tergesa-gesa. Dua santri ini mandi sambil bergurau dalam satu kamar mandi. Mereka cekikikan. Riuh sekali.
”Siapa dalam kamar mandi itu? Jangan bergurau. Salat jamaah segera dimulai. Sudah ditungga kiai,” Faruq mengingatkan Faisal dan Romli yang masih bergurau dalam kamar mandi.
”Iya, Kak. Sudah selesai, kok,” sahut Faisal dari dalam. Mereka berdua muncul dari kamar mandi yang sama.
”Tadi kalian mandi berdua?” tanya Faruq.
”Iya. Kamar mandi yang lain penuh,” elak romli.
”Ini pelanggaran. Siapa pun tidak boleh mandi bersamaan dalam satu kamar. Kalian bisa saling melihat aurat. Melihat aurat orang lain itu haram. Berdosa,” kata Faruq dengan nada tinggi.
Kedua santri ini hanya berdiri mematung sambil membiarkan butir-butir air di tubuhnya mengalir. Dia terdiam tak berani menatap wajah Faruq.
”Kalian telah melakukan pelanggaran. Jadi, nanti setelah jamaah zuhur dan pengajian, kalian ditakzir,” pungkas Faruq.
Faisal dan Romli saling memandang. Wajah mereka cemberut seperti kemukus. Sorot mata mereka saling menyalahkan.
”Gara-gara kamu yang memaksa masuk,” ucap Romli.
”Salah kamu kenapa pintunya tidak kau kunci,” bantah Faisal.
”Bagaimana bisa mengunci pintu, grendelnya saja sudah lepas semua tinggal baut,” balas Faisal.
”Sudah, sudah. Jangan berdebat di sini. Segera ke musallla,” lerai Faruq.
Kedua santri ini tertawa geli. Masak mereka baru mandi dan hanya pakai sarung disuruh jamaah.
”Kenapa kalian senyum-senyum?” tanya Faruq.
”Masak salat jamaah hanya mengenakan sarung tanpa baju dan kopyah,” jawab Romli sambil berlalu meninggalkan Faruq yang masih bingung memikirkan ucapannya.
”O, santri semprul,” gerutunya setelah menyadari kata-katanya salah.

