Jika Kau Bukan Anak Raja, Juga Bukan Anak Ulama Besar, maka Menulislah

Kamis, 23 Januari 2025

Asrama Pesantren Tua, cerpen Jawa Pos guru Radar Bojonegoro, Sabtu, 21 Desember 2024

 



Asrama Pesantren Tua

Cerpen karya Ahmad Zaini

 

Setiap aku melintasi jalan itu, kemudian menoleh ke samping kiri ribuan kenangan bermunculan. Bangunan tua itu kini  di kanan-kirinya ditumbuhi bangunan-bangunan baru. Namun, bangunan tua masih mempertahankan keasliannya. Para pengelola sengaja membiarkannya agar alumnus yang berkunjung ke bangunan itu dapat bernostalgia.

Bangunan ini dianggap sebagai cagar budaya di pesantren ini. Santri dari generasi ke generasi berikutnya bertanggung jawab menjaga dan melestarikannya. Jangan sampai ada pihak luar memberi iming-iming material lalu memugar dan merenovasinya menjadi bangunan modern.

Asrama Al firdausi namanya. Bangunan yang berbahan kayu jati ini menjadi cikal bakal lahirnya pesantren. Meski terkesan kuno, bangunan yang dibuat oleh kiai Firdaus ini memiliki nilai sejarah. Di atas pintu utama terdapat prasasti berisi ukuran kayu yang bertuliskan tanggal dan tahun pendiriannya. Angka 1920 menjadi angka yang menunjukkan bahwa pesantren ini tergolong pesantren tua. Banyak melahirkan ulama dan tokoh karismatik di daerah ini.

Tahun 1989 aku menjadi santri baru di pesantren ini. Para pengurus pesantren kala itu menempatkanku di asrama Al firdausi. Bangunan serupa langgar panggung berdinding dan berlantai papan dari kayu jati kusinggahi. Pengurus pesantren yang  bernama Muslihin ditugaskan oleh kiai menjadi pembimbingku. Dialah yang menyiapkan kotak atau almari kecil untuk pakaian dan buku.

Setiap hari Kang Mus-panggilan akrab Muslihin-mengawasi dan membimbingku. Dia juga yang mengenalkanku tentang adat kebiasaan di pesantren ini.

"Setiap bertemu kiai harus memberi hormat," pesan Kang Mus kepadaku.

Hormat yang kuketahui selama ini merupakan bagian dari sikap dalam upacara. Saat kiai lewat, dengan spontan aku langsung berdiri tegak dengan mengangkat bahu lalu lalu meletakkan ujung jari di alis kananku.

Kang Mus diam sambil melirikku. Dia tidak berani bergerak atau berpindah tempat. Dia juga tidak berani berteriak menegurku lantaran kiai masih berada di situ. Namun, dari ekspresi wajahnya dia ingin berteriak untuk menegurku. Dalam hati Kang Mus mungkin berkata, setelah kiai masuk ndalem-sebutan rumah kiai-dia akan menakzir atau menghukumku. Ternyata benar juga dugaanku. Tak berselang lama, Kang Mus memanggilku.

"Kamu tahu kesalahanmu?" tanya Kang Mus.

"Tidak tahu, Kang. Aku sudah melaksanakan perintah Kang Mus untuk memberi hormat kepada kiai. Apakah ada yang salah?"

"Justru hormatmu itu yang menjadi kesalahanmu." jelas Kang Mus yang juga menjadi rais pesantren.

"Kok, salah?" tanyaku penuh penasaran.

"Jangan samakan hormat kepada kiai dengan hormatmu saat upacara, " tegur Kang Mus, "cukup berdiri, menundukkan kepala, kedua telapak tangan disatukan di bagian depan  bawah perut," sambungnya sambil memberi contoh hormat yang benar kepada kiai.

Oalah, begitu.” Aku mengangguk-angguk sambil meminta maaf. Aku memang benar-benar tidak tahu dan tidak paham dengan tradisi hormat seperti itu.

Aku tak akan mengulang kesalahan hormat untuk berikutnya. Setiap kali melihat atau bertemu kiai, aku selalu memberi hormat sebagaimana  diajarkan oleh Kang Mus seperti santri-santri lainnya.

Di asrama tua ini aku diajari membaca kitab kuning oleh kiai, yaitu kitab Fathul Qorib. Kitab ini biasa disebut Taqrib oleh teman-teman. Kiai mengajar membaca kitab ini setiap selesai salat subuh. Semula aku kesulitan membacanya karena kitab tersebut tanpa harakat atau gundul. Beberapa teman pun demikian. Aku diajari kiai tentang huruf, lafaz, dan  kalimat. Namun, kami tidak bisa membacanya karena tidak ada harakat. Jadi, lafaz dan kalimat yang kami hadapi itu bisu semua alias tidak bisa berbunyi. Aku kesulitan dan hampir putus asa lantaran baru kali ini aku mengenal kitab berbahasa Arab serta tanpa harakat.