Para santri selesai melaksanakan jamaah zuhur. Mereka berdiri membentuk barisan untuk mendapat kesempatan berjabat tangan dengan kiai. Secara bergiliran mereka menjabat dan mencium tangan kiai yang penuh aroma minyak Misik. Tiba-tiba dari arah belakang muncul Faisal dan Romli. Mereka muncul dari celah-celah santri yang lain untuk mendapat giliran menjabat dan mencium tangan kiainya.
”Faisal, Romli dari mana kalian?” tanya Kiai.
”Dari berkumur, Pak Kiai. Mulutku masih berbau ikan asin,” jawabnya.
”Hmmm. Sebelum salat berkumurlah agar sisa-sisa makanan tidak tertelan sewaktu salat. Bila itu terjadi, maka salat kalian tidak sah,” pesan kiai sambil menyentuh pundak kedua santrinya yang sangat ’menonjol’ itu.
Setelah berjabatan tangan dengan para santrinya, Pak Kiai yang penuh karisma itu duduk di belakang dampar atau meja kecil. Tangan lembut beliau meraih kitab Imrithi yang sudah ditaruh sebelumnya di atas dampar. Beliau memulai pengajian ilmu alat ini.
”Faisal, silakan ke depan!” pinta kiai.
”Inggih kiai. Ada apa?” tanya Faisal yang berpura-pura tidak mengerti maksud kiai.
”Kamu kemarin belum tuntas menghafalkan bab i’rob. Sekarang kamu ulang lalu lanjutkan ke nadlom berikutnya!” pinta kiai.
Faisal menundukkan kepala dalam-dalam. Dia tidak berani melihat wajah kiai dan teman-temannya yang duduk melingkar di musalla. Keringat di keningnya mulai bermunculan. Tangannya yang memegang kitab Imrithi gemetar. Dia grogi karena belum mampu menghafalkannya.
”Ayo, mulai!” perintah kiai.
Kedua tangan Faisal yang gemetar itu perlahan membuka kitab yang dipangkunya. Dia melihat bab i’rob.
”Aqsamuhu arba’atun fal tu’tabah, rof’un wa nasbun wa kadza jazmun wa jar,” Faisal melafalkan bab i’rob dengan lantang.
Para santri tertawa semua. Mereka tak menduga kalau Faisal melafalkan nadlom itu dengan membaca. Selain itu, bagian awal bab tersebut tidak dilafalkan.
”Faisal, kamu belum hafal juga. Semalam belajar untuk menghafalkan atau tidak?” tanya kiai.
”Tidak, Pak Kiai,” jawabnya dengan pelan.
”Kalau begitu, kembali ke tempat dudukmu dulu sambil belajar menghafalkan bab tersebut,” saran Kiai dengan sabar.
”Romli, giliranmu!” seru Kiai.
Romli pun mendekat ke Kiai. Dia bergerak dengan mengesot dari tempat duduknya ke samping Kiai.
”Idzil fata hasba’ tiqodihi rufi’, wakullu man la ya’taqid lam yan tafi’,” suara hafalan Romli dengan tiba-tiba.
Santri-santri yang lain, terutama Faisal tertawa terpingkal-pingkal. Dia geli mendengar hafalan Romli yang tidak sesuai dengan bab yang dimaksud Kiai.
”Faisal, Faisal,” dua kali Kiai menyebut nama teman karib Romli hingga dia berhenti tertawa, ”apa yang kau tertawakan sampai seperti itu?” sambungnya.
”Romli, Pak Kiai. Dia lucu karena tidak hafal,” jawab Faisal sambil terpingkal-pingkal.
”Tidak baik menertawai temannya yang belum hafal. Belum tentu orang yang menertawai itu lebih hafal daripada yang ditertawai,” pesan Kiai.
Faisal langsung terdiam. Dia menutup mulutnya rapat-rapat. Dia merasa tersindir dengan pesan yang disampaikan oleh Kiai.
”Romli, yang kau hafalkan itu bab muqoddimah yang sudah kau hafalkan pada pertemuan sebelumnya. Kau hafalkan bab i’rob,” Pak Kiai mengingatkan Romli.
”Saya belum hafal Pak Kiai,” kata Romli dengan jujur.
”Kalau begitu, kembali ke tempat dudukmu lalu belajarlah menghafal bab i’rob,” perintah Kiai. Romli kembali ke tempat duduknya dengan mengesot.
Faisal dan Romli merupakan dua santri yang berbeda dengan santri-santri lainnya. Mereka selalu menguji kesabaran Kiai dan para pengurus pesantren. Para pengurus terutama bagian keamanan sering memergoki dua santri tersebut di warung kopi, kemudian mengajaknya kembali ke pesantren karena ada kegiatan peringatan maulid nabi Muhammad SAW.
”Anak-anak, silakan kalian kembali ke gotakan masing-masing. Kecuali, Faisal dan Romli. Kalian berdua tetap di sini,” kata Faruq yang didampingi Kiai.
”Kalian sudah sering melakukan pelanggaran di pesantren ini. Sebagai pembelajaran agar kalian jera dan tidak mengulanginya lagi, kalian kami takzir. Kalian harus membersihkan toilet di belakang. Segera laksanakan!” sambungnya.
Kedua santri tersebut langsung melaksanakan takzir atau hukuman yang diberikan oleh pengurus pesantren. Keduanya melaksanakan dengan ikhlas. Mereka sadar bahwa selama ini mereka telah melanggar peraturan yang telah ditentukan oleh pesantren.
”Sudah bersih toiletnya?” tanya Faruq.
”Sudah, Kak. Toiletnya sudah bersih,” jawab keduanya dengan rasa hormat kepada seniornya.
”Baiklah. Silakan bersihkan tubuh kalian lalu segeralah bersiap-siap mengikuti pengajian Imrithi,” pungkas Faruq.
Faisal dan Romli bergegas ke kamar mandi. Setelah itu mereka bergabung dengan para santri yang lain di musalla. Mereka bersama-sama menghafalkan nadlom imrithi dengan serempak. Gema hafalan nadlom-nadlom tersebut beriringan dengan suara deru angin sore yang mengiringi hujan pertama di musim ini. (*)

Wanar, November 2019

Ahmad Zaini, merupakan guru di SMK Negeri 1 Lamongan dan ketua PC Lesbumi NU Babat. Beberapa cerpen telah terpublikasikan dalam bentuk buku kumpulan cerpen. Buku kumcer terbarunya berjudul Tadarus Hujan.





Sabtu, 09 November 2019

Lorong Kenangan, Jawa Pos grup Radar Bojonegoro, 10 November 2019

Lorong Kenangan
Karya Ahmad Zaini

Hotel bintang dua. Bahkan mungkin tidak berlabel bintang sama sekali. Bayangkan, hotel tempat kumenginap ini tidak punya genset. Tidak punya energi listrik cadangan sebagai antisipasi jika listrik padam. Tidak ada shower. Mandi pakai gayung. Apalagi kamar ber-AC. Hotelku tidak ada fasilitas  mesin pengatur suhu itu. Bila udara gerah, kupakai selembar koran sebagai kipas. Kalau sudah terlalu parah gerahnya, jendela kubuka semua agar angin bisa masuk ke kamar. Meskipun malam hari.
Dari kamar hotel aku keluar mencari angin segar pagi hari. Kupakai sandal hotel putih tak berdaging. Aku menyusuri lorong hotel. Di kanan kiri kueja angka di setiap daun pintu kamar yang berjajar. Sesampai di ujung lorong tampak dua kursi tak berpenghuni. Kursi itu kosong meski terdapat meja kaca membujur di depannya.
Ada yang melintas dalam bayangku saat melihat dua kursi  yang kosong itu. Aku mengingat dirimu setahun yang lalu ketika kita berdua duduk di kursi yang berada di ujung lorong hotel. Kau bercerita tentang kegagalan keluargamu.
Saat itu aku tak berusaha bertanya kenapa keluargamu buyar. Namun, kau tetap bersemangat bercerita kepadaku tentang perilaku mantan suamimu yang suka semena-mena terhadapmu. Kau sering dipukul, disuruh tidur di luar kamar, bahkan kau pernah diturunkan di jalan tol saat terlibat percekcokan dalam mobil.
”Dia itu pecundang. Dia hanya menguras hartaku dan merenggut keperawananku. Setelah itu, rasa cinta dan kasih yang dulu digunakan untuk merayuku, lenyap begitu saja,” ucapmu dengan wajah terbakar amarah.
Aku menghela napas panjang. Secangkir kopi yang menemani percakapan kusruput. Aroma wanginya sudah tak terasa setelah mendengar kisah pilumu. Langit-langit hotel serasa tak meneduhkan lagi. Lorong hotel menjadi panas karena terbakar oleh ceritamu itu.
Aku melihat sorot matamu masih ada api amarah menyala-nyala. Bulat matamu memercikkan bara kebencian pada mantan suamimu. Kata-katamu mengepulkan asap. Kepulannya menyesakkan dadamu. Kau menyandarkan punggungmu di kursi yang kini sudah kusam. Kau menghela napas panjang untuk mengatur pernapasanmu. Desah kekesalan keluar-masuk dari tenggorokanmu. Kau seakan ingin menumpahkan semua gumpalan cerita kelam kepadaku. Kau hendak merogoh hatiku agar iba kepadamu.
”Semoga pengalaman pahitmu itu tidak terulang di masa mendatang,” kataku menimpali ceritamu.
Kau tertegun. Kau seperti kaget mendengar ucapanku. Kau sepertinya tak hanya ingin mendengar ucapan harapan dariku. Kau menghendaki aku mengucapkan sesuatu yang lebih dari itu. Buktinya bola matamu berputar kencang. Wajahmu mendongak ke langit-langit hotel. Kau mengarahkan pandanganmu pada lukisan bunga yang tergantung di dinding lorong.
”Aku ke kamar dulu,” pamitmu padaku.
”Silakan! Selamat beristirahat!” sahutku yang kaubalas dengan ketidaksiapan mendengar kata-kataku. Kau seperti berharap aku menahan pamitmu untuk melanjutkan kisah pilumu.
Kau membiarkan rambut lurusmu terurai sebahu. Ujung bawah bajumu kusut karena terjepit bokong dan kursi tak kau urus. Kau berdiri lalu berjalan begitu begitu saja tanpa menoleh sejenak pun kepadaku. Kau kecewa lantaran curhatmu tak terbalas ibaku.