Untung ada Kang Mus. Dia santri senior di pesantren ini. Menurut ceritanya, Kang Mus sudah belajar di sini sepuluh tahun yang lalu.

”Mus, beberapa santri baru ini setiap hari sebelum zuhur, kamu ajari membaca kitab gundul,” perintah kiai setelah mengetahui aku dan teman-teman belum bisa membaca sepatah kata pun tulisan dalam kitab.

Kang Mus sosok yang bersemangat tinggi dan bertanggung jawab dalam melaksanakan perintah kiai. Dia memiliki sifat tawadlu dan sendiko dawuh pada kiai. Setiap hari kami diajari ilmu nahwu seperti  Jurmiyah dan Imrithi.  Ilmu tersebut sebagai ilmu alat untuk membongkar rahasia membaca kitab gundul. Tidak sampai setengah tahun, aku dan teman-teman santri baru perlahan bisa membaca kitab tanpa harakat. Alhamdulillah, setiap pagi ketika kiai menyuruhku membaca kitab Taqrib, kami bisa melaksanakannya meskipun belum sempurna. Masih tersendat-sendat seperti mobil yang akan mogok.

Di asrama Al firdausi aku juga diajari tirakat. Kata kiai tirakat itu usaha untuk tidak menuruti semua keinginan nafsu. Aku diajari menahan nafsu makan. Dalam sehari-sehari biasanya aku makan tiga kali bahkan bisa lebih. Menurut orang tuaku, aku memang anak yang kuwadukan atau sering makan nasi dengan porsi melebihi ukuran umumnya. Makanya badanku paling gendut di antara saudara-saudara kandungku lainnya.

Menurut kiai, orang yang perutnya selalu kenyang akan keluar sifat malas. Pembawaannya hanya ingin tidur saja. Diajak mengaji baru sepuluh atau lima belas menit, sudah mengantuk. Kiai  menyampaikan semua yang ada di dunia ini ada penyakitnya. Ilmu juga punya penyakit. Penyakitnya adalah malas. Oleh karena itu, santri baru di pesantren ini harus diajari tirakat.

Siang itu perutku keroncongan. Sejak pagi belum kemasukan nasi sama sekali. Setiap hari aku hanya dijatah singkong rebus tiga iris sebagai pengganti nasi. Energiku berkurang. Badan terasa lemas. Kepala mulai pusing. Mata berkunag-kunang. Aku menyandarkan punggung di dinding kamar. Perut kuganjal dengan pakaian kotor yang kubuntal dengan sarung. Kubungkukkan punggung sambil meletakkan kepala di buntalan sarung yang kugunakan sebagai bantal. Sejenak aku terbawa ke alam mimpi.

”Ayo, bangun! Waktu salat asar berjamaah,” Kang Mus tiba-tiba membangunkanku.

Aku bangun lalu turun dari asrama panggung untuk persiapan jamaah asar. Lapar benar-benar terasa. Punggungku seperti manyatu dengan perut. Namun, aku berusaha menahannya sampai Kang Mus mempersilakan aku makan jatah singkong rebus. Begitulah kenanganku bersama Kang Mus yang melatihku tirakat tidak makan nasi selama lima belas hari.

***

Dua puluh delapan tahun yang lalu,  aku boyong dari pesantren itu. Setelah menikah sampai mempunyai tiga anak, aku belum sekalipun menginjakkan kaki di pesantren ini lagi. Saat melintas di jalan raya depan pesantren, aku hanya bercerita kepada istri dan anak-anak bahwa aku pernah ngiler di situ. Aku pernah digembleng secara fisik dan mental serta dibekali ilmu agar aku benar-benar siap ketika terjun di tengah masyarakat.

Memang gemblengan fisik dan mental yang dipandu oleh Kang Mus serta ilmu-ilmu agama yang disampaikan kiai kala itu benar-benar bermanfaat. Ketika berada di tengah masyarakat dengan latar belakang sosial dan budaya yang berbeda-beda, aku bisa menyesuaikan diri dengan baik. Masyarakat juga percaya pada nasihat-nasihat yang kusampaikan saat ceramah di masjid atau di rumah warga yang punya hajatan.

”Kenapa tidak pernah berkunjung ke pesantren itu?” tanya istriku.

”Kiaiku sudah tidak di situ. Kang Mus juga sudah keluar dari pesantren. Teman-temanku yang mondok seangkatan juga tidak ada satu pun di situ. Jadi, malas sekali berkunjung ke pesantren. Aku akan seperti orang asing karena mereka yang tinggal disitu saat ini orang-orang baru semua,” kataku menjelaskan istri saat dia meminta agar aku bersilaturrahmi ke pesantren.

”Paling tidak biar anak-anak kita ada yang melanjutkan jejak ayahnya belajar di situ,” sambung istri.

Aku berpikir tujuh kali memondokkan anak di situ. Aku lebih senang memilih pesantren lain yang lebih bagus dan kualitas. Menurut informasi dari teman-teman, pesantren ini telah kehilangan ruh kepesantrenannya. Pesantren ini lebih condong ke bisnis daripada ke pembinaan keagamaan. Para pembesar pesantren sering keluar untuk menjalin dan memperbanyak rekan bisnis, sedangkan pengajian dipandu oleh santri-santri senior saja. Sampai-sampai ada teman sesama alumnus yang nyelethuk begini, dulu pesantren ini sering dukunjungi ulama dan tokoh-tokoh nasional, tapi sekarang lebih sering dikunjungi para sales untuk menawarkan produk dagangan baru. Itulah sebabnya aku  malas dan enggan berkunjung ke pesantren tersebut. Lebih-lebih sekarang ini. Setiap ada acara besar, para alumnus juga tidak pernah diundang.

 Benar atau salah atas kondisi seperti itu Allah Yang Maha Mengetahuinya. Namun, faktanya pesantren ini kunilai ruh kepesantrenannya banyak berkurang. Lebih didominasi oleh ilmu pengetahuan dan teknologi serta penguatan jiwa kewirausahaan.

Sungguh disayangkan bila pesantren yang usianya lebih dari satu abad ini benar-benar kehilangan ruh. Tirakat siang malam para pendiri pesanten akan sia-sia lantaran pengajian kitab kuning sekarang diganti kitab terjamah. Sumber-sumber kajiannya juga banyak mengadopsi dari internet yang secara sanad sangat diragukan.

Aku melanjutkan perjalanan. Kenangan saat belajar ilmu dan tirakat di pesantren kutinggalkan di pinggir jalan raya tempatku berhenti. Harapanku semoga pesantren yang pernah memiliki ribuan santri tetap berokah dan bermanfaat buat umat. Aku ingin di pesantren ini sosok seperti kiai dan Kang Mus muncul kembali sehingga ruh pesantrennya hidup kembali.  (*)

Lamongan, 18 Desember 2024

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 



Rabu, 25 Desember 2024

Serabih Balan, cerpen Jawa Pos grup Radar Bojnegoro, Sabtu, 30 November 2024

 


 

Serabih Balan

Cerpen karya Ahmad Zaini

 

Jarum jam berlabuh di angka 9 malam. Di luar rumah sudah sepi. Para tetangga telah menikmati mimpi berirama dengkur yang berisik. Istri yang semula tidur, bangun tiba-tiba.

"Mas, ingin serabih dan lopis, " katanya sambil mengucek-ucek mata.

"Kamu mengigau?" tanyaku sembari mengistirahatkan jemariku yang sejak tadi menari di keyboard laptop.

"Tidak. Aku sadar, Mas. Aku ingin serabih balan," pungkas istriku yang kemudian beranjak dari tempat tidur.

Apakah istriku hamil muda? tanyaku dalam hati. Pengalaman kehamilan anak pertama juga demikian. Bedanya waktu itu dia minta soto daging, sekarang minta serabih balan.

"Serius?" tanyaku sekali lagi untuk memastikannya.

"Ya, sudah kalau Mas tidak mau. Saya berangkat sendiri," jawab istri dengan nada mendongkol.

Permintaan tiba-tiba karena menginginkan sesuatu. Salah satu tanda istri sedang mengidam. Menurut orang-orang, entah fakta atau mitos, jika istri mengidam kemudian tidak terpenuhi, kelak anaknya suka ngiler.

Hatiku tersentak. Menurut istri aku juga sering ngiler atau keluar liur tanpa sengaja. Tidak hanya kata istri, tetapi aku juga menyadarinya. Tapi, bukan karena itu aku ngiler. Cerita ayah sewaktu ibu mengidam tersebab janinku, semua keinginan ibu terpenuhi.

Ah, itu hanya gurauan istriku saja. Aku tidak pernah ngiler, kecuali saat sariawan atau sakit gigi. Saat-saat khusus seperti itu tidak bisa dijadikan dasar orang ngiler karena semasa ibunya mengidam, tidak terpenuhi keinginannya.