Aku meninggalkan kursi di ujung lorong hotel. Aku masuk kamar sambil membawa secangkir kopi yang telah dingin. Aku menggeleng-gelengkan kepala setelah mendengar ceritamu. Aku heran kenapa kau dengan mudah mengobral cerita kegagalan keluargamu padaku.
Pintu kamar hotelku diketuk-ketuk dari luar. Mungkin itu petugas hotel yang hendak mengantar pesanan sarapan pagiku. Aku beringsut lantas membuka pintu kamar.
”Kau? Ada yang bisa kubantu?” tanyaku setelah tahu bahwa orang yang mengetuk pintu adalah dirimu.
”Buat sarapan pagimu,” katamu sembari menyodorkan sekotak nasi bebek kepadaku.
”Maaf, saya tidak berani mengonsumsi nasi bebek. Khawatir kolestrolku naik,” tolakku.
Kau membalikkan badan begitu saja tanpa sepatah kata pun. Kau seperti kecewa. Kau mendongkol karena sarapan pagi yang kau kirimkan kutolak.
Aku tidak bermaksud menolak pemberianmu. Aku menolak sarapan itu karena label nasi bebek di kemasannya. Aku beberapa bulan ini tidak berani mengonsumsi daging bebek setelah dokter yang memeriksaku waktu itu berpesan begitu padaku. Daging bebek mengandung kolestrol tinggi.
Aku membayangkan betapa kesalnya dirimu padaku. Dua kali kau kukecewakan. Cerita panjangmu hanya berbalas harapan serta penolakan sarapan pagi yang kauantarkan. Aku jadi tidak enak. Aku jadi kepikiran. Bagaimana rasanya hati perempuan yang kecewa karena keinginannya belum tercapai.
Kuhempaskan tubuhku di kasur yang membujur di kamar hotelku. Mataku terbayang-bayang wajahmu yang cemberut. Gigimu yang rapi tertutup rapat kedua bibir saat cerita panjangmu kubiarkan berlalu dari balasan yang kauharapkan dariku. Aku tak membayangkan betapa semakin remuk hatimu.
Pelayan hotel belum mengantar pesanan sarapan pagi. Perutku semakin keroncongan. Aku keluar hendak membeli sari roti buat pengganti pesananku.
”Tunggu, Mas! Akan ke mana?” tanyamu tiba-tiba dari belakangku.
”Akan membeli sari roti buat sarapan pagi,” jawabku.
Kau berhenti mengikutiku. Kedua kakimu tiba-tiba terpaku di lantai lorong hotel setelah kau dengar jawabanku. Aku menoleh ke arahmu. Kau sudah lenyap di balik pintu kamarmu. Aku merasa berat melanjutkan langkah kakiku. Tiba-tiba aku meresa tidak enak terhadapmu. Aku berhenti lalu kembali ke arah kamarmu yang kebetulan berdekatan dengan kamarku. Aku mematung di depan pintu kamarmu. Punggung jemari tangan kananku hendak mengetuk pintu kamarmu. Namun, niat itu tertahan. Aku tak berani mengetuk pintu nomor 313. Ternyata kau sudah muncul lebih dahulu di balik pintu dengan membawa sebungkus sari roti kepadaku.
”Buat sarapanmu,” katamu singkat. Aku terkejut. Kau sudah punya sari roti.
“Dari mana kau dapat Sari roti?”
”Saya membelinya kemarin sore. Kebetulan saya membeli dua. Yang satu sudah kumakan semalam,” jelasmu.
Aku tak mampu berkata-kata lagi. Aku berdiri mematung di depan pintu kamarmu sambil menimang sari roti yang kauberi. Aku tidak menyangka kau begitu perhatian kepa
daku.
Kedua kaki kuangkat. Aku beranjak dari depan pintu kamarmu. Kau menatapku dengan pandangan teduh mengikuti gerak langkah kakiku. Sorot matamu selalu mengikat ke mana diriku bergerak.