Daripada nanti, kalau benar istriku mengidam, anakku jadi ngiler, lebih baik aku berangkat ke warung tempat jualan serabih balan.

"Di rumah saja, ya?"

"Ikut," sahutnya manja.

Meski malam hari waktunya istirahat, istri kubonceng dengan motor butut ke sebuah desa yang berjarak tiga kilometer dari tempat tinggalku.

"Tahu posisi warung tempat jualan serabih permintaanmu?"

"Tidak tahu."

Aku tercengang. Aku kaget. Aku rasa istriku sudah mengetahui letak warung serabih itu.

"Lantas kamu tahu serabih balan dari mana?"

"Dulu pernah diberi Katam. Rasanya enak sekali.”

"Coba telepon Katam. Tanyakan di mana posisi warungnya."

Istriku merogoh hape di saku bajuku untuk menghubungi Katam.

Alhamdulillah, dari informasi Katam, aku sudah tahu ke arah warung serabih itu. Dulu aku juga pernah ke situ diajak teman. Tapi, lima belas tahun silam. Menurutku serabih balan kala itu rasanya biasa-biasa saja. Sekarang entah dimodel seperti apa sehingga istriku memaksa membelikan jajan tradisonal tersebut meski malam hari.

Tidak sampai setengah jam kami sampai di warung serabih balan. Suasana ramai sekali. Bertolak belakang di desaku jam segini sudah sepi. Puluhan sepeda motor parkir di samping warung. Beberapa orang yang mayoritas laki-laki mengantre demi mendapatkan giliran sajian serabih balan.

Di area belakang, tempat memproduksi serabih, terlihat wanita tua dibantu anaknya mengadoni bahan serabih. Ibu dan anak saling membantu membuat bahan serabih agar para konsumen yang sudah menahan liur ini segera dapat menikmatinya.

Suasana malam kala itu mendung. Udara terasa dingin. Di ujung langit selatan terlihat cahaya kilat bersahutan. Aku mendekat ke warung melihat istriku. Ternyata dia masih duduk menunggu dua pembeli lagi. Aku tak beranjak tempat. Kakiku kupaku di tempat dekat Mak Yah membuat serabih. Lidah api menjilat ngaron atau belanga pemanggang serabih. Cahaya dan panas apinya sesekali menampar wajah Mak Yah. Raut Mak yah terlihat lelah. Namun, ia tak menghiraukan sama sekali. Dia tetap membuat serabih pesanan dari para pembeli. Termasuk istriku.

“Pesan berapa?” tanya Mak Yah kepada istriku.

“Empat bungkus, Mak,” istriku menjawab.

“Sepertinya tidak cukup. Ini hanya bisa membuatkan dua bungkus saja.”

Istriku tertegun. Lama mengantre, tetapi tinggal kebagian dua bungkus. Sementara di rumah ibu dan bapaknya menunggunya.

“Tidak apa-apa, Dik. Sebungkus kita makan berdua, yang satu bungkus lainnya biar dimakan ayah dan ibu.”

Setelah hampir satu jam mengantre demi dua bungkus serabih balan, istri lekas mengajak pulang. Melewati jalan sepi, istri mempererat pegangan. Istriku cemas lantaran gerimis lembut mulai menyapa. Aku melajukan motor dengan tenang. Pandangan mataku, fokus pada jalan yang mulai terhalang gerimis. Jalan semakin licin setelah permukaannya diguyur hujan.

“Berteduh dulu, Dik,” kataku sambil menuju sebuah lapak penjual bakso yang kosong.

“Ayo, terus saja!”

“Jangan. Sangat berbahaya,” timpalku.

Di lapak penjual bakso tidak ada penerang. Wajah istri yang basah ditampar hujan tidak jelas terlihat. Sesekali sinar lampu mobil yang melintas menunjukkan padaku kalau wajah istriku tak menampakkan rasa kesal.

Di sebalah lapak ada kursi panjang yang posisinya dibalik di atas meja. Aku mengambilnya sebagai tempat duduk sementara. Aku kasihan sekali pada istri. Dia dalam masa mengidam ingin serabih balan, sampai rela berhujan-hujan. Ini demi menghindari mitos anak ngileran jika keinginannya tidak terpenuhi.

Perlahan hujan mulai mereda. Tinggal satu dua saja jemari hujan yang belum tega tanah ini mengering. Aku menuruti istri melanjutkan perjalanan pulang. Dia tidak sabar menikmati serabih balan yang selama ini diidam-idamkan. Knalpot motor yang kukendarai meraung memecah kesunyian jalan menuju kampung. Sedangkan, lampu depannya menatap tajam jalanan basah menuju rumah.

Istriku berlari-lari kecil. Dia tidak ingin tetesan hujan yang sempat mampir di dedaunan perdu menetes menerba kepalanya. Melihat istriku seperti itu, aku sempat mengkhawatirkannya. Maklumlah dia sedang hamil muda.

Belum sempat kujagang motorku, tiba-tiba istriku keluar lagi.

“Ada apa, Dik?”

“Serabihnya ketinggalan di tempat kita berteduh tadi,” katanya dengan penuh sesal.

“Tidak apa-apa. Saya ambil,” sanggupku.

Aku langsung memutar balik sepeda motorku yang sudah berada di ambang teras dengan perasaan yang sebenarnya berat. Bagaimana tidak berat, cuaca gerimis malam hari yang belum reda sempurna, harus kuterabas lagi demi serabih balan yang ketinggalan.

Di tengah perjalanan menuju tempatku berteduh bersama istri, gas pacu motor terasa berat. Motor tidak bisa melaju kencang seperti ada yang menarik dari belakang. Aku menoleh embali belakang. Ternyata tidak ada apa-apa. Ah, mungkin lantaran banyak genangan air yang menghambat laju motor, kataku dalam hati. Lampu utama semakin meredup. Gerak motor juga melambat. Tak berselang lama, mesin sepeda motor mati.

Posisi sendirian di tengah jalan pada malam hari ketika hujan belum reda sempurna. Ada perasaan griming-griming atau cemas karena takut. Bulu kudukku berdiri. Mataku menyasar ke segala penjuru. Gelap semua. Kedua tanganku meraba-raba ke arah busi. Kondisi busi masih sempurna. Kabel-kabelnya pun tidak ada yang putus. Aku mencoba menggoyang-goyangkan motor untuk mengecek bahan bakar. Di tangkinya ternyata tidak ada suara gemericik bensin. Asem! Bensin habis, umpatku dalam benak.Terpaksa sepeda motor kutuntun hampir satu kilometer untuk bisa sampai pada sebuah kios penjual bensin eceran.

Tuhan Maha Penolong hambaNya. Pemilik kios berada di teras rumahnya. Aku pesan bensin satu botol. Dia mengambil lalu menuangkan ke tangka motor. Sekali hentak, mesin menyala. Motor kupacu menerobos gerimis lembut di malam hari. Sesampai di tempat berteduh, bungkusan serabih telah raib.

Aku tidak berpikir lama. Aku langsung kembali ke Balan dengan harapan Mak Yah masih di depan tungku sambil membuat adonan bahan serabih lagi. Tuhan Maha Mendengar. Makyah masih di tempat. Dia membuat adonan baru karena banyak pembeli yang baru datang. Kabarnya para pembeli itu berasal dari luar daerah. Karena kasihan pada mereka, Mak Yah terpaksa membuat adonan baru.

Aku rela berdiri untuk menunggu giliran. Pembeli dari luar daerah itu pesan serabih balan hingga beberapa bungkus. Aku tak ingin janin yang di kandung istri kelak jadi anak ngileran atau berliur.

“Tiga bungkus, Mak,” jawabku agak terkejut.

Aku bersyukur karena masih mendapatkan tiga bungkus serabih, meskipun semula aku hanya berspekulasi. Tuhan menyayangiku. Aku ditakdirkan mendapatkan serabih buat istriku yang mengidam.

Udara dingin malam tak kuhiraukan. Meski tanpa jaket, aku tetap memacu motorku menerobos kegelapan malam. Kecemasan wajah istriku terbayang selama perjalanan. Lentik jemarin gerimis menyambut kedatanganku. Kujagang sepeda mottorku di teras. Daun pintu kuketuk. Lama tidak ada ada jawaban dari dalam rumah. Pintu kudorong pelan. Ternyata pintu dikunci.

Aku merasa bersalah pada istri. Dia sangat lama mananti. Mungkin karena kecapekan dan tidak tahan menahan kantuk, istriku tidur.

“Dik, bukakan pintu?”

Tak berselang lama, kunci pintu bergerak-gerak. Daun pintu kubuka. Ternyata mertua yang membukakan pintu.

“Istrimu sudah tidur.”

Aku masuk ke kamar. Istriku sudah lelap. Aku bangunkan pelan-pelan. Matanya perlahan terbuka. Bungkusan serabih balan kudekatkan ke wajahnya. Aku terkejut melihat wajah istri. Dia cemberut dan tak berhasrat bangun untuk menikmati serabih balan.

“Ini serabihmu.”

“Tidak. Aku sudah tidak kepingin lagi. Silakan kamu makan bersama ayah dan ibu.”