Sari roti kugeletakkan begitu saja di atas meja kamar hotelku. Roti itu kubiarkan membisu bersama botol-botol air minum yang isinya tinggal separoh. Pikiranku menerawang tinggi menyapu langit-langit kamar hotel. Wajahmu terbayang di antara gantungan lampu yang sinarnya tergeser oleh cahaya matahari. Aku mengusir bayang itu dengan mematikan saklar lampu. Bayang wajahmu buyar lalu menyelinap di balik lukisan pemandangan alam yang tergantung di dinding kamar hotel.
***
Aku berdiri memandangi dua kursi kosong di ujung lorong hotel. Aku tak memedulikan para pesera diklat yang berlalu di belakang punggungku. Mereka berbelok dan menuruni tangga lantai dua menuju ruang pertemuan di lantai dasar untuk menerima materi pagi itu. Dari beberapa peserta yang mengantre menuruni tangga, kusempat melihat dirimu di antara himpitan peserta yang lain. Kau menoleh ke arahku. Kau tersenyum sambil menyelinap di sela-sela peserta. Rambut sebahumu masih seperti yang dulu. Kau menyibak dua helai rambut yang sempat mengganggu penglihatanmu dengan tangan kananmu.
”Hermin, Hermin, tunggu!” seruku sambil berlari mengejarmu.
Kau hilang. Wajah ayumu tak terlihat. Rambut yang terurai sebahu tak berkelebat. Aku meneliti satu persatu peserta yang menuruni tangga itu dari belakang. Dirimu tidak terlihat dalam kerumunan para peserta. Aku menuruni tangga mendahului mereka. Aku berhenti lalu mengecek wajah-wajah mereka yang masih tersisa. Aku berharap dirimu ada di bagian belakang mereka. Namun, sampai orang terakhir yang menuruni tangga itu dirimu tidak juga kutemukan.
”Mbak, Mbak, maaf, kau lihat Hermin?” tanyaku pada seorang wanita yang bejalan paling belakang.
”Hermin siapa? Apakah Hermin yang kau maksud adalah guru yang berasal dari Sampang?” wanita itu balik bertanya. Wanita itu rupanya berasal dari daerah yang sama dengan dirimu. Sama-sama dari Sampang, Madura.
”Betul. Betul sekali. Hermin dari Sampang. Di mana dia? Tadi  saya melihatnya bersama-sama kalian,” sahutku dengan tergopoh-gopoh.
”Kau temannya?”
”Iya. Saya temannya sewaktu mengikuti pelatihan yang sama setahun yang lalu di tempat ini.”
”Mas, apakah tidak tahu kalau Mbak Hermin sudah meninggal empat bulan yang lalu?”
”Apa? Meninggal? Tidak. Tidak. Dia tadi berada di sini bersama-sama dengan kalian. Saya melihatnya. Dia sempat melihatku sambil tersenyum.”
”Mas salah orang. Mbak Hermin itu sudah meninggal. Dia dibunuh oleh mantan suaminya. Mantan suaminya cemburu karena Mbak Hermin sudah hidup bahagia bersama suami barunya.”
Setelah mendengar kisah yang lebih memilukan dari wanita itu, jiwaku terpukul. Aku tak mampu berkata apa-apa lagi. Aku hanya meremas-remas rambutku sambil melihat bayang-bayang wajahmu yang mengharap perhatian dariku setahun yang lalu. Aku menyesal karena waktu itu tak menggubris cerita ibamu.
Suasana di bawah tangga ujung lorong hotel telah sepi. Aku meninggalkan tangga itu menyusul mereka yang sudah menerima materi pelatihan di ruang pertemuan. Di setiap langkah kakiku seperti terdengar detak-detak sepatumu mengejarku untuk memberiku sari roti buat sarapan pagiku. Namun, semua itu hanyalah sisa-sisa bayangan masa laluku yang merasa bersalah padamu. Aku hanya berdoa semoga kau dapat hidup damai di alam barumu. (*)

Lamongan, Oktober 2019

*Ahmad Zaini merupakan guru SMK Negeri 1 Lamongan