Betapa soknya diriku. Istriku tidak mau makan serabih yang kudapatkan dengan penuh perjuangan. Bahkan, sekadar bangun, lalu duduk sembari membuka mata untuk melihat serabih saja istriku tidak mau. Aku tidak mereaksinya dengan berlebihan. Aku menanggapinya biasa-biasa saja. Orang yang mengidam ya, demikian itu. Aku mengingat kata ibuku waktu kakak perempuanku mengidam anak pertamanya.

Tiga bungkus serabih balan kuletakkan di meja. Siapa tahu kedua orang tuaku ingin memakannya malam itu. Setidaknya, pagi  hari menjelang mereka berangkaat ke sawah, serabih itu dimakan untuk mengganjal perut.

Istriku masih terlelap. Aku terpaksa membangunkannya karena waktunya salat subuh. Dia bangun, kemudian menanyakan serabih balan. Untung saja kusisakan satu bungkus buat dia. Tanpa basa-basi istriku memakan serabih balan itu dengan lahap, meski belum sempat ke kamar mandi. (*)

 

Ahmad Zaini merupakan guru di SMKN 1 Lamongan. Beberapa cerpen karyanya beredar di berbagai media dan terbukukan dalam antologi cerpen. Buku Antologi cerpen terbarunya berjudul Bingkai Jendela Tanpa Kaca.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Senin, 07 Oktober 2024

Rumah Joglo Sadewa, Cerpen Jawa Pos grup Radar Bojonegoro, Sabtu, 5 Oktober 2024

 



Rumah Joglo Sadewa

Cerpen karya Ahmad Zaini

 

Bangunan rumah joglo milik peninggalan orang tua Sadewa sepi. Dinding di setiap sisi tampak kusam. Lantai berbahan papan kayu jati berdebu. Terlihat di beberapa bagian lantai juga terdapat kotoran ayam. Di bagian genting, beberapa lembar daun mahoni menutupinya. Tidak ada orang yang menyapu untuk membersihkan kotoran atau sampah di bangunan ini.

Sadewa sebagai generasi terakhir keluarga ini tidak bisa berbuat banyak. Dia tidak mampu  lagi mengelola rumah joglo peninggalan orang tuanya seperti dahulu. Sadewa merasa bersalah dan berdosa pada orang tuanya karena tidak mampu meneruskan fungsi rumah joglo seperti yang diamanatkan orang tuanya waktu itu.

Sebelum orang tua Sadewa meninggal dunia, dia berwasiat kepadanya. Rumah joglo yang besar dan megah ini agar dimanfaatkan sebagai tempat belajar warga.

Kala itu tingkat pengetahuan warga di kampung yang jauh dari keramaian ini memang memprihatinkan. Mereka tidak ada yang sekolah atau kuliah, kecuali Sadewa. Mereka menjadi masyarakat tertinggal dan terbelakang. Mereka kalah jauh apabila dibandingkan warga kampung lain yang dekat dengan perkotaan. Kondisi warga yang seperti itulah membuat orang tua Sadewa hendak mewakafkan rumah joglonya sebagai tempat belajar warga kampung.

Sebagai anak tunggal, Sadewa berkewajiban menjalankan amanat kedua orang tuanya yang telah tiada. Dengan berbekal ilmu yang didapat saat belajar di perguruan tinggi, dia ingin menjadikan rumah joglo tersebut sebagai pusat belajar di kampungnya. Sadewa sempat kebingungan mengelola rumah joglo sebagai tempat belajar. Dia belum mempunyai teman berdiskusi dan mengabdikan diri sebagai guru. Dia hanya berdua bersama istrinya yang kebetulan juga sealmamater saat kuliah.

Sadewa mengajak istri mengelola rumah joglo. Istri Sadewa bersedia. Tiap hari mereka berdua membenahi dan memperbaiki rumah joglo agar layak digunakan sebagai tempat belajar yang aman dan nyaman. Sadewa sadar diri bahwa mengelola rumah joglo menjadi tempat belajar tidak bisa dijalankan hanya bersama istrinya. Dia berencana merekrut beberapa  orang terpelajar dari kampung lain untuk diajak membantu mengelola dan mengajar di rumah joglo. Dia menghubungi beberapa teman kuliahnya yang sudah menjadi guru di tempat lain. Teman-teman Sadewa bersedia membantunya.

Sarana dan prasarana telah memadai. Beberapa syarat administrasi juga terpenuhi. Rumah joglo peninggalan orang tua Sadewa telah diresmikan oleh pejabat berwenang menjadi lembaga belajar. Lembaga ini diberi nama Birrul Walidain yang berarti berbakti kepada kedua orang tua.

Semula lembaga ini menerima murid dari berbagai umur. Mulai tingkat anak-anak, remaja, dewasa, dan orang tua. Mereka ditampung semua di lembaga ini. Mereka belajar dalam satu ruang dengan sangat antusias. Mereka diajari oleh guru dengan materi dari dasar atau nol. Mereka diperkenalkan huruf dan angka sebagai bekal belajar membaca dan berhitung.

Seiring perjalanan waktu, lembaga belajar Birrul Walidain yang dikelola Sadewa dan istri mengalami perkembangan yang sangat pesat. Kini murid-muridnya banyak sekali. Para orang tua dari kampung ini juga sudah menyadari pentingnya belajar buat anak-anaknya. Para orang tua tidak ingin nasib anaknya seperti yang mereka rasakan sekarang. Para orang tua bercita-cita masa depan anaknya lebih cerah daripada dirinya dan menjadi orang-orang terpelajar. Mereka ngin anak-anaknya hidup bahagia dan sejahtera.

Sadewa sekarang tidak sendirian. Dia didukung warga sekampung untuk memajukan lembaga. Sumbangan dana pun mengalir dari warga. Terutama dari orang-orang yang mampu secara ekonomi. Semua kebutuhan lembaga terpenuhi.

Sadewa yang dibantu istri dan teman-temannya mulai berani membuat program unggulan. Program yang tidak dimiliki oleh lembaga belajar di kampung lain. Hal ini dilakukan Sadewa agar semakin banyak peminat dari luar kampung untuk menimba ilmu di sini.

Lembaga belajar yang dipimpin Sadewa berkembang sangat pesat. Saat ini muridnya bukan hanya dari dalam kampung sendiri, melainkan juga dari luar kampung. Prestasi demi prestasi berhasil ditorehkan oleh para murid.  Birrul Walidain menjadi lembaga belajar ternama dan dikenal oleh masyarakat luas sebagai gudang murid berprestasi. Kini lembaga belajar Sadewa berada di puncang kejayaannya.

***

Semakin tinggi sebuah pohon, semakin kencang angin menerpa. Lembaga belajar Birrul Walidain mulai diterpa isu miring. Banyak pihak yang mulai mengusik keberadaan lembaga ini. Termasuk di antaranya adalah dari pihak wali murid sendiri.

“Bapak-bapak jangan mudah percaya pada informasi yang tidak jelas. Harus berhati-hati,” kata Sadewa saat menemui para perwakilan wali murid yang dikomandani oleh Gunadi di rumahnya.

”Kurang jelas apanya? Informasi ini berasal dari sumber yang terpercaya. Dia orang penting di daerah ini,” sahut Gunadi.

”Apa yang disampaikan?” kejar Sadewa.

”Lembaga ini telah disumbang oleh para donatur. Semua anggaran kebutuhan dicukupi oleh donatur tersebut. Kenapa para warga terutama wali murid masih dimintai sumbangan?” tambah Gunadi dengan nada berapi-api.

”Betul sekali. Ada donatur atau sumbangan dari teman-teman dan alumni yang sukses. Mereka setiap bulan mengirim dana untuk menggaji para guru di sini. Jadi, donatur tersebut hanya digunakan untuk bisyaroh atau gaji guru yang jumlahnya lima belas orang.

”Kenapa masih meminta sumbangan wali murid? Untuk memperkaya diri, ya?”

Astaghfirullahal adzim! Saya tidak seperti yang Pak Gunadi sangkakan. Saya bisa makan dan minum itu dari hasil ladang peninggalan orang tua yang sementara ini digarap warga. Sepeser pun saya tidak pernah makan dari donatur dan uang sumbangan wali murid,” kata Sadewa menjelaskan Gunadi dan komplotannya.

”Saya dan teman-teman tetap tidak percaya. Yang penting mulai bulan depan, para murid dibebaskan dari uang sumbangan,” bantah Gunadi.

”Sumbangan wali murid sangat dibutuhkan. Sumbangan tersebut untuk kebutuhan murid. Mereka sering mengikuti beberapa kegiatan dan perlombaan di berbagai tingkatan. Sumbangan wali murid setiap bulan tersebut kami gunakan untuk itu,” tambah istri Sadewa.

”Tetap tidak percaya. Dana dari donatur sudah bisa untuk mencukupi semua. Jadi, mulai bulan depan, bebaskan kami dari uang sumbangan itu. Titik, ” pungkas Gunadi sambil berdiri kemudian mengajak teman-temannya meninggalkan rumah Sadewa.

Sadewa dan istri hanya menggeleng-gelengkan kepala. Mereka heran pada sikap Gunadi, anak dari Pak Salam yang dulu turut membesarkan lembaga ini.

Gunadi dan teman-teman mulai beraksi. Mereka menghasut para wali murid lainnya. Mereka  berbagi tugas sesuai wilayah. Mereka menyebar informasi yang dibuat-buat sendiri untuk disampaikan ke para wali murid lembaga tersebut di wilayah masing-masing. Mereka menyampaikan bahwa mulai bulan depan, anak-anak mereka digratiskan semua. Informasi ini disambut gegap gempita oleh para wali murid. Mereka sangat senang karena tidak dibebani sumbangan yang setiap bulan dibayarkan ke lembaga Pak Sadewa.

Para pengelola lembaga belajar ini kebingungan. Mereka tidak menerima sumbangan dari wali murid. Sadewa dan istri sebagai pemimpin lembaga memanggili para bendahara, guru, dan penanggung jawab kegiatan. Mereka diajak membahas keberlangsungan kegiatan di lembaga ini.

”Pak Sukri, apakah dalam bulan ini dan beberapa bulan ke depan masih ada kegiatan keluar yang diikuti oleh murid?” tanya Sadewa.

”Banyak, Bapak. Kegiatan-kegiatan ini juga membutuhkan anggaran besar.” jawab Sukri.

”Apakah masih ada anggaran untuk keperluan kegiatan tersebut?” tanya Sadewa kepada bendahara.

”Anggaran tinggal cukup untuk menggaji para guru,” jawab si bendahara dengan singkat.

”Karena anggaran tidak mencukupi, saya mohon agar kegiatan-kegiatan murid tersebut dibatalkan,” tegas Sadewa.

”Baik, Bapak,” sanggup Sukri dengan nada pasrah.

Penyaluran minat dan bakat murid tersendat. Potensi yang mereka miliki terkesan sia-sia lantaran pendanaan disumbat Gunadi dan kawan-kawannya. Beberapa kegiatan yang semestinya sebagai ajang prestasi dan tropi kejuaraan tidak bisa diikuti oleh murid. Para murid hanya mendapat pelayanan minimal berupa kegiatan belajar-mengajar di internal lembaga tanpa pernah mengikuti kegiatan perlombaan di luar.

Lembaga belajar Birrul Walidain yang dikelola Sadewa lambat laun meredup. Para murid tidak pernah mengikuti kegiatan dan lomba lantaran tidak ada dana. Akhirnya, lembaga ini benar-benar minim prestasi. Nama besar lembaga belajar Birrul Walidain dan muridnya tidak pernah menggema lagi saat pengumuman pemenang dalam setiap kejuaraan. Ucapan selamat atas prestasi lembaga juga sepi. Kebesaran  nama lembaga yang dipimpin Sadewa lenyap seperti ditelan bumi.

Para guru mulai terusik. Mereka sering menjadi sasaran ketidakpuasan pemimpinnya. Sadewa mencurigai guru tidak serius membimbing murid. Guru pun mulai berani mencurigai Sadewa. Mereka menuduhnya sebagai pihak yang menghabiskan keuangan lembaga untuk kepentingan pribadi sehingga jatah dana untuk kegiatan murid habis. Saling curiga antarpemimpin, guru, wali murid, dan murid menjadi sumber penyakit atas keterpurukan belajar di lembaga ini.

Satu persatu guru pamit karena merasa tidak cocok lagi dengan kepemimpinan di lembaga ini. Para wali murid juga demikian. Mereka mencabut kepesertaan anaknya sebagai murid  karena tidak ada prestasi lagi. Yang lebih parah lagi ketika lembaga belajar Sadewa dinyatakan pailit sehingga izin operasional dicabut oleh yang berwenang. Akhirnya, rumah joglo dan bangunan megah lainnya yang pernah di puncak kejayaan sekarang kembali menjadi bangunan yang kusam dan sepi.

Sadewa dan istri tetap memilih untuk bertahan tinggal di area rumah joglo. Mereka kembali beraktivitas di ladang peninggalan orang tuanya. Mereka menanam palawija sebagai ikhiyar penyambung hidup. Mereka sesekali beristirahat di rumah joglo. Terkadang Sadewa dan istri ditemani para warga yang pulang dari ladang. Mereka berteduh di rumah joglo untuk sekadar melepas lelah sembari menikmati hembusan angin siang. Riuh rendah tawa mereka diselingi memori kejayaan lembaga Sadewa yang kini tinggal cerita.  (*)

Lamongan, 2 Oktober 2024

 

Ahmad Zaini merupakan guru dan sastrawan yang tinggal di Wanar, Pucuk, Lamongan.